top of page

Cara Bikin CV yang Ampuh

  • Gambar penulis: Caecilia Sherina
    Caecilia Sherina
  • 8 Okt
  • 8 menit membaca

Buat kamu-kamu yang lagi cari kerja, khususnya yang kuliah di Jerman dan liburan semester ini pengen jadi Werkstudent, yuk mari aku share tips & trick membuat CV yang ampuh dipanggil interview. Tips ini sebenarnya berguna buat siapapun, tapi aku pakai format CV di Jerman, jadi mungkin tidak cocok untuk beberapa negara lain, seperti Jepang (tapi kalau buat di Indonesia, masih cocok kok).


Alat yang aku pakai:


Output yang ingin kita capai:

  • 1 atau 2 lembar daftar riwayat hidup / curriculum vitae (CV) / resume / Lebenslauf

  • 1 lembar surat pengantar / cover letter / Anschreiben

  • 1 contoh portofolio / portfolio


Outcome yang kita inginkan:

  • CV menarik perhatian pemberi kerja

  • Dapat panggilan interview


1. CV: Bagian Pertama

Struktur standard CV di Jerman umumnya terdiri dari:

  • Persƶnliche Daten (data pribadi) tanggal & tempat lahir.

  • Ausbildung (pendidikan)

  • Berufserfahrung (pengalaman kerja)

  • Kenntnisse & FƤhigkeiten (keahlian & kompetensi)

  • Sonstiges (lain-lain, seperti misalnya penghargaan, kegiatan sukarela dan hobi)


Kita fokus di 3 poin pertama dulu yah: data pribadi, pendidikan dan pengalaman kerja. Sisanya aku akan jelaskan di bab dua.


Ukuran font yang aku sarankan:

  • Heading: 16 atau 20

  • Subheading: 14 atau 15

  • Body text: 10 atau 11.


Di sini aku pakai Canva, karena gratis dan praktis. Cara pakainya gampang banget, tinggal bikin akun, lalu ketik CV dan akan muncul ratusan desain yang bisa kita pilih. Berhubung kita enggan membayar, maka pilihlah desain yang tidak ada simbol mahkota šŸ‘‘. Kalau kalian enggak mau pakai Canva, bisa pakai Google Docs atau Microsoft Word.


Canva screenshot

PRO TIP 1:
  • Jangan bikin CV di Photoshop terus ekspor JPEG. Soalnya beberapa website butuh ATS-friendly.*

  • Ekspor ke format PDF aja udah paling aman.

  • Kalau enggak ngerti cara bikin PDF, upload dokumen Word kalian ke ilovepdf.com


*Apa itu ATS-friendly?

ATS = Applicant Tracking System, yaitu software yang dipakai HR untuk menyaring CV secara otomatis sebelum manusia baca. Sistem ini biasanya scan CV kamu berdasarkan: kata kunci (keahlian, pengalaman, pendidikan), format, dan struktur.


ATS-friendly artinya CV kamu mudah dibaca dan diproses oleh software ini, misalnya:

  • Gunakan format sederhana → hindari tabel kompleks, grafik, atau layout unik yang bikin sistem kebingungan.

  • Kata kunci relevan → sesuaikan skill dan pengalaman dengan job description.

  • File PDF atau DOCX → biasanya ATS bisa baca format ini dengan baik.

  • Urutkan secara logis → pengalaman terbaru di atas, pendidikan, skills, dll.

  • Hindari gambar/foto atau ikon yang nggak penting → ATS nggak bisa baca gambar.


Oleh sebab itu, pilih aja salah satu desain minimalis yang kamu suka. Enggak usah terlalu perfeksionis soal desain, soalnya enggak penting. Jerman lebih suka CV yang polos, rapi dan menarik secukupnya aja. Enggak perlu dar-der-dor, meskipun ranah kerja kamu di bidang kreatif.


Berikut contoh CV aku yang terdiri dari 2 halaman. Ini halaman pertamanya. Dan ngomong-ngomong, contoh yang aku kasih di bawah ini tidak ATS-friendly* secara sempurna (pas dibaca software, susunannya agak berantakan gitu, tapi enggak parah) dan enggak apa-apa. Yang penting kata kunci yang penting sudah terbaca. (Dalam kasus aku, menjadi ATS-friendly tidak begitu relevan.)


CV Page 1

Seperti yang kalian lihat, dalam penulisan data pribadi, aku utamakan 4 hal yang paling penting: nama lengkap, nomor telepon, email dan link ke portofolio aku. Tulisan Video ShowreelĀ itu kalau kalian klik, akan langsung membuka tabĀ baru ke YouTube aku.


Foto hanya sebagai pemanis, bukan kewajiban. Kuletakkan di sisi kanan untuk alasan estetik. Saran untuk foto, sebaiknya tersenyum supaya vibe-nya positif. Jangan pakai foto KTP atau paspor yang kaku mampus, karena akan sangat membosankan dan bikin males yang baca. Hehe first impression matters loh. šŸ˜‚ tapi kalau enggak mau pakai foto juga TIDAK APA-APA ya! Tidak wajib!


Jika perusahaan sudah mencantumkan syarat Bahasa Jerman, sebaiknya penulisan CV dalam Bahasa Jerman. Tapi kalau iklan loker itu sendiri dalam Bahasa Inggris, silakan mengirim CV dalam Bahasa Inggris. Begitu pula dengan kasus di Indonesia ya. Bahasa menyesuaikan kebutuhan.


Kemudian masuk lebih jauh ke bagian pertama: data pribadi. Atau di sini aku sebutnya "About Me". Berhubung aku melamar kerja di Jerman, jadi ada kepentingan untuk mereka tahu tempat, kenegaraan dan tanggal lahir. Gunanya untuk pengecekan izin kerja, visa, asuransi dan pajak. Dalam beberapa kasus, bahkan perlu menjelaskan apabila sudah menikah dan punya anak (pajaknya beda lagi). Jika kamu melamar di Indonesia, ya tentu warga negara enggak perlu dicantumkan ya. Hehe.


Kesimpulannya: tulis sesuatu yang memang relevan dan perlu diketahui oleh si pemberi kerja. Jangan asal comot template dan copy-paste. Kalau informasinya enggak penting, ya enggak usah dimasukin. Justru kebanyakan informasi malah bikin distraksi dan bikin capek pembaca.


Begitu pula dengan riwayat pendidikan, atau aku tulisnya "Education". Aku hanya mencantumkan pendidikan S1 dan S2, kenapa? Karena enggak penting orang Jerman lihat nama SMA aku, mereka enggak tahu anyway. Dan ijazah SMA aku tidak diakui di Jerman. Jadi percuma juga. šŸ˜‚ TAPI buat kalian yang melamar kerja di Indonesia, aku sarankan tetap masukin pendidikan SMA atau sederajat, karena informasi ini masih relevan dan dibutuhkan.


Untuk informasi lainnya yang wajib ada (berurut):

  1. Keterangan gelar, misalnya Sarjana Seni.

  2. Nama jurusan, dan fakultas (jika perlu).

  3. Nama universitas, dan negara (jika perlu).


Aku turut mencantumkan GPA atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) biar keren aja. Ini enggak penting sama sekali kok. Tapi bodo amat soalnya gue susah banget dapetin IPK setinggi itu, jadi enggak rela kalau enggak berbagi. 🤣


Perhatikan pula format penulisan bulan dan tahun ya. Untuk riwayat pendidikan, tidak penting tanggal berapa kuliah. Yang penting ketahuan bulan dan tahun saja. Di Jerman, penulisan tanggal bisa pakai format ini DD.MM.YYYY


Untuk urutan, selalu mulai dari pengalaman terakhir. Secara filosofis, melalui CV, kita berkenalan dengan kamu yang hari ini hingga ke kamu yang baru mulai kerja. Jadi tuliskan yang terbaru di atas (reverse chronological order).


Lanjut ke pengalaman kerja atau "Work Experience". Sebenernya yang bener tanpa -s. Tapi aku udah terlanjur bikin pake -s. Maklumin aja ya.


Di bagian ini, wajib banget menunjukkan (berurut):

  1. Nama jabatan

  2. Nama perusahaan

  3. Tanggal mulai kerja hingga berakhir

  4. Deskripsi pendek mengenai tugas kamu di situ ngapain aja

  5. Opsional: di Jerman ada keharusan mencantumkan sertifikat kerja (Arbeitszeugnis) untuk membuktikan bahwa kita enggak bohong. Berhubung aku enggak punya, makanya ada tulisan kecil yang menjelaskan alasan kenapa enggak ada. Hehe. Kalau melamar ke perusahaan besar di Jerman, semua sertifikat kerja ini wajib kita lampirkan ke HR sebagai bukti. Tapi kalau perusahaan kecil, biasanya santai sih.


Cara penulisan bisa seperti contoh CV aku, tapi boleh juga misalnya menurun ke bawah seperti ini, pakai 2-3 bullet points. Yang penting singkat, enak dibaca, dan mudah dimengerti. Jadi nggak harus plek-ketiplek kayak contoh CV aku yah.


Senior Producer

Perusahaan XYZ

00.2020 - 00.2025

  • Mengatur anak buah

  • Memastikan mereka kerja

  • Bikin laporan


Berhubung kerjaan aku banyak banget, jadi CV aku lanjut ke halaman dua. Nah, untuk memperjelas bahwa CV aku ada 2 halaman, aku tulis di bagian footer itu "page 1 of 2" supaya pembaca tahu bahwa masih ada 1 halaman lagi. Hehe. Ini tidak wajib.


2. CV: Bagian Terakhir

Mari kita masuk ke bagian informasi tambahan, seperti keahlian dan kompetensi. Bagian ini sangat bergantung pada diri kamu sendiri. Dalam kasus aku, sebagai seseorang yang bekerja di bidang kreatif di Jerman, penting untuk pemberi kerja melihat penghargaan film yang pernah aku buat, kemampuan bahasa dan software yang aku kuasai.


Untuk sebagian orang lain, mungkin lebih penting menunjukkan kegiatan sosialnya, misalnya volunteer di NGO ini, NGO itu, dll. Jadi tergantung orangnya banget nih. Intinya kalau ada kelebihan, kehebatan ataupun aktivitas yang kamu tekuni, dan apalagi bisa menambah nilai bagi pemberi kerja yang kamu tuju, silakan kamu tulis!


CV page 2

Ketika menjelaskan kemampuan bahasa, jangan lupa cantumkan pula level kemampuanmu. Apakah itu beginner, intermediate, atau hasil sertifikatnya sekalian. Jadi jangan sekadar tulis "Bahasa Inggris" tanpa konteks gitu.


Sementara untuk kemampuan software, teknis, atau kemampuan apapun (tergantung bidang pekerjaanmu), menurut aku pribadi sangatlah tidak perlu membuat grafik yang menunjukkan kamu paling jago di mana. Kelihatannya memang keren/estetik seperti desain di bawah ini, tapi ternyata enggak penting, makan tempat, dan susah bacanya.



Kenapa jangan?

Karena grafikmu itu tidak terstandarisasi. Meskipun kamu bilang (misalnya) Adobe Photoshop 80% dan Adobe Illustrator 50%, tapi angka 80% ini menurut siapa? Kalau aku adu keahlianmu dengan orang yang lebih jago darimu, apakah keahlianmu tetap 80%? Enggak, kan? Nah, karena tidak ada standarisasi, lebih baik tidak usah. KECUALI, kamu memang mendapatkan nilai 80% dari Adobe-nya langsung.


3. Surat Pengantar

Satu hal yang jarang dibicarakan padahal penting banget, dan di Jerman hukumnya WAJIB! Aku enggak pernah ketemu loker buat Werkstudent yang tidak meminta cover letter atau Anschreiben ini. Pasti selalu ada.


Dan aku BENCI BANGET NULISNYA šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚


Karena apa?

Karena kamu harus tulis cover letter yang berbeda untuk setiap perusahaan.


Beneran. Aku enggak bohong.

Satu cover letter PER perusahaan.

BUKAN satu cover letterĀ untuk semua perusahaan.


Kenapa gitu?

Soalnya di Jerman, cover letter tuh beneran dibaca woy. Jadi kalau isinya cuma copy-paste asal, bakal ketahuan banget dan auto ketolak.


Okay, to be fair, pasti ada dong perusahaan yang enggak baca cover letter? Iya, pasti ada. Tapi masalahnya kita enggak tahu yang mana. Berhubung gol kita adalah mendapatkan panggilan interview, ya kita usaha aja memperbesar kesempatan dengan mengirimkan cover letter yang emang ditulis khusus untuk perusahaan tersebut.


So, here was my cover letter yang berhasil mendapatkan panggilan interview di salah satu perusahaan raksasa di Jerman, yang kalau aku sebutin namanya pasti semua orang tahu. Tapi lagi-lagi enggak bakal aku sebutkan di sini, agar tidak membawa masalah untukku di kemudian hari.


ree

Mari kita bedah!


Bagian header, alih-alih kutulis cover letter, aku pilih menulis namaku lagi, besar-besar. Supaya apa? Supaya nempel di kepala pemberi kerja. Terus aku tulis lagi email dan nomor telepon, meskipun sebenarnya enggak penting. Tapi bodo amat. Jadi bagian ini opsional buat kalian.


Bagian pengirim, enggak masalah kalian tahu nama si HR atau tidak. Kalau memang tertulis namanya, ya cantumkan. Kalau enggak, ya bisa ditulis sebagai Hiring Manager atau apapun. (Dalam hal ini, silakan diskusi dengan ChatGPT.)


Bagian isi surat, jujur, ChatGPT paling terpakai di bagian ini sih. Soalnya enggak mungkin aku nulis belasan cover letter berbeda setiap minggu. Sudah pasti tidak ada waktu dan tenaga buat mikir sekeras itu. So thank you ChatGPT for saving me. Tapi bukan berarti semuanya kuserahkan ke AI. Karena tetep aja, yang paling tahu tentang aku adalah diriku sendiri, bukan si AI.


Aku bantu kalian cara bikin prompt-nya aja:

Buatkan aku cover letter dalam Bahasa X untuk melamar posisi Y di perusahaan Z, dengan job description sbb. [copy paste aja syarat-prasyarat dari loker-nya]


Paragraf 1 jelasin aku kuliah di X di jurusan Y dengan kemampuan XYZ.

Paragraf 2 dan 3 ceritain pengalaman aku mulai dari X sampai Z.

Paragraf 4 suruh mereka buka link portofolio aku.

Paragraf 5 kesimpulannya aku tuh jago banget di ABCDE dan hubungannya dengan kuliah aku.

Paragraf 6 sebagai penutup, aku siap kerja bulan XX, siap relokasi dan sangat berharap bisa jelasin tentang diriku lebih lanjut lewat interview.


Menurut aku surat pengantar itu bukan sekadar formalitas. Surat pengantar itu ya sesuai namanya: pengantar. Fungsinya (secara filosofis) menghantarkan pemberi kerja ke depan pintu rumah kita. Menjadi semacam pembuka tali silaturahmi. Wkwkwk.


Oleh sebab itu, tulislah sesuatu yang menarik tentang diri kita, agar si pemberi kerja mau berkenalan (dan menawarkan interview). Isinya tidak perlu detail, tapi harus menggelitik. Membuat si pembaca terkagum dan bertanya-tanya. Jadi harus ada elemen wow-nya.


Buatku, elemen wow aku ada di Video Showreel. Makanya surat aku mengarah ke sana, dan link ini bahkan aku sematkan juga di CV. Pokoknya enggak boleh terlewat deh. Si pemberi kerja wajib banget lihat portofolioku, karena aku yakin: sekali lihat, pasti gol interview. Dan benar. 😬


Terakhir, di Jerman biasanya CV dan cover letter itu ditandatangani. Makanya ada gap antara best regards dan namaku, soalnya itu buat aku tanda tangan.


4. Tambahan: portofolio

Jika karya kamu bisa didokumentasikan dalam bentuk digital, aku sarankan untuk menyertakan lampiran portofolio sebagai nilai tambah. Beda loh baca tulisan "Graphic Designer" sama melihat hasil karyanya langsung.


Makanya aku mati-matian lewat CV dan cover letter, meminta pemberi kerja cek hasil karya aku. Soalnya kalau dia enggak lihat, pasti dia enggak bisa bayangin betapa gilanya pengalaman kerjaku selama ini. Enggak semua orang kenal nama perusahaan yang aku tuliskan, meskipun hasil karya yang kami hasilkan di perusahaan itu gilaaaa banget.


Di portofolio inilah kalian boleh desain sekreatif mungkin, seliar mungkin. Terserah formatnya gimana. Yang penting formatnya antara:

  • PDF

  • JPG

  • MP4

  • URL (link)


Mudah dan ringan diakses. Sekitar 2 MB. Berhubung video sudah pasti berat, gunakan YouTube atau Vimeo. Jika kamu juga kerja di perfilman, aku sangat sarankan hasil karya kamu digabung jadi satu video showreel.


Jangan lupa, Linkedin dan media sosial kamu juga bisa dicek ataupun dijadikan portofolio. Jadi jangan asal dalam menampilkan diri di dunia maya ā˜ŗļø


Demikian tips dariku, semoga cocok.

Komentar


Date

Let's connect on my social media!
  • Threads
  • Instagram
  • LinkedIn
  • YouTube
bottom of page