top of page

Yah, Gini Lagi

  • 4 hari yang lalu
  • 8 menit membaca

Ternyata konsisten menulis blog itu susah juga. Apalagi sejak punya pacar yang entah kenapa selalu ā€œmenuntutā€ jatah akhir pekan (ya… wajar sih, hehe). Ditambah lagi, sepanjang 2025 aku makin aktif di Threads. Ujung-ujungnya, aku jadi lebih sering nulis yang pendek-pendek. Dan dari situ, aku malah jadi kepikiran… sebenernya aku nulis buat apa sih?


TAPI...


Malam ini, aku mau menulis, mengupdate segala dar-der-dor yang terjadi di 2026. Pertama, quick list dulu sebelum kita bongkar satu-satu bagian yang mau aku bongkar!

  1. Tante Jasthi meninggal. Ini adalah berita yang paling bikin aku hancur.

  2. Kontrak working student aku tidak akan diperpanjang / diconvert menjadi full time karena terkendala headcount. Artinya, aku harus mulai cari kerja dari sekarang.

  3. Penulisan skripsi telah dimulai.

  4. Kesepian lumayan parah.


Sosok Tante Jasthi pernah kutulis di tahun 2016 di sini. Beliau adalah mamanya temen SMA aku, yang awalnya memperkerjakanku sebagai social media manager sebuah hotel di Bali. Tapi dari situ, semuanya berkembang jadi petualangan, bimbingan tanpa henti, sampai proyek CINEMAWITHOUTWALL yang kerennya bukan main. Di titik itu, beliau sudah bukan sekadar boss lagi di mataku, tapi berubah jadi sosok ā€œibuā€ yang sangat berarti.


Memang sudah lama beliau hidup dengan kanker. Kami semua yang bekerja bersamanya tahu bahwa waktunya tidak akan lama lagi. Tapi kapan? Tidak ada yang pernah benar-benar tahu sampai akhirnya tubuhnya benar-benar tidak sanggup lagi menahan sakit di awal tahun 2026.


Aku dengar kabar meninggalnya pertama kali dari Meg. Dan untungnya ada Mba Lisa yang berkenan aku telepon untuk dengar kronologinya. Maklum, posisiku di Jerman, sementara TanJas di Indonesia. Aku belum punya privilege untuk tinggal ā€œcusā€ naik pesawat kapan pun. Jadi aku cuma bisa mendoakan dan menangis dari kamar kos.


Sampai jumpa, Mom...
Sampai jumpa, Mom...

Lanjut, manajerku di kantor dengan sangat kecewa menyampaikan bahwa saat ini memang tidak ada kesempatan untuk kerja full time di departemen audiovisual, karena penghematan budget. Jadi ya terpaksa, sejak akhir Maret ini aku mulai lagi ngelamar kerja, nulis cover letter, ketik-ketik CV lagi, dan tentu saja… menerima email rejection lagi. Hhhh… capeknya.


Udah gitu, job market lagi jelek banget, woy. Master degree aku di Communication for Sustainability ini rasanya seperti… tidak berguna sama sekali. Posisi yang aku dapat kebanyakan ya working student lagi, atau mentok di video editor dengan gaji sekitar 35.000 Euro per tahun (yang, jujur aja, kecil banget untuk lulusan Master). Sekalinya ada yang cocok sama pengalamanku, eh posisinya langsung head, director, atau senior level… yang tentu saja gajinya langsung di atas 100.000 Euro per tahun. Haduh. Malah ketinggian.


Aku tuh sebenarnya cuma pengen kerjaan yang ada di tengah-tengah, dengan gaji sekitar 60.000 Euro per tahun. Tapi bahkan angka segitu aja aku masih agak takut, karena aku masih fresh off the boat di Jerman. Belum terlalu familiar juga sama harga dan kondisi di sini.


Tapi kalau soal strategi komunikasi, konten audiovisual, dan hal-hal sejenis, aku berani diadu sih. Gila… pengalamanku udah 14 tahun di bidang ini. Masa iya sampai sekarang aku harus tetap stuck sebagai junior? Sedih banget… :(


Lanjut, skripsi… ya pokoknya gitu lah ya. Males bahasnya. Skip.



Nah, sekarang masalah kesepian ini yang memang agak susah. Karena jujur aja, aku masih merasa kesulitan mencari teman yang pas. Kenalan sih banyak, dari kampus, kos, kantor, sampai Threads juga ada. Tapi aku tuh orangnya rada-rada unik, jadi enggak bisa cocok sama semua orang.


Maksudku, kalau cuma haha-hehe, aku bisa sama siapa aja. Tapi kalau sudah urusan hati-ke-hati… ciaelah… itu yang agak susah. Kebanyakan yang available di sekitarku masih lebih kecil (beda 4-6 tahun sama aku). Sementara kalau yang sudah dewasa, seringnya mereka sudah menikah dan punya anak.


Gimana ya, bukannya aku enggak mau berteman. Cuma kalau terlalu jomplang, aku juga bingung mau ngobrolin apa. Kalau sama yang lebih muda, aku pasti jatuhnya jadi ā€œkakakā€ karena cara berpikirku memang lebih dewasa (ya, dalam kebanyakan kasus begitu). Tapi kalau sama yang lebih tua, mereka jadi cenderung kasih wejangan, karena memang lebih berpengalaman. Jadinya… enggak enak aja. Aku pengennya yang setara, jangan jomplang.


Intinya, di bagian pertemanan ini masih agak sulit cari yang pas. Tapi ya sudah, pelan-pelan saja. Sambil jalan, sambil dibangun. Sayangnya, di saat aku lagi bangun ā€œempireā€-ku di Jerman ini, lagi-lagi aku harus semacam ā€œkehilanganā€ teman yang sangat aku sayangi. Sebut saja dia A.


(A, kalau kamu enggak sengaja baca ini, kamu tahu kok. Kamulah yang aku maksud.)


A ini usianya 6 tahun lebih muda dari aku. Awalnya kami kenal secara profesional di 2019. Aku bikin festival, dia jadi peserta. Setelah dia lulus kuliah, aku hire dia. Bahkan aku kasih dia motor bututku secara gratis buat mobilitas, yang lucunya… masih dia pakai sampai hari ini. Jadi kebayang ya, hubungan kami sudah berjalan 7 tahun.


Waktu masih profesional, ya kami tetap profesional. A ini kerjaannya bagus, cekatan, dan overall keren. Aku suka banget kerja sama dia, dan aku selalu dukung dia untuk berkembang. Dia juga tipe orang yang memang mau belajar dan kelihatan ingin maju.


Lalu hidupku sempat hancur. Mantanku selingkuh, kami gagal nikah, dan segala drama lainnya. Dan ternyata, justru si A ini yang hadir paling kenceng di titik terendahku. Dia sampai terbang dari Bali ke Jakarta, cuma untuk nemenin aku, dengerin semua ceritaku, sampai akhirnya kondisi mentalku membaik. A menyaksikan semuanya.


Di titik itu, hubungan kami jadi sangat dekat. Sangat.


Setelah itu, A balik ke Bali. Yang tadinya hubungan kami biasa saja, jadi hampir setiap hari ngobrol. Sekali telepon, bisa berjam-jam, kayak orang pacaran. Memang di tahun 2024 itu, kami berdua lagi sama-sama… problematik. Sama-sama tolol, karena memilih mencintai orang yang juga tolol. Jadi ya, kami saling sharing pelajaran hidup dari kebodohan masing-masing.


Di situlah gap usia mulai terasa. Ternyata memang beda ya cara berpikir umur 26 dan 32. Ditambah lagi, dari awal karakter kami juga memang berbeda, walaupun ada kemiripan dalam hal pekerjaan. Tapi entah kenapa, aku sayang sama anak ini. Bersama A, aku merasa punya teman baik lagi.


Aku menganggap A sebagai sahabat. Walaupun ternyata dia tidak melihatnya seperti itu. Aku pernah bilang ke dia untuk panggil aku langsung ā€œCilā€ saja. Tapi dia menolak. Katanya, ā€œAku tuh lihat kamu kayak mentor, bukan teman. Jadi aku akan tetap panggil kamu kakak.ā€


Sejak itu, aku paham. Dan aku terima peran yang dia pilihkan untukku. Kalau dia maunya aku jadi kakak, ya sudah, jadilah aku kakak. Kadang aku bercanda seolah-olah jadi mamanya. Tapi kalau jujur, di dalam hatiku, A tetap seorang sahabat. Itu bentuk penghargaan aku untuk semua yang dia lakukan di masa terberatku.


Singkat cerita, hubungan kami sempat stabil. Setiap akhir pekan kami update kehidupan masing-masing. Tapi lama-lama, gap itu terasa makin besar. Aku merasa semakin jauh, karena cara berpikirku terus berkembang, sementara aku tidak melihat perkembangan yang signifikan di A. Aku merasa hanya bisa give, tapi enggak bisa take anything out of her, except just having someone being there aja. Soalnya cara berpikir dia ya masih terlalu bocah buat aku.


Pelan-pelan, hubungan kami berubah jadi mentor dan mentee. Telepon kami yang dulu isinya saling cerita, berubah jadi seperti laporan. Sebenarnya tidak ada yang salah. Aku cuma baru sadar saja sekarang.


Telepon kami jadi seperti sesi konsultasi. Dan jujur, lama-lama aku gerah sendiri. Sampai akhirnya aku bilang ke dia, ā€œKayaknya sudah saatnya kamu belajar berpikir sendiri deh. Jangan selalu tanya ke aku. Ini hidup kamu, bukan hidupku.ā€


Dan lucunya, karena ucapanku sendiri, aku mulai merasa… kok sepi ya?


Sepi, karena A sudah tidak lagi benar-benar hadir untuk mendengar aku. Setiap kali aku mau cerita, dia sering sedang sibuk dengan masalahnya sendiri. Jadinya aku tidak bisa cerita dengan utuh. Dan ya… malas juga kan kalau cerita harus kepotong-potong? Akhirnya, aku berhenti bercerita. Dan pelan-pelan, hubungan kami merenggang. Sampai suatu hari, di bulan Februari…


ā€œKak, I’m in love!ā€

Don’t get me wrong, aku happy dan selalu rooting for her success in everything. Menurut aku, dia memang pantas dapat hal-hal baik. Bukan karena bias, tapi karena emang orangnya ā€œseberkualitasā€ itu. Jadi sayang banget kalau dia berakhir biasa-biasa saja. Asli, ini orang something sih, beda sama anak-anak seumuran dia.


Jadi ketika dia datang dan bilang she’s in love, tentu aku merespon dengan positif… tapi juga agak protektif. Soalnya aku dan A sama-sama punya masa lalu yang… kelam. Kami punya sejarah panjang memacari orang-orang yang enggak banget. Bedanya, aku sudah tobat. Sudah sadar dan tahu harus apa. Sekarang aku sudah berpacaran dengan orang yang baik dan pas buat aku. Makanya, aku berharap A juga bisa dapat orang seperti itu.

Aku enggak muluk-muluk. Bukan maksain A untuk pacarin orang setajir Dao Ming Tse di Meteor Garden.


Dao Ming Tse (buat YTTA)

Tapi setidaknya, carilah orang yang bisa mendorong dia maju. Soalnya A ini tipe yang enggak bisa diam. Dia selalu punya ide gila, dan dia bisa wujudkan itu. Kalau dia dipasangkan dengan orang yang pendiam, loyo, pesimis, atau pemalu… biasanya sih hancur. A juga orangnya dominan, suka mengatur. Kalau pasangannya loyo, ya habis diatur sama dia. Pasangannya bakal berujung capek diatur (apalagi cowok, biasanya gengsi), sementara A sendiri bakal stres, ā€œKenapa sih harus aku pecut dulu baru jalan?ā€ Dan ini bukan asumsi. Ini sejarah. Sudah kejadian berkali-kali. Makanya aku bisa bilang: aku sudah tobat, dan aku berharap A juga tobat.


Malam itu, tanggal 24 Februari, waktu dia bilang ā€œI’m in love,ā€ aku langsung telepon dengan perasaan was-was. Takut dia jatuh cinta lagi sama cowok yang aneh-aneh. Dan… ya, benar saja.


Dia kenalan di dating apps, ketemuan, merasa cocok, lalu langsung kesengsem. Padahal aku sudah berkali-kali bilang: jangan buru-buru. Kenalan dulu yang benar. Tapi saat itu A sudah merasa cocok. Padahal si cowok ini enggak jelas. Jawabannya tipe, ā€œWe’ll see where life goes on.ā€ Dan aku bilang ke A, ā€œKalau cowok yang serius, dia akan bergerak mendekati kamu. Dia yang inisiatif ngajak ketemu, dan dia akan berusaha ā€˜claim’ kamu. Dia enggak akan kasih jawaban ambigu, karena dia enggak akan rela kamu diambil orang lain.ā€


Malam itu aku bisa ngerasain energinya berubah. Dia kecewa. Tapi aku pikir ceritanya akan berhenti di situ. Ternyata tidak.


Entah bagaimana (jujur aku lupa detailnya), di bulan Maret aku dengar mereka jadian. Dan si cowok bahkan sudah menyatakan keinginan untuk menikah. Masih sebatas keinginan, belum sampai perencanaan. Tapi tetap saja… ada yang terasa janggal buat aku.

Awalnya aku mau tulis semua detail di sini. Tapi sepertinya tidak etis. Jadi langsung ke intinya saja: aku tidak setuju.


Menurut aku, A lagi-lagi gegabah. Seperti tidak belajar dari pengalaman. Kurang bijak dalam menilai orang, dan terlalu terbawa perasaan. Ya, aku paham… cinta memang kadang bikin tolol. Apalagi di fase honeymoon.


Masalahnya, aku dan lidahku yang terlalu tajam ini… ya begitu. Enggak terbendung.

Aku bilang ke A, ā€œKamu tuh susah banget diajak maju. Udah diajak maju, malah mundur lagi.ā€ Dan ya… kalimat itu seperti menyalakan semua alarm pertahanan dirinya. Dia langsung step back dan protect herself. Dia mati-matian menjelaskan bahwa dia sudah jauh lebih dewasa dari dirinya yang dulu.


A bahkan bertanya, ā€œEmangnya kamu waktu 26 sudah sedewasa itu? Tidakkah kamu sama saja seperti aku sekarang?ā€

Aku coba jawab, mungkin dengan nada yang juga defensif, ā€œSulit kita bandingkan apple to apple. Waktu aku 26, aku masih buta karena enggak ada yang bantu. Aku enggak punya ā€˜Cecil’ yang bisa jelasin semuanya dengan jelas. Aku harus jatuh sendiri dulu untuk belajar.ā€


ā€œTapi kamu punya Tante Jasthi!ā€


ā€œTante Jasthi enggak ngajarin aku dengan ucapan segamblang ini. Dia bukan tipe yang kasih instruksi 1, 2, 3. Dia kasih teka-teki, yang harus aku jalani dulu baru paham. Butuh bertahun-tahun sampai akhirnya aku ngerti maksudnya, dan baru bisa bilang terima kasih. Makanya ke kamu aku beda. Aku coba lebih jelas, supaya kamu enggak perlu jatuh dulu baru belajar.ā€


ā€œTerus kalau aku tetap gini, emang kenapa?ā€


ā€œYa enggak apa-apa. Ini hidup kamu. Keputusan kamu. Terserah kamu. Aku cuma kasih perspektif karena aku bisa lihat lebih jelas. Ini cuma uneg-uneg aku yang gemes lihat kamu ngulang pola yang sama. Pola yang kita sudah bahas berkali-kali.. tapi tetap kamu ulang.ā€


ā€œKita akhirin dulu deh teleponnya.ā€


Situasi panas. Tapi telepon ditutup dengan baik. Aku bahkan appreciate A karena dia masih bisa tenang menghadapi aku. Lucunya, malam itu aku yang malah kayak anak kecil tantrum.

Setelah itu aku chat, ā€œSorry, I was too much.ā€ Dan… selesai. Tidak dibalas lagi sampai beberapa hari. Sepertinya aku kena silent treatment.


Sebenarnya kalau memang ini yang A mau, dan dia bisa bahagia menerima pasangan apa adanya, aku ikut bahagia. Tapi aku enggak yakin aja, hehe.. Tapi ya sudahlah tidak perlu diperpanjang. Tidak perlu dibuat ribet. Mungkin suatu hari nanti, saat A sudah berusia 32 tahun, dia akan lebih bisa memahami alasan kenapa aku mengatakan apa yang kukatakan malam itu padanya.


Untuk saat ini, mari kita akhiri di maaf aku berlebihan.


Bonus: foto siomay bikinanku
Bonus: foto siomay bikinanku


Komentar


Date

Let's connect on my social media!
  • Threads
  • Instagram
  • LinkedIn
  • YouTube
bottom of page