top of page

Search Results

175 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Syuting di Bogor (Part III)

    Gue terbangun oleh suara berisik dua pemuda yang sedang bermain PES di kamar pagi itu. Nantinya gue akan tahu bahwa dua pemuda itu adalah anak SMA yang meranin tentara Jepang. Jam di HP gue menunjukkan pukul 8 pagi. Gue kaget karena anak SMA ini belum pulang! Padahal janjinya syuting 1 hari doang, besoknya harus pulang untuk sekolah. Tapi ternyata dia masih ada di Cilendek... Ya sudahlah, bukan urusan gue. Gue lanjut bangun dan siap-siap mandi. Gue lihat pemandangan sekitar, hujan turun rintik-rintik, udara begitu sejuk dan beberapa orang sedang tertidur, termasuk orang-orang penting. Berarti kesimpulannya: syuting sedang vakum. Terus di bagian teras rumah, gue lihat lebih banyak lagi anak SMA. Wah... berarti anak SMA yang shift hari ini sudah datang. Jam 9 pagi itu gue masih nongkrong-nongkrong nggak jelas karena nggak tau mau ngapain. Terus datang Kak T ngedumel, "Gimana sih si astrada 1, kalau ditanya ketus banget. Dia suruh talent gue standby jam 7 pagi, tapi sampai sekarang nggak tau bakal syuting kapan. Tau gitu talent gue suruh sekolah dulu, nggak usah bolos. Ngapain sekarang mereka bolos kalau syutingnya masih lama?" Gue manggut-manggut. Bener juga ini orang. Pelajaran gue petik dari kemarin: kalau syutingnya masih lama, nggak usah dipanggil dulu talent -nya. Buang-buang waktu orang aja, mana mereka juga nggak dibayar seberapa atau bahkan nggak dibayar sama sekali (?) Kak T pun melanjutkan, "Sil, kalau syuting nggak boleh main otot-ototan, bisa berantem nanti." Jadi maksud Kak T ini, semua orang situasinya lagi capek dan kesel, jadi jangan menyulut api. Tips dari Rapa kalau mau ikutan syuting: Apa-apa jangan dimasukin ke hati. Apa yang bukan tugas lo nggak usah dipusingin. Urusan departemen lain biarkan menjadi urusan departemen lain, lo nggak usah sok-sok peduli mau bantuin. Nanti yang ada lo sendiri pusing dan kesel. Mendingan kerjain tugas lo sebaik mungkin. Yang penting dalam bekerja itu bukan hasil akhirnya, tapi bisa nggak lo bertanggung jawab atas pekerjaan lo. Akhirnya gue ke warung donat di depan. Hahaha.. ( Gue baru inget, kemarin gue sempet kabur gitu ke warung donat saking pegelnya nggak ngapa-ngapain. ) Terus akhirnya gue balik ke kamar dan lihat kertas rundown dan floorplan astrada 1 tertinggal di situ. Gue langsung baca semuanya dan pelajari baik-baik. Gue lihat di situ bakal ada syuting 2 tentara Jepang di lorong, tapi nggak ada floorplan -nya. Jadi gue terka-terka aja nih, pasti bakal syuting scene ini berikutnya. Gue udah siapin nama-nama talent yang bakal meranin 2 tentara ini. Taunya pas gue jalan keluar, dua orang talent sudah siap pakai kostum tentara. Wah gila, gue kaget mereka sudah dipilih dan yang dipilih adalah anak yang semalem sudah syuting di markas. Masalahnya di rundown itu sendiri tertulis harus 2 tentara lain, nggak boleh sama dengan yang ada di markas. Gue pun memutuskan untuk pergi ke lokasi syuting mencari astrada 1. Kebetulan banget ketemu di jalan, jadi bisa langsung gue samperin. Ngeselinnya ini orang udah tau bakal gue samperin, dia sengaja nggak mau natap mata gue. Nyapa pun enggak mau. Gue : Gue bisa minta waktu lo sebentar nggak? Lo sibuk banget? Astrada 1 : Iya, bisa kok. Gue : Abis ini syuting di lorong kan? Astrada 1 : Iya. Gue : Di rundown lo tertulis harus 2 prajurit yang nggak ada di markas. Tapi lo malah milih 2 prajurit yang ada di markas. Astrada 1 : Yang milih mereka itu sutradara, bukan gue. Yaudah kalau emang harus diganti, ganti aja. Mikir gampang ajalah, Ce. Kalau mau ganti, ya ganti. Kayak contoh gue deh, semalem kan bla bla bla... Kayak gitu. Mikir gampang aja. Gue dengerin semua bla bla bla dia dan hati gue dah kayak gunung api mau meletus. Tujuan gue ngajak dia ngomong cuma buat ingetin, supaya film yang sudah direncanakan ini berjalan sesuai rencananya. Inget, bahwa ini tuh filmnya senior, bukan film gue. Dia nggak bisa menyuruh gue, "Mikir gampang ajalah." Karena ini bukan film gue dan jabatan gue cuma asistennya asisten! Nggak mungkin gue mikir gampang dengan mengganti prajurit tanpa persetujuan atasan. Pengen gue sentil itu astrada sebenernya. Cuman gue tetep berusaha mengerti karena dia belum tidur sama sekali, pasti capek banget. Jadi nggak heran kalau otaknya rada ngawur. Sekitar jam 12-an , gue ngobrol sama astrada 2 dan manlok soal syuting di Gunung Salak. Kabarnya extras ibu-ibu di gunung tuh udah standby dari jam 7 pagi ( dan sudah disuruh pulang lagi. ) Kita rencana berangkat ke gunung jam 3 sore, setelah menyelesaikan scene tentara di lorong. Terus di gunung nanti, yang diutamakan adalah scene yang ada tentara, ibu-ibu dan kereta kuda. Soalnya itu yang harus dipulangin paling awal. Gue pun dengan cepat mencatat di kertas scene-scene apa saja yang ada tentara Jepang, ibu-ibu dan kereta kuda. Waktu itu si astrada 1 ada di belakang gue ngeliatin. Jam 1 siang, setelah gue makan nasi dengan ayam lezat, syuting di lorong dimulai. Ngeselinnya itu selalu ketika talent udah gue panggil, udah gue siapin dll. pasti lokasi syuting masih dipersiapkan. Entah siapin lampu, ngedekor, atau baru pasang kamera. Isshh... Kalau masih lama, jangan suruh gue panggil mereka sekarang dong. Kan kasihan talent gue jadi harus berdiri di ruangan super panas dan nggak ada kerjaan. Tips sebelum syuting: Pastikan lighting, set dan kamera sudah dipersiapkan. Setelah semua hal itu siap, baru panggil talent untuk rehearsal. Jangan dicampur aduk, karena berbahaya. Takutnya si talent nutupin jalan kru yang lagi bawa lampu, terus mereka tabrakan, kecelakaan, dll. Apalagi kalau ruangannya kecil, panas dan sumpek, biasanya akan meningkatkan emosi setiap orang. Jam 3 sore, syuting kelar! Gue menanti aba-aba sutradara bahwa kita akan berangkat ke Gunung Salak. Rupa-rupanya penantian gue itu hanyalah mimpi belaka. Karena setelah syuting kelar, sutradara nggak sekalipun ngajak gue bicara, atau bilang ke semua orang kapan kami akan berangkat ke gunung. Gue pun duduk di kamar dan astrada 1 datengin gue minta maaf. Gue sih kaget. Tapi yaudahlah kita bersepakat untuk adain briefing sebelum syuting berikutnya. Gue mohon banget sama dia buat kasih gue briefing dulu, biar gue tau mesti ngapain dan mesti nyiapin apa. Gue mencoba memaklumi kekurangan astrada 1 karena dia masih semester 3 kayak gue, dan tugas yang dia emban terlalu berat. Ditambah lagi, nggak ada produser dan sutradara yang bantu arahin dia. Setelah percakapan itu, astrada 1 tidur di sebelah gue. Terus sutradaranya dateng dan main game sepak bola di laptop sama kru lain. Gue heran kenapa kita nggak berangkat juga ke Gn. Salak. Tapi yaudalah, sore ini terlalu sejuk untuk dilewatkan. Gue pun tertidur di samping astrada 1... Kisah bersambung ke Syuting di Bogor Part IV!

  • Wajah Baru FFTV IKJ di 2014!

    Jadi ceritanya, IKJ sejak lama ini mengalami renovasi. Makanya kuliah gue dioper ke mana-mana, mulai dari Cempaka Putih hingga Akademi Pariwisata Jakarta (APJ). Akhirnya, renovasi IKJ FFTV rampung dan wajah barunya mulai terlihat. Overall  sih gue seneng banget kampus gue direnovasi, karena sebelumnya udah kumuh banget. Dulu toilet IKJ itu penuh kecoak dan puntung rokok. Jijik banget lah pokoknya. Sekarang toilet IKJ  brand new , sangat menyegarkan. Tapi sorry fotonya low quality , soalnya gue ambil pakai Blackberry. BTW, coba lo lihat deh itu lubang-lubang di tembok, mirip logo Blackberry nggak sih? Hahaha... Anyway , ini bagian dalam gedung, baunya masih kayak rumah sakit karena cat-nya masih fresh banget. Sayangnya gue belum bisa mulai kuliah di gedung ini. Gue masih nempatin gedung lama karena gedung ini belum sepenuhnya siap dipakai. Jadi cuma ada sekitar 2 mata kuliah yang berlokasi di gedung FFTV. Sisanya di gedung Art Cinema. Oh ya, 2 minggu ke depan gua bakal menghilang nih. Gue terpilih untuk ikutan program JENESYS 2.0 ke Jepang. Itu acara pertukaran pelajar gitu deh 10 hari belajar tentang kebudayaan Jepang, khususnya animasi. Eh, kok lo bisa ikutan? Gue didaftarin sama Mas German, dosen gue. Dia bilang gue pasti cocok sama program ini, jadi gue disuruh ikut deh. Tinggal kumpulin formulir, transkrip nilai dan portfolio . Oh ya sama yang paling penting, passport ! Tips aja nih buat mahasiswa IKJ yang pengen ke luar negeri, kampus banyak afiliasi dengan negara luar kok. Yang penting lo siap passport dan cakap berbahasa Inggris, serta nilai kuliah cemerlang. Terus tambahan: informasi beasiswa dsb. kurang disebarluaskan. Jadi kalau lo tertarik, sebaiknya segera bilang ke wakil dekan III, jangan tunggu diajak. Lebih baik Anda yang proaktif bertanya duluan.

  • Mata Kuliah Semester 4

    Saatnya kita me- review semester 4! Di semester genap ini gue mengambil 11 mata kuliah dan bobotnya 22 SKS saja. Menurut gue ini adalah masa-masa paling nggak produktif karena tugas filmnya sedikit, dan kalau pun ada, tuntutannya nggak berat sehingga lo agak males-malesan gitu deh ngerjainnya. Hehe... Tapi di semester ini banyak tugas paper dan presentasi, jadi yah nggak ringan-ringan amat juga. Cuman kalau mau disambi sama kerjaan luar, paling toplah semester 4! SENIN Bahasa Inggris (08.30) Tentang : belajar Bahasa Inggris dasar sih. Semacam bikin surat, CV, esai, standar anak SMA-lah. Kata gue : banyak yang bilang dosennya killer . Padahal nggak kok. Tapi dia memang tegas soal tugas, waktu, dan suka ngasih pertanyaan mendadak di kelas. Yang penting lo duduk di tengah aja, lebih aman. Jangan terlalu depan dan jangan terlalu di belakang. Interdisipliner C (10.20) Tentang : h ore di semester ini kita belajar menari! Tapi sebelnya yang dipelajari adalah tarian dari Sumatera, which meaannsss... tariannya kayak pencak silat! Jadi bukan tarian yang manis gitu. Kalau gue nariin jadi ngelawak malah. Kata gue : dosennya strict banget. Jangan telat atau bolos deh, susah ngejer ketinggalannya. Susah, bener. Oh ya, siapin celana training panjang buat kelas ini. SELASA Musik Film (13.00) Tentang : gue kira kita bakal pakai studio musik terus belajar alat musik. Tapi ternyataaaa.. setiap hari belajar teori doang. Kata gue : kerjain tugasnya, presentasiin, terus tipsen juga nggak masalah kayaknya. Cuman hati-hati aja pas UTS sama UAS nggak bisa jawab lantaran kebanyakan bolos. RABU Interdisipliner B (13.00) Tentang : di kelas ini lo bakal belajar Solfeggio, yakni pelajaran musik yang lebih membahas ketukan dan sejarah musik itu sendiri. (Lah terus apa bedanya sama Musik Film?) Bedanya ada kok, coba aja nanti lo rasain sendiri. Haha. Kata gue : lo mesti bisa baca not balok. Jadi dengerin dosennya ngajar dengan baik. Kelas ini jangan dianggap main-main, soalnya susahnya bukan main. Kalau lo udah ada basic music yang baik sih enak, kalau nggak.. wassalam . Interdisipliner D (15.00) Tentang : di sini lo belajar akting. Bakal dikasih skenario macem-macem dan mesti perform dengan cepat. Kata gue : jangan malu-malu. Di sini butuh banget keberanian yang besar. Kalau nggak PD, aduh... susah! KAMIS Literasi Media (10.20) Tentang : ini kelas belajarnya mandiri banget. Dosennya ngasih pengetahuan secuil-cuil. Lo mesti banyak tanya. Tapi lo nanya pun belum tentu lo bakal ngerti doi ngemeng apaan. Kata gue : rajin-rajin ngulik soal Literasi Media aja sih kayaknya tipsnya. Oh ya UTS dan UAS-nya suka mendadak dalam Bahasa Inggris. Agak ngawur memang pengajar satu ini. Bikin sebel. Sosiologi Film (15.00) Tentang : wah, materi kesukaan gue nih. Seru banget ngebahas film dari segi sosiologinya. Kata gue : dateng terus aja kuliahnya seru kok. Banyak diskusi, PR lumayan... JUMAT Kewirausahaan (08.30) Tentang : hadeh... belajar apa gue di kelas ini? Kata gue : ambil kelasnya Bu Suzen aja deh. Interdisipliner E (10.00) Tentang : di kelas ini lo belajar soal sastra Indonesia dan persoalannya. Kelasnya banyak diskusi dan nonton film juga. Bakal kurang berasa belajarnya kalau lu nggak ikutan diskusi. Kata gue : banyak baca buku sastra dan nonton film yang disaranin doi supaya nyambung mau ngomongin apa. SABTU Sejarah Kebudayaan Indonesia (08.30) Tentang : sesuai nama mata kuliahnya ya, di sini memang mempelajari sejarah kebudayaan Indonesia. Jadi nggak perlu gue jelasin lagi ya. Kata gue : Hapalan banyak bingits. Diskusi sih seru. Komunikasi Massa (10.20) Tentang : ngg... Pelajaran yang sebenernya nggak penting sih. Tapi, penting juga kali ya? Yaudah deh sebodo amat. Kata gue : jangan bolos. Buruan kerjain tugas dan presentasi. Rada susah sebetulnya. Sekian deh review di semester 4. Maaf kalau review gue nggak berbobot sama sekali. Maklum, materi yang disampaikan juga (buat gue) nggak terasa berbobot. Jadi gue bingung ngebahasnya. Wahaha.

  • Biaya Bikin Tugas Film di IKJ

    Berhubung di post sebelumnya gue sudah menjelaskan kalau lo nggak perlu pusingin peralatan , sekarang gue minta lo pusingin budget bikin film! Pertama kali gue kuliah di FFTV, IKJ, semester 1, gue disuruh bikin film pendek yang tidak mengandung dialog serta camera movement. Gue dan kawan-kawan pun membuat film berjudul Panik , dan kami tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Kamera dan tripod -nya pakai punya Tomy. Talent -nya juga anak kelompok sendiri. Terus bikinnya cuma satu hari setelah selesai kelas. Terakhir, ngeditnya di laptop gue dan di- save ke flash disk gue. Film kami dapet nilai A karena sesuai dengan syarat tugas. Masuk semester 2, kita mulai belajar menghitung budget . Dan, yup , kita yang harus menanggung biaya tersebut. Untuk mata kuliah Praktika Terpadu, kampus memberikan budget , tapi kalau tugas-tugas lainnya, kita yang harus keluar duit sendiri. Nah, biaya apa saja yang perlu diperhatikan? Berikut rincian dan penjelasannya: Lokasi Sewa peralatan dan listrik Konsumsi Transportasi Akomodasi Honor talent dan crew Packaging Tidak terduga Gue akan jelaskan satu-satu di sini. Pertama LOKASI yah. Di beberapa tempat, ketika lo meletakkan tripod , lo bakal dianggap sebagai profesional dan membutuhkan surat izin untuk melakukan kegiatan syuting. Surat izin biasanya menyatakan secara khusus jumlah biaya yang harus dibayar, atau istilahnya sewa lokasi. Tapi ada juga tempat yang lo nggak perlu izin dan bayar, misalnya rumah lo sendiri. :p Kedua, biaya SEWA PERALATAN DAN LISTRIK . Ketika tugas lo membutuhkan tambahan lighting equipment untuk syuting, lo perlu perhatikan kapasitas tegangan yang bisa dipasok oleh lokasi syuting. Kalau dia nggak kuat, mau nggak mau sewa genset. Peralatan semacam ini bisa disewa di rental atau gratis pinjem dari kampus. Tapi kampus menyewakan peralatan ini hanya untuk tugas tertentu dan minjemnya siapa cepat dia dapat. Saran gue sih, kalau temen kelompok lo nggak ada yang ngerti caranya menata lampu, sebaiknya nggak usah kecentilan sewa lighting equipment. Apalagi masih semester satu, udah biasa-biasa dulu aja. Nanti ada kok waktunya pakai peralatan lighting yang canggih. Manfaatin apa yang ada dan maksimalin apa yang lo bisa dulu sekarang ini. Soalnya biaya lighting itu mahal dan butuh mobil buat bawa dia doang. Sayang duit kalau cuma gegayaan. Next, biaya KONSUMSI . Untuk syutingan awal semester, lupain soal konsumsi. Tapi masuk ke semester berikutnya, mulai pertimbangkan. Kasihani kawan-kawan yang bantuin lo syuting, masak udah nggak dibayar, nggak dikasih ma'em juga? Apalagi yang jadi talent . Biasanya sih ada kelompok yang sepakat ngasih konsumsi buat talent doang, sementara kru cari makan sendiri-sendiri. Ini terserah, kebijakan masing-masing. Yang penting saling sepakat aja. Keempat, biaya TRANSPORTASI . Jangan lupa dipikirin nih, setelah menentukan lokasi syuting, kalian harus itung biaya transportasi dari check point ke sana. Pikirin juga caranya talent ke lokasi syuting. Apakah dia jalan sendiri atau lo jemput? Perlu mobil atau motor saja cukup? Berapa bensinnya? Terus siapa yang bawa peralatan dan property ? Kelima, biaya AKOMODASI . Yang satu ini paling kerasa kalau lo syuting berhari-hari dan lokasi syuting jauh banget. Biasanya sih ini dipusingin pas bikin Tugas Akhir di semester 8. Keenam, HONOR TALENT DAN CREW . Pada umumnya, kru tidak dibayar karena ini cuma tugas kuliah. Jadi kalau lo bantuin senior tuh sifatnya sukarela semua. Tapi kalau talent , biasanya dibayar. Ini tergantung talent -nya sih. Carilah talent mahasiswa IKJ atau kawan deket lo soalnya mereka lebih rela dibayar pakai konsumsi. Pengalaman gue waktu itu pakai talent dari luar IKJ. Mereka memang punya jejak rekam yang bagus, maka ujung-ujungnya minta ang pao . Auch! (Bagian ini mungkin sudah tidak relevan di tahun 2024.) Next, PACKAGING . Ini nih yang paling sering dilupain temen-temen. Jangan lupa setelah syuting, filmnya mesti diedit dan dimasukin ke DVD. Lo perlu pikirin biaya DVD-nya, kotak DVD-nya, sampul kotak, serta sticker DVD. Siap-siap juga kalau DVD-nya error atau sampulnya salah, terus jadi mesti print ulang. LOL. Gue udah berkali-kali mengalami ini. Biasanya anak-anak pada ngeprint sampul dan sticker di Primagraphia dan beli kotak DVD yang warna hitam itu di warnet Cikini. Menurut gue sih, kalau lo mau jadi editor, mendingan lo beli aja 50 DVD kosong dan 10 kotak DVD hitam di toko elektronik. Jatuhnya lebih murah dan lo bisa jual lagi. Pasti banyak yang mau beli. Terus ngeprint sticker DVD-nya bisa di warnet UI Salemba juga, tapi jelas kualitas nggak sebagus di percetakan besar. Terakhir, biaya TIDAK TERDUGA . Nah, ini yang tidak terduga biasanya biaya ngebetulin barang yang lo rusak selama syuting, atau pas mendadak dipalak preman, pas kru atau talent lo luka, atau bahkan pas kru lo ngelukain orang lain! Dulu gue pernah nggak sengaja mecahin jam dinding. Akhirnya kami mesti keluar duit buat betulin itu, plus dimarahin habis-habisan sama yang punya. Hiks. Pada akhirnya gue mau bilang, bikin film yang ideal itu nggak murah. TAPI, lo bisa menekan budget dengan berbagai cara. Misalnya kayak temen gue pakai lokasi syuting rumah dia, kampus dan TIM— which were exactly free forever . Terus krunya nggak dikasih makan dan disuruh bawa motor sendiri ke rumah dia. Terus talent -nya sahabat dia dari kecil jadi nggak protes disuruh akting gratis dan nggak dikasih makan juga. Hahaha... Terus alat yang dia pake cuma kamera DSLR dan tripod minjem kawan. Paling dia keluar duit buat apa ya? Buat packaging sama bensin sendiri kayaknya. So , santai ajalah. Pasti lo bisa mengusahakan segala cara untuk bikin film yang lo mau. Cari ide sekreatif mungkin. Ada temen gue yang sampe bikin lighting equipment sendiri dan itu keren abis. Anyway , jumlah biaya yang harus diperkirakan sebenernya masih ada lagi, cuman... yaudalah ya nanti aja lo masuk FFTV terus belajar deh.

  • Apakah Belajar Kesenian itu Mudah?

    Waaahh... gue baru dapet pertanyaan unik lagi dari Ask.Fm ! Kali ini pertanyaannya oke banget karena berhasil triggering gue untuk menulis sesuatu yang worth to be shared . (Biasanya mah aku nyampah...) Jadi doski nanya, "Segitu beratnya ya belajar di IKJ?" Mungkin sebenarnya ini bukan pertanyaan, melainkan celetukan atas jawaban gue di Ask.Fm sebelumnya yang (mungkin) terdengar lebay, tapi nggak apa-apa. Celetukan dia... . . . . ...ada benarnya kok, belajar di IKJ itu nggak susah. Tapi terus pertanyaannya adalah kenapa gue menganggap itu berat, ya kan? Nah, sebelum kita masuk pada pembahasan, gue tambahin dulu ya introduksi-introduksi lucu untuk memperhangat situasi. Gue sering banget denger orang komentar kayak begini, "Enak yah, kamu bisa belajar apa yang kamu suka." "Seru ya bisa kuliah kesenian. Nggak perlu capek ngitung-ngitung." "Kuliah film? Belajarnya megang kamera doang ya? Enak banget." Dan tanggapan saya hmm... No, Babe. It has never been easy to people whom really want to study. Jurusan apapun yang kita pilih, universitas apapun yang menaungi kita, belajar tidak pernah mudah, dan kalau belajar itu mudah, maka kamu tidak belajar sama sekali. Setuju nggak? Mungkin sebagian orang berpikir, "Oh dia bikin film? Tinggal nyalain kamera terus rekam, terus sambung-sambung shot, terus save as movie . Voila! Jadi film." Ya bisa aja bikin film kayak begitu, tapi apakah bagus? Apakah akan jadi film Hollywood yang rajin kamu tonton tiap bulan? Nggaklah. Kita di sini mesti belajar berpikir kritis, melihat kondisi masyarakat sekitar, mengarahkan orang untuk membaca pesan yang ingin kami sampaikan, dan menyampaikannya dengan cara sekreatif mungkin dalam keterbatasan biaya dan lain-lain. Di sini kita belajar, Bro dan belajar itu nggak pernah easy . Jadi kalau ada yang nyeletuk, "Enak yah kamu bisa belajar hal yang kamu suka," He's missing a big truth of life. Karena meskipun kamu sudah kuliah dengan jurusan yang kamu suka, things will never be easy or fun all the time! Tetep aja kamu harus belajar dan belajar nggak pernah enak. The fact that you love what you do will only help you to stay no matter how hard it is. Itu nggak berarti things will get easier, trust me!  Di paragraf ketiga tadi, gue bilang ada benarnya, bahwa belajar di IKJ itu nggak susah. Why the hell did I say that? Ya karena belajar di IKJ emang nggak susah.. kalau lo cuma main "sekolah-sekolahan". Ya, main "sekolah-sekolahan", mainan di mana you act like a student and you go to school, pretending like you are listening, while you actually give no fuck. Untuk lebih jelasnya lagi, gue mengutip komentar A'a Damien Chazelle, " If you’re going to play music or do any art form, just as a hobby or as purely a source of enjoyment, then yeah, you should enjoy it. But I do believe in pushing yourself. If you actually take the idea of practice seriously—to me, practice should not be about enjoyment. Some people think of practice as, 'You do what you’re good at, and that’s naturally fun.' True practice is actually about just doing what you’re bad at, and working on it, and that’s not fun. Practice is about beating your head against the wall. So if you’re actually serious about getting better at something, there’s always going to be an aspect of it that’s not fun, or not enjoyable. If every single thing is enjoyable, then you’re not pushing yourself hard enough, is probably how I feel.”  Apa yang doski jelaskan di atas ia refleksikan dalam filmnya yang berjudul Whiplash (2014). Film itu mengisahkan seorang drummer jazz yang actually jago banget buat ukuran gue, tapi ketika dia ingin menjadi lebih hebat lagi, maka dia harus berlatih lebih keras lagi. Si protagonis obviously diperlihatkan cinta banget sama jazz, dan nobody says it was easy just because you love it . Kecintaan dan keseriusannya pada musik justru membuatnya harus keluar dari comfort zone dan "belajar lebih keras" untuk merealisasikan mimpi besarnya.

  • Sidang Akhir Nomophobia

    FINALLY! Film yang gue buat dengan penuh darah dan doa bersama kawan-kawan akan diputar dan disidangkan tanggal 26 Februari 2016! Dengan demikian perkuliahan gue akan berakhir dan gue akan mendapatkan gelar Sarjana Seni (S.Sn.) Terima kasih pada Mas Pulung dari Super 8mm Studio yang telah mengizinkan kami numpang color grading di sana. Terima kasih pada Andree Sascha yang rela begadang buat bikinin GFX dalam film ini di 7-11 tanpa dibayar!!! Terima kasih pada Bang Ole dan segenap keluarga Synchronize yang mengizinkan kami memaksa Bang Ole untuk kerja semalam suntuk memperbaiki sound film ini. Dan pada akhirnya, terima kasih pada para pembimbing dan penguji yang telah meluluskan kami dengan film yang unik bin ajaib ini! Akhirnya kita lulus juga!!! Filmnya bisa kamu saksikan di YouTube. Nggak bagus-bagus amat sih, tapi bikinnya perjuangan setengah mati. Selamat menikmati!

  • Senioritas di Kampus-Kampus Indonesyah

    Hari ini gue mau bahas soal senioritas ah. Mumpung lagi bulan-bulannya OSPEK. Gue denger beberapa cerita dari temen yang baru aja selesai menjalani OSPEK. Ceritanya seru-seru tapi bikin gue nggak habis pikir. Kalau di perkuliahan itu ada OSPEK universitas sama OSPEK fakultas. Kalau di kampus gue sih kaga ada OSPEK, yang ada cuma hari orientasi biasa. Beberapa tahun yang lalu kampus gue punya OSPEK, namanya Mata Seni (MATSEN). Tapi sudah ditiadakan untuk memberantas senioritas dan perundungan yang menyebabkan berkurangnya peminat mahasiswa baru ke kampus ini. Jadi, menurut gue senioritas di kampus itu masih banyak yang nggak jelas, nggak mendidik, dan nggak bener. Kegiatan OSPEK itu masih menjadi kedok untuk berplonco-ria, alasan yang dibuat-buat untuk bisa mem- bully junior. Gue sebel aja dengerin cerita temen gue yang OSPEK-nya aneh-aneh. Cerita kesatu Gue denger dari temen gue yang kuliah peternakan, dia emang udah masuk kuliah dari tahun lalu, tapi baru sekarang OSPEK fakultas. Soalnya selama 1 tahun itu belajarnya masih umum, belum benar-benar tentang peternakan. Jadi baru tahun ini dia di-inisiasi menjadi anak peternakan. Dia cerita ke gue kalau dia mesti bangun pagi-pagi untuk lari keliling kampus, push up , sit up , terus dengerin presentasi apa gitu... Kemudian siangnya: lomba passing kotoran kerbau. Gue jujur, tersentak mendengar kalimat itu. "Pakai tangan, K?" tanya gue yang shock abis. "Iyalah!" "Terus kalau jatuh gimana? Kotorannya kan nggak padet-padet amat..." "Ya pungut lagi." Anjrit. Tapi ternyata itu belum seberapa karena setelah itu, temen gue nambahin lagi, "Yang gue nggak tahan itu pas kelompok gue menang lomba transfer eek kerbau, taunya kami tetep dipeletin tai domba di muka!" "HAH?! DI MUKA?!" gue shock lebih parah lagi. "Iya." "Lo setuju K, dengan kegiatan macam itu?" "Mau nggak mau, soalnya kewajiban." "Yang jadi panitia kasihan juga dong mesti siapin tai yang banyak..." "Yah, kan kampus gue punya peternakan sendiri. Tinggal ke sana. Ya ampun, Rin baunya nggak nahan. Tiga hari gue mandi, tetep nggak ilang baunya!" Duh, gimana ya. Bersihin tai anjing aja baunya kadang bikin mual, apalagi tai kebo yang segede gaban? Cerita kedua Temen gue masuk jurusan... apa ya namanya pokoknya semacam Biologi gitu deh. Terus OSPEK-nya sebulan lebih dan kegiatannya itu hampir kayak kuliah. Ada kegiatan ngasih makan ikan apa gitu namanya. Lupa gue. Pokoknya Biologi banget dah. Terus seperti biasa, para mahasiswanya diajarin cara demonstrasi. Diajarin gimana caranya bersikap kalau diserang polisi, etc. Lah? Ngakak gua, nggak relate . Terus temen gue nanya, "Kalau kampus lo, diajarin demo juga nggak?" Gue jawab, "Kampus gue mah demonya pake graffiti, poster, film, ya pokoknya bikin karya deh." "Ih, cerdas banget." "Iya," jawab gue sambil ketawa. Padahal sebenernya yang menyindir pemerintah lewat karya itu kayak cuma satu-dua orang aja dari satu kampus. Lebih banyak mahasiswa kayak gue yang nggak peduli urusan politik. Cerita ketiga Kalau yang ini bukan cuma pas OSPEK, tapi juga pas MAKRAB (Malam Keakraban) dan acara-acara kebersamaan lainnya. Dia jurusan teknik mesin, dan katanya kalau udah ada acara, pasti solid banget dari senior sampe alumni bakal dateng. Sayangnya most of the alumni bukannya dateng ngasih motivasi malah lebih banyak ngerusak. Gue sih heran aja, masa bikin acara, yang harus dipikirkan adalah, "Gimana kalau alumni lo ada yang minum-minum terus bawa senjata tajam?" Buset dah... Ini alumni apa algojo? Dan ternyata emang terjadi beneran, pasti. Junior diplonco bukan main. Pas acara camping , dikasih makan nggak manusiawi, disuruh cium ketek temen sebelah dalam jangka waktu yang nggak sebentar, mandi massal pakai sabun colek, terus ada cerita antar temen disuruh saling tampar pula.  VIOLENT BANGETTTT! Nanti kalau sudah tahun ke-2 pangkatnya naik, tugasnya bukan diplonco kayak begitu lagi, tugasnya lebih kayak TALCO (talent coordinator) yang ngurusin kemauan alumni (kalau TALCO sih ngurusin kemauan talent atau aktor ya). Temen gue bilang, "Misalnya ada alumnus yang pengen makan KFC, yaudah deh lo mesti dapetin itu makanan meski di hutan sekalipun." "Terus kalau itu mustahil?" "Pinter-pinter aja ngelobi supaya permohonannya lebih baik." "Kalau nggak pinter ngelobi?" "Ya dikatain, dimarahin." Tahun ini sih katanya lebih mendingan karena pihak kampus kontrolnya lebih ketat. Itu pun baru sekarang gara-gara tahun lalu, ada alumnus yang bawa senjata tajam dan diarahkan ke juniornya. Ngeri nggak sih lo? TIDAK BISA BERKATA-KATA Dari ketiga cerita di atas, gue mau tambahin sedikit ya soal pengalaman gue. Gue diplonco pertama kali pas SMP. Rambut gue dikuncir sesuai jumlah tanggal. Gue inget banget nyokap gue komentar, "Kamu yang diospek kok mami yang repot..." dan gue ngakak inget itu. Hari gue OSPEK penuh dengan dimarahin. Soalnya gue banyak salahnya. Hihi... dan hukumannya adalah beliin senior coklat. Hal paling indah yang gue inget sih pas disuruh kumpulin tanda tangan, gue seneng banget bisa dapetin tanda tangan senior gue yang ganteng. Eits... Masuk SMA, nggak ada OSPEK. Cuma acara kenalan a la anak SD gitu. Nggak seru. Bahkan gue nggak inget ngapain aja. Gue suka banget kalau pas OSPEK disuruh kumpulin tanda tangan, karena lo jadi kenal dengan senior. Sayangnya pas kuliah, lagi-lagi nggak ada OSPEK. Tapi gue denger-denger OSPEK-nya ditiadakan karena cukup ekstrim juga. Katanya siiihhh... lo disuruh makan siang rame-rame pake kaos kaki temen lo gitu.  Jadi ceritanya pas gue kuliah ikutan acara, senior gue traktirin kita nasi. Makannya bareng-bareng dengan cara nasi bungkusnya digabung jadi satu. Jadi makannya pake tangan. (Ini persis seperti hal yang gue terapkan waktu gue nge-OSPEK junior di SMP.) Terus temen gue ngajak makan si senior, "Bang, ayo makan bareng!" "Gue mau makan bareng tapi ada syaratnya." Temen gue itu dengan cepat bertanya lagi, "Apa, Bang?" "Setiap orang pegang kaos kaki temennya, terus nasinya lo masukin dulu ke kaos kaki, lo kocok-kocok terus baru dimakan. Gimana? Setuju nggak?" Gue shock dengernya dan gue diem aja. Tapi temen gue yang tadi langsung berseru, "Setuju, Bang! Tapi lo ikut makan juga kan?" "Iya, gue juga sama. Jaman OSPEK dulu begini cara makannya biar kompak, susah-seneng bareng," jawab si senior. Gue dengan sangat berani, waktu itu menolak. Hahaha... Waktu itu gue berargumen seperti ini, "Gue tau senior kita yang bayarin ini semua dan kita harus balas budi. Tapi nggak harus begini kan caranya? Nggak harus balas budi sekarang kan? Kita bisa traktir dia makan besok. Gue sangat tidak setuju kita makan dari kaos kaki. Lo mesti tau, ini kaos kaki gue 2 hari belum dicuci. Berapa banyak bakterinya? Okelah, mungkin lo kuat. Tapi gue enggak." Terus temen gue itu bilang, "Nggak apa-apa, Sil. Ini juga biar kita solid. Susah bareng, seneng bareng." Dan ternyata jawaban dia itu bikin gue makin panas. Gue jawab dia lagi, "Ini namanya bukan susah bareng, tapi mempersulit diri. Tapi yaudalah, kalau memang semua setuju makan kayak begini, gue mau bilang apa lagi. Gue ikutin mayoritas kok." Pada akhirnya satu-persatu temen gue mulai speak up . Lebih banyak yang nggak setuju ketimbang yang setuju. Jadi berdasarkan voting, kita tetep makan bareng tapi nggak pake kaos kaki dan senior gue nggak jadi ikut makan. Dari pengalaman ini sih gue mau bilang kalau senioritas kampus itu sering nggak jelas dan nggak perlu lo turutin. You better stand up for yourself kalau lo yakin lo benar. Nanti juga muncul temen yang nggak setuju dan nge- back up di belakang. Tapi tentunya berargumenlah yang baik dan sopan. Gue ngerti sisi positifnya, lo punya kenangan yang lucu buat diceritain ke cucu lo. Tapi apakah lo bangga? Ngg... Lo bangga cerita ke cucu dan temen lo, "Eh dulu mama makan dari kaos kaki loh." atau, "Dulu papa cium ketek temen papa loh." Gue akuin itu adalah unforgettable memories , tapi juga nggak membanggakan dan nggak perlu dibanggakan. Gue sangat nggak terima alasan, "Biar lo makin solid, kompak, sehati-sejiwa, susah-seneng bareng." THOSE ARE TOTALLY BULLSHIT! Terus apakah lebih baik OSPEK ditiadakan? Itu juga gue nggak setuju. Akibatnya gue nggak kenal banyak orang. Gue nggak terlalu deket sama mereka. Menurut gue, OSPEK atau acara keakraban lainnya itu penting. Penting banget. Tapi seharusnya dibuat yang bener. Lo, sebagai mahasiswa yang berakhlak , punya otak, punya wibawa, coba bikin acara yang masuk akal dan manusiawilah. Tunjukkan lo ini mahasiswa. Masak memperlakukan orang kayak anjing. Buat apa sih orang dipeletin tai domba? Emangnya kalau dia kerja di peternakan nanti, dia bakal tempelin tai ke mukanya? I don't think it's funny. It's a disgrace to humanity. Gue sedikit okelah dengan cerita passing kotoran kerbau, tapi dipelet tai domba ke muka? It's a big NO. Muka loh! Megang kepala orang aja nggak sopan, apalagi peletin tai ke mukanya! That is bullying. Lo nggak ngajarin hal berguna dengan nempelin tai ke muka orang. Malah yang ada lo menciptakan dendam. Dendam untuk junior yang berikutnya. See? Nothing good comes out of it. Lo juga nggak bakal solid cuma gara-gara lo suap-suapan dalam 1 hari. Solidaritas nggak terbentuk dalam 1 malam. Kalau lo mau bikin angkatan yang solid, OSPEK-nya emang harus 1 bulan dan dengan kegiatan yang bermoral. Misalnya semua kelompok ditantang bikin pameran dan harus sukses menjaring penonton. Terus kumpulin dananya buat charity . Atau datengin perumahan terdekat, bikinin shelter sampah. Atau apalah gitu yang berkontribusi buat masyarakat dan kemajuan negara. Tapi gue tau junior yang nggak tau diri itu juga pasti ada. Makanya senioritas itu penting juga. Terus ngatasinnya gimana? Bikin hukuman. Bikin hukuman yang mendidik dan manusiawi. Use your authority to make people become better. Misalnya ada 1 salah, semuanya harus dihukum atas nama solidaritas. Gue setuju dengan hukuman push up atau sit up . Mereka nggak harmful , jadi nggak apa. Yang terpenting juga setelah dihukum, ditanya lagi, "Kalian tau nggak kenapa dihukum?" jadi yang dihukum ngerti salahnya di mana and hopefully nggak diulang lagi. OSPEK itu belajar mengenal kampus lo, temen lo, senior lo, dosen lo dan juga lingkungannya. Acara keakraban itu harusnya bikin lo makin semangat belajar karena sudah kenal dengan medan tempurnya. Bukannya jadi momok. Sekian dari gue. Tulisan ini awalnya dipublikasikan di Blog "Ma Vie est un Film" pada 30 Agustus 2013 saat saya masih berusia 19 tahun. Beberapa kata yang kurang tepat / patut telah direvisi secukupnya tanpa menghilangkan keaslian cerita dan pemikiran saya di usia tersebut. And so far, I still stand true to my thoughts.

  • Profesi Dalam Departemen Artistik

    Dalam pembuatan film, umumnya orang cuma tau director, producer, script writer dan director of photography ( British bilang sih itu cinematographer ). Padahal sebenernya masih ada editor, animator , bahkan anak artistik! Nah, kali ini gue mau berbagi soal departemen artistik. Kalau produksi film sederhana sih biasanya cuma kenal art director dan asistennya. Tapi mengikuti standard Hollywood, sebenernya posisi anak buah art director juga punya nama dan tugas tersendiri. Yok mare kita bahas! Semua data gue translate berdasarkan kemampuan gue sendiri, jadi kalau ada kata-kata yang nggak tepat atau aneh, boleh dibaca sendiri versi Bahasa Inggrisnya dari sumber. Gue nggak translate nama profesi ke Bahasa Indonesia soalnya gue nggak tau apa Bahasa Indonesianya. Let’s just leave it that way. Sumber buku gue cantumin di akhir post. Set Designer SET DESIGNER bertanggung jawab atas design dan pengawasan pembangunan set berdasarkan ide dan masukan dari PRODUCTION DESIGNER. Dalam skala produksi kecil, pekerjaan SET DESIGNER dapat ditangani oleh ART DIRECTOR atau PRODUCTION DESIGNER. SET DESIGNER bertugas untuk merencanakan dan menciptakan elevation drawing (gambar yang menunjukkan sisi depan, belakang ataupun samping sebuah set dan ketinggiannya). Elevation drawing ini digunakan untuk mengkonstruksikan sebuah set, draft blueprint berdasarkan konsep, deskripsi, atau gambar konseptual. Kemudian SET DESIGNER juga mengawasi konstruksi set dan modifikasi apapun yang diperintahkan PRODUCTION DESIGNER atau SUTRADARA. SET DESIGNER berkolaborasi dengan SUTRADARA dan DOP untuk merencanakan bagaimana set akan ditampilkan dan diambil gambarnya.  Set Decorator SET DECORATOR bertanggung jawab atas dekor set atau lokasi. Dekor termasuk karpet, benda-benda untuk pencahayaan, furnitur, jendela, gantungan dinding, dan semua detail dari dekorasi ruangan interior. Dekor harus merefleksikan periode, karakter, dan inti cerita. Lead Man LEAD MAN, atau asisten SET DECORATOR menempatkan objek, furnitur, dan elemen dekor yang lain yang dibutuhkan di set. Swing Gang Set dressing crew = SWING GANG, dia bekerja di bawah LEAD MAN untuk mencari dan mengumpulkan kebutuhan dekor. Hair and Makeup HAIR CREW melakukan riset, menciptakan dan mencocokkan gaya rambut yang pas untuk karakter, cerita, tempat dan waktu agar sesuai dengan point of view SUTRADARA atas ceritanya. MAKEUP ARTIST harus berada di set untuk mengaplikasikan makeup sebelum shooting setiap harinya dan untuk touch up saat shooting berlangsung. Construction Coordinator CONSTRUCTION COORDINATOR bertanggung jawab atas pembentukan set sesuai gambar dan draft dari ART DEPARTMENT, sekaligus mengawasi construction crew . Konstruksi set berbeda dengan konstruksi konvensional dalam beberapa hal yang jelas. Set tidak dibuat permanen strukturnya sehingga umumnya dibuat dengan kayu datar yang dilapisi canvas atau papan lagi.  Set dapat menjadi bagian dari struktur yang menciptakan ilusi ruangan yang besar, atau sebagai detail yang menunjukkan ruangan luas di sekitarnya. Construction Crew Construction crew terdiri dari banyak pekerja seni: CARPENTERS: Mayoritas set menggunakan kayu. Maka CARPENTERS yang handal sangat dibutuhkan untuk membangun set dan berfungsi saat shooting ketika masalah berkenaan dengan set terjadi. PAINTERS: Set harus dicat. Lokasi yang sudah ada biasanya dicat ulang untuk menciptakan objektif design yang lebih baik. Ahli dalam bidang ini paham mengenai bagaimana kamera membaca warna dan tekstur, dan bagaimana lighting mempengaruhi permukaannya. Pemilihan cat berdasarkan hasil yang diinginkan, budget dan masalah estetika. Cat tidak harus permanen. Property Master PROPERTY MASTER bertanggung jawab atas objek dan props yang dipegang dan digunakan aktor. Dia bekerja dengan SET DECORATOR dan PRODUCTION DESIGNER untuk mengidentifikasi semua props yang dibutuhkan dan bertanggung jawab untuk mendapatkannya. Location Manager Menarik nih karena biasanya Manajer Lokasi di Indonesia dianggap terpisah dari departemen artistik. LOCATION MANAGER bertanggung jawab atas lokasi selama pra-produksi dan saat produksi hingga kru selesai menggunakan lokasi, karena ia harus mengurus masalah keamanan property dan peralatan. Location Scout Setelah berdiskusi dengan SUTRADARA dan PRODUCTION DESIGNER, LOCATION SCOUT mencari lokasi yang diindikasi di skenario. Dia mengambil foto dan video untuk ditunjukkan dan dilaporkan kepada PRODUCTION DESIGNER. Setelah itu, LOCATION SCOUT akan membawa PRODUCTION DESIGNER dan SUTRADARA menuju lokasi. Begitu lokasi telah dipilih, LOCATION SCOUT harus melakukan perjanjian dengan pemilik atau pengawas lokasi. Greensman GREENSMAN bertanggung jawab untuk merawat dan memelihara rumput, bunga, pohon dan tanaman lainnya. Lokasi dapat diubah menjadi landscape yang kreatif dan berurusan dengan continuity serta spesifikasi wilayah. Buyer BUYER bertugas untuk membeli furnitur, dekor, baju, props, dan elemen design yang lain. BUYER harus kenal dengan vendor dan sumber, dan memiliki kemampuan bernegosiasi yang baik. Scenic Artist SCENIC ARTIST mencipakan latar bercat, lukisan, simbol, material ilustratif, cover majalah, buku dan mural sesuai cerita. SCENIC ARTIST dapat melukis di hot spots , bayangan, atau faktor apapun yang berurusan dengan DOP saat produksi.  Pekerjaan scenic juga penting untuk touch up dan menjaga set setiap harinya. Costume Designer COSTUME DESIGNER menciptakan dan memilih kostum yang akan dipakai aktor. COSTUME DESIGNER harus memiliki pengetahuan akan baju secara periodik dan paham akan karakter dalam cerita.  Kostum dapat dipahami, digambarkan, lalu dibuat dari awal berdasarkan karakter tokoh dan aktor yang memainkan peran tersebut. Production Illustrators PRODUCTION ILLUSTRATOR melukis atau menggambar konsep dari PRODUCTION DESIGNER atas design set atau design momen dalam film. Draftsman DRAFTSMAN membuat gambar teknis yang menjelaskan detail rencana pembangunan set.  Gambar ini harus akurat dan seragam untuk menciptakan skala yang sebenarnya, seperti gambar untuk kebutuhan arsitektural. Set Dresser SET DRESSER bekerja di bawah pengawasan SET DECORATOR dan bertanggung jawab dalam peletakan dekor di set. SET DRESSER yang berpengalaman memiliki latar belakang dalam hal furnishing dan dekorasi, cita rasa style , dan pemahaman design yang bersifat storytelling . Art Director  Dia mengawasi art department crew di lokasi set dan melaporkannya langsung ke PRODUCTION DESIGNER.  Umumnya PRODUCTION DESIGNER tidak berada di lokasi shooting karena meeting dengan kepala departemen yang lain, sementara ART DIRECTOR bekerja bersama shooting crew setiap hari.  ART DIRECTOR, sebagai asisten eksekutif PRODUCTION DESIGNER menerima telepon dan bertanggung jawab akan urusan dengan vendor dan logistik yang mencari material dan membawanya dari dan ke set.  Bila tidak ada PRODUCTION DESIGNER, maka ART DIRECTOR yang bertanggung jawab atas design film tersebut.  Production Designer Design produksi adalah seni visual dan kerajinan dalam storytelling sinematik. ( Look dan style film terbentuk oleh imajinasi, kesenian, dan kolaborasi dari SUTRADARA, DOP, dan PRODUCTION DESIGNER).  PRODUCTION DESIGNER bertanggung jawab meninterpretasikan skenario dan visi SUTRADARA atas film, dan mengartikannya secara visual sehingga aktor dapat mengembangkan karakter dan mempresentasikan ceritanya.  Dalam arti seluruhnya, proses dan aplikasi design produksi membuat pengadeganan dalam metafora visual, palette warna, arsitektural dan periode yang spesifik, lokasi, design dan set itu sendiri.  Ia juga berkoordinasi dengan kostum, makeup dan gaya rambut.  PRODUCTION DESIGNER harus menginterpretasikan dan mentransformasikan cerita, karakter dan tema naratif ke dalam gambar yang mencakup arsitektural, dekor, ruangan, tonalitas dan tekstur.  PRODUCTION DESIGNER menggunakan sketsa, ilustrasi, foto, model dan storyboard produksi untuk merencanakan setiap shot dari detail mikroskopik hingga makroskopik.  PRODUCTION DESIGNER adalah kepala dari ART DEPARTMENT. Sumber: LoBrutto, Vincent. The Filmmaker’s Guide to Production Design. Chapter 5: The Art Department, pp. 43-56. New York: Allworth Press, 2002. Tulisan ini dipublikasikan di Blog "Ma Vie est un Film" pada 31 Juli 2013 saat saya masih berusia 19 tahun. Beberapa kata yang kurang tepat / patut telah direvisi secukupnya tanpa menghilangkan keaslian cerita dan pemikiran saya di usia tersebut.

  • Workshop American Film Showcase (AFS)

    Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 6-7 Februari 2014, gue dan 3 mahasiswa IKJ mendapatkan kesempatan untuk mewakili kampus dalam workshop film pendek dokumenter. Workshop ini dibintangi (cailah) oleh Richard Pearce dan Freida Mock dalam rangka acara American Film Showcase yang diadakan selama beberapa minggu di 4 kota besar di Indonesia. Acaranya cukup eksklusif karena setiap universitas hanya bisa mengirimkan 4 mahasiswa. Gimana ceritanya gue bisa terpilih ikut? Waktu itu, gue lagi membantu senior mengedit film dokumenter untuk acara launching buku Slamet Rahardjo, terus tiba-tiba dia tanya, "Sil, mau ikut workshop nggak? Diajak Mas German." "Workshop apa, Kak?" "Workshop bikin film," jawab senior gue. Kemudian tanpa ba-bi-bu-be-bo gue langsung jawab iya, padahal gue belum tau itu tanggal berapa, di mana, dan printilan lainnya. Yang gue pikirin saat itu adalah, "Apapun yang ditawarin dosen gue, pasti dahsyat dampaknya." Akhirnya setelah mengiyakan ajakan senior yang bernama Agni, gue baru dijelasin pretelan acara ini. Jadi ceritanya workshop -nya bakal full English gitu gara-gara pembicaranya sutradara Amerika. Terus acara ini disponsori oleh U.S. Embassy . Wah, gue semakin excited untuk ikut. Keesokan harinya, Mas German nge-LINE gue dan tanya, "Kamu mau ajak siapa dari angkatanmu untuk ikutan workshop ini juga?" Jujur aja, pertanyaan ini serem banget. Masalahnya temen gue banyak! Jadi temen yang mana yang harus gue ajak? Gue mencoba berpikir sejenak. Nama-nama yang terlintas di otak gue, waktu itu: Ghifar, Gill, Luthfi dan Juju. Mereka semua orang yang passionate soal film dan pengetahuannya banyak. Tapi gue cuma boleh pilih salah satu dari mereka. Akhirnya gue memutuskan untuk memilih Juju. Tapi gue felt guilty sama Luthfi karena gue yakin dia pasti seneng banget kalau denger pembicaranya orang Barat. HAHAHA... Ya, gue dan Luthfi itu pengen banget sekolah di luar negeri, jadi gue yakin dia bakal seneng kalau diajak. Yaudah, gue coba mengajukan 2 nama: Luthfi dan Juju. Biar Mas German yang pilih. Ternyata mereka berdua terpilih, dan jadilah kami satu tim! Kak Agni sebagai director , gue editor , Luthfi script writer , dan Juju cinematographer . Selanjutnya gue merasa berdosa karena nggak memilih Ghifar dan Gill. Yah, ini adalah pilihan yang sulit. Mohon maafkan daku kawan. Bersambung ke post berikutnya!

  • Bikin Ekskul Filmmaking di Tangerang

    Belum lama ini, g ue menawarkan diri ke sekolah lama gue, SMPK Sang Timur Karang Tengah buat bikin ekskul filmmaking . Seru kan? Gue sendiri yang ngajar. Gue sendiri yang bikin poster dan materinya. Gue sangat berharap jadwal kuliah semester 3 bersahabat sih. Gue bener-bener harus free setiap hari Sabtu buat ngajarin anak-anak SMP belajar bikin film pendek. Semoga materi gue bisa bikin mereka bersemangat untuk bikin yang lebih kreatif lagi. Terus hasil filmnya bakal dikompilasi dan di- screening ! Syukur-syukur bisa diikutkan festival film. Waktu gue upload posternya, attention netizen cukup heboh sih. Ada yang bilang, "Kok pas gue lulus baru ada?" Terus ada yang bilang, "Mau bantuin dong." Terus ada juga yang bilang, "Jadi pengen sekolah lagi..." Tapi dari semua komen itu, yang paling bikin ngeri adalah komen senior gue di kampus yang bilang, "Udah ngajar aja lo.." Yah kira-kira seperti itu, Gue jadi nggak enak. Err.. berasa gue belagu banget gitu. Baru semester 3 aja udah sok ngajarin anak orang. Padahal tugas film gue di kampus juga nggak kece-kece banget. Taappiiii... Yah namanya juga usaha. Kalau emang gue bisa bantu orang, why not ? Kan meskipun gue nggak pintar-pintar amat, anak-anak itu juga belum sepintar gue. Jadi itungannya tetep lebih pinter gue, hehe... Dan gue juga senang sekali mempersiapkan materi untuk mengajar. I'm super excited with my first day, next week! Tulisan ini awalnya dipublikasikan di Blog "Ma Vie est un Film" pada 15 Agustus 2013 saat saya masih berusia 19 tahun. Beberapa kata yang kurang tepat / patut telah direvisi secukupnya tanpa menghilangkan keaslian cerita dan pemikiran saya di usia tersebut.

  • Review Acara INAFEd: Flash Back

    INAFEd (Indonesian Film Editors) adalah sebuah asosiasi editor film Indonesia yang pada hari Jumat, 27 Maret lalu mengadakan sebuah diskusi mengenai teknologi editing film dari masa ke masa. Acara ini diberi judul Flash Back, dan berlokasi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki pada pukul 7 malam dengan narasumbernya, para editor Indonesia: George Kamarullah, Norman Benny, Sentot Sahid, Sastha Sunu, Dewi S. Alibasah, Andhy Pulung, dan Ryan Purwoko. Sayangnya malam itu George Kamarullah dan Dewi S. Alibasah berhalangan untuk hadir, sehingga diskusi semi-formal yang dimoderatori oleh Cesa David Lukmansyah pun berlangsung hanya bersama 5 editor saja. Diskusi dibuka dengan pengantar sejarah editing singkat dari Norman Benny, selaku editor paling senior di antara kelimanya. Ia telah memulai karir sejak tahun 80an, di mana pada masa itu film Indonesia masih hitam-putih. Kemudian secara bergilir, perkembangan teknologi editing ini dilanjutkan melalui cerita Sentot Sahid, Sastha Sunu, Andhy Pulung, dan diakhiri oleh Ryan Purwoko yang telah memasuki era digital secara keseluruhan. Di antara diskusi tersebut, di belakang para narasumber juga disediakan sebuah layar besar untuk menampilkan foto-foto mesin editing dan pemutaran film dokumentasi pendek buatan Dwi Koencoro yang berjudul Old School Movie Editing (1987). Sehingga percakapan mengenai teknologi masa lalu ini menjadi lebih jelas di benak penonton, yang pada umumnya belum pernah menyentuh alat editing analog. Mendekati akhir acara, Cesa memberikan pertanyaan kepada para narasumbernya, “Apa yang perlu dipersiapkan saat mengedit baik secara mental maupun raga?” dan pertanyaan itu pun disambut dengan penuh senyuman dari narasumber. “Persiapan sama, dari jaman masih hitam-putih hingga sekarang. Bagaimana cara melihat materi lapangan, membaca shot dari lapangan, editorial thinking , semuanya sama, kecuali saat era penggunaan dubbing system , agak kacau,” jawab Norman Benny menjelaskan bahwa pada saat dubbing system , editor mengedit film tanpa suara. Sehingga sangat susah untuk menentukan titik potong yang tepat dengan dialog yang diucapkan di gambar. Pekerjaan ini tentu dibantu oleh pencatat skrip yang bertugas mencatat dialog-dialog saat syuting berlangsung. Celakanya, seringkali pencatat skrip kehilangan beberapa kata karena improvisasi aktor yang terlalu banyak. “Dari dulu, musuh editor adalah pencatat skrip,” tambah Sentot Sahid dengan gelak tawa. “Bahkan sampai sekarang pun masih, Mas. Mungkin perlu kita adakan acara rekonsiliasi?” canda Cesa David, dan para peserta diskusi pun semakin terbalut dalam tawa meski malam semakin larut. Kembali ke topik, Sentot Sahid menambahkan bahwa pada zaman dulu, selain harus memanjangkan kuku jempol agar dapat dengan mudah mengupas selotip dari ujung seluloid yang ditempel ke ujung lainnya, juga perlu siap menerima kenyataan bahwa tangan seorang editor tidak akan pernah halus. “Di luar negeri, seharusnya pakai sarung tangan agar tidak terbeset pinggiran seluloid yang dalam kecepatan tinggi jadi seperti pisau. Tapi karena kita mau cepat, jadi ya saya langsung pegang pakai tangan, jadi sering sekali berdarah di mana-mana,” ujar Sastha Sunu diiringi tepuk tangan para peserta diskusi. Pada akhirnya, diskusi ini ditutup dengan kesimpulan dari Sastha mengenai perkembangan teknologi yang semakin pesat, “Semua teknologi memiliki fungsi yang sama, yakni memudahkan kita dan membuat kita nyaman bekerja. Tapi, sayangnya rentan membuat kita kurang disiplin, dan rentan dalam pengarsipan. Coba kalau film disimpan dalam external hard disk saja? Kena air sedikit, data corrupted . Kalau dalam seluloid kan kena air, ya tinggal dikeringin dengan hati-hati. Jadi menurut saya, teknologi analog dan seluloid film tetap penting dipertahankan, selain sebagai pilihan dalam film style , juga terutama untuk pengarsipan.”

  • Stase / Magang di Super 8mm Studio

    Selama sebulan ini gue sibuk magang + kuliah. Gue jadinya magang sebagai assistant colorist di Super 8mm Studio, Fatmawati di bawah bimbingan Mas Andhy Pulung, daaann... super melelahkan. Selain karena tempatnya sangat jauh dan sulit ditempuh, juga karena jadwal kerja yang cukup padat. Gue sampai bener-bener nggak ada tenaga lagi buat nulis blog. Weekend tuh beneran gua pakai buat ngerjain tugas, tidur sepuasnya dan leha-leha. Berikut ini hasil copy-paste dari laporan Stase gue di tahun 2015. Mohon diketahui bahwa karya tulis di bawah ini merupakan buah pemikiran saya saat masih berusia 20 tahun, dan mungkin sudah tidak relevan lagi karena saya sudah tidak mengikuti perkembangan perusahaan terkait. Waktu Pelaksanaan Program praktek kerja lapangan dimulai pada pertengahan bulan April 2015 dan berakhir pada Mei 2015 dengan jangka waktu selama 1 bulan. Lebih detilnya lagi telah ditentukan bersama Post-Production Director saat briefing tanggal 10 April 2015, bahwa saya harus masuk bekerja selama 20 hari, dari hari Senin-Kamis setiap minggunya.  Tempat Stase Super 8mm Studio adalah sebuah studio pasca-produksi yang menerima pengerjaan restorasi film, film/video editing, color grading, dan special effect . Projek-projek yang diterima tidak hanya film layar lebar, namun juga film layar kaca, television commercial (TVC), music video , film dokumenter, dan public service announcement (PSA).  Studio ini diprakarsai oleh Andhy Pulung, alumnus Institut Kesenian Jakarta, Fakultas Film dan Televisi yang telah memulai karir pribadinya sebagai film editor sejak tahun 2000. Hasil Karya Perusahaan Film layar lebar  Pizza Man (2015) disutradarai oleh Ceppy Gober;  Midnight Show (2015) disutradarai oleh Ginanti Rona;  Toba Dreams (2015) disutradarai oleh Benni Setiawan;  Another Trip to The Moon (2015) disutradarai oleh Ismail Basbeth;  Jokowi Adalah Kita (2014) disutradarai oleh Rony Mepet;  7/24 “7 Hari 24 Jam” (2014) disutradarai oleh Fajar Nugros;  Madre (2013) disutradarai oleh Benni Setiawan;  Soegija (2012) disutradarai oleh Garin Nugroho;  Opera Jawa (2006) disutradarai oleh Garin Nugroho;  Denias: Senandung di Atas Awan (2006) disutradarai oleh John De Rantau;  Obama Anak Menteng (2010) disutradarai oleh John De Rantau;  dan masih banyak lagi.  Dokumenter  Au Lorun (2015) disutradarai oleh Dodi Wijanarko;  Wakatobi;  Generasi Biru (2009) disutradarai oleh Garin Nugroho, dkk.;  Kamera Rakyat;  dan masih banyak lagi.  Serial Televisi  BIMA Satria Garuda (2013); dan  BIMA-X Satria Garuda (2015).  Selain itu terdapat pula Television Commercial (TVC), Public Service Announcement (PSA), Music Video (MV) dan Film Televisi (FTV) yang terlalu banyak untuk disebutkan di sini. Tahapan Kerja Sebagai asisten colorist , saya masuk dalam bidang online editing di bawah arahan Andhy Pulung dan Alex Sadewo. Dalam bidang ini, terdapat 5 tahapan yang harus dilakukan berurutan:  Data conforming Data setup Color balancing Color match-up Color grading Data conforming adalah tahapan di mana data film/video dipersiapkan untuk dipindahkan dari Final Cut Pro ke DaVinci Resolve. Dalam contoh kasus BIMA-X Satria Garuda (2015), data video yang telah diberikan sentuhan animasi seringkali dalam bentuk gelondongan atau per sequence . Berhubung tahap coloring harus spesifik per shot , maka gelondongan tersebut perlu dicacah kembali di meja editing. Selain itu data audio juga harus di- delete karena tidak akan dipakai di meja coloring . Setelah selesai, barulah projek di- save ke .xml dan siap dibuka di DaVinci Resolve. Namun proses ini belum berakhir sampai di situ saja. Setelah projek dibuka di DaVinci Resolve, setiap shot harus di- link kembali pada file mentahannya yang disimpan di hard disk eksternal.  Berikutnya data set up merupakan tahapan di mana metadata projek disesuaikan terlebih dahulu dengan jenis kamera dan hasil akhir yang diinginkan. Tahapan ini juga sangat penting dan harus dikerjakan di awal karena akan mempengaruhi warna film saat diputar di layar tertentu. Apabila dalam satu projek menggunakan berbagai jenis kamera, maka set up harus dilakukan per shot .  Tahap ketiga, color balancing , merupakan tahapan di mana seluruh shot dikembalikan dulu ke warna dan titik terang netral. Pengerjaan ini harus dilakukan spesifik per shot .  Tahap keempat, color matching , sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan color balancing . Fungsinya hanya sebagai pelengkap untuk memastikan bahwa setiap shot dalam satu scene memiliki suhu warna yang sama dan tingkat keterangan yang sesuai dengan konsep. Agar saat di- grading nanti tidak terjadi perbedaan antar shot untuk menjaga logika cerita.  Tahap terakhir, color grading merupakan tahapan di mana film telah diatur warnanya sesuai konsep film. Entah diubah menjadi kemerahan, kekuningan, atau kebiruan, tahapan ini harus dilakukan paling akhir untuk memastikan semua warna shot dalam keadaan sejajar.  Meskipun proses coloring seharusnya hanya bersifat membetulkan suhu warna dan tingkat terang-gelap suatu gambar, namun sering pula colorist harus membetulkan gerakan kamera yang terlalu shaky , menghilangkan atau menambahkan satu elemen dalam gambar, dll.  Semua hal tersebut memang merupakan fitur pelengkap dalam software DaVinci Resolve. Oleh sebab itu colorist tidak perlu berpindah-pindah software dan dapat melakukannya sendiri. Namun revisi semacam itu juga tergantung pada permintaan client . Kadang ada client yang tidak begitu menghiraukan kecacatan kecil pada gambarnya, sehingga colorist tidak perlu mengerjakan hal tersebut.  Pengalaman Stase Pengalaman pertama saya bekerja di Super 8mm Studio dimulai pada tanggal 14 April 2015 pukul 19.00 WIB. Sesuai hasil diskusi sebelumnya dengan produser studio, saya akan bekerja setiap jam 7 malam hingga selesai dari hari Senin hingga Kamis. Hari itu saya belajar tahap conforming bersama Mas Eko. Film yang kami kerjakan adalah BIMA-X Satria Garuda episode 32.  Di studio, semua perangkat kerasnya menggunakan produk Apple dengan pilihan software Final Cut Pro, Adobe After Effects dan DaVinci Resolve. Berhubung saya adalah seorang Windows user , maka saya sangat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperdalam pengetahuan saya tentang produk Apple.  Melalui Mas Eko, saya mengetahui bahwa film BIMA-X membutuhkan banyak sekali CGI dan hasilnya berupa gelondongan. Oleh sebab itu saya harus memilah-milahnya kembali agar saat coloring dapat dilakukan per shot , kecuali ketika satu shot ke shot lainnya memiliki transisi seperti dissolve , atau dip in white . Apabila terdapat transisi seperti itu, maka gelondongan tersebut tidak perlu di- cut .  Pada hari berikutnya, saya datang kembali pada pukul 7 malam, namun sedang tidak ada yang perlu dilakukan sehingga saya diajak Mas David, salah satu editor BIMA-X untuk melihatnya bekerja. Hari itu Mas David tinggal menempelkan hasil CGI yang telah dikerjakan tim special effects . Di hari lain, nantinya saya akan berkenalan dengan Ryan Harahap, sang CGI artist BIMA-X . Selain itu saya juga diajarkan manajemen data oleh Mas David.  Pertemuan-pertemuan berikutnya kegiatan saya masih sama saja, yaitu memperhatikan Mas David dan Mas Eko mengerjakan BIMA-X. Saya belum masuk ke tahap coloring karena biasanya tahapan itu dikerjakan pada pagi buta—sekitar jam 12 malam hingga jam 2 pagi—saat di mana saya sudah pulang dari kantor.  Pada tanggal 22 April, saya beruntung karena Mas Alex Sadewo berkenan mengerjakan coloring pada jam 7 malam, sehingga saya dapat ikut serta. Bersama mas yang murah senyum ini saya diajarkan cara menggunakan DaVinci Resolve untuk pertama kali dengan seperangkat hardware -nya yang bermerk Tangent Wave Studio. Menurut pengalaman Mas Alex, warna di televisi pada umumnya lebih bluish dan high contrast . Oleh sebab itu saya harus mempersiapkan warna BIMA-X lebih low contrast . Setelah diberikan tutorial singkat oleh Mas Alex, saya dipersilakan mengerjakan episode tersebut sendirian, namun tetap diawasi oleh Mas David di belakang, sementara Mas Alex pergi mengerjakan hal yang lain.  Sambil saya mengerjakan, saya menemui beberapa kesulitan mengangkat warna film BIMA-X karena materi saat itu sudah gelap dan grainy . Kalau saya paksakan untuk terang, nanti gambar filmnya akan pecah.  “Karena ini film untuk anak-anak, maka warnanya harus terang. Kalau kamu bikinnya gelap-gelap nanti anak-anak akan kesulitan membedakan para tokohnya,” ujar Mas David yang duduk di belakang saya. Berhubung saya kebingungan harus mengambil langkah apa, akhirnya saya memanggil Mas Alex dan menanyakan solusi beliau. Mas Alex pun mengutak-atik kembali shot-shot tersebut dan menyadari bahwa shot itu memang sudah pecah sejak awal, sehingga tidak bisa dipaksakan untuk menjadi terang.  Setelah merasakan coloring film BIMA-X , saya pun diizinkan Mas Pulung untuk mengerjakan projek yang lain. Saat itu ada dua anak magang lainnya yang mau menjadi colorist : yang satu berasal dari Institut Seni Indonesia Jogjakarta, sementara yang satu lagi dari SAE Sydney. Mereka berdua adalah senior saya, sehingga mereka yang nantinya akan membimbing saya secara langsung.  Hari itu, tanggal 23 April, saya berniat menginap di kantor agar dapat melihat seluruh proses coloring . Kebetulan ada projek yang harus dikerjakan, yakni film layar lebar Midnight Show . Awalnya Mas Pulung duluan yang mengerjakan dan membimbing kami bertiga. Setelah itu baru dikerjakan oleh para anak magang.  Berdasarkan permintaan sutradara, produser, dan sinematografernya, film Midnight Show ingin dibuat vintage dan mencekam pada adegan-adegan pembunuhannya. Mereka menggunakan referensi film The Shining (1980) karya Stanley Kubrick dengan mengaplikasikan warna kemerahan pada setiap adegan pembunuh inframe .  Malam itu, saya belajar lebih dalam lagi akan coloring dengan DaVinci Resolve, karena kebutuhan coloring dalam film layar lebar lebih banyak daripada film televisi. Saya belajar tentang sistem nodes , dan tombol-tombol baru pada hardware yang lebih besar dan advanced . Saya juga baru tahu kalau proses coloring umum dilakukan per reel . Biasanya setiap reel sekitar 20-30 menit, jadi satu film layar lebar akan memiliki 4 hingga 5 reel . Pembagian reel ini dilakukan agar komputer tidak perlu menahan beban terlalu berat saat menjalankan proses coloring .  Hari-hari berikutnya pekerjaan saya masih sama, namun proyeknya saja yang bertambah. Ada trailer film layar lebar yang berjudul Move On , dan sang sutradara ingin sekali warna filmnya memberikan kesan London (sementara lokasi syutingnya di Malaysia). Setelah diberikan permintaan seperti itu, Mas Pulung mencoba mewarnai film itu lebih kecokelatan dan mengangkat warna merahnya agar lebih merah, termasuk warna kulit para aktornya di- select secara khusus untuk dirubah menjadi lebih pinkish . Lucunya sang pemeran utama wajahnya berjerawat banyak sekali, sehingga Mas Pulung juga harus menghaluskan wajah tersebut sehalus mungkin.  Begitu pula ketika harus mengerjakan projek PSA, Mas Pulung dan Mas Alex harus menghaluskan kerutan-kerutan di wajah Maudy Koesnaedi agar terlihat lebih muda. Kerutannya tidak tanggung-tanggung, dari mata, hidung, mulut, hingga leher. Begitu pula dengan rambut dan giginya harus dibuat menawan. Sama halnya ketika bintang dalam PSA tersebut adalah Menteri Perhubungan RI, Ignasius Jonan. Skin tone , gigi, dan segala unsur fisiologis beliau harus terlihat menawan.  Memasuki bulan Mei, saya juga ikut mengerjakan film Pizza Man . Untuk film ini, request -nya adalah membuat warna kekuningan dan kemerahan, namun juga harus disesuaikan dengan situasi pada cerita.  Saya juga ikut preview setiap karya bersama sutradara dan produsernya, sehingga saya dapat belajar bagaimana cara menghadapi client dan memahami apa yang biasanya mereka inginkan. Bersama para senior-senior magang, saya juga belajar cara membuat credits title di Adobe Photoshop.  Suatu hari ada kejadian lucu saat mengerjakan Pizza Man . Tidak disangka salah satu shot di rumah sakit menampilkan penampakan sesosok putih. Kami yang mengerjakan jadi ketakutan semua, namun mencoba positive thinking dengan menganggap bahwa sesosok putih itu adalah bagian dari film. (Catatan: film Pizza Man bukan film horor, melainkan film komedi-romantis.)  Setelah melakukan preview dengan sang produser—Gandhi Fernando—di ruang tamu, beliau mengiyakan bahwa sesosok putih itu bukanlah bagian dari film. Bahkan mereka tidak tahu ada sesosok putih saat sedang syuting.  “Saya sih tidak percaya dengan hal-hal semacam itu. Tapi memang saat syuting saya tidak lihat apa-apa dan semua extras sedang berada di ruang extras ,” ungkap Gandhi saat saya tanya komentarnya akan sesosok itu.  Setelah melakukan preview , kebetulan juga sudah larut malam, hampir semua orang berkumpul di meja teras. Sementara di ruang tamu tadi hanya ada saya dan para senior magang dengan televisi masih menampilkan film Pizza Man yang sudah di- pause . Tiba-tiba film itu ter- rewind sendiri dan membuat kami panik. Padahal tadi sudah di- pause dan posisi remote berada di atas televisi, tanpa ada yang menyentuh. Kak Ningsih cepat-cepat mengambil remote dan menekan tombol pause , tak disangka terhenti tepat di adegan sebelum sesosok makhluk putih itu muncul. Kami langsung melihat satu sama lain dan lari mengibrit ke luar studio, ke tempat yang ramai.  Peran Posisi Kerja Terhadap Pekerjaan Lainnya  Tahap coloring pada umumnya dihitung selama satu bulan dan dapat diselesaikan lebih cepat dari jadwalnya, namun hal ini juga bergantung pada tingkat kesulitan setiap film. Ada film yang tidak banyak kesalahan warna, ada pula film yang membutuhkan treatment lebih dalam pewarnaannya. Setelah tahapan ini selesai, maka film akan memasuki tahap mastering dan siap dirilis.  Tahap coloring juga merupakan tahap penentu yang memperkuat emosi, nuansa, dan kualitas visual film. Apabila colorist gagal dalam mengeluarkan nuansa yang seharusnya terproyeksikan, maka film tersebut dapat memberikan impresi yang salah kepada penonton. Warna film yang baik juga akan membuat film terlihat lebih berkualitas dan mewah. Oleh sebab itu, seorang colorist harus berdiskusi dengan sutradara, produser, director of pohotography (DP) dan film editor agar memiliki visi yang sama.  Analisis Stase Berdasarkan hasil percakapan, diskusi, bekerja dan menonton para senior bekerja, saya telah mempelajari banyak hal—tidak hanya mengenai coloring —tapi juga mengenai pasca-produksi, khususnya di Super 8mm Studio.  Di sana, saya menyadari betul bahwa manajemen data sangatlah penting dan harus rapi. Pernah ada kejadian, Mas Alex berusaha mencari projek credits title karena ada revisi nama dan logo dan projek tersebut tidak dapat ditemukan. Beliau sudah membuka folder sana-sini hingga ke berbagai hard disk eksternal, dan rupanya projek tersebut ada, namun masih dalam format yang lama, yang belum direvisi sehingga ada beberapa komponen yang hilang. Karena manajemen data yang buruk ini, Mas Alex jadi harus membuat ulang projek credits title di Adobe Photoshop.  Saya juga belajar betapa pentingnya seorang editor untuk bisa fleksibel waktu dan bergurau saat menghadapi permintaan client yang aneh-aneh. Kadang, sutradara memiliki gambaran di otaknya, namun tidak dapat menjelaskannya dengan kata-kata yang tepat. Di sana, saya melihat betapa Mas David dan Mas Ryan berjuang keras menginterpretasikan hal tersebut untuk divisualisasikan. Apalagi ketika sutradaranya orang Jepang dan menggunakan pihak lain untuk mengartikan imajinasi yang ia maksud.  Sama halnya dengan coloring , kadang permintaan sutradara tidak terucapkan dalam kata-kata visual, sehingga seorang colorist harus kreatif dan berwawasan dalam mencari referensi warna.  Pernah suatu ketika seorang sutradara kerap kali mengatakan, “Biru,” namun tidak begitu jelas apakah persepsi yang ada di otak kami sama dengan yang ada di otaknya. Akhirnya dia menyebutkan referensi video, dan saya langsung mengunduh video tersebut untuk dijadikan referensi mewarnai. Sayangnya, kendala berikutnya adalah saat menyamakan skin tone , hal tersebut mustahil dilakukan karena referensi videonya menggunakan talent Kaukasia, sementara video yang kami kerjakan menggunakan orang Asia.  Dari berbagai kejadian tersebut saya menyadari bahwa ada keterbatasan yang bisa dilakukan oleh seorang colorist dan software -nya dalam membetulkan warna sebuah film. Oleh sebab itu sinematografer juga harus bisa mengatur white balance dan brightness yang tepat saat ia mengambil gambar.  Selain itu, saya melihat bahwa industri perfilman Indonesia belum begitu siap untuk mengikuti standar internasional. Sebab masih melewati beberapa hal yang seharusnya ada untuk memastikan semuanya tepat dan akurat, seperti contoh penggunaan digital slate untuk sinkronisasi by timecode , juga penggunaan color chart untuk acuan colorist melakukan color balancing otomatis.  Mohon diketahui bahwa karya tulis di atas merupakan buah pemikiran saya saat masih berusia 20 tahun, dan mungkin sudah tidak relevan lagi karena saya sudah tidak mengikuti perkembangan perusahaan terkait.

Let's connect on my social media!
  • Threads
  • Instagram
  • LinkedIn
  • YouTube
bottom of page