top of page

Search Results

175 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sepeda Saya Hilang di Taipei

    Pagi itu gue parkir sepeda di tempat yang nggak biasanya. Gue lihat ada banyak sepeda (lebih dari 10) diparkir berjajar, gue ikutan aja parkir dengan rapi di situ. Terus gue kunci, dan gue tinggal naik kereta ke Taipei Main Station. Siangnya ketika gue kembali, kaget dong, mendadak SEMUA sepeda yang diparkir berjajar di situ hilang. Well, actually nggak semua sih. Sepeda di baris pertama masih ada, cuma sepeda di baris ke-2 yang hilang semua, termasuk punya gue. Tapi gue feeling juga, "Ah jangan-jangan sepedanya disita, bukan dimalingin." Gugup. Gue bengong sebentar, lalu akhirnya mengambil foto lokasi kejadian. Niatnya mau jelasin ke Laoshi dan minta tolong dipandu. Soalnya Mandarin gue masih payah banget dan itu sepeda pinjeman dari temennya Ko Puspus. Nggak enak banget kan masak sepeda orang gue hilangin :( Ada kode angka di lantai Sialnya, jarak dari Dongmen station exit 5 ke Wenhua, sekolah gue itu jauh banget, sekitar 20 menit jalan kaki. Gue berniat rental sepeda YouBike , tapi entah kenapa, hari itu, semua sepedanya lagi nggak connect sama EasyCard gue. Alhasil, gue nggak bisa pakai sepeda rental. Gue jalan kaki udah cukup jauh, terus tiba-tiba gue kepikiran, "Lah ini udah jam 1.30 siang. Kalau gue sekolah dulu, pulang jam 5 sore, apa nggak keburu tutup tempat penyitaannya?" Akhirnya gue jalan balik ke arah stasiun, dan berhenti di depan restoran Din Tai Fung pertama di Taiwan. Nggak, gue bukannya laper dan mau makan. Cuman gue melihat ada sesosok bapak-bapak mirip polisi. Yaudah gue coba ajak dia ngobrol dengan Mandarin yang super terbatas. Gue : 請問, 我的腳踏車沒有。 你知道警察哪裡? (Permisi mau nanya, sepeda saya nggak ada. Apakah kamu tahu di mana polisi?) Doi : @#%$dasdadaljdlakj#%$$^%&  (ceritanya balasannya begitu cepat sampai gue nggak ngerti apapun.) Okay , goodbye , nggak ngerti. Batere HP juga udah mau habis. Terus dia sadar kan kalau gue nggak bisa Mandarin, dia langsung panggilin gue mbak-mbak Din Tai Fung. Lucunya mereka pikir gue orang Jepang, jadi dicariin yang bisa Bahasa Jepang. Ah, lelah deh menjelaskan bahwa saya butuhnya Bahasa Inggris!!! Mbak cantik : Hello, may I help you? Gue : Hi, my bicycle is gone. I parked it behind Dongmen exit 5. Mbak : Sorry, if you parked it there, we cannot help you. If you parked it in front of Din Tai Fung, we have 24 hours security camera to check. Gue : No, no, I just need to know where is the police station. Si mbak-mbak cantik langsung nyerocos sama bapak yang tadi dan akhirnya gue minta dia untuk mengetikkan alamat kantor polisi di Gmaps HP gue. Kata Google butuh 9 menit untuk tiba di kantor polisi. Jalan kaki dimulai di hari yang lumayan panas. Sampai di kantor polisi, gue gugup banget ngobrol sama officer cantik berambut pixie , tapi gue tetep coba dengan my broken Mandarin . Sayangnya doi makin pusing karena nada gua ngomong kacrut, dan meaning -nya nggak nyampe. Dia kerap kali menanyakan, "Barang apa yang kamu maksud?" meskipun gue udah sebut kata, "Sepeda," hampir 5 kali. Gue coba kasih lihat foto sepeda, dan lokasi hilangnya sepeda gue. Dia nampak mulai mengerti. Dipanggilah bapak-bapak kekar dan besar yang mencoba bicara dalam broken English . Mereka kasih gue alamat di kertas yang gue susah banget bacanya. Jadi gue minta mereka ketikkan di Gmaps gue lagi. Terus mereka pakai Google translator, dan muncul dua buah kata, "Field custody." Kata Google butuh 9 menit untuk tiba di tujuan berikutnya, Longmen Junior High School. Gue nggak paham kenapa arahnya ke sebuah SMP. Gue khawatir mereka nggak ngerti hal yang gue maksud. Tapi gue juga nggak bisa jelasin, dan nggak punya siapa-siapa untuk bantu saat itu juga. Excited sekaligus takut. Gue ngerasa berpetualang di negeri antah-berantah. Tiba di sekolah yang super besar dan super luas, gue tanya ke penjaga gerbang, di mana gue bisa ambil sepeda. Terus dia arahkan gue ke pintu no. 2 Gue jalan kaki lagi sekitar semenit untuk mencari pintu nomor dua. Ketemu. Pintu kecil dengan  tangga menuju basement . Gue bertanya-tanya dalam hati, "Kok basement ? Kok? Kenapa di sini? Di mana gue harus cari sepedanya?" Rasanya cukup mengerikan, dan mulailah saya berkhayal, apakah di sini gue akan ditangkap? Dijebak? What will happen to me? Gue dengar-dengar dari Google, kalau kita parkir sepeda sembarangan bisa kena denda NT$ 450 dan denda NT$ 50 per harinya. Itu mahal loh, kalau dirupiahkan sekitar Rp184.500,00 Terus gue lihat di basement ada papan penunjuk arah dalam Bahasa Inggris. Ke kiri management office , lurus pay when you exit . Baca kata PAY itu jantung gue berdegup cepat. Oh my , kenapa hari itu aku apes sekali. Gue pilih ke kiri, masuk sebuah kantor dan langsung ngomong Bahasa Inggris. Kali ini gue nyerah praktekin Mandarin. Percuma, nggak ada yang ngerti gue ngomong apaan. Mandarin itu beneran susah. Ternyata petugas di kantor itu nggak bisa sama sekali Bahasa Inggris. Mereka terus menyebutkan kata yang gue nggak mengerti. Jadi gue tebak-tebak aja, gue keluarin kartu pelajar, foto sepeda, dan passport . Akhirnya keluar seorang bapak gendut berseragam putih-hitam mengantarkan gue keluar ruangan. Dia tanya, "Dongmen?" Gue ngangguk. Terus dia nyerocos dan nunjuk arah lurus. Mungkin maksudnya gue jalan aja sendiri ke sana dan cari sepedanya. Yaudah gue nurut. Gue jalan kaki ke ujung basement . Sampai di ujung, ternyata dia nyusul naik sepeda. Di situ ada ratusan sepeda dirantai, dan gue harus cepetan cari yang mana sepeda gue. Setelah ketemu, sepedanya difoto dulu, terus kita kembali ke management office . Mereka meminta gue duduk dan mengisi form dalam Bahasa Mandarin. Gue nggak ngerti sama sekali. Akhirnya mereka tunjukin satu-satu. Doi : 你的名字。 生日。 移動電話。 地址。 (Nama, ulang tahun, HP, alamat.) Tapi gue nggak bisa menuliskan alamat dalam Bahasa Mandarin. Akhirnya gue kasih lihat aja notes di HP gue, dan bapak gendut itu yang tuliskan. Setelah selesai, gue gugup banget, takut mereka ngungkit masalah biaya penalti. "Finish," kata si bapak gendut. Terus dia persilakan gue keluar. HAH? Serius nih? GRATIS?! Gue girang banget dalam hati. Gue langsung bungkuk dan terima kasih ke semuanya. Terus keluar deh bersama sepeda pinjemanku. Akhir cerita, gue cuma mau bilang, "Parah, PR banget gue ngilangin sepeda orang!!!" Untung gue diarahkan ke Din Tai Fung! Untuk ada yang bisa Bahasa Inggris! Untung HP gue nyala juga waktu itu! Kalau nggak ada HP, duh nggak tau lagi gimana caranya menjelaskan ke mereka. Buat yang punya sepeda di Taipei, hati-hati saat memilih tempat parkir!!!

  • Menikmati Taipei Film Festival 2016

    Tanggal 4 Juli lalu, gue sempet janjian sama orang Taiwan untuk nonton bareng dalam rangka Taipei Film Festival 2016. Yeay! Gue excited banget karena ini pertama kalinya gue dateng ke festival film di luar Indonesia. Gue sengaja pilih film yang kelihatannya nggak bakal muncul di internet dan jadwal yang memungkinkan untuk bertemu langsung dengan filmmaker -nya. Waktu itu terpilihlah hari Senin jam 21:20 di Shin Kong Cineplex dengan film berjudul The Wounded Angel (2016). Singkat saja, film ini merupakan film drama fiksi dari Kazakhstan dan disutradarai oleh Emir Baigazin. Film ini menceritakan perjuangan beberapa remaja di Kazakhstan tahun 90an, yang harus menghancurkan "sayapnya" untuk mencari tempat di dunia nyata. Sekitar jam 7 malam, temen gue dateng pake kemeja pink , sepatu kulit cokelat dan wajah cemberut lantaran doi salah nebak rumah gue. Yah, yaudah deh eke minta maap kalau lokasinya meleset dikit. Terus kita langsung jalan naik scooter -nya ke Ximen. Harga tiket untuk umum adalah 200 NT, sementara pelajar 180 NT. Yeeaayyy lagi karena gue sekolah bahasa di sini, jadi dapet kartu pelajar dan boleh claim diskonnya. Abis itu kita keluar dulu makan lu rou fan (滷肉飯), beli bubble tea dan siap-siap nonton :) Filmnya punya editing pace yang super lambat, minimalis, dan tenang. Pas sama lokasi ceritanya yang kebanyakan simpel, open-space , dan juga minimalis. Tapi ceritanya sih nggak simpel sama sekali. It's a heartbreaking story yang disampaikan dengan cara yang obscene, silly , dan ironis. Selesai film diputar, keluarlah Emir bersama translator dan MC. Gue kira mereka bakal bicara dalam Bahasa Inggris karena banyak juga non-Chinese yang nonton, ternyata oh ternyata.. Emir bicara Bahasa Rusia dan MC serta penerjemahnya bicara Bahasa Mandarin. Goodbyeee! Gue nggak ngerti apapun! Eh gue lupa gue bawa anak Taiwan asli. Gue perdayakanlah temen Taiwan ini untuk translate . Tapi yaaa Inggris dia juga nggak bagus-bagus amat, jadi gue tetep nggak ngerti. Paling gue cuma nangkep kalau aktor-aktor dalam film ini semuanya amatir, tapi aktingnya bagus banget. Terus udah deh, selebihnya gue lupa dan nggak ngerti temen gue nyerocos apaan. Gue ngangguk-ngangguk aja, males kalau nanya, dia makin jelasin makin nggak jelas. Hahaha... Kesempatan berikutnya gue mau nonton film drama Jepang (masih dalam festival yang sama), tapi tiketnya sold out . Akhirnya festival pun berakhir dan saya nggak sempet nonton film lain :")

  • Ketika Realitas Menamparmu

    Sebelum saya tiba di Taiwan, saya berangan-angan... Nanti mau rajin jogging ah, nanti mau vlogging tiap minggu ah, nanti mau jalan-jalan sendiri ah, nanti mau belajar Mandarin yang rajin ah, nanti mau isi Instagram tiap hari ah, nanti mau bikin Snapchat ah, dan ah-ah lainnya yang.. tidak terlaksanakan :"D Yah, ternyata kenyataan berkata lain. Senin pertama di Taiwan, saya langsung dapat kerja part-time dari kakak saya sendiri. Kerjaannya simpel tapi banyak banget. Kemudian pulang kerja saya harus jalan cepat ke sekolah sejauh 1,2 km dari stasiun kereta bawah tanah. Pulang sekolah saya jalan kaki lagi 1,2 km ke kosan. Istirahat sebentar, lalu lanjut lagi kerjain projek Axioo sampai tidur. Besoknya ulang lagi, terus sampai hari Jumat. Kira-kira jadwal saya seperti ini: 09.00 - 13.00 : kerja sama kakak 13.00 - 14.00 : perjalanan ke sekolah 14.10 - 17.00 : belajar Mandarin 17.00 - 17.30 : ngobrol dan makan 17.30 - 18.00 : perjalanan pulang 18.00 - 19.00 : mandi dan lenggang kangkung 19.00 - 22.00 : kerjain Axioo 22.00 - 07.30 : istirahat Semua rencana jogging , vlogging , snepcetan , dan instagraman tiap hari itu tinggal kenangan di awan dan rintik hujan yang sering menerpa Taiwan. Saya udah rekam beberapa hal yang terjadi belakangan ini, tapi saya nggak sanggup ngeditnya. Otak saya keburu keperas kerjaan bertubi-tubi setiap hari. Weekend kedua saya di Taiwan habis di kosan saja. Saya belum sempat ke mana-mana, bahkan ke Taipei 101 yang tinggal jalan kaki pun belum! Sempat sih saya menghadiri wisudanya teman kakak dan ke gereja. Tapi ya itu cuma hitungan 1-2 jam, setelah itu saya pasti langsung pulang dan kerja. Saya harap Agustus nanti kerjaan saya berkurang. Saya sedih ke Taiwan hanya mengulang tragedi Jakarta (baca: kerja nonstop). Ah, memang sulit menolak uang. Seandainya saja ada pekerjaan mudah dengan gaji tinggi, tolong panggil saya.

  • Kursus Bahasa Mandarin di Taiwan

    Selamat datang di bulan Juni 2016! Maaf, sudah lama tidak posting mengenai perfilman. Sebenarnya selain sibuk (sekali) bekerja di Axioo Photography and Videography , aku juga sedang mempersiapkan keberangkatanku ke Taiwan! Yeay! Kali ini jadi bombastis karena aku akan stay selama 3 bulan untuk kursus Bahasa Mandarin. Yay, Caecilia akan mengerti bahasa nenek moyangnya! Yok, aku bahas cara mengurus itu semua! Hal pertama yang kulakukan sebenarnya simpel. Daftar ke Mandarin Learning Center Chinese Culture University atau juga disebut Wenhua. (Berhubung gue goblok banget, sudahlah nggak perlu ambil placement test . Langsung akuin aja bego dan ambil kelas intensif Bahasa Mandarin level 1.) Kelasnya 15 jam per minggu, artinya 3 jam per hari dari Senin-Jumat. Ada berbagai pilihan jam: pagi, siang, dan malam. Tapi khusus kelas malam hanya terbuka bagi pemegang working permit dan dapat menunjukkan surat dia bekerja. Kalau cuma kayak aku yang bahkan student visa pun nggak eligible , nggak boleh ambil kelas malam. FYI, kursus 3 bulan di Taiwan tidak akan memberikanmu student visa . Kalau kamu ambil kelas di atas 6 bulan, barulah bisa applying for student visa , yang artinya punya hak kerja part-time . Lanjut, setelah daftar dan bayar sebesar NTD 23,000, kita akan dikirimkan admission letter ke rumah buat mengurus visa. Jangan lupa dikenakan biaya pengiriman ekspres sebesar NTD 300 dan surat akan tiba dalam 3 hari. Kenapa pilih Taiwan? Karena Bahasa Mandarinnya paling dekat sama yang kita pelajari di sekolah Indonesia, dan kebetulan kakakku sudah tinggal di sana. Bagaimana dengan pekerjaanmu di Jakarta? Oh, bos aku baik banget. Beliau dengan santainya bilang begini, "Ya nggak apa pergi aja. Nanti kalau udah balik hubungin saya lagi. Jangan lupa nanti ganti rekening BCA, saya males urusin kamu Mandiri beda sendiri." Kurang ganteng apa lagi ah punya bos kayak gitu. Kenapa pilih Wenhua? Waktu itu saya membandingkan Wenhua dan Taiwan Chinese Academy . Jujur aja website Wenhua memusingkan dan bikin gila. Beda sama TCA yang sangat rapi, bersih, dan mudah dinavigasikan. Saya bener-bener kepincut sama TCA, tapi tentu harga kursusnya berbeda. Biaya kursus di Wenhua jauh lebih murah dan paling dekat dengan tempat tinggal kakak saya di Taipei. Alhasil saya harus berjuang menelusuri website yang meresahkan itu. Kenapa hanya 3 bulan? Oh, alasan ini berhubungan dengan dana yang saya miliki. Biaya kursus Wenhua sekalipun paling murah tetep aja mahal buat saya. Selain itu saya juga masih pakai kawat gigi, saya jadi nggak bisa check up ke dokter kan kalau begini. Tapi rest assured , buat kalian yang tertarik kursus Bahasa Taiwan secara gratis, pemerintah bagi-bagi beasiswa buat anak Indonesia! Sayang banget waktu saya tau ada beasiswa, pendaftaran udah tutup, sementara kakak saya udah maksa untuk dateng bulan Juni ini. Next post saya bakal jelasin cara mengurus visa. Stay reading my blog! *Bagi yang tertarik mencari informasi mengenai beasiswa kursus Bahasa Mandarin di Taipei, saya sudah tidak tahu updatenya saat ini. Silakan Google sendiri.

  • Virgin Atau Nggak Virgin Nggak Masalah

    Berikut ini adalah tulisan lama saya di OA LINE "Perspektif" yang sempat membawa rekor view terbanyak. Virgin atau perawan adalah perempuan yang belum mengalami hubungan intim. Tanda hilangnya keperawanan selama ini diukur dari robeknya selaput dara (selanjutnya saya sebut hymen), sebuah sekat rongga yang terletak di sekitar vagina. Umumnya, setiap perempuan memiliki hymen tipis dengan satu lubang utama di tengah. Namun karena setiap manusia berbeda dan unik, tidak semua perempuan lahir dengan hymen, atau pun memiliki ciri-ciri hymen yang sama. Mengatakan sebuah hymen berbentuk normal hanyalah sebuah indikasi bahwa bentuk tersebut adalah bentuk yang paling umum ditemukan, tanpa berusaha mendiskreditkan maupun mengingkari bentuk-bentuk lainnya. Sayangnya, miskonsepsi mengenai keperawanan masih terus diajarkan tanpa diperbaiki di sekolah-sekolah (tidak hanya di Indonesia), sehingga banyak sekali orang masih percaya bahwa perempuan yang perawan, pasti: Memiliki hymen berbentuk normal. Berdarah saat hubungan intim yang pertama. Apabila perempuan yang dinikahi terbukti tidak memiliki hymen ataupun berdarah, perempuan tersebut langsung dicap tidak terhormat, tidak murni dan tidak suci lagi. Di Arab, beberapa perempuan bahkan rela menghabiskan uang 2000 Euro demi memastikan malam pertamanya berdarah. Mereka pergi pada seorang dokter di Paris yang akan mengoperasi bentuk hymennya menjadi ‘sempurna’. Di Indonesia, operasi hymenoplasty mungkin masih terdengar asing, namun perlakuan masyarakat terhadap kehormatan perempuan masih sama. Pada tahap terekstrem, perempuan yang dianggap tidak perawan dilarang bergabung dalam angkatan militer dan kepolisian Indonesia. Para pembuat peraturan ini beralasan, “Bagaimana kamu menjaga kehormatan bangsamu apabila kamu sendiri tidak bisa menjaga kehormatanmu?” Padahal, kehormatan pribadi dan kehormatan bangsa tidak ada hubungannya, dan kehormatan pribadi perempuan tidak dapat diukur hanya dari robekan hymen pada tubuhnya. Mengatakan bahwa perempuan tidak lagi terhormat hanyak karena bentuk hymen yang tidak normal sama saja dengan mendegradasi nilai kemanusiaan pada dirinya. Sebenarnya pengecekan hymen pada perempuan juga tidak sepantasnya dilakukan dan tidak dapat dijadikan sumber akurat untuk menentukan keperawanannya. Mengapa? 1. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bentuk hymen setiap perempuan unik. Untuk mengetahui apakah ia baru saja mendapatkan sexual abuse atau tidak, pengecek harus tahu terlebih dahulu bentuk awal hymen perempuan tersebut. (Siapa tahu dari awal memang sudah begitu bentuknya.) 2. Meminta perempuan membuka celana dalamnya hanya untuk dicek hymen robek atau tidak adalah sebuah tindakan yang tidak etis, membuat malu, dan bahkan dapat berakibat trauma pada pasien. (Kasihan juga sama pengeceknya dapet kerjaan nggak penting, baca: ngecekin selangkangan.) 3. Hymen bersifat seperti karet gelang. Ia elastis dan bentuknya dapat kembali ke semula seiring waktu berjalan (meski tidak seelastis karet gelang!). Tingkat keelastisan hymen setiap wanita berbeda. Ada yang sangat elastis sehingga ia tidak akan berdarah di hubungan intim pertama, ada pula yang terlalu kencang sehingga vaginanya berdarah. Karena hymen bersifat mirip seperti karet, apabila ia terus-menerus diregangkan dan ditarik, maka tingkat keelastisannya juga dapat berkurang. Terutama ketika tarikannya begitu dahsyat seperti saat melahirkan bayi. Namun, seiring waktu berjalan, hymen memiliki kemungkinan untuk kembali mengecil, dan kemungkinan lagi tidak, karena semuanya lagi-lagi tergantung pada individu tersebut. 4. Tes keperawanan ini sangat sexist karena hanya perempuan yang dicek, sementara pria dengan enaknya boleh ‘tusuk’ ke mana saja tanpa dianggap kehilangan kehormatannya. Berdasarkan keempat alasan di atas, saya berharap Perspekter lebih terbuka lagi dalam menilai kehormatan perempuan. (Khususnya para pria) coba Anda bayangkan, mana yang lebih baik, memiliki istri yang hymennya robek tapi kepribadiannya mandiri dan dapat diandalkan; atau memiliki istri yang hymennya sempurna tapi tidak bisa diandalkan dan hanya bisa mempercantik penampilan? Well, jawabannya memang menjadi hak Anda, tapi perempuan pun memiliki hak untuk dihormati dan dinilai lebih dari sekadar robekan selaput daranya! Sumber Referensi: Anonim. 2014. Types of Hymens. Sumber: http://youngwomenshealth.org/2013/07/10/hymens/ (diakses 19 Desember 2015). Guharaj, P.V. dan M.R. Chandran. 2003. Forensic Medicine 2nd Edition. India: Orient Longman. Kwok, Yenni. 19 Mei 2015. Indonesia’s ‘Virginity Tests’ Obsession Highlights Its Truly Rotten Armed Forces. Sumber: http://time.com/3883558/indonesia-virginity-tests/ (diakses 19 Desember 2015). Mehri, Najlaa Abou dan Linda Sills. 24 April 2010. The Virginity Industry. Sumber: http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/8641099.stm (diakses 19 Desember 2015). Nagoski, Emily, Ph.D. 2015. Come As You Are: The Surprising New Science That Will Transform Your Sex Life. New York: Simon & Schuster Paperbacks.

  • Apa Itu Seni?

    Seni adalah segala sesuatu yang memiliki nilai estetika. Estetika adalah keindahan. Artinya seni adalah segala sesuatu yang memiliki nilai keindahan. Sekilas, definisi ini benar dan masuk akal hingga abad ke-19, namun memasuki abad ke-20, definisi ini tidak lagi sahih. Lukisan Prasejarah, sekitar 30.000 tahun yang lalu Pada awalnya, sekitar 60.000 tahun yang lalu, seni, bagi manusia purba adalah suatu ungkapan akan kekagumannya pada alam. Kekaguman ini tidak semerta-merta karena alam itu indah, namun, “…karena alam itu ada,” (Hartoko 1984, hlm. 21). Hasrat berkesenian ini, sekalipun hanya sebuah goresan garis juga merupakan suatu usaha, “Leaving footprints in the sand of time.” Misalnya dengan membuat proyeksi kaki manusia di sebuah batu, dll. Selain itu, manusia juga memiliki kemampuan berimajinasi akan apa yang mungkin terjadi di waktu mendatang, atau kemampuan mengantisipasi dan bermimpi. Baik manusia maupun binatang, sama-sama dapat bermimpi, namun hanya manusia yang akan mengingat mimpinya. Dengan kemampuan semacam itu, ada sebuah hasrat untuk mengkomunikasikannya dengan manusia lain. Bentuk komunikasi ini awalnya sulit melalui ucapan karena belum ada standarisasi bahasa. Maka manusia purba pun mencoba alternatif lain melalui warna, gerakan, dan gambar. Seiring waktu berjalan, seni mengisi fungsi lain selain pembebasan diri, tapi juga sebagai ekspresi keindahan yang difungsikan sebagai hiburan bagi para penikmatnya. Seni mencoba meniru alam yang indah, ke dalam bentuk-bentuk lain, seperti lukisan, pahatan, dll. Ini adalah awal mula dari teori mimetik Plato ( mimesis : meniru). Apabila penikmat menilai sebuah karya seni dengan pandangan mimetik, maka sang penikmat akan mempertanyakan apabila ada bentuk-bentuk yang irasional, atau tidak sesuai dengan kenyataan. Melalui pengaruh Aristoteles yang beranggapan bahwa takaran irasionalitas hendaknya memperkuat rasionalitas, maka pandangan ini mengizinkan adanya bentuk-bentuk tambahan yang tidak serupa dengan kenyataan, dengan tujuan menambah nilai estetika pada sang karya seni. Misalnya pemanjangan kaki dari patung manusia agar terlihat lebih tinggi dan menarik. Semua konvensi karya seni ini kemudian dipatahkan di zaman romantik (sekitar abad ke-18) yang dipelopori oleh Jean-Jacques Rousseau dan disebarkan oleh François-René de Chateaubriand, seorang bangsawan Prancis. Dalam era ini, estetika romantik mengarahkan perhatiannya kepada diri si seniman dan proses kreatifnya (Hartoko 1984, hlm. 39). Kritik sastra dilihat dengan pendekatan pada riwayat hidup sang seniman, hingga hakekat sang seniman menjadi lebih penting daripada karya seninya sendiri. Pada era ini pula, karya seni begitu jujur mengekspresikan emosi atau pun aspirasi para senimannya. Tidak seperti pada era-era sebelumnya, yang sangat terpaku pada peraturan-peraturan baku estetika yang telah ditentukan oleh seniman besar dan para kritikus. “Dalam teori seni yang klasik terdapat tiga unsur: sang seniman, karyanya dan si penikmat. Kemudian si penikmat dipersilakan keluar dan tinggallah sang seniman dengan karyanya. Dan akhir-akhir ini sang seniman pun dipersilakan turun dari panggung, sehingga tinggallah karya seni itu sendiri.” (Hartoko 1984, hlm. 40) Dengan demikian, dari beberapa era yang telah terjadi ini, terdapat empat cara pendekatan untuk mengkritisasi sebuah karya seni: Pendekatan mimetik, di mana karya seni dikaitkan dengan kenyataan yang ada. Pendekatan ekspresif, di mana karya seni dinilai berdasarkan sejauh mana karya itu mengungkapkan isi hati sang pencipta. Pendekatan strukturalis, di mana karya seni dinilai berdasarkan sejauh mana karya itu merupakan suatu kesatuan yang bulat dengan strukturnya sendiri. Pendekatan semiotik, di mana karya seni dinilai berdasarkan bagaimana karya itu ditafsirkan oleh para pengamat dan masyarakat melalui tanda dan lambang. Sampai di sini, demikianlah definisi seni, segala sesuatu yang memiliki nilai estetika. Namun memasuki abad ke-20, definisi ini terpatahkan. Para seniman modern tidak lagi tertarik oleh keindahan, keharmonisan, maupun kesedapan, melainkan oleh sesuatu yang menggemparkan dan merisaukan hati. Yang dalam kesenian tradisional, disinggung saja atau disublimir, diabstrakkan, atau dilapisi cahaya keindahan; kini ditonjolkan secara blak-blakkan, kasar, dan serba menantang. Dengan demikian seni menjadi sesuatu yang sangat subjektif. Seni tidak harus indah, dan seni tidak memiliki bentuk konvensional. Apa yang kita anggap seni, boleh jadi ditentang oleh orang lain, dan hal tersebut sah-sah saja. Seni telah menjadi suatu bentuk ekspresi yang subjektif dan baik-buruknya seni harus dinilai berdasarkan pendekatan-pendekatan budaya-psikologi-sosiologi yang tepat, agar makna dari karya seni tersebut tidak menjadi bias. Post ini merupakan hasil rangkuman dari bab 7-10 buku: Hartoko, Dick. 1984. Manusia dan Seni . Yogyakarta: Kanisius.

  • Syuting di Bogor (Part V)

    Setelah memastikan bahwa si Bapak Genset beneran pinjam uang buat beli bensin, gue pinjemin dia uang dan lapor lewat HT ke produser, "Ini Cecil, aku pinjemin uang Rp50.000,00 buat Genset beli bensin." Gue melaporkan hal ini karena berharap uang gue diganti. Setelah itu 2 motor pun datang dan gue bersama para telko naik motor kembali ke pondok, melewati jalan kecil terjal nan gelap. Jam 3 pagi, para talent prajurit minta dipulangkan karena mereka harus sekolah hari itu juga. Padahal masih ada beberapa scene lagi yang butuh prajurit. Gue mencoba menghubungi astrada 1 atau siapapun yang dengar, bahwa talent mau pulang, dibolehin apa nggak? Tapi nggak ada yang mau jawab. Rasanya kesal. FYI, saat itu sutradara, astrada 1 dan 2 sudah di lokasi syuting lain dan letaknya lebih jauh lagi. Jadi kami hanya bisa berhubungan lewat HT. Kenapa nggak bisa pakai HP? Karena HP gue mati dan nggak tahu mau charge di mana. Jam 4 pagi, talent Jepang makin merengek pulang. Sampai gue dan telko lainnya kesel dan give up mempertahankan mereka. Kami melapor ke senior yang jabatannya lebih tinggi personally . Akhirnya mereka turun tangan dan Kak E mencoba menghubungi sutradara lewat HT. Baru deh dijawab sama astrada 1 ( kalau bawahan yang ngomong nggak didengerin nih -_- ). Saat itu jam menunjukkan pukul 4.45 pagi. Astrada 1 memberikan jawaban bahwa syuting sudah bisa dimulai di Hutan Pinus jam 5 pagi nanti, which is 15 menit lagi! Lalu dia menyebutkan nama-nama talent yang dibutuhkan. Gue yang belum tidur sama sekali, dan baru selesai melahap mi goreng, bersama para telko langsung kocar-kacir bangunin talent dan nyuruh mereka siap-siap di-makeup. Sinting. Gue sebel banget, kok ngasih tau mendadak begini, dan baru dikasihtau setelah kita nanya berkali-kali! Ngeselin parah. Sementara itu para prajurit diberikan pilihan oleh Kak E, "Mau tetep syuting atau pulang sekarang? Kru di Hutan Pinus sudah siap, tapi nggak tau ya kalau sampai di sana lo disuruh nunggu lagi." Dan para prajurit itu dengan lemah menjawab mau syuting, karena sudah nanggung. Jam 6 pagi all talent standby di tempat, tapi syuting belum juga mulai. Entahlah kenapa. Menit-menit berikutnya rehearsal untuk delman kuda dan talent utama, dan syuting belum juga dimulai. Akhirnya matahari pun terbit, dan salah seorang prajurit bertanya ke gue, "Kak, syutingnya batal? Kok lampunya diberesin?" Gue kaget dan bertanya balik, "Hah? Beneran???" Dan ternyata bener. Syuting batal karena matahari terbit. Scene itu seharusnya malam hari, makanya nggak bisa diteruskan ketika matahari terbit. Gue jadi sebel parah karena anak-anak SMA yang meranin prajurit ini menunggu sia-sia, dan sekali lagi, tidak ada sepatah kata terima kasih dari sang sutradara untuk para extras . It felt like working 24 hours for nothing. Jam 6 pagi, semua talent yang harus pulang pun dipulangkan dan talent yang menginap dikembalikan ke pondok. Sementara kami para crew berjalan kaki kembali ke pondok. Meskipun kesal, tapi hati gue terhibur oleh lawakan anak-anak kamera. Kita menikmati udara pagi Gunung Salak dan pemandangan yang cukup cantik. Sayang, gue lupa minta fotonya. Sesampainya di pondok, semua orang tepar. Gue berharap syuting akan dihentikan dan kami dipulangkan ke Jakarta. Please banget! I'm super tired dan mood udah nggak bahagia! Akhirnya keluar pengumuman bahwa syuting akan dihentikan sementara karena para atasan mau rapat. Jam 11 siang akan dilanjutkan kembali dan jam 3 sore akan dihentikan selesai nggak selesai. Gue nggak bisa tidur dan nggak ada napsu makan nasi uduk pake tempe pedes, bihun serta kerupuk doang. Jadi gue kasih aja ke Zooprykot. Terus gue ngobrol sama dia. Terus gue balik ke atas nge- charge HP. Terus gue cuci muka. Terus gue.... lupa. Jam 8 pagi mungkin, gue ngobrol sama Juju, gadis yang paling seru buat diskusi dan analisis film. Kami membicarakan banyak teknik film dan mencoba berlatih framing . Kami keluar ke lapangan di dekat kami dan mengamati berbagai flora dan fauna. Gue berasa gila. Gue membayangkan di antara jamur-jamur mini itu, ada kehidupan para peri. Terus gue nemuin banyak semut pohon dan laba-laba! Kami mengambil beberapa foto dan terus berdiskusi sampai akhirnya gue lelah dan memutuskan untuk tidur. Jam 12 siang, gue dibangunin astrada 2 disuruh syuting. Gue tanya scene berapa, dan setiap orang punya jawabannya masing-masing. Ini membingungkan. Akhirnya gue beli mi goreng lagi dan makan sendiri, karena lapar. Setelah itu gue mendengar ada lagu "Bangun Pemudi-Pemuda" dinyanyikan dengan sumbang. Gue menemukan sumbernya berasal dari beberapa extras yang sedang dilatih Zooprykot dan Kak Y. Para extras ini memerankan sekelompok paduan suara remaja dan suara mereka tidak bersatu sama sekali. Yang cowok nyanyi di kunci nada apa, yang cewek di kunci nada apa... Gue iseng. Gue bantuin aja Zooprykot, biar gue ada kerjaan. Akhirnya sih setelah gue ikut camput ngajarin mereka, suara mereka less worse . Hahaha... At least mereka menyanyi di kunci awal yang sama! Jam 1 siang, para extras ini berganti kostum dan akan segera dikirim ke lokasi syuting. Tiba-tiba HT yang gue pegang berbunyi, "TOLONG, PRODUSER! SIAPAPUN! ADA YANG KECELAKAAN!" Waktu gue denger HT bunyi kayak gitu, pikiran gue masih nggak jelas. Hujan gerimis turun menghujani gue, dan gue bingung mesti lari ke mana. Gue satu-satunya orang yang memegang HT, artinya gue adalah kunci komunikasi antara pondok dan lokasi syuting. Gue kaget. Shock . Bingung. Gue langsung lari ke departemen produksi di pondok. Mereka lagi ngobrol santai dan gue menghancurkan suasana itu, "Kak! Ada yang kecelakaan!" Kak R : Apa? Serius lo?! ( langsung mengambil HT dan mengkonfirmasi. ) Ternyata benar, ada seorang anak bernama X mengalami kecelakaan. X adalah salah satu crew dari departemen artistik. Dia iseng mengendarai sepeda onthel di jalan terjal, dan rem sepeda ini blong. Akhirnya X tidak bisa menghentikan sepeda onthel yang tinggi dan besar itu. X menabrak seorang anak kecil dan terlempar ke parit. Kepalanya bocor. Anak kecil yang dia tabrak patah kakinya. Itulah cerita yang gue dapatkan setelah beberapa jam kami hectic menyelamatkan talent dari hujan dan mengirim mobil untuk mengantar X serta anak kecil ke rumah sakit. Tentu yang punya anak marah besar. Anaknya masih sangat kecil. Hari itu hujan deras dan semakin mempersulit komunikasi serta transportasi kami. Semua syuting benar-benar dibatalkan. Talent yang udah pake kostum, dibiarkan terbengkalai. Semua fokus pada kasus kecelakaan karena kabarnya, sang ayah dari korban meminta ganti nyawa. Gue dan beberapa kawan yang nangkring di kemah mencoba berevaluasi sendiri ( lebih tepatnya bergosip ). Kami membuat kesimpulan bahwa syuting yang baik itu diawali dengan briefing dan doa. Seenggak-enggaknya doa deh! Apalagi lo syuting di gunung. Kita kan tinggal di negara yang penuh superstitious things yah, ya dihargai sajalah kepercayaan setempat. Tapi secara logika, kecelakaan ini juga terjadi karena X iseng! Sudah tau ini gunung dan jalanannya miring, terjal. Ngapain sih dia mainin props sepeda onthel yang tinggi banget itu? Jam 8 malam, mobil tronton datang lagi menjemput kru. Gue pulang naik mobil itu. Kali ini mobilnya tidak disesaki dengan properti dll. Suasana di mobil cukup lega dan banyak yang bercerita pengalamannya melihat hantu. Katanya sih... Hantu-hantu di Gunung Salak itu tidak berkepala. Hiiiiyyyy... Untung gue nggak bisa lihat! Jam 12 malam, gue tiba di halte Rs. Islam. Gue mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa ke semua kru di mobil tronton. Lalu gue berjalan kaki sendirian, menyusuri gang-gang tercintah sambil mengucap doa, berharap gue nggak diculik dan diperkosa mendadak. Sesampainya di kostan, gue langsung mandi, berdoa panjang lebar karena takut ditempelin setan, dan tidur dengan lampu menyala. Hahaha... Serius, gue benci banget denger cerita setan karena imajinasi gue sangat tinggi sehingga gue bisa bayangin lebih serem dari ceritanya sendiri. Anyway, bonne nuit!

  • Ulang Tahun ke-21

    This 2015, I turnt to be 21! Finally it's legal for me to buy alcoholic drinks! Hehehe... Ulang tahun kali ini sangat mengesankan karena wishes beberapa teman lucu-lucu banget. Misalnya: Yang ultah Caecilia, yang didoain malah Jessica. Ada juga yang missed call gue, dan pas gue chat ada apa, dia jawab, "Ada hal penting yang harus kita bicarakan." Terus ada lagi si Ken-ken, nyanyi lagu selamat ulang tahun pake nada serak-serak basah. Felt so gay, but unyu at the same time . Haha... Pada akhirnya, I just wanna say, "I'm relieved and I feel so grateful for being here, today, still healthy as fuck." Terima kasih pada Yang Maha Kuasa, orang tua tercinta, kakak-kakak gua, teman-teman dan pacar karena membuat hari ini menjadi salah satu hari yang indah dalam hidupku yang kelam. Eh? Pokoknya terima kasih banyak!!!

  • Mata Kuliah Semester 3

    Ternyata semester 3 adalah saat di mana lo kebanjiran job dan tugas kuliah menumpuk, sampai rambut lo rontok dan mata lo sembab. Intinya gue capek banget jadi baru sempet nge blog . Oh ya, yok kita mulai review semester 3 di FFTV IKJ. Kali ini gue merasakan semester 3 di Akademi Pariwisata Jakarta, Cempaka Putih dan sesekali di SMP PSKD, deket Cikini . Berikut mata kuliah yang gue ambil! SENIN EDITING II (08:30 am) Tentang : belajar tahapan editing lebih mendalam lagi dan cara memproses data RAW di Final Cut Pro. Kata gue : gue pilih Mas Danu sebagai dosen karena gue suka cara ngajarnya. Dia jelas banget, organized , nggak bertele-tele, dan nggak memaksa mahasiswanya aktif bertanya hahaha... Soalnya gue pagi-pagi sering ngantuk gitu jadi suka nggak konsen, males banget mau nanya. ARTISTIK II (10:20 am) Tentang : mulai belajar apa saja unit di dalam tim artistik dan profesi-profesinya. Kata gue : kali ini bakal ada 2 tugas cukup berat ( salah satunya per individu bikin film ) dan berbagai buku yang harus dibaca. Bener-bener berbobot! I love dosennya ah sekarang... Gue seneng banget sama dosen yang ngasih ilmu nggak nanggung-nanggung. ANIMASI II (01:00 pm) Tentang : stand animation. Kata gue : hopeless ah, dosennya ngilang mulu. Mending lo beli aja deh itu buku karangan si dosen dan baca di rumah, nggak usah kuliah. Titip absen aja. Oh iya, sebelum UAS ada tugas individu bikin film animasi. Padahal dia belum ngajarin cara yang jelas bikin animasi itu kayak gimana. SELASA PRODUKSI II (10:20 am) Tentang : cara mempersiapkan syutingan dari breakdown script sampai tetek bengeknya. Kata gue : meskipun dosen kebanyakan digantiin asistennya, tapi nggak apa-apa deh. Kuliah tetep berbobot dan mesti sering masuk buat presentasi. DOKUMENTER II (01:00 pm) Tentang : cara menganalisis film dokumenter dan memperdalam ilmu Dokumenter I. Kata gue : lo mesti coba baca buku Writing, Directing, and Producing Documentary Films and Videos karya Alan Rosenthal karena tanpa buku ini, lo bakal susah ngerjain tugasnya. Terus UAS-nya cuma ngumpulin film dokumenter per kelompok. RABU PENYUTRADARAAN II (10:20 am) Tentang : mengenai akting talent dan casting ya... Kata gue : dosen makin sering menghilang, asistennya datang telat terus, lalu tugas masih mirip kayak Penyutradaraan I, membuat film pendek fiksi naratif per kelompok. KAMERA II (01:00 pm) Tentang : penataan cahaya, lampu, kamera dan pretelannya. Kata gue : kurang organized sih pelajarannya. Agak boring dan dosen terlalu sering digantikan asisten. KAMIS FOTOGRAFI (10:20 am) Tentang :  fotografi komersial dan seni rupa Kata gue : menyenangkan :) Banyak dosen tamu yang datang untuk berbagi ilmu. SUARA (01:00 pm) Tentang : mengolah data audio di pasca-produksi dan sistem suara. Kata gue : dosennya sering izin sakit dan materi kurang organized . BAHASA INDONESIA (03:00 pm) Tentang : critical thinking , logika, silogisme, dst. Kata gue : gue beruntung dapet dosen Pak Matius. Beliau orang yang humoris, cerdas dan organized . Pelajarannya agak melenceng dari judul karena menurut Beliau, mahasiswa IKJ merasa belajar Bahasa Indonesia udah nggak penting lagi. Jadi daripada ada 1 mata kuliah nggak efektif, mending diganti jadi belajar logika. Gue juga jujur aja nggak merasa butuh belajar Bahasa Indonesia lagi sih jadi nggak apa-apa deh diganti. Hehehe... JUMAT SKENARIO (10:00 am) Tentang : belajar lebih dalam soal skenario dan jenisnya gitu deh. Kata gue : buset dah si dosen ama asisten telat mulu. Kayaknya bukan jam 10 tapi jam 11 deh kuliahnya. Tapi yasudahlah, yang penting tetep belajar dan berbobot pelajarannya. KESIMPULAN Menurut gue semester 3 ini banyak banget tugas bikin filmnya. Gue agak keteteran. Belum lagi berbagai senior minta tolong dibantu syutingannya. Jadi jadwal hectic banget. Untungnya sih gue nggak sakit terlalu parah, masih bisa diatasi dengan cepat. Terus suka kesel karena dosen jarang masuk. Jadi harus selalu memantau sikon sebelum terlanjur OTW kampus. Di semester 3 ini gue mulai terbiasa dengan gaya hidup IKJ dan berbagai alasan kenapa terjadi seperti ini. Gue jadi belajar bahwa semakin keren dosen lo, maka semakin jarang pula ia mengajar. ( Soalnya si dosen pasti lebih mentingin proyeknya daripada ngajar. Ya iyalah yaaa... ) Yaudah deh sekian. Besok imlekan nih! Yeaayyy...! Pengen beli hard disk eksternal.

  • Mengenal Departemen Penyutradaraan

    Dalam divisi penyutradaraan, ada yang namanya: Sutradara ( Director ), Asisten Sutradara 1 ( First Assistant Director ), Asisten Sutradara 2 ( Second Assistant Director ), dan seterusnya. Kalau lo pengen jadi sutradara, lo bisa kerja di stasiun televisi, kerja sendiri, atau gabung ke Production House (istilahnya PH). Tapi tentunya seorang pemula agak sulit untuk langsung jadi sutradara. Biasanya dimulai dari asisten dulu. ( Kecuali lo yang bikin perusahaan sendiri dan lo sendiri yang bikin filmnya. ) Astrada 1 itu biasanya ngurusin rundown , laporan dan perihal administrasi. Denger-denger kalau di luar negeri, Astrada 1 ini cikal bakal produser. Astrada 2 lebih mengurus talent (atau artis, yang biasanya lo sebut begitu). Astrada 2 yang koordinasiin jadwal syuting talent dan mempersiapkan mereka untuk standby di lokasi syuting, termasuk mengatur blocking dan akting talent. Sutradara mengatur keseluruhan film look , bagaimana film itu akan tampil di hadapan penonton dan dirasakan oleh penonton. Sutradara biasanya duduk agak jauh dari lokasi syuting, di depan sebuah Broadcast Monitor atau Director's monitor , berkomunikasi lewat HT ke asisten-asistennya yang berdiri di lapangan. Jadi sutradara itu nggak identik dengan kekayaan. Kalau film lo nggak laku, ya lo nggak tajir. Gampangnya sih gitu. Tulisan ini awalnya dipublikasikan di Blog "Ma Vie est un Film" pada 12 Oktober 2013 saat saya masih berusia 19 tahun. Beberapa kata yang kurang tepat / patut telah direvisi secukupnya tanpa menghilangkan keaslian cerita dan pemikiran saya di usia tersebut. Pada saat kuliah, saya belum banyak paham mengenai posisi sutradara. Izinkan saya menambahkan beberapa poin penting dari pengalaman kerja saya selama ini. Silakan dikoreksi jika anda punya pendapat lain. Sutradara itu posisi pemimpin dari segi kreatif. Dia yang bertugas pertama kali membuat konsep film atau videonya mau terlihat seperti apa. Dia yang bertanggung jawab membuat Shot List . Dan dari shot list tersebut, departemen lain mulai bekerja sesuai arahan dan permintaan sang sutradara. Setiap kali sebelum syuting dimulai, sutradara yang harus mengecek Director's monitor , apakah posisi kamera dan penataan lampu serta artistik sudah sesuai dengan vision yang ia bayangkan? Ia memberikan final approval secara internal apakah sesuatu sudah cukup OK atau belum. Meskipun berikutnya produser dan klien bisa saja menentang dan mengubah konsep sang sutradara (kasus ini tergantung jenis proyek ya). Urutan kerja yang umum dilakukan sutradara adalah: Menerima brief dari produser. Membaca skenario yang ditulis script writer . Membuat Director's Treatment (konsep perencanaan bagaimana ia akan membuat film tersebut, mulai dari segi visual atau mise-en-scene , audio, storytelling, hingga mood , dll.) Menulis Shot List berdasarkan interpretasinya dari skenario. Shot list ini akan membantu storyboard artist menggambarkan visi sutradara dalam bentuk visual. Mengarahkan dan berdiskusi dengan semua departemen produksi hingga pasca-produksi sebelum memulai syuting supaya satu visi. Datang pada saat recce untuk memastikan lokasi yang diinginkan sudah sesuai dan paham betul bagaimana cara eksekusinya saat hari syuting nanti. Kadang, turut serta mengaudisi dan mengarahkan talent . Dalam beberapa kasus, hal ini bisa saja diurus oleh casting director dan astrada. Kadang, sutradara juga turut menentukan lensa kamera untuk mencapai look yang ia inginkan. Pada hari syuting, selalu memastikan semuanya sudah sesuai perencanaan lewat Director's monitor . Sutradara harus menonton dari monitor, dan bukan dari melihat langsung ke lokasi syuting, karena yang perlu ia nilai adalah gambar yang akan ditayangkan. Sutradara harus lihat di monitor apakah wajah talent terlihat jelas, tidak blur , penataan artistik sudah sesuai brief , penerangan cukup, dan termasuk apakah gerakan dan angle kameranya sudah pas. Kalau dia lihatnya langsung di lokasi syuting, dia jadi nggak bisa menilai lighting dan camera . Sebab apa yang mata kita lihat di lokasi dan apa yang ditangkap mata lensa itu berbeda! Saat syuting berlangsung, mata sutradara harus memperhatikan Director's monitor sambil mendengarkan audio dari headphone . Dia yang memulai dengan aba-aba ACTION dan menentukan akhir dengan kode CUT. Sutradara tidak boleh mendengarkan syutingan hanya dengan telinga telanjang, karena ia harus turut memastikan apakah soundman merekam suara dengan baik. Siapa tahu mic di talent kresek-kresek kan? Di situ sutradara berhak untuk cut dan retake . Setelah selesai syuting, sutradara turut mengarahkan tim pasca-produksi. Biasanya lewat Director's note . Jadi editor sudah tahu mana shot yang OK dan NG (not good) berdasarkan catatan tersebut. Itulah sebabnya ketika sebuah film dinyatakan sukses oleh penonton, yang ditepuk-tangan pertama kali adalah sutradaranya. Karena emang perjuangan dia dari pra hingga pasca untuk merangkai konsep hingga mengawasi eksekusinya sangat-sangat melelahkan dan makan waktu panjang. Lucunya, proses ini nggak selalu terjadi di dunia nyata. Banyak gue temuin sutradara yang bengong, nggak bikin shot list , mata kurang jeli atau kurang kompeten. Yang paling umum terjadi adalah setelah syuting, sutradara cabut ngurusin next project . Jadi tinggal produser dan tim pasca yang ngurusin filmnya. Ya, sah-sah aja sih kalau memang semua pihak maunya gitu. Bocoran dikit mengenai gaji di tahun 2024: jika kamu kerja di televisi, gajimu tergantung kemampuan perusahaan, biasanya sampai dua digit per bulan; jika kamu kerja di perfilman, bisa sampai tiga digit per film layar lebar; dan jika kamu kerja di agensi periklanan, bisa dua sampai tiga digit per project. Info aja, sebagai produser, gue pernah menggaji seorang sutradara muda (masih 20-an) sebesar 40 juta Rupiah untuk kerjain 1 project selama 4 bulan (ini tidak intensif ya gengs! Syutingnya cuma 4 hari) dan dia hampir nggak ngapa-ngapain sampai gue marah besar. Cuma mau info aja bahwa gajinya bisa segitu besarnya for the very little things he did, and nobody bats an eye. Good luck bagi kalian yang ingin menjadi sutradara. Banyak-banyaklah latihan untuk memperhatikan sesuatu dengan detail dan peka terhadap emosi yang timbul dari warna, gerakan, dll. supaya hasil karya kalian semakin ciamik.

  • Cara Membuat Cerita Film

    Kali ini gue mau jelasin caranya bikin konsep cerita untuk film. Konsep ini bisa diaplikasikan ke film bentuk apapun. Sok dah kita bahas! 1. Idea Apapun yang terjadi, kamu harus utamakan ide filmnya dulu . Jangan terlalu asik mikirin mau pakai kamera apa, tempat di mana, talent siapa, atau cerita yang kayak begimana. PIKIRIN DULU IDENYA! Nah, apa itu ide? Ide yang gue maksud di sini adalah pesan yang ingin lo sampaikan dalam film. Film yang baik memiliki pesan. Pesan tidak harus positif, tidak harus bermoral, dan tidak harus berbobot. Tapi yang jelas, film yang "bagus" adalah film dengan ide yang berbobot (dan cenderung berdampak positif). Film ini akan meninggalkan pertanyaan bagi para penontonnya, dan sebuah topik yang asik didiskusikan dengan teman sebangkunya. Kalau pesan lo negatif, misalnya malah mendorong orang untuk bunuh diri, biasanya akan ada banyak kaum yang protes dan nyuruh lu belajar agama lagi. 2. Premise Setelah lo udah tau apa yang mau lo sampaikan, maka saatnya membuat premise . Kalau ide adalah jantung film, maka premise adalah tulang rusuknya. Premise biasanya dibuat dengan rumus seperti ini: TENTANG + SUBJEK + MAU MELAKUKAN/MENCAPAI SESUATU. Udah! Sesimpel itu ajah! 3. Basic Story Lo udah tau ide dan premise , kini saatnya menambah tulang punggung supaya kerangkanya semakin jelas! Pada tahap ini, lo cukup mengembangkan cerita dari premise sesingkat mungkin. Bahkan kalau bisa dalam satu paragraf aja. Rumusnya kira-kira begini: Protagonis + Jelasin sosoknya sesingkat mungkin + mau ngapain + terus ada Antagonis + menghalangi kemauan dia + dengan cara bagaimana + sehingga akhirnya protagonis ini berhasil/tidak berhasil mencapai keinginannya. Apabila si protagonis berhasil mencapai keinginannya, maka film dikatakan happy ending . Kalau nggak berhasil ya jadi sad ending . CONTOH: Ide : Korupsi dimulai sejak pendidikan dini Premise : tentang seorang anak SD yang ingin menghentikan aksi pencontekan saat ujian Basic Story : ANGGA (11), siswa SD yang jujur. Pada hari ujian akhir, Angga tidak menggunakan kertas contekan yang ia dapatkan dari temannya. Angga juga tidak meneruskan kertas itu ke meja lainnya sebagaimana yang telah dilakukan semua teman Angga. Setelah selesai mengerjakan dan izin keluar dari kelas, IBU GURU (40) menemukan kertas contekan Angga di atas meja, dan memberikan kertas itu ke siswa lain yang belum selesai mengerjakan ujian di kelas. (FYI, contoh cerita ini gue ambil dari film pendek yang menang di SCTV Short Film Competition.) Setelah menonton film dengan cerita seperti di atas, gue jadi manggut-manggut, "Bener juga dia, korupsi itu emang udah mendarah-daging di Indonesia. Sedari kecil anak-anak sudah membiasakan dirinya mencontek, dan kebiasaan itu ironisnya (kadang) dikondisikan oleh pengawas ujian/guru mereka sendiri." Dari film ini jelas protagonisnya anak SD dan antagonisnya adalah si ibu guru, karena dia berusaha menggagalkan keinginan protagonis. Ending -nya sad , karena si protagonis gagal menghentikan aksi pencontekan di kelasnya. Ide dalam film nggak perlu disebutkan dalam dialog. Tapi setelah melihat rangkaian gambar yang disusun menjadi film, pastikan penonton bisa menyimpulkan bahwa ide kamu tuh 'itu'. Nah, setelah membuat ketiga poin di atas, maka kamu bisa melanjutkan mengembangkan konsep ceritamu dengan membuat sinopsis. Dalam sinopsis, basic story yang singkat tadi dipaparkan sedetil-detilnya. Kalau bisa pembaca sampai mampu mengimajinasikan film kamu hanya dengan membaca kata per kata yang kamu tuliskan dalam sinopsis. Pada akhirnya, meskipun kita tahu rumus membuat konsep cerita, hal ini tidak menjamin cerita yang kita buat akan bagus. Itu alasannya kenapa seorang filmmaker harus berwawasan luas dan cerdas. Dia harus tahu caranya bikin penonton "percaya" bahwa film fiksi yang dia tonton ini memungkinkan untuk terjadi di dunia nyata. Untuk bikin cerita yang believable , berbobot, dan menarik, tentu kamu harus riset yang baik dan berpikir kreatif dalam menyajikannya.

  • Review Kuliah Semester 3 di IKJ

    Semester 3 semakin menggila karena udah mau UTS dan UAS. Tugas mulai memasuki tahap tersulitnya, yakni tahap produksi di mana kita harus syuting dan harus cocokin jadwal sama temen kelompok. Buat gue itu yang tersulit karena tidak semua teman lo seambisius diri lo, dan tidak semua teman lo peduli dengan hasil maksimal :") Tapi gue beruntung, tugas Dokumenter II kali ini gue dapet kelompok yang baik-baik orangnya dan bisa diajak kerja keras. Mereka semua available anytime , jadi nggak susah cocokin jadwalnya. Terus syukurlah jadwal syuting Dokumenter II gue nggak bentrok dengan jadwal syuting Tugas Akhir (TA) senior yang bakal gue bantuin. Tapi sayangnya masih ada 1 jadwal syuting lagi yang belum keluar, yaitu tugas Penyutradaraan II. Jadi gue belum tau nih bakal bentrok apa enggak. Selain tugas bikin film, anak FFTV juga punya tugas menggambar garis! Hahaha... Ini sumpah kerjaan tersompret yang pernah gue kerjain. Gambar di bawah ini adalah penampakan tugas Artistik II di Semester 3. Ngerjainnya 4 jam lebih dengan bantuan penggaris 30 cm, 60 cm dan meteran. Ini tugas tentang hubungan aspect ratio dengan focal length  lensa kamera. Dan, jujur sampai detik ini gue nggak paham gunanya tugas ini apa. Karena setelah dikumpulkan, nggak ada penjelasan teori mengenai ini apaan. Panjangnya kertas ini mencapai 2,20 meter. Bayangin betapa nyerinya paha gue pindah dari ujung kertas ke ujung kertas waktu lagi narik garis. Besoknya gue langsung nggak bisa jalan dan duduk. Semuanya nyeri. Hahahaha... Yah itu salah gue juga sih yang nggak pernah olahraga, jadi otot gue kaget semua. Next , tugas essay . Ah itu mah bejibun banget. Belum lagi tugas analisis, breakdown script , dll. Nggak kalah sibuk deh gue sama anak jurusan lain. Jangan mentang-mentang gue jurusan seni dianggepnya enak nih nggak perlu mikir. Tenang aja Bro, pokoknya kuliah jurusan apapun pasti tetep mikir dan ngitung kok. Jadi basi lah kalau alasan lo pilih jurusan film adalah karena lari dari Matematika dan Fisika. Berikutnya, setelah hampir 3 bulan IKJ numpang di Akademi Pariwisata Jakarta (APJ) lantaran masih renovasi gedung, sepeda gue hilang di kosan sendiri. Okay, it's my fault again. Memang saya ceroboh. Eh, BTW, mau lihat kelas saya berkuliah? Sebelumnya di atas gue bilang kalau gue bakal bantuin syuting TA senior kan? Nah, jadi tanggal 10-13 November 2013 lalu gue ke Bogor buat bantuin itu syutingan. Terus tanggal 14 November kuliah dan syuting di APJ, terus tanggal 15 November syuting di Gedung Kompas Gramedia. Seru kan? Hampir seminggu gue full syuting. Gue seneng banget syuting di Bogor karena: jalan-jalan ke Gunung Salak, pengalaman syuting beneran dengan alat-alat yang lebih canggih, pengalaman jadi Asisten Astrada 2 dan loader , pengalaman ngurusin talent , dan dapet temen baru sekaligus makin akrab sama temen-temen lama. Tapi tentu ada nggak enaknya juga dong. Nggak serunya apa? capek parah, bolos kuliah sekaligus izin nggak ngajar ekskul Filmmaking, pulang syuting langsung kelabakan ngerjain tugas kuliah yang tertunda, muka makin jerawatan, pokoknya kulit gue jelek banget, dan dapet kantong mata! Tapi di balik itu, gue tetep happy banget boleh syuting juga di Gedung Kompas Gramedia. Gue bikin film pendek dokumenter mengenai sejarah koran. Di sana, gue dikasih makan + kue, dapet keychain dan notebook, kenalan sama banyak wartawan, dan diberikan akses untuk lihat-lihat rapat sore redaksi. Seneng banget, karena dulu cita-cita gue sempet pengen jadi jurnalis. Selain sibuk kuliah, gue juga sibuk ngajar ekskul Filmmaking di SMPK Sang Timur Karang Tengah. Sekarang sudah bulan ke-3, gue udah ngajarin mereka sampai tahap Pra-produksi dan caranya bikin storyboard . Jumlah murid sudah terkikis oleh alam menjadi 20 orang. Sisanya sudah mundur. Hehehe... Gue senang menjadi guru dan tidak ingin menyerah. Meskipun nggak gampang dan kadang panas menghadapi pertanyaan-pertanyaan tidak berbobot oleh murid gue, tapi tetep gue pengen jadi guru yang baik dan tidak marah-marah. Contoh pertanyaan nggak penting lewat SMS: Dia : Kak, besok ada ekskul nggak? Gue : Ada kok. Emang ekskul lain pada libur? Dia : Nggak tau. Gue : (-_-) Yaelah kalau nggak ada pemberitahuan libur ya berarti masuk dong. Oh ya, gue juga suka deh liat pameran karya seni di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki. Bagus loh. Terus di hari Selasa minggu ke-2 dan ke-4 sering ada acara nonton film gratis di GoetheHaus / Ghoethe-Institut. Serasa nonton bioskop deh meskipun kursinya keras ( namanya juga nonton gratis ya! ). Kamu bisa cek jadwal pemutaran film mereka di sini . Tulisan ini awalnya dipublikasikan di Blog "Ma Vie est un Film" pada 16 November 2013 saat saya masih berusia 19 tahun. Beberapa kata yang kurang tepat / patut telah direvisi secukupnya tanpa menghilangkan keaslian cerita dan pemikiran saya di usia tersebut.

Let's connect on my social media!
  • Threads
  • Instagram
  • LinkedIn
  • YouTube
bottom of page