top of page

November Ceria di Toko Baju Bekas

  • Gambar penulis: Caecilia Sherina
    Caecilia Sherina
  • 2 jam yang lalu
  • 4 menit membaca

Kalau dulu ada lagu “September Ceria” dari Vina Panduwinata, buat aku November justru terasa lebih ceria. Kenapa?


Di Jerman, November identik dengan salju pertama, Weihnachtsmarkt (Christmas market), dan Black Week. Tiga hal yang indah sekaligus menyenangkan—apalagi buat diriku yang baru pindah dan masih menata keuangan.


Hari Kamis, 27 November lalu, aku menyempatkan diri jalan-jalan ke Marienplatz di München sepulang kantor. Kebetulan aku hanya kerja sampai jam 2 siang, jadi masih sempat mampir sebelum toko-toko tutup. FYI, toko-toko di Bayern biasanya tutup jam 8 malam, dan hampir semuanya tutup di hari Minggu (kecuali beberapa restoran fast food).


ree

Aku awalnya cuma kepikiran cuci mata. Pengen lihat-lihat baju, soalnya sudah setahun nggak belanja kebutuhan sekunder. Akhirnya pilihanku jatuh ke toko baju bekas PICKNWEIGHT, yang katanya kasih diskon 10% buat pelajar. (Tapi ternyata, hampir semua toko baju bekas di Jerman memang kasih diskon 10% untuk pelajar, jadi nggak spesifik toko itu aja.)


Pas aku turun di Isartor, baru deh nyadar kalau hari itu seluruh Jerman lagi merayakan Weihnachtsmarkt. Maklum, aku jarang banget jalan-jalan. Kota terlihat cantik banget, dihiasi lampu-lampu dan dekorasi Natal, plus dipenuhi kios-kios kecil yang menjajakan produk lokal. Rasanya pengen banget beli sesuatu, tapi harganya mahal banget! Bayangin, satu bungkus plastik isi lima Lebkuchen aja 15€. Padahal budget makan aku per minggu cuma 20€. Jadi jelas nggak mungkin deh.


Akhirnya aku cuma jalan-jalan menikmati pemandangan, sendirian, tanpa jajan apapun. Dan lucu, aku baru sadar kalau jalan-jalan sendirian itu ENAK banget. Hihi… nggak ada yang komplain atau nyuruh jalan cepet-cepet. Aku bisa santai menikmati apa pun yang aku mau. Enggak ada yang berisik ngatur-ngatur. Harusnya aku lebih sering kayak gini, ya?


Lanjut, aku masuk ke toko baju bekas yang kelihatan di depan mata. Tokonya kecil dari luar, tapi pas masuk ternyata panjang ke dalam dan punya beberapa lantai. Sayangnya, rata-rata baju bekas di sini harganya 60€ ke atas. Mahal banget, hampir sama kayak harga baju baru.


Eh, nggak sengaja aku dengar dua anak perempuan ngobrol pakai Bahasa Indonesia. Rasanya pengen banget aku sapa. Tapi pas lihat wajah mereka masih kayak bocah kuliahan, aku urungkan niat. Pikirku sudahlah, pasti nggak nyambung ngobrol sama diriku yang sudah kepala tiga ini. Hehe...


Lanjut jalan kaki dan akhirnya tiba di tempat tujuan, PICKNWEIGHT.


Judulnya kan jelas ya: ambil lalu timbang. Tapi ternyata sistemnya udah enggak kayak gitu. Baju-bajunya sih menarik, cuman kebanyakan ukuran besar dan perhaps, just not my style. And if you're wondering style aku apa, aku suka baju-baju praktis yang comfy but still look decent. Mungkin kalau ditanya brand (padahal enggak ada yang nanya yak? Wkwkwk) aku bakal pilih Levi's, Biasa, dan Uniqlo yang most of the time representative for me.


Anyway, ini bagian yang paling menakjubkan tentang si toko baju bekas tadi, sampai kisahnya perlu kuceritakan di blog aku.


Ternyata di bagian belakang toko, ada area SALE yang diskonnya gila banget. SEMUA BARANG DIJAJAKAN SEHARGA SATU EURO! Bayangkan!


Satu Euro loh (Sekitar Rp19.000,00)!

Mulai dari celana, sweater, jaket, baju olahraga, sampai pakaian dalam. Dan barang-barangnya 90% masih bagus, sisanya emang rada buluk dan bernoda, dll. Tapi bolehlah, aku langsung senyum sumringah lantaran itu masuk banget di budget aku 😭😭😭


Aku ngubek2, bolak-balik ngecekin semua bajunya satu-satu. Sialnya lagi-lagi, ukurannya tuh gede-gede banget. Ukuran S di Jerman itu kayak M di Indonesia, dan menariknya ukuran S di Indonesia itu kayak ukuran XS di China. Jadi agak sulit buat aku cari ukuran yang pas. Terutama cari celana. Soalnya aku tuh enggak kurus dan enggak tinggi. Jadi beli ukuran S sempit di perut, tapi beli ukuran M jadi kepanjangan parah di kaki.


Tapi yaudalah ya gengs, namanya juga baju bekas seharga 1€. Udahlah aku tutup mata aja. Pokoknya aku tetep beli barang-barang esensial, yakni 2 baju hangat, 1 celana winter, 1 kaos olahraga dan 1 BH. Ngakak enggak tuh, ketemu woy BH bagus! 😂



Ini dia baju-baju yang aku beli!


Oh iya, jaket putih di foto bawah kiri itu bukan baju bekas. Itu aku beli di H&M karena kakakku kasih hadiah voucher 30€. Dan kebetulan karena sedang black week, jadi ada diskon 20%. Aku cuma nambah 10€ aja buat beli itu jaket yang harga aslinya mahal bener! (Mahal buat aku ya, kalau buat warga normal kayaknya biasa aja sih.)


Aku senang banget malam itu. Udah lama nggak jalan-jalan sendiri sambil belanja-belanja, menikmati indahnya Weihnachtsmarkt dari sore sampai malam. Senang rasanya bisa santai, dengerin celotehan turis dan imigran dari berbagai negara, sambil senyam-senyum sendiri karena aku telah menjadi salah satu dari mereka. Aku capek tapi puas telah berhasil menuntaskan 12.000 langkah.


Sebelum pulang, aku sempat beliin kado buat teman kosku yang paling nyebelin. Jujur, aku nggak terlalu suka sama dia, tapi tetap pengen berbuat baik. Hadiahnya patungan sama anak-anak kos lain, tapi aku yang in-charge beli barangnya. Akhirnya kupilih Joghurt dan cokelat berbentuk uang. Lucu banget bentuknya. Aku tulis di kartu ucapan, "Good luck getting older!"


ree

Dan ini adalah tulisan ChatGPT buat kasih aku paragraf penutup yang manis karena aku enggak tau mau cerita apa lagi:


Malam itu bikin aku sadar: kadang, kebahagiaan sederhana itu datang dari hal-hal kecil—jalan-jalan sendiri, nikmatin lampu Natal, dan kasih sedikit perhatian meski ke orang yang enggak terlalu kita suka. November di Jerman memang ceria, tapi malam itu, aku yang bikin November-ku makin manis.





Komentar


Date

Let's connect on my social media!
  • Threads
  • Instagram
  • LinkedIn
  • YouTube
bottom of page