top of page

Kuliah Sambil Kerja di Jerman, Langsung Balik Modal?

  • Gambar penulis: Caecilia Sherina
    Caecilia Sherina
  • 8 Jul
  • 6 menit membaca

Diperbarui: 24 Jul

Sebelum pindah ke Jerman, kakakku yang udah lebih dulu tinggal di Berlin sempat bilang,

"Cari universitas yang kuliahnya gratis, sambil kerja part-time. Ntar sebelum lulus juga udah balik modal."

"Wah, serius, Kak?"


Kedengerannya meyakinkan banget, kan? Waktu itu aku masih belum ngerti apa-apa soal kehidupan mahasiswa di Jerman, jadi ya jelas aja aku manggut-manggut. Apalagi yang ngomong kakak kandung sendiri—percaya aja udah.


Tanpa banyak mikir, langsung lah aku siapkan dana sekitar 300 jutaan rupiah buat berangkat ke Jerman. FYI, di dalamnya termasuk dana blocked account sebesar 200 juta rupiah, dan itu bukan modal yang harus aku balikin. Uang ini memang harus disiapkan dan digunakan untuk biaya hidup selama setahun pertama di Jerman. Enggak pindah ke Jerman juga tetap saja uang ini akan dipakai untuk biaya hidup di manapun. Jadi menurutku, dia bukan modal.


Dengan demikian, modal sebenarnya adalah sisa 100 juta Rupiah yang hanya terjadi karena aku pindah ke Jerman, seperti misalnya biaya les bahasa, sertifikasi, visa, pesawat, booking kosan, perabotan winter dan semacamnya.


Kembali ke pertanyaan di awal, beneran bisa balik modal sebelum lulus kuliah? Atau cuma mitos manis belaka? Sini, aku share semuanya—mulai dari pengeluaran, potensi pemasukan, sampai cara cari kerja, berdasarkan pengalamanku kuliah dan kerja di Jerman tahun 2025!


Sebagai catatan atau recap buat pembaca baru yang tidak kenal diriku, aku kuliah:

  • Master's degree,

  • jurusan Komunikasi,

  • di Hochschule Neu-Ulm (sekolah negeri).

  • Biaya kuliahnya gratis, hanya ada biaya kontribusi sebesar 72 € per semester.

  • Aku tidak pakai beasiswa apapun sampai saat ini.

  • Bahasa Jerman masih di level A2.


Tahun pertama aku datang, tidak bisa langsung cari kerja karena (1) belum punya Aufenhaltstitel (residence permit), (2) masih culun, belum tau apa-apa, dan (3) kuliahnya ternyata sibuk banget euy.


Kemudian aku mikir, mungkin semester dua bisa nih sambil kerja, soalnya semua syarat kan udah aku atasi. Tapi ternyata... enggak semudah itu, gengs. SUSAH BANGET!


Setiap minggu aku kirim 3 sampai 5 CV ke berbagai perusahaan, dan hasilnya?

100% ditolak. 😂 HAHAHAHA...


Sumpah ya, aku sampai depresi. Malu dan bingung, rasanya kayak... apa aku memang setolol itu? Kenapa sih aku ditolak terus?


Akhirnya aku coba tanya ke teman-teman sekelas.Ternyata kebanyakan dari mereka (mahasiswa internasional) juga nggak berhasil dapat Werkstudent. Mereka lebih banyak ambil kerja Minijob atau Midijob. Ada yang kerja angkat-angkat barang di gudang Amazon, Müller, Edeka... ada juga yang jadi pelayan di restoran, pegawai kasir di toko baju, dan semacamnya. Beberapa yang lain kerja sebagai asisten di kampus, ada yang magang, TAPIII ada juga yang berhasil dapet posisi sebagai Werkstudent di perusahaan—meskipun itu sedikit banget.


Nah, kalau aku ringkas semua jenis pekerjaan yang biasa diambil mahasiswa, bentuknya kira-kira kayak tabel di bawah ini (yes, ini dibantu ChatGPT). Feel free to CMIIW!

Jenis pekerjaan

Durasi kerja

Gaji per Jam

Contoh pekerjaan

Catatan

Minijob

10-15 jam per minggu

12,41 - 15 €

Kasir, pelayan, kurir, dan semacamnya.

Cocok buat kerja ringan. Max penghasilan 556 €/bulan untuk bebas pajak.

Midijob

≤ 20 jam per minggu

12 - 16 €+

Warehouse, call center, dapur, dll.

Penghasilan 556 - 2.000 €/bulan. Status mahasiswa tetap aman ≤ 20 jam/minggu.

Praktika (Magang)

Full time (biasanya 35-40 jam per minggu)

Unpaid or 15 €+

Magang di perusahaan atau lab kampus.

Wajib/opsional tergantung jurusan. Bisa unpaid. Terkait bidang studi.

Werkstudent

Max. 20 jam per minggu (selama semester)

15 - 20 €+

Asisten riset, marketing, IT, dll. sesuai bidang studi.

Harus mahasiswa aktif. Gaji tinggi. Saat libur semester, kadang bisa 40 jam per minggu.

Teilzeitjob

Full time (up to 40 jam per minggu)

12 - 18 €+

Warehouse, pengemasan, musim panen.

Hanya boleh selama libur semester. Kontrak sementara.

Tentu aku paling tergiur kerja sebagai Werkstudent atau ambil Praktikum, karena... ya jujur aja, fisik dan kemampuanku tuh nggak cocok buat kerja Minijob atau Midijob yang harus angkat-angkat barang atau berdiri berjam-jam.


Lagian, usiaku juga udah di atas 30 tahun dengan segambreng pengalaman kerja yang, let’s say, bombastis. Rasanya agak... nyebelin aja gitu kalau aku masih harus kerja buruh kasar lagi (FYI, aku udah kenyang ngerasain kerja kayak gitu pas kuliah S1 dulu).


Maka setiap minggu, setelah tugas-tugas kuliah kelar, aku selalu sempatin buat ngecek lagi lamaran-lamaran kerja yang aku kirim. Bahkan tiap bulan aku update CV-ku supaya makin relevan dengan posisi yang aku incar. Nggak lupa, cover letter juga jadi pemain penting buat bisa dapet panggilan interview.


Sumber cari kerja? Aku sih andalannya cuma dua:

  • de.Indeed.com

  • Linkedin


Kadang sesama teman juga saling share info lowongan, dan biasanya ya... tetap aja sumbernya dari LinkedIn juga. Oh iya, jangan lupa juga cek mading kampus. Banyak banget lowongan kerja di situ (tapi kebanyakan dalam bahasa Jerman).


Akhirnya, setelah rajin kirim CV sejak Maret 2025, aku dapet panggilan wawancara 5 kali, dan diterima di 3 perusahaan. Yang satu langsung nolak sambil nerima karena pas ketemu ternyata jadwal kerjanya nggak cocok, dan kebetulan juga aku udah nerima tawaran dari tempat lain. Jadi, sisa dua perusahaan aja yang benar-benar aku pertimbangkan.


Nanti, di postingan lain, aku bakal bahas khusus tentang cara bikin CV dan strategi interview yang efektif. Tapi untuk sekarang, mari kita balik ke pertanyaan awal:


"Emang bener bisa balik modal sebelum lulus?"

Anggaplah modal awal untuk ke Jerman di tahun 2025 itu sebesar 100 juta Rupiah, udah termasuk biaya les bahasa, sertifikasi, visa, hingga tiket pesawat. Pertanyaannya: Kerja apa dan berapa lama sampai bisa nutup modal itu?


Kita ambil simulasi hidupku ya. Jadi bener-bener berdasarkan kenyataan nih!

  • September 2024 aku mulai kuliah.

  • Realistically, susah dapat kerjaan dalam 1 tahun pertama tanpa kemampuan Bahasa Jerman yang mumpuni (belum lagi kuliahnya sibuk parah!).

  • Faktanya memang dari September 2024 hingga Juni 2025 aku tidak punya pekerjaan dan hanya mengandalkan tabungan blocked account.

  • Blocked account aku masih cukup untuk membiayai hidup sampai November 2025.

  • Jika durasi kuliah Master 2 tahun, dan akan lulus di Agustus 2026, maka aku punya waktu sekitar 12 bulan untuk mulai balik modal dan menabung sebelum lulus kuliah.


Sekarang kita coba hitung yuk!


Modal IDR 100.000.000 dikonversi ke kurs saat ini Rp19.000,00 jadi sekitar 5.263 €.


Tapi aku juga harus tetap hidup selama kerja. Apalagi memasuki Desember 2025, blocked account aku bakal habis. Berarti dari Desember 2025 ke Agustus 2026, aku harus siapin biaya hidup lagi untuk 9 bulan ke depan.


Biaya hidup standard di Jerman menurut pemerintah adalah 992 € per bulan, sementara aku di angka 950 €. Idealnya, gajiku selama 12 bulan harus cukup untuk menutup biaya hidup 9 bulan sekaligus menyisihkan uang untuk menutup modal 100 juta di awal.


950 € x 9 bulan = 8.550 €


Total biaya hidup + tutup modal menjadi:


5.263 € + 8.550 € = 13.813 € (dalam 12 bulan) atau

13.813 € ÷ 12 bulan = 1.151 € per bulan


Kalau aku kerja 20 jam per minggu, berarti sekitar 80 jam per bulan. Artinya gaji minimum yang kubutuhkan untuk menutup semua ini adalah...

1.151 € ÷ 80 jam = 14.4 € per jam


Ambil jalur aman, berarti minimal 15 € per jam. Jika kita merujuk kembali ke tabel di atas, hampir semua jenis pekerjaan bisa mencapai 15 € per jam.


Artinya, ucapan kakakku bukanlah mitos belaka! Balik modal sebelum lulus kuliah beneran bisa dicapai!

Berdasarkan pengalaman aku pribadi bahkan, pekerjaan yang aku jalani sekarang sebagai Werkstudent di sebuah perusahaan startup (bidang video editing). Aku mendapatkan gaji 17 € per jam, dan aku kerja 20 jam per minggu, jadi anggap aja:


17 € x 20 jam x 4 minggu = 1.360 € per bulan (brutto)


Lokasiku di Bayern (Bavaria), lahir tahun 1994, nggak punya anak, dan pakai asuransi kesehatan privat. Setelah dipotong pajak dan asuransi, penghasilan bersihku kira-kira:

ree

Kamu bisa pakai kalkulator dari website mana pun, hasilnya bakal kurang lebih sama. Tapi yang perlu diingat, semakin besar gaji kamu, semakin besar juga pajak yang harus dibayar.

Kebetulan aku bukan penganut Katolik yang taat, jadi aku tidak bayar Kirchensteuer alias pajak gereja. Lumayan, bisa ngurangin potongan.


Kalau kamu keterima kerja di perusahaan besar dan internasional seperti BMW, Siemens, Allianz, dan semacamnya, ada kemungkinan gaji kamu mencapai 20 € per jam (tapi tergantung jurusan dan bidang yah, bisa dicek gaji rata-rata di Glassdoor).


Nah, kebetulan perusahaan kedua yang menerima aku adalah salah satu perusahaan besar di dunia. Aku dapat kontrak kerja 18 jam per minggu, dengan gaji bulanan sekitar 1.390 €.


Kalau angka ini kita masukin ke kalkulator pajak, hasilnya kira-kira segini:

ree

Berdasarkan hitunganku di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kerja di startup pun cukup untuk menutupi biaya hidup serta modal dalam 12 bulan. Dan tentunya jauh lebih baik lagi jika bisa dapat kerja di perusahaan besar dan internasional.


Kalau aku iseng mengkonversi gaji 1.275 € ke Rupiah, besarannya sekitar 24,2 juta saat ini. Bayangkan, cuma 18 jam kerja per minggu sebagai student saja sudah dapat gaji setara manajer di Jakarta 👁️👄👁️ Meskipun pada akhirnya, harus kamu setarakan juga dengan besarnya biaya hidup  (dalam kasus ini) di kota Munich yang mencapai 1.100 € per bulan (atau setara 20.9 juta Rupiah). Jadi jangan langsung hip-hip-hore ya. Itu aja udah dipas-pasin sepas-pasnya dengan memilih kos reog seukuran 8 m2. 😭😭😭 Asli, tinggal di Munich mahal banget, enggak ngotak!!!


Sekian serba-serbi hitungan gaji student di Jerman. Semoga bisa memberikan gambaran untuk kalian yang tertarik. Tapi...


Jangan langsung diambil mentah-mentah ya.


Jalan hidup tiap orang berbeda. Enggak bakal sama. Mungkin ada orang yang harus memulai dari Minijob dengan gaji 500 € per bulan, mungkin ada yang enggak sempat kerja sama sekali selama kuliah, dan mungkin ada juga yang disokong oleh beasiswa.


Intinya, ada banyak cara untuk menutup biaya hidup dan balik modal sebelum lulus kuliah. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan informasi, berstrategi dan gigih mencapai gol yang kita inginkan.


ree

Kalau kamu punya pertanyaan atau ide topik lain seputar kuliah dan kerja di Jerman, tinggal tulis di kolom komentar atau sapa aku di Threads dan Instagram!


Salam syahdu 🫡

@Ceaecilia

Komentar


Date

Let's connect on my social media!
  • Threads
  • Instagram
  • LinkedIn
  • YouTube
bottom of page