
Search Results
175 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sisi Buruk Dunia Perfilman Wkwk Land
Beberapa waktu lalu kawan gue bahagiaaaaa banget. Dia bilang dia baru aja ditawarin job film layar lebar oleh seorang sutradara muda yang reputasinya sedang naik daun. Selain itu, syutingnya juga akan dilakukan di Afrika selama 2 minggu (yang artinya dia juga dapet jalan-jalan gratis). Kurang keren apa lagi coba? Bener-bener rezeki anak soleha, gua pikir! Sebelum dia berangkat, gue cuma bilang, "Have a safe flight, Bro." Sebulan berlalu dan gue lupa sama dia, tiba-tiba dia ngabarin udah di Jakarta dan ngajak jalan. Maka jalanlah kami berdua, dengan agenda seperti biasa: nonton film Indonesia, lalu ngerumpi sampe pagi. "Bro, gimana syutingannya?!" tanya gue antusias begitu ketemu. Temen gue yang satu ini ternyata nggak langsung merespon. Dia malah sibuk ngomentarin baju kita yang kebetulan sama-sama warna merah. "Kok lu pake baju ini juga sih. Anjrit kita kayak abis pulang kerja dari pabrik yang sama!" dan gue pun hanya tertawa kecil, karena dalam hati gue, kita lebih mirip couple yang ngerayain Natal ketimbang buruh pabrik. Oh, maafkan my chick flick fantasy . Skip cerita, setelah nonton dan makan, kita mulai mencari tempat yang sepi untuk berbicara. Gue sih udah nggak sabar banget dengerin pengalaman dia, tapi daritadi dia nunda mulu. Penuh suspense banget! Setelah akhirnya ketemu lokasi yang oke, JDYAR! Temen gue langsung "tumpah". Gue nggak nyangka pengalaman syuting dia benar-benar penuh darah dan doa! *** Dengan wajah datarnya temen gue mulai curhat, "Hari pertama, lu taulah ya syutingan suka ngaret. Dan emang udah tugas gue kan sebagai astrada 1 untuk ingetin waktu mereka. Makanya waktu mereka udah ngaret banget, gue ingetin, ' Guys , waktu kita tinggal 1 jam lagi, ayo hurry up ya.' Terus ternyata semua orang kesel banget sama gue, Cil. Director gua langsung manggil gue dan bilang, 'Kamu tuh kalau kerja jangan maksain orang buru-buru. Santai aja. Kreativitas nggak bisa diburu waktu. Lagipula kalau film ini udah jadi, penonton tuh nggak peduli sama prosesnya. Yang mereka peduliin tuh hasilnya! Saya mau hasil film ini maksimal, jadi biarin aja kalau overtime!" Gue yang dengerin cuma manggut-manggut. Gue pikir, oh iya juga sih, penonton emang nggak peduli prosesnya. Tapi kan... Tapi kan... Karena ada "tapi" itu gue coba bertanya pada kawan gue, "Tapi kan mereka bikin film ada anggaran biaya? Emangnya produser izinin overtime?" You know , kalau overtime (OT) itu banyak hal bakal didenda. Mulai dari peralatan kamera, lampu, genset, lokasi, property , talent, kru, dst. Overtime is actually a big deal to consider kalau anggaran biaya film lu pas-pasan. "Iya, Sil, gue nggak ngerti kalau soal anggaran mereka gimana. Tapi yang gue tau, yang selama ini kita pelajari di kampus itu ya kalau udah bikin jadwal itu diikutin yang baik. Jadi kerja kita sehat (dapat tidur yang cukup), dan semuanya ada kejelasan serta ketepatan waktu." Gue manggut-manggut, sementara doi melanjutkan, "Terus ya, Cil, kalau gue bikin salah dikiiitt aja, ya ampun itu mulutnya pada jahat banget langsung gue dicaci-maki. Giliran mereka kerjanya lelet, nggak ada yang boleh ditegur. Lu tau nggak sih pas gue lagi ngelobi pemilik lokasi biar syuting ini lancar, ada kru lighting dengan entengnya bilang gini ke gue, 'Enak ya kerja lu, cuma ngomong doang.'" (Tiba-tiba temen gue diem dan tarik napas. Dia coba untuk melanjutkan kata-katanya, tapi tidak ada suara yang keluar. Akhirnya dia diam sebentar.) "Emang job desc. gue itu mostly 'ngomong'. Terus dia kira 'ngomong' itu gampang? Coba mereka yang disuruh ngomong. Pas ada masalah dateng aja semuanya mental chicken , nggak ada yang berani speak up , malah pada cuci tangan. Mereka pikir siapa yang nenangin semua talent ketika talent disuruh nunggu 6 jam atau disuruh akting bahagia jam 1 pagi? Apa mereka bisa nenanginnya? Kalau gue gagal ngomong sama para talent itu, apa mereka bisa lanjutin bikin filmnya? Gue merasa nggak dihargain banget sebagai astrada, dan director gue nggak mencoba melakukan apapun. Gue dibiar-biarin aja diinjek sama kru lain." I felt like I can relate to his experience. Gue udah pernah ngerasain dalam skala yang kecil, dan juga sering denger keluhan temen yang lain, hanya saja so far , pengalaman temen yang satu ini adalah yang paling kacrut yang pernah gue denger. Menurut gue, ada beberapa kebiasaan buruk dan aneh yang udah mengakar sejak kita masih kuliah dan terbawa hingga ke dunia profesional. Sebelum gue kuliah dan bekerja di dunia film, gue kira bikin film itu pasti seru banget! Ya gue tau pasti ada capeknya, tapi tetep terdengar seru. Ngebayangin kerja bareng pecinta film, berjuang bersama mereka, patungan duit buat bikin film yang kece badai, tapi ternyata oh ternyata, setelah gua kuliah dan terjun ke beberapa proyek film, bikin film nggak seindah yang gue bayangkan. 1. Etos Kerja Kita telaah dulu ya beberapa argumen di bawah ini: Sebagian mahasiswa film bukan pecinta film. Kebanyakan orang Indonesia sungkan mengutarakan pendapat pribadinya. Kebanyakan orang Indonesia suka telat berjam-jam. Kebanyakan orang tidak terima dikritik. Gue bisa saja salah, dan kalian para pembaca berhak mengkoreksi. But anyway 4 argumen di atas buat gue valid, karena memang pada faktanya banyak banget orang yang seperti itu, meski tidak semua orang seperti itu. Hal pertama yang harus lo telen ketika lo kuliah film (dan khususnya kuliah di IKJ), adalah fakta bahwa kebanyakan temen lo masuk film bukan karena passion . Kebanyakan dari mereka masuk, karena bingung mau ngapain. Lebih fucked up lagi kenalan gue yang bilang, "Gue masuk film, cuma mau cari temen." Dampaknya ya kelihatan pas bikin film bareng. Karena dari awal dia nggak niat-niat amat jadi ya pengetahuannya juga nggak niat-niat amat ditambahin. Berdampak pula pada etos kerjanya jadi kurang semangat, males-malesan, kurang persiapan, kurang inovasi, dst. Sebelnya, orang seperti ini nggak bisa dikritik! Kritik dia telat aja gue dianggap jahat/lebay/galak sama yang lain apalagi mau mengkritik kebiasaan kerjanya yang nggak sepenuh hati! Ini pula yang bikin lingkungan kerja makin nggak kondusif. Gue sering banget loh dideskripsikan sebagai orang yang galak, cuma gara-gara gue menegur temen yang datang telat. Gue menegakkan apa yang seharusnya kita tegakkan bersama, malah gue yang dianggap berperilaku negatif. Duh, bingung sama Negeri Wakanda! Akhirnya gue belajar menahan diri karena nggak mau dikucilkan sama semua orang. (Suer, gue sampe belajar caranya telat!) Kalau pas kerja sih mungkin masih bisa terkontrol ya, karena ada rasa takut gaji dipotong atau rasa takut dipecat. Tapi ya tetep aja, kok dateng telat dibudayakan dan harus diancem-ancem dulu? Kalau mau kerja ya kerjalah, jangan setengah-setengah terus. Sekali-kali sepenuh hati gitu; jangan nanggung-nanggung, mulai dari waktu, persiapan, dan seterusnya maksimalkan biar hasilnya juga memuaskan. Tapi ya kembali lagi sih ke prinsip awal, passion di film apa nggak? Kalau orangnya bilang nggak passion , apa yang nak saya perbuat, Pakcik? 2. Tidak ada Break Time Ketika mahasiswa bikin film dengan anggaran minim, kita bisa pastikan dalam 2 hari 1 malam itu kita nggak bakal punya break atau pun jam tidur yang masuk akal. Orang sini nggak terbiasa menghargai break time , bahkan ketika lu dalam dunia profesional. Pokoknya kalau udah molor, dan masih ada waktu, genjot terus syuting sampai selesai. Kenapa nggak bisa ada break time ? Menurut gue karena (1) budget dan (2) kurang meluangkan waktu untuk latihan dan persiapan, serta (3) kerjanya sendiri lelet. Kebanyakan orang endonesyah itu jalan aja lelet, apalagi kerja. Belum lagi hobi menunda dan menggampangkan pekerjaan! Hampir semua hal pasti baru dipikirkan di hari H, akibatnya perhitungan meleset, kesalahan teknis terjadi, dan BOOM! Tiba-tiba break time jadi working time . Sedihnya lagi overtime itu nggak pernah dihitung kerja lembur. Gue belum pernah denger tuh temen gue yang kerja di saat dia seharusnya sudah istirahat diberikan biaya ganti rugi. Lebih menyedihkan lagi ketika lu nggak bisa protes, karena atasan lu nggak terima kritikan dan lu juga terlalu takut untuk mengutarakannya. Urgh! 3. Temen di luar Divisi = Musuh Ini lagi yang gue nggak ngerti. Sering banget gue ngelihat orang memperlakukan temen satu timnya kayak musuh cuma karena mereka beda divisi. (Divisi yang gue maksud adalah divisi penyutradaraan, produksi, kamera, editing, dll.) Misalnya dosen gue pernah bilang ke gue, "Cil, kamu sebagai sutradara harusnya paksain ke anak produksi untuk minta tambahan waktu syuting! Tambah harinya. Minta juga property yang lebih bla bla bla... Jangan mau dikasih bla bla bla..." Buset gue yang dengerin bingung. Lah, wong ini projek pake duit gue juga, kenapa gue harus neken temen gue yang produksi? Kenapa harus ada kata "memaksa" dalam kamus kita semua? Emangnya nggak bisa ya gue bilang aja, "Bro, gue mau ini aja. Soal duit, kita patungan lebih lagi gimana? Soalnya filmnya bakal lebih bagus begininini..." Bukankah ada cara yang lebih baik dalam menyampaikan pendapat ya? Toh, kita semua sama-sama pengen filmnya bagus, kalau alasannya masuk akal, masak partner kita mau tolak? (Kecuali partner lu emang retarded dan seleranya kacrut, ya itu lain cerita sih.) Kita itu satu tim, Bro. Rusak satu ya rusak semua filmnya. Nggak lucu kan ada film dengan gambar bagus tapi suaranya bikin telinga pecah. Atau ceritanya bagus tapi gambarnya ecekepret. Semuanya harus bagus bareng-bareng, dan itu terbentuk nggak cuma dari visi sutradara aja tapi juga dari kerja-sama tim . Menurut gue, semuanya kudu klop dan menganggap temennya itu " partner ", bukan "musuh". Tapi faktanya sih... Ehem... 4. Senioritas Hal paling nggak adil di dunia ini adalah ketika lu diperlakukan kayak anjing, cuma karena status lu di situ "bukan siapa-siapa". Gua paling benci sama sutradara yang bahkan nggak mau ngobrol sama asisten astrada 2 cuma karena dia asisten astrada 2. Jadi harusnya tuh ngobrol ke astrada 2 dulu, trus ke astrada 1 baru deh nyampe ke sutradara. Ih, gila, males banget. Bos perusahaan Jepang aja nggak begitu amat. Dalam kunjungan gue ke sebuah perusahaan di Jepang, bos perusahaan itu bahkan membuka pintu kantornya lebar-lebar biar siapapun nggak segan untuk datang dan bicara padanya. Ini baru jadi sutradara film pendek aja udah banyak gaya betul! Apalagi pengalaman temen gue tadi, di mana dia dimaki-maki seenak jidat sama semua orang hanya karena dia yang paling junior. Duh, bikin suasana kerja makin nggak kondusif dan menyenangkan! Anyway , nggak semua orang menyebalkan. Gue bersyukur tempat gue kerja saat ini berisi orang-orang baik yang sangat ramah dan menyenangkan. Gue inget banget pesan dari bos gue di hari pertama bekerja, "Cecil, kalau jam istirahat, kamu harus istirahat ya. Main sama editor-editor yang lain. Jangan keasyikan kerja." Gila sih gue tepuk tangan punya bos kayak beliau. Rasanya bekerja jadi menyenangkan dan bukan demi duit semata. Kita betulan senang dengan pekerjaannya dan senang dengan lingkungan kerjanya. Males banget kan udah kerja di bidang yang lu suka, tapi lingkungannya ngeselin? Terus akhirnya lu kerja cuma demi duitnya doang. Alamak! What a waste of life!
- Tugas Karya Akhir
"Kalau kuliah film, skripsinya apa sih?" tanya semua orang sambil mengernyitkan dahi. Jurusan film itu emang aneh. Ketika semua orang mau jadi dokter, ilmuwan, dan profesi lainnya yang 'gagah' dan sangat beneficial untuk negara, gue malah memilih mempelajari film. Jurusan apaan nih? Gimana standard penilaiannya? (Sampai saat tulisan ini dibuat, gue belum lulus. Tapi sudah dalam proses menuju kelulusan.) Dalam jurusan film, kampus gue menilai kelulusan mahasiswa dari tugas karya akhirnya, (biasanya kami singkat menjadi TA). TA memiliki berbagai bentuk: bisa film fiksi, film non-fiksi, film animasi, program televisi, dan bisa juga karya penelitian ilmiah yang topiknya seputar perfilman. Bentuk-bentuk film ini juga tidak harus berdurasi panjang. Boleh juga membuat film pendek, asalkan sesuai kriteria durasi yang tertulis dalam buku panduan kampus. Contoh dari pengalaman pribadi, gue mengambil mayor film editing. Gue memutuskan untuk membuat TA film fiksi pendek berdurasi 15 menit. Dalam pembuatan film ini, gue bekerja sama dengan 3 mahasiswa lainnya dari mayor yang berbeda. Ada produser, director of photography (DP), dan penulis skenario. Kami berempat menanggung seluruh biaya pembuatan film ini dan menggunakan karya yang sama untuk sidang akhir. Penilai karya kami adalah para pembimbing (dosen) yang telah kami pilih sendiri. Para pembimbing ini yang akan membantu kami menciptakan karya akhir yang baik dan sesuai kriteria kampus. Saat sidang akhir, mereka akan menilai filmnya berdasarkan mayor yang kami pilih. Karena gue mayor editing, maka yang dinilai dari film pendek tersebut adalah editingnya saja. Kemudian ada laporan Pengantar Karya yang membantu para juri dalam melakukan penilaian editing. Pengantar karya ini adalah karya tulis ilmiah yang sebelas-dua belas sama skripsi. Isinya menjelaskan masalah apa yang dibahas dalam film, kenapa dibahas, dan bagaimana merealisasikannya ke dalam bentuk film. Gue bilang sebelas-dua belas karena isinya nggak serumit bikin proper skripsi. Proses pelaksanaan TA akan berbeda apabila mayor gue adalah kajian sinema. Berhubung mayor ini tidak mempelajari penciptaan film, maka hasil TA-nya tidak dituntut berbentuk film. Mahasiswa jurusan ini berkewajiban membuat skripsi dan penelitian seperti mahasiswa pada umumnya, dan tetap dalam konteks perfilman. Misalnya, meneliti identitas sinema nasional. Nah, semester 7 ini, gue sudah memenuhi semua standard kampus untuk mengambil kelas TA. Harapannya sih bisa lulus lebih cepat, sekitar 3,5 tahun. Waktu gue ambil kelas TA, gue pikir gue sudah siap membuat film yang jauh lebih "bener" dari sebelumnya. Ternyata, oh, ternyata, pemirsa... Proses pembimbingan selama beberapa bulan ini membuat gue sadar bahwa masih banyak hal yang gue lewatkan! Banyak sekali hal yang luput gue pelajari, entah mau nyalahin dosennya, mata kuliahnya, silabusnya, atau salahin ajalah guanya. Intinya, somewhat gue jadi belajar lagi dari awal, dan gue nggak bahagia dengan fakta tersebut. Makanya ada beberapa hal yang ingin kukritisi, tapi mungkin belum saatnya menuliskan hal tersebut.
- Galau Mau Kuliah di IKJ?
Hey, semua! Apa kabar? Gue baru selesai syuting nih, lagi ngedit, tapi tertunda karena materi editan belum lengkap. Gue mau cerita soal kampus akhir-akhir ini. Beberapa waktu lalu seorang dosen menghampiri gue dan bilang, "Sil, angkatan 2013 pada nge-fans sama kamu tuh. Katanya mereka baca blog kamu tentang IKJ dan menjadi lebih termotivasi." Wah, gila, gue langsung sumringah dengernya. Senyum nggak karuan gitu deh. Di satu sisi gue seneng karena tulisan gue memotivasi orang, di sisi lain gue baru sadar kalau blog ini sudah dibaca buanyak orang dan gue masih aja hobi nulis sesuatu yang privacy -nya tingkat tinggi. (Ngakak sambil ngapusin post-post berbahaya.) Nah, kawan-kawan budiman sekalian, mohon maaf ya kalau gue sering menulis hal personal. Gue emang "agak" suka cari sensasi gitu, sembari melepas penat. Jadi tolong dimaklumi saja. Baru-baru ini gue membantu syutingan kawan gue sebagai talent . Assiiikkk... Seru kan? Jarang-jarang nih gue jadi talent . Gue dapet peran sebagai seorang gadis yang menanti kekasihnya datang. Tugasnya susah gitu, mesti menangis. Tapi sialan bangetlah si sutradaranya, sengaja milih gue karena gue abis putus. Hahaha... Jadi biar gue nangis, semua crew pada nginget-ngingetin gue akan si mantan. Dasar kawan-kawan sialan! Tapi mereka memang berhasil sih... (-_-) Oh ya, menjelang UAS, kerjaan gue bertumpuk-tumpuk nih. Agak malas gitu ngerjainnya, makanya gue malah nge-blog. Tugasnya tuh bikin makalah soal tarian Sumatera Barat sama film tentang sejarah bakso di Indonesia. Terus ditambah job-job kecil yang gue ambil dari kampus maupun dari luar kampus. Duuhh... Lelah sendiri deh terima kebanyakan. Habis ditolak sayang! Ada yang prospeknya bagus, ada pula yang uangnya bagus. Contoh prospek bagus itu kalau gue diajak kerja sama dosen. Meskipun nggak dibayar, tapi dosen gue pasti ngenalin gue ke orang hebat lainnya, which is good kalau gue bisa maintain a good impression . Atau ada project yang honornya kecil banget, tapi kalau ditaro di portfolio , orang bakal manggut-manggut lihat pengalaman gue. Jadi kesimpulannya: kuliah di IKJ itu bisa disambi kerja. Lantas, apakah modal passion saja cukup untuk masuk FFTV IKJ? Jawabannya menurut gue ya jelas, cukup. FFTV IKJ itu apa sih? Sekolah kan? Sekolah itu fungsinya apa? Mendidik kan? Yaaa... namanya kuliah, tujuan utamanya adalah belajar. Jadi kalau belum ada pengalaman ya nggak masalah. Justru masuk IKJ untuk mendapatkan pengalaman dan pelajaran. Kalau lo ngelamarnya ke tempat kerja, misalnya stasiun televisi, baru passion aja nggak cukup. Karena di tempat kerja, mereka butuh pengalaman dan keahlian lo; nggak cuma passion . Nah, kalau di sekolah ya passion aja nggak apa-apa. Nggak passion juga nggak apa, cuman nanti jadi berat jalaninnya karena nggak suka. Ada pertanyaan sulit buat gue dan lucunya kerap kali ditanyakan para pembaca. Tapi gue akan mencoba untuk memaparkan apa yang gue tahu dan gue rasakan. Jadi, semoga opini gue bisa membantu para pembaca yang galau dalam membuat keputusan yang tepat. Ada seorang gadis yang curhat, dia bilang orang tuanya khawatir karena dia adalah seorang wanita, dan pergaulan di IKJ, "..bakal berat banget." Begitu kurang lebih katanya. Menurut gue IKJ nggak seseram yang orang bayangkan. Mungkin dulu seram, karena ada ospek yang gila-gilaan. Tapi sekarang ospek itu udah nggak ada lagi dan senioritas sudah mulai berkurang. Tetep ada senior yang dingin dan ingin dihormati, tapi ada juga senior yang sangat humble. So, I think you don't have to be afraid. Perihal kamu adalah seorang wanita, itu adalah alasan yang lebih nggak penting lagi. Ke mana pun kamu pergi, bahaya akan selalu ada. Maksud gue adalah, IKJ dan universitas lainnya ya sama aja. Meskipun kamu masuk sekolah yang isinya wanita semua, bahayanya tuh sama aja. Orang jahat akan selalu ada, dan nggak perlu ditakuti. Yang penting, iktikad lu baik, lo nggak jahatin orang, dan lo waspada. Gua rasa lo akan aman. Buktinya? Buktinya ya gue. Gue cewek, gue kuliah di IKJ dan semuanya baik-baik saja. Gue udah dua tahun kuliah di sini sejak tahun 2012. Gue kasih gambarannya ya, di sini wanita itu minoritas. Agama Katolik juga minoritas. Orang Indonesia berdarah Tionghoa lebih minoritas lagi. Gue berada di posisi yang benar-benar minoritas dan semuanya baik-baik saja. "Baik" dalam arti, gue nggak terluka secara fisik maupun psikis, gue nggak merasa didiskriminasi, dan gue mendapatkan hak yang setara dengan kawan-kawan lainnya. Jangan dikira orang tua gue nggak takut masukin gue ke IKJ. Mereka khawatir kok. Tapi waktu itu gue bilang ke bokap, kira-kira seperti ini, "Erin mau jadi sutradara, Pap. Mau sekolah di IKJ. IKJ itu sekolah film pertama di Indonesia. Erin nggak mau kuliah di B, di sana dosennya pun lulusan IKJ. Mending Erin sekolah di IKJ aja. Biaya kuliahnya juga nggak semahal di B." Bokap gue balik bertanya, "Kamu bisa dapat pekerjaan yang baik setelah lulus dari IKJ?" Gue jawab pertanyaan bokap gue dengan lugunya, "Erin udah tanya banyak orang. Katanya, malah kebanyakan mahasiswa IKJ itu nggak lulus karena keenakan kerja." Dan hal yang gue katakan ini memang benar. Sudah gue rasakan kenikmatan bekerja dan dibayar. Selama dua tahun ini, setiap ada waktu bertemu, bokap pasti nanya, "Gimana kuliah? Ada yang rasis nggak? Ada yang ngatain kamu? Jangan mau diajak syuting nggak jelas, naik mobil sembarangan, apalagi kalau kamu nggak kenal seniormu. Pokoknya kalau syuting harus ada perempuannya!" Gue tentu jawab apa adanya. Gue nurut dengan wejangan ayah gue, karena semuanya baik dan benar. Hasilnya, hidup gue baik-baik saja. Jadi begitulah cara gue meyakinkan orang tua. Gue jelaskan keinginan gue baik-baik, dengan bukti nyata bahwa ini bukan sekadar mimpi di siang bolong, dan gue yakinkan bahwa masa depan gue aman. Pertanyaan berikutnya dari si gadis di atas adalah, "Aku bakal survive atau nggak dengan lingkungan yang sangat berbeda?" Waktu itu, IKJ juga merupakan tempat yang asing buat gue. Bayangin aja, gue lulusan sekolah internasional. Setiap hari ngomong pakai Bahasa Inggris, berpikir seperti orang Barat, dan terbiasa tepat waktu. Tiba-tiba gue dihadapkan dengan kawan-kawan yang nggak ngerti Inggris, nggak suka on time , dan you know lah . Intinya beda. Gue ngerasain culture shock waktu itu, dan berusaha keras menyesuaikan diri. Ada saat di mana gue desperate , tapi.. gue nggak mungkin terus-terusan seperti ini. This is either you accept it or change yourself. Pada akhirnya gue memilih, accept it. Artinya, gue berhenti mengeluh dan menerima keadaan sebagaimana adanya. Gue mencoba memahami cara bergaul di sini, tanpa mengubah diri gue atau diri sesiapapun. Yang penting gue ngerti cara bergaulnya, jadi gue tau sampai di mana batas kebebasan gue menjadi diri sendiri. Lama kelamaan, orang lain malah menyesuaikan dirinya dengan gue. Mereka mulai ngerti kalau sama Cecil, harus menghargai waktu. Hehe... Sekarang gue sudah terbiasa dan nyaman dengan lingkungan yang baru ini. Gue yakin siapapun pasti bisa survive di lingkungan yang asing, asal itu tadi, pilih: accept it or change yourself. Kalau kamu mau change yourself , ya ubah dirimu menjadi tipikal mereka. Misalnya mereka suka lagu Slank, ya kamu coba dengarkan lagu Slank juga. Misalnya mereka suka main sampai pagi buta, ya kamu coba ikutin pola hidup mereka, semampumu dan senyamanmu. Pada akhirnya pertanyaan mau kuliah di mana, cuma bisa dijawab oleh dirimu sendiri (dan kemampuan finansialmu). Hehe. Cari lebih banyak informasi untuk meyakinkan atau sebaliknya mematahkan prasangkamu terhadap suatu tempat. Atau, jadilah Cecil yang bodo amat dengan apa kata orang dan ketika ingin sesuatu, fokus dan gas aja sampai nyampe di tempat tujuan.
- Sidang Praktika Terpadu
Nggak pake lama, langsung aja ya gue mau bahas soal sidang Praktika Terpadu kemarin pada tanggal 31 Januari 2015. Mungkin pada bingung nih, gue semester berapa sih? Kok udah sidang aja? Yak, jadi di kampus tercintah, ada empat hell gate yang mesti lo tempuh untuk lulus kuliah. Audisi Mayor Sidang Praktika Terpadu Stase Sidang Tugas Akhir Apaan tuh??? Yang pertama, Audisi Mayor itu penentuan lo mau jadi apa. Sutradarakah? Editorkah? Atau apaan? Itu pakai audisi. Audisinya ngapain? Tergantung pembimbing mayor masing-masing mau suruh lo ngapain. Yang kedua, Sidang Praktika Terpadu , nah itu yang baru aja gue lewatin. Di FFTV tuh ada mata kuliah namanya Praktika Terpadu (4 SKS). Tugas lo adalah bikin film berkelompok sama orang-orang yang dipilih secara random , dengan budget terbatas, dan syarat seabrek-abrek. Mostly ini kayak simulasinya Tugas Akhir (TA) cuman lebih susah (menurut gue). Nah, Praktika Terpadu itu jangan dikira cuma bikin pelem terus puterin dan kumpulin. Nggak, Bro, ini ribet banget. Lo mesti bikin laporan yang tebelnya bisa sampe 300 halaman dan difotokopi berkali-kali. Dalam mata kuliah ini sendiri ada tiga hell gate yang mesti lo tempuh: Script Conference Preview (tes gambar, warna dan suara) Sidang Praktika Terpadu Basically, Script Conference juga kayak sidang. Cuman di tahap ini film lo baru berupa ide dan desain konsep. Jadi lo mesti yakinin ketujuh pembimbing bahwa film lo tuh oks banget dan layak dijadiin film beneran. Ketujuh pembimbing yang harus diyakinkan adalah pembimbing penyutradaraan, produksi, penataan suara, editing, penataan kamera, skenario, dan penulisan. Yak, bahkan penulisan pun harus diperhatikan karena ini makalah serius banget. Setelah lolos Script Conference , lo bakal dikasih dana Rp6.000.000,00 dari pihak kampus untuk merealisasikan konsep film lo. Jadwal syuting semuanya ditentukan dari Koordinator Praktika Terpadu. Jadi semuanya terjadwal dengan rapi dan bikin deg-degan karena nggak fleksibel sama sekali. Banyak banget kasus talent nggak bisa dateng, padahal jadwalnya nggak boleh diubah-ubah. Soalnya ini berkenaan dengan penyewaan alat juga. Kan sewa alatnya bergilir dan mesti tukeran sama anak-anak yang mau TA. Setelah selesai syuting, balik lagi ke tahap pembimbingan. Kali ini anak editing sama suara mesti bolak-balik nemuin pembimbingnya buat kasih lihat hasil karya mereka. Nanti lo bakal dikomentarin, dikasih masukan dan tanda tangan. Setelah film lo dinyatakan almost done , lo bakal maju ke tahap Preview . Di sini film lo bakal diputer di proyektor besar. Jadi lo bisa lihat apakah warnanya sudah tepat, apakah gambarnya cukup jelas, suaranya kekencengan nggak, dll. Kalau para pembimbing lo bilang film lo udah oke, baru deh lo diizinkan ikut sidang. Nah, tiba di hari sidang! Semua mahasiswa Praktika Terpadu wajib mengenakan kemeja putih dan bawahan hitam. Di tahap ini film lo akan diputar dan ditonton oleh dosen penguji. Jadi tugas pembimbing udah selesai sampai tahap Preview , ini saatnya film lo diuji oleh para maestronya! Gue dan kawan-kawan bersyukur film IMPAS beneran bikin penonton ketawa. Jadi nggak salah nih kalau kami sebut film kami bergenre drama keluarga, komedi. Terus tibalah saatnya disidang. Kami duduk bertiga di depan para penguji. Pertanyaan pertama yang dilontarkan Bpk. Sam Sarumpaet adalah, "Kenapa kalian mengangkat tema Betawi?" DAG DIG DUG Kenapa ya? Yang jawab harus sang sutradara, karena itu pilihan cerita dia. Lah gua kan cuma editor aja. Terus temen gue karena deg-degan parah, agak ngalor-ngidul jawabnya. Sementara gue dan produser setengah panik juga. Hahaha... Pertanyaan demi pertanyaan pun diajukan buat kami bertiga, mulai dari pemilihan musik, lalu kenapa ini jadi seperti itu, kenapa itu jadi seperti ini, dst. Untunglah kami bisa menjawab dengan baik dan tidak terbata-bata. Banyak kesalahan yang kami buat di film itu, tapi gue optimis nilai buat kami tetep bagus, karena overall it wasn't a big problem. (Baris belakang, kiri ke kanan) Wazna Rahmi, Sam Sarumpaet, Gerzon R.A., Subagio B., Sentot Sahid Akhir sidang, kami ngajak semua penguji dan koordinator untuk foto bareng. Jeng-jeng! Inilah kelompok 24 dengan filmnya yang berjudul IMPAS! Film pendeknya bisa kamu saksikan di YouTube berikut ini:
- Mengundurkan Diri dari SENDAL
Mendadak gue memutuskan untuk keluar dari SENDAL. Well , gue punya alasan untuk ini dan akan gue bahas. Tapi sebelumnya gue ingin mengucapkan maaf dan terima kasih buat teman-teman seperjuangan dan para mentor yang sudah mendidik kami. Maaf sekali, pada akhirnya gue mengundurkan diri. Jadi begini, pendidikan untuk caang dimulai sejak tanggal 11 Februari dan baru akan berakhir tanggal 31 Maret. Sementara gue sudah mengundurkan diri sejak tanggal 5 Maret. Gue belum sempat naik gunung ataupun melengkapi kebutuhan naik gunung. Buat gue ini keputusan yang bijaksana, sebelum gue terlanjur terlalu siap dan semua menjadi lebih sia-sia lagi. Jadi gue nothing to lose . Temen-temen gue juga rasa-rasanya nggak rugi besar kok. Gue sudah melunasi apa yang harus gue bayar atas kepergian gue. Kalau mereka merasa rugi, menurut gue tidak secara materi (setidaknya). Jadi kita nothing to lose , ya? Alasan gue keluar yang pertama adalah: Ternyata, gue nggak segitu cintanya pengen naik gunung ataupun diving, caving, rafting, etc . Iya, gue emang suka jalan-jalan apalagi a la backpacker , tapi ternyata bukan kegiatan alamnya yang bikin gue tertarik. Jadi gue sama sekali nggak super excited dengan pendidikan dasar untuk naik gunung. Gue malah lebih excited ngurusin design t-shirt dan sticker buat cari dana. (-_-) Istilahnya gue lebih tertarik seni -nya daripada alam -nya. Kan ini jadi menyalahi tujuan utama gue ikut UKM SENDAL (Seni Dan Alam). Kalau gue cuma mau berkesenian, bukan di sini tempat yang tepat. Alasan yang berikutnya adalah: Prioritas. Gue lebih memprioritaskan les gue (yang selalu bentrok dengan jadwal pendidikan), kuliah gue (yang juga akan tersita ketika naik gunung), dan kesehatan gue (you know lah, gue masih jerawatan parah). Jadi alasan-alasan ini yang juga mendorong gue untuk segera mengundurkan diri. Sebelumnya gue sempat berdiskusi dengan beberapa teman dan ada satu orang yang menampar gue dengan kata-katanya, "Menurut gue, lo nggak cocok sama lingkungannya." Wow, really? Gue paham sih gue berasal dari lingkungan yang sangat berbeda dengan lingkungan di sini, tapi I did try my best to cooperate; to adapt . Apakah gue sungguh-sungguh gagal beradaptasi? Atau gue benar-benar nggak mungkin berhasil beradaptasi? Sakit dengernya dan sekaligus sadar, yeah what am I trying to force anyway? Why should I change myself for something I don't really like? Lagipula ikut atau tidak, nggak berpengaruh besar untuk kelangsungan cita-cita gue. Jadi apa sih yang gue perjuangkan di sini? Uhm , buat yang agak lost track , baiklah saya akan jelaskan maksud dari "lingkungan yang berbeda". Kalau orang lihat gue sepintas, mereka akan bilang: anak China, princess , tajir, bersih, manja. Jadi nggak mungkinlah orang macam gue naik gunung, tidur di tanah, makan seadanya, etc . Meskipun sebenernya mungkin-mungkin aja sih. Jadi lingkungan yang tepat untuk penggambaran gue pastilah: mall , rumah, yah tipikal tempat bersih deh. Sementara sekretariat SENDAL jauh dari gambaran itu, apalagi gunung. Tampang gue juga nggak ada sangar-sangarnya, jadi orang pasti menganggap gue lemah di fisik. Dengan tampang ini juga orang akan selalu menilai gue sebagai anak yang baik, polos, dan innocent . Gue tampang orang yang tidak mungkin mabok-mabokkan, pulang jam 2 pagi, nginep di kosan temen, nggak mandi, makan seadanya, dsb. Menurut gue, sepertinya itu yang dimaksudkan teman gue dengan, "Lo nggak cocok sama lingkungannya." karena lingkungannya ya seperti itu! Harus mau kotor, harus sederhana, harus down to earth banget, bahkan sampe kadang nggak mandi-mandi, baju juga nggak ganti-ganti. Gue males menegaskan soal: gue bukan orang seperti itu, atau gue bukan orang seperti ini. Karena gue melihat bahwa apapun yang gue lakukan, toh gue juga nggak cinta-cinta amat naik gunung, jadi yaudalah kenapa gue harus memperdebatkannya? ... Krik Krik Krik ... Jadi, kalo kata Try, "End story!" Hahaha... Semoga kawan-kawanku sukses naik gunungnya ya!
- Patah Hati Berujung Camping di Cisarua
Beberapa hari ini gue tenggelam dalam kesedihan, lantaran habis putus sama pacar. Sesaat setelah gue ngabarin Maning kalau gue putus, gadis asal Banyuwangi ini langsung ngajakin gue jalan-jalan. Dia dan Try arranged everything . Mereka yang siapin tenda, jadwal, peralatan memasak, dll. sementara gue tinggal siapin badan doang dan uang IDR 60,000. Kami berencana kumpul di kosan Ghifar jam 5 sore di hari Sabtu (05/17), dan ternyata ngaret sampai jam 7 malam karena beberapa kawan masih sibuk dengan kegiatannya. Maklum deh, soalnya ngabarinnya juga mendadak banget. Setelah gue putus di hari Jumat, kami langsung kumpulin temen di hari Sabtu dan berangkat Sabtu malem. Mendadak banget kan? Tapi gue seneng. Hehehe... Gue sendiri sih udah standby dari jam 5 sama Ghifar. Kita packing bareng-bareng. Gue seneng banget bisa backpacker -an lagi. Gue pakai tas ransel seadanya, dan membawa kebutuhan minim banget. Jadi gue mesti pinjem sana-sini, gara-gara gue totally nggak siap. Perjalanan dimulai dari Sentiong ke Kampung Rambutan naik bus Transjakarta. Sepanjang perjalanan itu gue desperate abis. Tapi temen-temen gue kocak banget dan terus ngelawak, ngebikin gue lupa gua abis putus. Kita sempat lelah (padahal baru mulai), dan itu jadi bercandaan, kayak gini : Konteks: bus baru saja melewati halte Kramat Jati. Gue : Aduh, gue capek. Ghifar : Nah, nah, nah, Cecil level Kramat Jati. Bus ngelewatin halte berikutnya. Try : (Mengeluarkan minyak kayu putih.) Gue : Nah, nah, nah, Try level Rumah Sakit Ibunda. Jadilah ngakak semua karena satu persatu mulai tumbang. Akhirnya kami tiba di terminal bus untuk mencari Bus Doa Ibu. Kira-kira udah jam 11 malem. Laper, capek, ngantuk. Tapi semua tetep semangat dan solid. Kalau ada kata lelah, itu cuma bercanda aja. Lamaaaa banget kami nyari bus itu. Masalahnya udah malem, makanya dia udah jarang lewat. Untung ada satu yang lewat. Si Maning dengan aktifnya langsung nawar dan maksa. Sumpah temen cewek gue ini pemberani dan strong abis. Wkwkwk... Naik bus itu, kami duduk dan tidur. Sayangnya gue nggak bisa tidur. You know the reason lah yaaa... Haha... Yah gitu deh, jadi gue ngeliatin jalan aja terus. Sambil jalan gue dengerin seorang penjual buah menjajakan jualannya. Dia ngomong kayak begini berjam-jam: Ayo, Pak dibeli buahnya, buat makan malem-malem kan enak sambil minum kopi. Nggak bakal deh harga buahnya lebih mahal dari yang di pasar. Saya kalau jual di mobil itu justru lebih murah. Nggak nipu. Kalau Bapak ada rezeki sih, apa salahnya, Pak dipakai untuk membeli buah. Mungkin istri dan anak di rumah seneng mendapatkannya. Setiap dia lewatin gue, gue langsung buang muka ke jendela. Terus dia nyeletuk, "Ayo nih adek-adek yang bacpacker -an, beli buahnya buat di tenda nanti. Enak." Kira-kira jam 1 pagi kami tiba di Pos 1 Cisarua. Dari situ lapor dulu ke hansip dan beli tiket seharga IDR 3,000 baru deh boleh jalan kaki ke atas. Perkiraan tiba di lokasi kemah tuh 2 jam. Tapi gara-gara tersesat jadi 3 jam. Gue seneng banget sih bisa nyasar. Seru, lucu. Gelep-gelepan pakai senter seadanya, saling tolong menolong, dan ngobrol, menurut gue seru banget. Oh ya ditambah becek, jadi mesti waspada jalan di situ. Akhirnya jam 3 pagi, kami tiba di sebuah gazebo. Di situ Maning langsung mendirikan tenda, bersama gue dan Gill. Sementara yang lain mempersiapkan makan malam. Eh, maksudnya, makan pagi. Menu makanan saat itu adalah mie kuah campur sayur-sayuran segar yang dibeli di pasar di deket Pos 1. Berhubung kami nggak bawa piring, jadi makannya rame-rame dari frying pan . Nah, supaya nggak tabrakan dan berebutan, kami makan cuma pakai satu garpu dan dioper satu persatu. Jadi yang kelaparan itu biasanya teriak-teriak nyuruh temennya buruan balikin garpu ke frying pan . Hahaha.. Sumpah ini seru banget dan bikin kita makin solid. :) Setelah makan, kami tidur empet-empetan dan kedinginan. Kami janjian bangun besok sore. Kami tidur sekitar jam 4 pagi tuh dan karena udah capek banget, jadi ya langsung tepar semua. Sayangnya, karena gue selalu bangun jam 7 pagi, jadilah gue bangun jam segitu dan tidak tidur lagi. Gue kebelet pipis dan di situ nggak ada toilet. Gila ini pengalaman pertama gue pipis di alam terbuka. Gue takut ada orang lewat! Setelah cuci muka dan pipis, gue kembali ke tenda untuk tidur. Tapi susah sih mau tidur. Masalahnya si Maning itu pantatnya ke mana-mana, belum lagi si Sam juga ngegencet gue. Alhasil gue stuck di antara mereka berdua. Astagaaa... Akhirnya sekitar jam 10 pagi, temen-temen gue bangun dan kami masak laagiiii... Menu kali ini bihun dan sayur mayur! Dessert -nya? Stroberi lezaattt... Tapi banyak yang busuk juga, jadi nanti pas turun bukit, kami mau protes ke penjualnya. Abis makan, beberapa tidur lagi, sementara beberapa lainnya ke sungai untuk sikat gigi. Nah, di sungai gue nemu berbagai hewan aneh nih! Gila, baru pertama kali! Terus Ghifar mulai gelisah pengen boker; dia bingung mau boker di mana. Akhirnya Maning si ketua perjalanan ngasih Ghifar sebuah parang untuk menggali lobang. Wkwkwkwk... Gue juga kepengen boker, tapi malu... Nggak enak juga. Padahal si Ghifar udah semangat banget pengen galiin lobang buat gue. Ih, gila pokoknya seru banget ini berasa anak alam banget (soalnya gue anak rumahan, maklum jadi katrok). Setelah puas ketawa-ketawa dan foto-foto, kami pun makan lagiii~ Menu kali ini mi goreng dan sayur. Pokoknya nggak ada nasi. Mau minum air aja kami minum air sungai secara langsung. Harusnya dimasak dulu sih, cuman karena gas cuma ada 1 jadi nggak bisa disia-siakan. Nah, dessert kali ini adalah kentang goreng. Sambil hujan makan kentang goreng dan minum kopi hangat. Lezaattt... Untung hujan cepat reda, kami segera membereskan segala peralatan dan sampah. Semua harus dibawa pulang ke bawah dan nggak boleh ditinggalkan di situ. Sayang banget, gue liat banyak plastik kosong dan sampah kertas di jalanan. Bikin jelek aja deh sumpah. Pengen gue bersihin tapi gue males, abis bukan sampah gue :p Nah, perjalanan turun memakan waktu 2 jam lagi. Hari sudah gelap dan kami harus menyalakan senter seadanya. Kocak gitu jalan bareng sambil memperingatkan satu sama lain akan genangan air di bawah. Terus harus saling mendukung supaya tetep semangat dan nggak nyerah untuk berjalan. Akhirnya kami pun tiba di Pos 1. Kami beli beberapa sayur lagi sambil ngomel-ngomel ke penjualnya karena stroberinya busuk. Yang berani ngomel cuma Ghifar dan Try. Gila, dua kawan gua ini PD banget. Hahaha... Untung abangnya nggak marah. Si Ghifar emang bisa Bahasa Sunda sih, jadi nyambung, terus dia berani banget kayak preman nawar harga sayur. Kalau abangnya nggak mau kasih harga segitu, si Ghifar ambil sayurnya dan bungkus sendiri terus dia kasih duit seadanya dan kabur. Hahahaha... Parah abiiisss!!! Sepulang dari sana gue nginep di kosan Ghifar, besoknya kami bolos kuliah gara-gara capek. Beberapa masih menguatkan diri untuk masuk sih. Tapi gue bolos ajah... Hati gue saat itu masih acakadut! Di saat gue acakadut begitu, kira-kira jam 10 pagi, gue baru aja keluar kosan Ghifar dan membuang sampah plastik kosong ke tempat sampah tetangga seberang kostan. Tiba-tiba yang punya rumah, seorang ibu-ibu nongol ngomel-ngomel. Ibu : "Eh, kamu! Kamu buang sampah di tempat sampah saya ya tadi?!" Gue : (Kaget.) "Iya, Bu." Ibu : "Kamu gimana sih punya tempat sampah sendiri masih aja buang di rumah orang lain. Bla bla bla..." Gue : "Maaf, Bu." (Langsung ngambil sampah gue lagi di tempat sampah itu.) Ibu : "Bukan itu masalahnya, masalahnya cara hidup kamu itu ngawur!!! Bla bla bla..." Ya ampun, ini ibuuu... Yang bener aja deh, gua nggak ngotorin rumahnya, lebay banget itu marah-marah. Sampe ngatain cara hidup gue ngawur pula. Padahal gue buang sampah tuh ke tempat sampah juga, bukan ke teras rumahnya... Tempat sampah si ibu juga terletak di jalan umum, bukan di dalam teras rumahnya. Jadi kayak... Yaudah deh, sekian kisah tentang Cisarua!
- Tragedi Orgy di Rumah Nenek
Jadi ceritanya gue dkk. ngontrak sebuah rumah di Matraman. Kita namain rumah itu "Rumah Nenek" karena kita pengen kontrakan ini terasa homey seperti saat pulang ke rumah nenek kita masing-masing. Nah, di kontrakan ini kita nggak tinggal sendiri, jadi rumahnya 1 blok dibagi untuk 2 penyewa. Jadi kami tinggal di alamat yang sama, tapi rumahnya dibagi dua dan terpisahkan oleh tembok, sementara halaman rumah tergabung. Tetangga kami ini adalah sebuah keluarga muda dengan anak kecil satu. Tujuan kami ngontrak adalah supaya lebih irit pengeluaran dan mudah dalam mengerjakan tugas. You know lah kalau ngekos itu mahal, banyak aturannya, dan sempit banget. Jadi dengan ngontrak rumah ini maksudnya kita bisa lebih leluasa bawa temen kerja kelompok, serta leluasa soal waktu juga. Eh, ternyata ekspektasi kami salah, Bro. Di Rumah Nenek ini kami ngontrak ber-5, cewek-cewek semua. Terus tadi malem temen kelompok Praktika gue dateng buat kerja bareng. Jumlahnya hanya 2 orang dan salah satunya adalah cowok. Mereka dateng jam 9 malam setelah selesai bimbingan praktika sama para pembimbing di kampus. Sesampainya mereka di sini, kami langsung rapat dan lanjutin tugas. Otomatislah ya selesainya subuh dan semua langsung tepar tidur di mana-mana. Gue juga lebih prefer mereka tidur di Rumah Nenek daripada pulang pagi buta, kan bahaya, Bro, naik motor pas ngantuk. Terus FYI aja nih, deadline kami adalah hari Senin! Tinggal 2 hari lagi sementara pekerjaan yang harus diselesaikan masih banyak. Bukannya kita lelet atau nggak pinter organisasiin waktu, cuman memang workload -nya lebih besar daripada waktu yang tersedia, jadi mau nggak mau harus kerja sampai malam setiap hari. Belum lagi, kita masih punya PR dari mata kuliah lain. Kami nggak punya pilihan waktu selain kerjain tugas di malam hari ke subuh setiap hari. Paginya, jam 10an, pintu rumah digedor-gedor sama Bu RT. Ibu itu datang marah-marah karena ada cowok menginap di rumah kami. Dia bilang begini, "Ada cowok menginap ya di sini? Kamu bukannya udah saya bilangin ya kalau ada tamu harus lapor Pak RT? Kan kalian ngekos di sini." Terus gue panas gitu denger kata ngekos . Oh, Man , kita nggak ngekos kali. Kita ngontrak rumah ini satu tahun! Kalau saya ngekos, tetangga sebelah saya juga ngekos berarti! Tapi ya gue cuma mengumpat dalam hati aja. Faktanya gue diem dulu dengerin si Ibu RT. Tak lama setelah diomeli, Pak RT ikut datang marah-marah, "Mana cowok itu? Suruh dia keluar! KELUAR SEKARANG!!! KELUAR! KELUAR!!!" Suaranya yang besar dan tegas cukup membuat gue lemes dan langsung masuk memanggil kawan gue untuk keluar dari rumah, menghadap Pak RT. Kemudian si Pak RT menegur kawan gue itu dengan agak lebih lembut. "Kamu mahasiswa kan? Punya otak kan? Punya agama kan? Kamu tau kan berkunjung ke rumah perempuan di atas jam 11 malam itu salah?" "Iya, Pak, saya mahasiswa dan punya agama." "Agama kamu apa?!" "Kristen, Pak." "Emang di Kristen boleh kamu berkunjung ke rumah cewek di atas jam 11 malam?" "Nggak, Pak." "Kenapa kamu harus datang malam-malam?" "Maaf, Pak, kami semalam kerja kelompok dan belum selesai." "Kenapa harus malam-malam? Nggak bisa siang-siang aja?" Nggak mau cari ribut, temen gue diem. Gue juga diem. Pokoknya kita nggak mau cari ribut sementara si Bu RT ikut menceramahi, "Kalian kan mahasiswa, kenapa nggak kerja di kampus aja? Atau kerja di mall sana, di coffee shop atau di manalah." Temen gue yang tomboy abis dan baru bangun tidur pun datang karena ribut sekali di depan. Doi nggak mau diem aja diceramahin, dan langsung menjawab, "Pak, kita ini baru tidur pagi-pagi. Semuanya sibuk ngerjain tugas. Kita nggak bisa kerjain tugasnya di coffee shop karena mahal." Setelah itu doi pun langsung didamprat lagi oleh Ibu dan Bapak RT. Menurut gue, temen gue agak kurang lengkap ngejelasinnya. Bukan cuma karena mahal untuk nongkrong di coffee shop , tapi juga karena nggak nyaman dan mereka nggak buka 24 jam! Ditambah lagi kami sudah punya rumah untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Inget alasan kami keluar dari kosan? Karena kami butuh menghemat pengeluaran dan mendapatkan kebebasan lebih. Tentunya kebebasan ini juga kami pakai dengan bertanggung jawab. Kami adalah kaum terpelajar, Saudara-saudara sekalian... Kami tidak berzinah atau pun punya keinginan berzinah! "Coba ya, kamu bayangkan," lanjut Ibu RT, "Kalau ada sebuah benda dilihat oleh 5 orang. Pasti pendapat masing-masing orang berbeda kan? Ya sama dengan hal ini, Dek. Meskipun kalian nggak berbuat atau berbuat, semua orang akan melihat kalian dengan cara yang berbeda-beda. Tetangga sini ngelihatnya kalian berbuat." Rasanya gue pengen elus-elus dada. Gue tinggal berlima loh. Rumah kami kecil banget, cuma ada 1 kamar tidur untuk 5 orang tidur bareng dan malam itu jumlah wanita ada 6 sementara pria ada 1 orang. Kami kerjain tugas sampai subuh dan langsung tepar. Siapa sih yang mau berbuat zina di sini?! Masak ada 6 cewek menyerang 1 cowok? Duh, mungkin otak-otak Bapak-Ibu sekalian ini yang kotor, membayangkan kami orgy di dalam. (-_-) Terus ketauanlah, bahwa ternyata yang melaporkan kami adalah tetangga sebelah. Si Pak RT memanggil tetangga sebelah kami agar ikut bergabung dalam penceramahan pagi itu, "Ibu, coba ke sini sebentar. Bagaimana kalau lain kali, anak-anak ini ada tamu, mereka mengabari ibu dulu saja. Apalagi kalau ada yang sampai menginap." Terus gue dalem hati mikir, ya ampun, rumah juga rumah gue, kok gue mesti ngelapor ke tetangga kalau bawa tamu? Terus tetangga gue kalau bawa tamu kok nggak perlu ngelapor ke gue? Nggak adil dan aneh banget. Emangnya gue anak kecil banget ya? Umur gue udah kepala dua loh, meskipun tubuh tidak memperlihatkan. Gue berpendidikan juga kok. Ya kali sih, Bro, gue mau berbuat orgy ??? Sakit loh dituduh berbuat zinah. Padahal kita nggak tidur sama temen cowok itu... Padahal kami semua sedang fokus dengan tugas kuliah!!! Terus tetangga konyol itu menambahkan, "Iya, Dek, saya pernah dengar suara cowok datang jam 2 pagi parkir motor di halaman rumah. Terus paginya buru-buru kabur." Nah, ini nih gue benci banget ketika dia mulai memanas-manaskan suasana dengan fitnah tanpa bukti. Gue hapal betul siapa yang datang ke rumah karena akhir-akhir ini gue tidur subuh-subuh. Gue selalu panggil temen gue dateng malem-malem, bukan pagi buta, dan memang betul dia menginap tapi kita juga nggak BURU-BURU KABUR. Kita biasa aja kok berangkat ke kampus soalnya kita memang nggak berbuat salah! Mungkin suara motor yang dia denger itu suara motor si temen gue. Dia emang sering pulang jam 2 pagi karena habis bimbingan sama pembimbing praktikanya di Tebet, tapi dia itu cewek!!! Sexist! Yaudahlah yah I know , percuma gue jelasin panjang lebar. Intinya gue akan tetap dihakimi para tetangga ini. Cukup tau aja sih gue dengan si tetangga yang suka ikut campur urusan orang. Tapi ternyata dia belum puas memanaskan suasana, dia tambah lagi, "Saya punya anak-anak kecil, Dek. Kalau kalian berbuat dosa, 7 rumah di samping kanan, kiri, belakang, dan depan semuanya ikut kena dosa. Yang punya rumah ini dulu seorang Ibu Haji loh. Jangan berbuat macam-macam kamu di sini." Sakit banget telinga gue denger si tetangga ini komentar kayak begitu. Pertama, udah jelas woy, ini ada 6 cewek di rumah dan cowoknya cuma 1. Kedua, ketika mereka gedor-gedor rumah kami, kita semua lagi pada ngerjain PR. Nggak ada satupun yang lagi pegang-pegangan atau bermesraan. Lo bisa bedain lah mana suasana hectic kerja dan suasana love is in the air! Terus si Pak RT bilang, "Meskipun ketika saya pergokin, kalian lagi main laptop. Bisa aja kalian pura-pura." Astaga, Bapak, suudzon mantep bener. Kaget gue dengernya. Secara nggak langsung mereka maksain prasangka buruknya supaya terdengar nyata dan benar kan? Fitnah nggak sih ini namanya? Akhirnya gue pun menjawab, "Bu, Pak, kita bener-bener nggak ngapa-ngapain. Kita udah terlalu pusing dengan tugas yang terlalu banyak itu." Langsunglah saya dibalas, "Masalah berbuat atau nggak berbuat itu jadi urusan pribadi kamu. Pokoknya nggak ada lagi deh cowok dibawa nginep di sini." Lah? Kan ente yang nuduh kita zina??? Akhirnya Bapak dan Ibu RT serta tetangga itu kembali ke rumahnya masing-masing. Terus tetangga kami dari depan rumah datang dan bilang, "Saya juga pernah jadi mahasiswa dan saya tau rasanya kerja kelompok. Lain kali kalau kamu mau kerja kelompok, kerja di rumah saya aja. Malam-malam juga boleh, nanti saya yang tanggung jawab. Tenang aja yah, orang-orang sini emang kayak begitu. Yang kumpul kebo dibiarin, yang kerja kelompok malah dimarahin!" Terima kasih, ternyata masih ada orang baik di Jakarta yang keras nan jenaka ini.





