top of page

Meine kleine Familie

  • Gambar penulis: Caecilia Sherina
    Caecilia Sherina
  • 14 Jul
  • 13 menit membaca

Diperbarui: 15 Jul

Belum tahu kenapa, tapi akhir-akhir ini aku tiba-tiba pengen banget punya keluarga. 😭😭😭 Kayaknya bukan cuma ā€œpengenā€ yang biasa, tapi beneran pengen banget.


Kamu paham kan maksudku?

Keluarga >> punya suami dan anak.


Kayak, anjir ada angin apa ini?

Wkwkwk...

Ngakak sendiri, sial.


Meskipun sebenarnya buat usiaku, enggak aneh sama sekali. Usiaku sudah 31 tahun. Udah masuk fase yang sangat wajar buat mulai mikirin hal-hal beginian. Tapi tetap aja, waktu perasaan itu datang, kayak awkward aja gitu. Kayak aneh, beda. Kayak, ā€œIh, serius Cecil pengen punya anak???ā€ Jadi geli sendiri, lantaran aku biasanya childish banget ya.


Tapi dari sini aku baru sadar satu hal penting: ternyata ada pola pikir yang baru muncul saat seseorang udah beneran siap lahir-batin buat berkeluarga. Kayak misalnya…


Dulu aku mikir, sebelum nikah kita harus cari pasangan yang checklist-nya panjang banget—dari A sampai Z. Kayak lagi nyari calon mahasiswa S2 di Harvard. Tapi ternyata, dan faktanya, setelah mengarungi berbagai lika-liku kehidupan asmara (cailah), aku sadar: hubungan itu enggak bisa dipaksain buat masuk ke checklist sekaku itu.


Bukan berarti enggak boleh punya standar ya. Punya itu perlu. Tapi ternyata, standarnya enggak harus kaku. Dan enggak harus banyak-banyak juga.


Contohnya, dulu aku sempat mikir: pasanganku harus artsy, passionate sama kerjaannya, suka Jepang, pernah ke luar negeri, bisa bahasa Inggris, tinggi minimal sekian cm, tinggal di kota A, dan bla bla bla. Panjang banget daftarnya. Tapi lucunya, orang yang justru bikin aku pengen settle down 100%... enggak ada urusannya sama kualifikasi itu. šŸ˜‚


Karena ternyata, satu hal yang lebih penting dari semua itu adalah:

Aku dan dia (akhirnya) sudah siap untuk berkeluarga.


Khususnya dia ya, secara fisik, mental, bahkan finansial. Karena kebetulan aku masih terseok-seok soal finansial. (Maklumlah, masih student yang baru pindah ke Jerman.)


Kenapa lebih penting?

Karena mau secocok apapun, kalau belum siap berkeluarga, biasanya bakal ribut terus. Saling menangin ego masing-masing, enggak ada yang mau kalah.


Lalu, siap berkeluarga itu apa sih?

Buat aku pribadi, ā€œsiap berkeluargaā€ itu sama dengan sudah bisa menerima pasangan apa adanya. Tapi aku juga merasa bahwa konsep ini perlu digali lebih dalam lagi. Karena… menerima pasangan apa adanya itu ternyata nggak bisa dipaksain. Menerima pasangan apa adanya bukan hasil dari niat atau usaha semata, apalagi settingan ya. Menurut aku, itu adalah bentuk penerimaan tulus yang baru bisa muncul ketika kamu emang udah siap berkeluarga.


Justru ketika kamu masih harus "memaksakan" diri untuk belajar menerima pasangan apa adanya, berarti kamu belum siap berkeluarga sama "dia". Mungkin siapnya sama orang lain yang lebih pas, tapi kamu keukeuh maunya sama dia. Ya enggak apa-apa juga, itu hak kamu. Cuman menurutku, kalau lagi di posisi itu, mendingan kasih waktu lebih lama buat jujur ke diri sendiri: kamu beneran udah terima atau belum?


Kalau aku sih,

terima dulu, baru nikah.

Bukan sebaliknya.


Refleksi Hubungan Lama

Mau nggak mau, aku jadi keinget hubungan lamaku. Waktu aku gagal menikah di tahun 2023, yang sekarang udah bisa aku lihat dari sudut pandang lebih dewasa—sebagai bahan refleksi diri. Karena ternyata, waktu itu aku bohong sama diriku sendiri.


Sebenarnya isi hatiku udah teriak enggak siap. Aku belum bisa terima kekurangan pasanganku. Aku masih berharap dia berubah suatu hari nanti menjadi versi yang aku inginkan. Dan tentunya, pasanganku juga bisa merasakan hal itu ya, merasakan bagaimana ia tidak dicintai sepenuhnya, bahwa cinta di antara kami itu bersyarat. Jadi aku enggak heran, jika pada akhirnya kami berpisah.


Tentu, kesalahannya enggak sepenuhnya di aku. Hehe. (Sorry not sorry, tapi aku nggak terima disalahin sendirian.) It takes two to tango, right? Dia juga salah karena secara sadar berbohong dan berselingkuh. Ke aku dia bilangnya oke, bakal berubah—padahal dalam hati dia udah tahu dia enggak bakal berubah. šŸ˜‚


Coba kalau dari awal dia jujur, bilang, ā€œAku nggak nyaman diperlakukan begini.ā€ Mungkin kita bisa cari jalan tengahnya. Tapi ya, nasi udah jadi bubur. Sudahlah, memang kita berdua enggak cocok aja. Enggak akan pernah ketemu di tengah.


Setelah itu, aku sempat dekat juga sama seseorang dari Jakarta. LDR selama 6 bulanan. Dan aku juga coba refleksi, kenapa hubungan itu bisa gagal?


Waktu itu, meskipun secara mental aku udah jauh lebih dewasa dan juga udah punya keinginan berkeluarga (meski belum siap), sayangnya dari sisi pasanganku, doi belum siap kerja sama sebagai tim. Aku merasa dia masih memposisikan hubungan ini sebagai ā€œaku versus kamuā€.


Contohnya, mantanku itu suka banget pakai kata ā€œkitaā€. Kesannya seperti dia memperhatikan kenyamanan kita berdua. Tapi nyatanya enggak.


Justru aku ngerasa kayak ada yang aneh. Sampai akhirnya aku nyeletuk:

ā€œKita? Kita tuh kamu sama siapa ya? Soalnya aku enggak pernah mikir atau sepakat sama yang kamu bilang. Kalau mau ngomong 'kita', mungkin tanya dulu kali, aku setuju nggak?ā€

Kalau kamu bilang, ā€œKita suka makan sambel,ā€ mungkin ada baiknya cek dulu, emang aku beneran suka makan sambel juga? Jangan langsung bikin klaim seolah-olah kita itu satu suara, ketika suara itu cuma suara kamu pribadi dan enggak ada suara aku di dalamnya.


Hal seperti ini harusnya bisa "dikomunikasikan" aja. Kan kita sama-sama udah dewasa. Tapi sayangnya, dia nggak bisa diajak kompromi. Mulutnya bilang, ā€œIya, aku ngerti.ā€ Tapi tindakannya? Nggak ada. Karena dia mikir, bergerak, dan bikin keputusan bukan pakai logika, tapi pakai trauma.


Otomatis, dia selalu ngerasa diserang. Jadi dia refleks buat nyelametin diri sendiri dulu, bela diri atas nama ā€œkitaā€. Padahal ya... dia enggak mikirin ā€œkitaā€ itu sebenarnya apa. Dia cuma pengen semuanya kelihatan harmonis, tanpa konflik. Bahkan lebih milih menghindar dan menutupi masalah, daripada selesain bareng-bareng.


Padahal menurutku, konflik ini bisa banget diselesaikan, asal kedua pihak sama-sama berani jadi diri sendiri—jujur, apa adanya—dan percaya diri buat ngomongin sesuatu yang mungkin enggak enak, tapi tetap disampaikan karena percaya... percaya bahwa lawan bicaranya bisa terima.


Lawan bicaranya juga harus dalam posisi yang sama. Sama-sama mau dengerin, menghargai, dan menerima perbedaan, tanpa langsung nge-judge atau nyari siapa yang salah. Karena tujuannya bukan buat saling nyalahin. Tapi buat cari jalan tengah.


Jalan tengah itu bukan kompromi setengah hati. Jalan tengah adalah jalan di mana dua-duanya bisa jalan dengan nyaman.


Waktu itu yang bikin aku gila adalah aku kerja keras sendirian menciptakan ruang aman buat dia terbuka. Aku mau dengerin, menghargai dan terima pemikiran dia—seberbeda apapun—tapi sayangnya, dia enggak mau melakukan sebaliknya. Kelihatan banget. Dia cuma mau urusan ini cepet kelar, alias cuci tangan.


Dan akhirnya aku terpaksa dengan berat hati mengucapkan, "Maaf banget, kita enggak bisa pacaran kayak gini, kalau cara kerja kamu adalah jalan sendirian."


Hubungan ini kalau aku terusin, cuma akan mengulang sejarah orang tua aku. Aku tahu rasanya punya ayah, pemimpin keluarga yang cerdas, sangat bisa diandalkan, tapi jalannya sendirian. Enggak ada ruang untuk diskusi. Dia enggak terima masukan siapapun, termasuk istrinya sendiri, dan itu sangat berat buat mama aku.


Puluhan tahun digituin, istri juga bisa kesepian ketika opini dia enggak pernah didengerin. Dia harus nurut aja, ikutin apa kata suami. Meskipun suaminya baik ya, bukan orang jahat. Tapi hubungannya jadi enggak bahagia, dan itu, ujung-ujungnya anak ikut merasakan. ā˜ŗļø


Makanya aku janji ke diriku sendiri, untuk tidak mengulang sejarah itu, dan memberikan diriku kesempatan hidup yang lebih baik.


Setelah aku bilang, "Kita engga bisa lanjut ya. Kita putus," baru setelah itu dia sadar, menyesal, dan melontarkan janji-janji perubahan. Tapi semuanya sudah terlambat.


Logika aku sekarang simpel aja:

Kalau pas pacaran, komunikasi udah kayak tarik tambang, gimana nanti pas nikah?


Pacaran itu momen lagi cinta-cintanya, masa-masa di mana semua kekurangan pasangan masih terlihat kayak pelangi. Nah, kalau masih pelangi aja udah berantem semengerikan itu, apalagi nanti pas pelanginya udah hilang? Pas nikah?


Apalagi kalau lihat konteks usia: aku 30, mantanku 39. Kita berdua udah matang. Udah lewat fase-fase eksplorasi, dan udah nggak ada lagi perubahan besar dalam karakter masing-masing. Jadi kalau masih pacaran aja udah berantemnya heboh banget, pake nangis sampai stress … ya udah kebayang ya pernikahan akan lebih parah. 😬


Hubungan yang Sehat

Terus konflik yang sehat itu kayak gimana sih?

Nah, ini kejadian yang aku alami sama pasangan aku yang sekarang. 😬


Jadi, suatu hari aku udah bikin janji buat jalan sama doi. Tapi tiba-tiba, H-3 aku bilang cancel karena PR kuliah aku segunung. Aku tentu langsung minta maaf, tapi doi keliatan kecewa banget.


Dia bilang dengan sangat baik-baik ya,

"Aku sedih kamu cancel, karena aku udah luangin hari Sabtu buat jalan sama kamu, karena kamu bilang kamu cuma punya waktu hari Sabtu. Dan aku cancel temen aku demi ketemu kamu. Sekarang kamu cancel aku, aku harus ngapain hari Sabtu? Aku enggak bisa dadakan balik ke temen aku. Tapi aku paham kuliahmu lagi sibuk. Yaudah gpp, it's not the end of the world. Cuman sekarang aku harus pikirin hari Sabtu aku mau ngapain."

Begitu aku dengar dia ngomong gitu… wajah aku langsung pucat. 🫠

Aku ngerasa bersalah banget. Otak aku langsung muter: Oke, solusi terbaiknya apa biar ini nggak kejadian lagi? Gimana cara minta maaf yang pantas?


Waktu itu aku diem dulu. Aku butuh waktu buat mikir. Terus aku telepon dia, dan bilang aku minta maaf lagi. Karena masih ada waktu 3 hari, aku bilang, "Kasih aku waktu buat coba beresin jadwal. Mungkin aku bisa atur ulang PR-ku supaya kita tetap bisa jalan hari Sabtu." Meskipun tentu sudah terlambat ya, dia sudah kecewa, sudah malas ketemu di hari Sabtu.


Jadi aku benar-benar 100% minta maaf karena nggak ngatur waktu dengan baik, dan supaya ini nggak kejadian lagi, aku bilang ke dia aku bakal bikin Google Spreadsheet yang isinya:

  • semua mata kuliah,

  • semua tugas yang akan datang,

  • semua deadline kerja dan janji-janji lainnya.

Biar dia bisa cek kapan aku free, dan aku juga jadi lebih rapi dan accountable soal waktuku.


Apakah itu berlebihan?

Tentu saja. šŸ˜‚


Tapi menurutku, itu solusi terbaik yang realistis dan konkret. Aku nggak minta dia ngelakuin hal yang sama. Ini masalahnya aku: aku yang bikin jadwal orang jadi kacau, ya aku yang harus beresin hidup aku. Dan masalahnya cukup sampai situ aja. Jangan dilebarin. Jangan dibawa ke topik-topik lain.


Meskipun berlebihan (karena dia ketawa pas aku beneran kirim spreadsheet šŸ˜‚), tapi aku beneran tried my best untuk pegang janji dan perbaiki keadaan. Alhasil aku prioritasin dia dan mundurin beberapa tugas kuliah yang memang masih bisa dimundurin. Jadi hari Sabtu kami tetap bertemu, DAN yang tidak kalah penting.


Ini sih yang bikin aku yakin banget sama dia.


Hari Sabtu itu, aku dateng, minta maaf sekali lagi karena udah ngubah jadwal seenaknya. Aku pikir dia bakal nyindir atau nunjukin rasa kesal soal kemarin ya. Tapi ternyata enggak. Sama sekali enggak. Dia malah bilang:

"Hey, aku udah bilang loh it's okay, it's not the end of the world. Next time, kalau kamu emang sibuk, ya enggak apa-apa. Mungkin suatu hari nanti itu terjadi padaku, dan aku berharap kamu juga jangan marah. Tapi makasih ya udah sediain waktu buat aku di sela-sela kesibukanmu. Aku happy bisa ketemu kamu, as always."
Walking on the park

😭😭😭


Kalian tahu nggak sih, betapa terharunya aku dengar dia bilang makasih?


Kayak... wah, gila.

Usaha aku buat nyempetin waktu ketemu dia tuh bener-bener diapresiasi.

Berasa banget jadi manusia. Dihargai. Diterima. Disayang.


Dan jujur aja ya... Kalau aku boleh ngomong blak-blakan—buat mantan dan temen-temen lama yang dulu ngamuk-ngamuk karena aku pernah cancel janji:


Kalian pikir kalian siapa?Ā šŸ˜…

Apa hak kalian marah-marah sampai ngamuk kesetanan cuma karena aku cancel ketemuan? Padahal cuma pertemuan kecil juga, for having fun. Bukan business meeting yang harus disiapkan jauh-jauh hari.


Aku ngerti kok, kalian udah berharap. Udah nyiapin waktu. Terus terpaksa ubah rencana karena aku. Tapi tau enggak—aku enggak ada kewajiban harus bahagiain kalian loh sebenernya. Aku sudah cancel dengan etika yang baik juga, minta maaf dan enggak cancel dadak-mendadak pas kalian udah di jalan (misalnya).


Dan kalian tahu enggak kalau situasinya dibalik, aku bakal apa?

Aku bakal yaudahlah.


Aku bakal ngertiin kalian, dan santai aja. Enggak perlu aku cecar, maki-maki, atau kuajarin caranya menghargai orang, caranya bikin jadwal, bla bla bla.


Kecewa? Boleh.

Marah? Kurasa tidak pada tempatnya.


Kebayang kan sekarang yang aku maksud dengan konflik yang sehat?

Nggak perlu marah-marah. Nggak perlu jadi drama. Ungkapkan kekecewaan boleh, sesuai batasnya.


Pasangan yang Sehat

Itu yang bikin aku saat ini merasa siap berkeluarga, karena aku merasa punya pasangan yang sehat kali ini. Pasangan yang MAU ngertiin ritme hidup aku, ngertiin prioritas aku, dan nggak gampang baper atau meledak cuma karena hal-hal kecil.


Dia tahu aku masih mahasiswa—jelas prioritas utamanya belajar, bukan pacaran. Itu juga udah aku sampaikan di awal, jadi bukan surprise. Dia udah tau dari sebelum pacaran kalau aku bakal sibuk kuliah. Emangnya gue hidup tiap hari mikirin si pacar? Enggak kan, aku pasti mikirin kuliah. Jadi wajar dong sesekali salah atur jadwal.


Tapi bukan berarti aku nggak sayang. Bukan berarti aku nggak peduli. Itu cuma kesalahan kecil, yang bisa banget dibicarakan dengan kepala dingin, dan bisa banget diperbaiki. Nah, kalau sama-sama sayang dan mau berkeluarga, ya saling pengertian lah.


Kalau salah ya minta maaf, enggak usah pakai tapi atau alasan; salah ya salah, enggak usah dibela-bela dan enggak usah dikecil-kecilin. Sebaliknya, kalau ada yang kecewa, ya sampaikan baik-baik dengan tenang. Bukan dengan ngamuk duluan. Karena bisa jadi, pasanganmu tuh nggak tahu kamu kecewa. Bukan karena dia nggak peka, tapi karena... ya dia juga manusia. Bisa aja lagi fokus ke hal lain.


Ngamuk tuh baru valid kalauĀ pasanganmu bener-bener enggak bisa diajak komunikasi. (Kalau dia bohong, mengkhianati, memanipulasi misalnya.) Nah, kalau pasangan masih bisa diajak komunikasi, mau mendengarkan, masu berpikir logis, mau berbagi isi hati dia juga, ya ngapain sih ngamuk-ngamuk?


JADI...

Hehehe...

Balik lagi ke topik awal.


Aku merasa ingin sekali—benar-benar INGIN sekali—settle down sama pasanganku yang sekarang. Aku udah tutup mata sama kekurangannya. Bukan karena aku pura-pura nggak lihat, tapi karena memang… aku nggak terganggu. Selama dia bisa kerja sama tim, aku rela support hal-hal yang dia belum bisa. Karena aku tahu, dia juga bakal lakuin hal yang sama buat aku.


Dia kasih aku ruang aman.

Dia kasih aku kedamaian, supaya aku bisa fokus kuliah, kerja, mikirin masa depanku pribadi, yang baru aja pindah ke Jerman.


Tapi dia juga nggak bohong, kalau dia kesepian, kalau dia butuh aku, kalau dia bahagia karena aku ada. Dan aku juga... seneng banget bisa kasih dia ruang aman balik.


Dia boleh jadi manusia sekonyol dan setolol apapun. šŸ˜‚ Mau main game? Mau lompat-lompat? Mau hangout sama temennya? Mau nangis? Mau marah? Sok atuh, aku temenin atau diemin. Senyamannya dia.


Dari awal dia udah bilang, "Aku enggak suka orang kasih aku saran, terutama kalau aku enggak minta. Karena aku udah tahu aku mesti apa." Yaudah, berarti aku kasih aja kepercayaan. Biarin dia cari solusinya sendiri. Aku mah bantu ngorek aja, biar kalau dia lagi kesal, dia bisa keluarin semua isi hati yang ngeganjal.


Apakah aku sempurna?

Enggak.

Enggak bakal.

Dia juga enggak akan pernah sempurna buat aku.


Kalau mau dicari-cari kesalahan, pasti masing-masing bisa sebutin. Apalagi ketika hubungan ini nanti berjalan puluhan tahun, ketika kita makin kenal luar-dalam, makin terlihatlah semua kejelekan masing-masing. Tapi ya itu tadi, balik lagi, kalau sudah siap berkeluarga:

Hal kecil jangan dibesar-besarin. Hal besar jangan dikecil-kecilin.

Bantu ciptain ruang aman untuk satu sama lain. Selesain trauma masing-masing. Belajar regulasi emosi pribadi. Biar kalau ada apa-apa... ya enggak apa-apa. Tetap bisa mengekspresikan perasaan masing-masing dan bisa diskusi dengan kepala dingin.


Aku punya trauma.

Pasanganku juga.


Aku tahu aku masih punya trust issue. Karena mantan dulu selingkuh, yang berikutnya avoidant. šŸ˜‚ Aku kenyang ditinggalin, meskipun kadang cerita bisa diputer-puter seakan-akan aku yang ninggalin.


Tapi aku nggak mau bohong. Aku kasih tahu semuanya ke pasanganku dari awal, ā€œIni masa lalu aku. Ini trauma aku. Aku masih dalam proses memperbaiki. Kamu nggak perlu bantuin. Cukup tahu aja. Aku akan beresin, tapi aku butuh waktu.ā€


Karena rasa kecewa, takut, marah—itu nggak bisa disembuhin cuma pakai logika. Itu perasaan yang harus dialami. Lewat fase denial, sedih, dendam... Sampai akhirnya aku capek sendiri, dan bisa bilang:

ā€œOh iya ya, udah berlalu. Sekarang aku bisa lihat dari banyak sisi. Dan aku ngerti kenapa itu harus terjadi.ā€

Prosesnya bisa cepat. Bisa juga bertahun-tahun. Tapi bukan berarti karena aku trust issue, lantas aku nggak bisa sayang dengan tulus.


Menurut aku, kamu enggak harus menjadi sempurna untuk bisa jatuh cinta. Healing dari luka masa lalu dan mencintai orang yang baru itu menurut aku, bisa dijalanin bareng-bareng, tuker-tukeran, bolong-bolong, nggak sempurna—ya enggak apa-apa. Itu namanya hidup.


Dan ini yang aku paling suka dari dia.


Dia punya opini, tapi bukan berarti itu mutlak. Hidupku tetaplah milikku pribadi. Hanya karena kami berpacaran, bukan berarti hidupku otomatis menjadi miliknya, and vice versa. Tetap selalu ada ucapan maaf dan terima kasih di waktu yang tepat. We don't owe each other anything. Tapi kalau kita bisa bikin satu sama lain merasa lebih bahagia, then we'll do it.


Aku sampai pernah bilang ke dia:

ā€œSatu-satunya yang nyatuin kita tuh cuma rasa sayang. Kalau kamu udah nggak sayang sama aku... kita nggak akan nyambung lagi.ā€
Watching anime
Doi mau coba nonton anime kesukaanku yang sebenarnya enggak banget buat dia. šŸ˜‚

Tapi justru itu yang bikin aku nyaman bayangin masa depan sama dia.


Karena aku tahu hubungan ini enggak ada politiknya. Enggak ada hitung-hitungan untung-rugi, enggak ada mikir soal ā€œpotensial pasangan ke depan bakal jadi apa.ā€ Kita murni dua orang yang super berbeda, saling suka, dan enggak punya niat saling mengubah satu sama lain. Kita suka apa yang kita lihat hari ini, dan sama-sama mau berusaha nyocokin ritme kehidupan.


Aku bisa nilai itu dari berbagai peristiwa kayak, kesibukanku kuliah, perbedaan bahasa, lalu kebutuhanku pindah ke kota sebelah untuk kerja. Aku bisa lihat bagaimana kita kerja sama sebagai tim. Dia enggak pernah biarin aku merasa bersalah dan capek sendirian mikirin ini semua. Dia ikut cari jalan tengah buat kita berdua.


Makanya, aku jadi nyaman banget membayangkan, gimana ya kalau nikah?


ree

Tapi beneran, aku enggak sabar berkembang bersama dia. Dilamar. Merayakan pernikahan yang sederhana. Menentukan tempat tinggal. Hamil. Melahirkan. Membesarkan anak. Menjaga hubungan agar tetap langgeng. Dan seterusnya.


Konyol kedengarannya. Bahkan bikin malu sedikit. Tapi tiap kali aku lihat matanya, aku bisa lihat masa depan itu rasanya kayak deket. Kayak masuk akal. Bukan sekadar angan-angan. Aku tahu ini perasaan yang beda dari biasanya. Ini bukan sekadar mimpi—karena aku ketemu orang yang beneran siap berkeluarga.


Sesederhana itu.


Aku juga sadar banget, hidup kami enggak akan selalu mulus. Pasti ada ribut, miskomunikasi, ataupun kebingungan. Pasti ada kalanya kami enggak nyambung dan butuh waktu sendiri buat ā€œnyambunginā€ lagi.


Meskipun saling sayang, aku dan dia tetap bisa saling melukai. Tapi kami juga harus bertanggung jawab atas luka itu, dan cari cara untuk kembali lagi menjadi satu tim. Apalagi kalau udah ada anak. Aku pengen anak kami tumbuh di rumah yang sehat—dengan dua orang tua yang bahagia.


Dan lucunya, kami pernah ngebahas hal ini di waktu yang sangat enggak sengaja. Waktu itu aku lagi stres berat karena ujian semester, dan menstruasi aku telat. Aku enggak nyangka dia bakal peduli dan tanya, "Ngomong-ngomong kamu kok belum mens ya?" 😬😬😬


"Aku lagi stress sama kuliah. Palingan minggu depan juga mens kok!"


Tapi ternyata minggu depannya tetap tidak mens. Dan doi khawatir beneran dong, "Eh, apakah kita perlu khawatir? Mau cek?"


"Nggak mungkin hamil woy. šŸ˜‚ Hamil tuh enggak segampang itu. Bukan cuma dari sisi kamu, tapi tanggalnya di aku juga harus pas." Well, kebetulan kami main aman ya, jadi kalau aku beneran hamil, berarti (1) kondomnya bocor dan (2) spermanya hebat banget bisa bertahan berminggu-minggu nunggu ovulasi.


"Ya barangkali kondomnya bocor. Kalau hamil gimana nih?"


"ABORSI LAH. Gile, aku masih kuliah, kerjaan enggak jelas. Mana bisa aku ngurus anak?!" ucapku sontak kenceng banget. Yang ternyata oh ternyata, dibalas dengan sangat lembut sampai hatiku terenyuh hingga hari ini.


"Hmm... Kalau aku boleh bilang nih. Aku tahu bukan aku yang ngejalanin, aku tahu itu bukan badan aku, tapi kalau aku diizinkan beropini, kalau kamu kasih aku 50% hak untuk bicara. Aku mau tanya, boleh enggak jangan diaborsi? Aku enggak suka ide itu, dan menurutku, kondisi aku tuh prima loh."

"Prima apaan?" šŸ˜‚


"Maksudku, secara usia dan finansial, aku udah siap buat anak. Meskipun aku enggak berharap dia lahir sekarang ya, tapi kalau memang terjadi, aku siap."


🄹

Aku diam sebentar.

Senyum dalam hati.

Meskipun aku tahu, aku enggak hamil.


Tapi aku coba sampaikan ke dia, "Menurut aku, dia berhak punya ibu yang bangga sama dirinya sendiri. Dan aku enggak bangga lahirin anak di saat aku enggak punya apa-apa."


"Kenapa sih kamu bilang kamu enggak punya apa-apa?

Kamu enggak merasa punya aku?"


Lagi-lagi aku terdiam.

Kami saling tatap lama, dalam diam yang rasanya... berat.

Aku tarik napas pelan, dan akhirnya berkata dengan suara yang sedikit bergetar, ā€œAku enggak mau bergantung sama kamu. Itu menakutkan. Gimana kalau suatu hari kamu tinggalin aku?ā€


Di satu sisi, itu jelas respon dari traumaku. Tapi di sisi lain, aku pikir... bahkan secara logika pun perasaan ini valid. Sangat sah buat perempuan merasa takut untuk bergantung sepenuhnya pada laki-laki—apalagi kalau kondisi si perempuan belum mapan. Posisi seperti itu terlalu lemah. Terlalu rawan.


Tapi tahu respon dia apa setelah aku ngomong gitu?

Dia peluk aku. Terus dia bilang,

ā€œAku tahu, percuma aku bilang kamu bisa percaya aku. Karena kepercayaan itu butuh waktu. Tapi kamu juga harus tahu... di saat yang sama, aku juga takut kamu ninggalin aku. Jadi yaudah, kita biarin waktu aja yang ngebuktiin."

🄹🄹🄹


Damai banget ya, padahal topiknya heboh soal hamil. Dan kamu tahu, setelah dia peluk aku... besok paginya aku datang bulan! šŸ˜‚


Bener kan,

aku enggak hamil.

Aku tahu tubuhku sendiri.


Dan aku tahu, bahwa kali ini,

tubuhku boleh rileks karena aku sedang bersama orang yang bisa aku percaya.


Kalau insting lo salah gimana?

Ya nggak apa, putus. Move on. Life goes on.


Tapi kalau boleh,

aku benar-benar berdoa,

ini pacarku yang terakhir dengan happy ending. 🄹

Komentar


Date

Let's connect on my social media!
  • Threads
  • Instagram
  • LinkedIn
  • YouTube
bottom of page