
Search Results
175 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Film Bakso Ngelawak
Admit it , semakin lama lo sekolah, pasti jadi semakin males! Itu yang kira-kira gue rasakan akhir-akhir ini. Entah kenapa, gue males gitu bikin film yang serius. Males risetnya, males ngambil gambarnya, dan berbagai alasan males lainnya. Mungkin, bukan cuma karena gue mulai "bosan," tapi juga karena mata kuliah dan lingkungan gue sendiri nggak menantang gue untuk bikin karya yang epic . Mungkin aja, ya kan? Jadi untuk tugas UAS Sejarah Kebudayaan Indonesia, gue dan kawan-kawan mendapatkan tugas membuat film yang membahas sejarah. Boleh sejarah suatu tempat, sejarah makanan, atau apapun, as long as it's about Indonesian history. Akhirnya gue memutuskan membahas bakso. Nggak penting ya? Ya, gue sengaja pilih itu karena gue rasa subjeknya mudah dicari dan syutingnya nggak ribet. Jadi deh, filmnya ngawur, kayak begini: Gue ngambil gambar dan video dari internet semua tanpa izin. Maaf ya... Males banget bikin sendiri. Terus gue bikin animasi dan ngedit sesuka hati gitu. Pokoknya kawan gue tau beres ajah. Abis mereka dimintain pendapat jawabnya iya-iya aja sih. Yauds, yang penting jadinya enak dilihat yah? Sekian post kali ini.
- AFS Workshop (Part I)
Acara workshop ini sinting ( in a good way ) sebetulnya. Hari pertama kami berkumpul di @America, Pacific Place jam 11:30 siang dan rupanya ada 5 universitas dari Jakarta yang terlibat, yakni IKJ, SAE, SSR, Binus dan UPH. Setelah pidato pembuka oleh beberapa orang penting yang berwenang atas acara ini, workshop pun dimulai dengan presentasi dari Richard Pearce dan Freida Mock, dan sebuah pemutaran film dokumenter berjudul "G-Dog". Gue excited sekali tentunya. Gue dan kawan-kawan sudah memperkirakan bahwa kami akan membuat film dokumenter, jadi gue bawa laptop dan temen-temen lain bawa kamera buat jaga-jaga. Rupanya, perkiraan kami memang benar tapi sedikit meleset. Kami kira tim berdasarkan universitas, tapi ternyata nggak! Kami diacak dan 1 tim bisa terdiri dari 4 universitas. Kelompok gue sendiri terdiri dari anak IKJ, Binus dan SSR. Kita disuruh bikin 1 film dalam 1 hari dengan syarat: berdurasi maksimal 3 menit , cerita bebas, lokasi hanya di sekitar Blok M, durasi syuting hanya 2 jam, dan film harus selesai besok pagi karena akan ditonton dan diskusi bersama. Sinting kan? Kita had no idea mau bikin cerita apa. Akhirnya kelompok gue memutuskan untuk membuat cerita.. nanti saat tiba di lokasi. Kita buru-buru ngacir dari Pacific Place ke Blok M. Sesampainya di sana, the nightmare begin! Kita tetap tidak punya ide mau bikin apa. Sutradara gue mengajukan ide membuat film tentang anak jalanan. Itu adalah awal yang bagus, pertanyaan berikutnya adalah, "Ada apa dengan anak jalanan? Apa yang mau kita bahas?" Sutradara gue jawab, "Kita tanyain cita-cita mereka apa." Oke, misalnya kita sudah syuting dan memiliki footage anak jalanan mengutarakan cita-citanya, terus kenapa? Kenapa penonton harus tau cita-cita mereka? Apa "cerita"-nya? Sutradara gue nggak bisa jawab, dan waktu terus berjalan. DP ( Director of Photography ) gue sempet cekcok dengan sang sutradara karena ide sutradara gue belum berbentuk cerita, belum ada konfliknya. DP gue juga nggak suka berurusan dengan anak kecil —apalagi anak jalanan— karena mereka itu suka susah diatur. K etika lo wawancara, belum tentu mereka mau jawab sesuai pertanyaan . Akhirnya terjadilah cekcok ringan antara sutradara dan si DP. Yang menang? Pak Sutradara. Karena kita nggak punya alternatif ide dan waktu untuk kelamaan mikir. Setelah 2 jam berlalu, kami kembali ke @America untuk preview stock shot ke Richard. Di saat presentasi ini, DP dan sutradara gue tried their best to explain what the movie were going to be and bullshitting about the shots. LOL. Itu kocak banget ketika they looked very cool dan Richard manggut-manggut padahal mereka berdua cuma sepak-sepik. Well, at least they were far better than me yang diem aja. Setelah selesai presentasi, semua kelompok pada ngumpul bareng buat ngedit. Sialnya, kelompok gue cabut semua, ninggalin gue. Ya sudah kalau begitu, saya juga pamit pulang untuk kerjain tugasnya di rumah TT_TT Gue, Kak Agni, Luthfi dan Juju sudah sepakat untuk menginap di hotel malam itu karena rumah kami jauh semua sementara besok harus pagi-pagi ke US Embassy. Akhirnya kita nginep di "Wow! Hotel", Mangga Besar ditemani kebisingan night club dan karaoke di seberang hotel. Dahsyat berisiknya sampai pagi. Oh, anyway hotel ini gratis karena kami dapat dana dari kampus untuk biaya transport ( yang kami alihkan jadi biaya akomodasi ). Mungkin gue harus akui bahwa... Malam itu adalah malam yang paling stressful buat gue. I had no idea about that movie. I had no idea mau disusun kayak apa footage yang sangat random itu. Stock shot gue cuma ada 4 anak kecil sebutin cita-citanya dengan kualitas suara terrible , lalu shot taman, air mancur, jalanan, simbol lalu lintas, dan bapak-bapak... Ditambah lagi jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan gue sudah sangat lelah. Sialan banget ya gue mesti kerja dari pra-produksi sampai pasca-produksi. Gue ngantuk, lelah dan bingung. Gue mulai frustasi. Akhirnya gue ngobrol sama Juju, "Ju, gue mulai dari shot yang mana ya?" Juju asal jawab, "Itu aja." dan pikiran gue tiba-tiba CLING! terinspirasi oleh telunjuk Juju, gue langsung mulai assembly. Kira-kira 2 jam lamanya gue otak-atik susunan film itu. Setelah selesai rough cut, baru gue fokus benerin suara, warna dan menambahkan judul serta credit title . HOPLA! Film gue pun selesai jam 3 pagi. Gue langsung export dan tinggal tidur. Bodo amat kalau ada salah, toh bukan lomba juga. Capek banget gue ngerjainnya. Jam 5 pagi, renderan selesai, gue copy ke flash disk , matiin laptop dan tidur lagi. Jam 7 pagi, Kak Agni bangunin gue nyuruh gue mandi. Jam 8 pagi, jalan ke US Embassy. Jam 9 pagi, nonton film "Inocente" sembari menunggu peserta lain yang belum datang. Jam 10 pagi, 3 kelompok masih sibuk ngerender film mereka, sementara kelompok gue dan Juju udah standby buat diputer. Hehe... Bersambung ke post berikutnya!
- Syuting di Bogor (Part II)
Atas ketidaknyamanan tidur terkekspos ( bisa dilihatin orang yang mondar-mandir ) akhirnya gue bangun dengan sendirinya jam 5 pagi. Jam segitu masih banyak yang tidur, meskipun banyak pula yang bangun. Gue balik tidur lagi, karena nggak tahu mau ngapain dan kawan-kawan seangkatan gue entah di mana. Terus si Rapa BBM gue: Rapa : Ci, lo kalo udah bangun, liat-liatin tuh udah mau mulai syuting apa belum ya! Gue : Iya. Sebentar, sebenernya gue agak heran, kenapa sih semua orang suka manggil gue cici, cece, atau nci? Gue jujur saja tidak suka, karena gue bukan kakak mereka. Gue kan seumuran dengan mereka, ngapain mereka manggil gue kakak? (Dalam Bahasa Mandarin: jie jie dibaca cye cye dan artinya kakak.) Coba deh, lo mau nggak gue panggil mbak atau mbok padahal seumuran? Anyway , sekitar jam 6 pagi akhirnya gue bangun dan mandi. Beberapa crew mulai dibangunin. Setelah mandi gue ngelatih Sam reading , soalnya dia jadi salah satu tokoh Jepang dalam film ini. Jam 7 pagi gue dan beberapa kawan ngobrol nggak jelas. Jam 8 pagi makan nasi pakai tempe dan telur dadar. Terus gue catet ulang rundown dari astrada 1. Gue cuma catet jadwal syuting para tokoh Jepang gue. Jam 9 pagi gue ngeliatin anak-anak kamera lagi ngerakit kamera mereka: kamera 5D dengan monitor kecil di atasnya dan lensa yang gede banget. Mereka nampak kesulitan merakitnya. Jam 10 pagi gue dipanggil senior untuk menemui pengganti Hiro: seorang bapak keturunan Tionghoa yang mukanya jauh banget dari wajah orang Jepang. Gue disuruh ngelatih bapak ini script reading . Damn! Dia beneran nggak bisa ganti intonasi dan logatnya. Bener-bener China tulen! Denger-denger sih dia baru ditemukan pagi ini setelah senior gue berkunjung door to door buat cari pengganti Hiro. Jam 11 pagi gue selesai latihan reading dengan Pak Fe ini. Berhubung scene dia baru akan syuting jam 5 sore nanti ( berdasarkan rundown yang gue colong dari astrada ), jadi gue suruh dia pulang dan balik lagi ke lokasi syuting jam 4 sore. Jam 12 siang talent-talent dari hotel bersama Rapa datang dengan mobil Avanza. Beberapa langsung makeup sementara beberapa duduk di sofa pendopo yang berantakan itu. Gue sempet melirik sutradara gue, berharap dia ngasih tau gue yang mana Kitamura. Soalnya kan semalam dia bilang mau ditemenin ngobrol sama Kitamura. Tapi ternyata sutradara gue asyik duduk di kursi panasnya, jadi gue dicuekin. Jam 1 siang gue sudah mulai akrab dengan para talent Jepang gue yang emang orang Jepang asli. Mereka bisa Bahasa Indonesia dan mereka banyak mengkoreksi script film ini karena Bahasa Jepang yang gue gunakan terlalu baku. Gue agak ngerasa malu gitu deh karena banyak salahnya. Oh iya setelah itu syuting ( akhirnya ) dimulai dan sutradara mengatakan pada semua crew , "Bla bla bla Mohon kerja samanya." dan hopla! syuting pun dimulai begitu saja tanpa ada doa maupun kata sambutan yang lebih bermakna. Jam 2 siang talent Jepang gue mulai bosan dan dia lihat jadwal yang gue catat, ternyata kami sudah ngaret berjam-jam. Dia terkejut. Jangankan dia, gue juga terkejut dan sumpah bosen banget. Gue sampe ketiduran di kursi sakingnya nggak tahu mau ngapain. FYI, job desc. gua sebagai asisten astrada 2 adalah mengatur speaking Jepang para talent dan memastikan akting mereka sebagai orang Jepang benar dan sesuai. Jam 3 sore, gue dipanggil senior lagi karena extras ( extras adalah pemain pendukung/figuran ) yang jadi tentara Jepang sudah datang dan mereka perlu dilatih reading . Bersama astrada 2, kami ngelatih mereka baris-berbaris dan berbicara seperti orang Jepang. Yang terpilih jadi tentara ini adalah anak-anak SMA Bogor. Lucunya, gue sempet denger senior gue ngedumel karena dia bawa extras lebih banyak dari yang dibutuhkan. Jadi beberapa dipulangkan dan akan dipanggil lagi besok. Jam 4 sore... Hujan deras mengguyur Cilendek. Gue sempet main-main ke lokasi syuting yang naudzubilah panas banget gara-gara ruangannya kecil dan lampu yang digunakan banyak banget. Terus gue sempet kumpul-kumpul informasi dari yang kru yang lain, kabarnya syuting hari ini harusnya mulai jam 7 pagi, tapi ngaret karena peralatan lampu dll. baru datang dari Jakarta. Oh iya! Karena keasikan ngurusin extras dan tidur, gue lupa kasih kabar ke Pak Fe kalau jadwal syutingnya molor. Gue buru-buru BBM dia, dan ternyata nggak ada sinyal ( Anyway, seharusnya yang menghubungi talent itu telko, bukan gue! ) Akhirnya gue telepon dia, tapi nggak diangkat... Dan dia sudah keburu tiba di lokasi syuting. Jadi senior langsung manggil-manggil gue, "Sil, Jepang lo dateng tuh!" Gue : Pak Fe, maaf ya, saya telat ngasih taunya. Syutingnya agak terhambat, jadi adegan bapak baru dimulai jam 7 malam. Bapak mungkin bisa balik atau nunggu lagi sampai jam 6 sore di sini. Pak Fe : Waduh, janjinya tadi pagi, terus sore, sekarang malam. Saya nggak bisa nih. Saya banyak kerjaan. Gue : Bentar ya, Pak, saya tanya atasan saya dulu deh. Gue karena belum paham hierarki dan siapa yang bertanggung jawab di sini, mencoba mendatangi sutradar dan astrada 1. Si astrada 1-nya lagi sibuk gitu, dan nggak bisa kasih kepastian jadwal syuting. Tiba-tiba ada senior yang lain nimbrung dengan nada tinggi, "Sil, gue nggak mau tau, pokoknya lo nggak boleh kehilangan Pak Fe! Gue yang udah capek-capek cari dia dari rumah ke rumah! Gue nggak mau cari lagi pengganti dia!" Anjir, kali ini mood gue beneran nggak bisa disemangatin lagi. Gue down . Gue stress. Gue kesel. Apa-apaan sih??? Kok gue yang disalahin? Bukan urusan gue dong kalau talent -nya nggak mau main film. Kok jadi tanggung jawab gue? Ya, sebenernya itu yang ada di otak gue, tapi berhubung gue pengecut dan takut sama senior, jadi gue iyain dan gue langsung balik ke Pak Fe minta maaf. Gue : Pak, syutingnya jam 7 malem dan kami nggak bisa cari pengganti lain. Gimana yah, Pak? Pak Fe : Duh, gimana yah... Yaudah deh saya usahain. Gue : Terima kasih ya, Pak. Nanti saya hubungi lagi kok sebelumnya. Saya janji nggak bakal telat kasih taunya. Akhirnya Pak Fe pulang hujan-hujanan... Jam 5 sore talent mulai mati kebosanan... Extras Jepang gue juga mulai bertanya-tanya, "Kapan saya syutingnya, Kak?" tapi karena mereka rame-rame dan saling kenal jadi suasana masih agak cair dan penuh tawa. Jam 6 sore, gue pastiin ke astrada 2 kapan syuting para Jejepangan gue. Dia bilang bentar lagi. Gila nggak sih? Nggak ada yang bisa kasih kepastian! Gue tuh butuh jam yang pasti bukan kata-kata ambigu macam, "Sebentar lagi," atau, "Nanti," atau, "Tunggu." Haish. Akhirnya gue bilang lagi, "Bang, talentnya mesti pulang jam 8 malam soalnya rumah dia di Depok." Baru deh setelah itu si astrada 2 bergerak, "Oke, Sil ini gue suruh mereka cut deh scene yang ini. Udah langsung pindah set aja ke scene si Jepang." Tapi sayangnya sutradara dan astrada 1 mana mau tiba-tiba di- cut kayak begitu. Mereka cuma bisa tawarin pilihan set markas Jepang sudah standby lighting -nya. Jadi setelah syuting yang ini selesai, kamera langsung pindah set dan Jepang-Jepang bisa syuting. Tapi gue yakin, seyakin-yakinnya syuting Jepang nggak bakal mulai jam 7 malam. Pasti ngaret lagi. Jadi gue tanya ke astrada 1, "Tinggal berapa scene di set yang ini?" Astrada 1 : Tinggal sedikit kok. Gue : Berapa shot ? Astrada 1 : Satu shot . Gue nggak percaya sama jawaban dia. Jadi gue baca sendiri skenario dan mencoba menerka-nerka kira-kira scene mana aja sih yang bakal syuting di set ini. Lalu gue coba tanyain lagi ke astrada 1. Gue : Scene ini udah disyutingin? Astrada 1 : Belum. JDYAR! Udah deh cukup tau aja. Gue yakin syuting nggak bakal selesai cepat. Akhirnya gue bersama astrada 2 meyakinkan diri bahwa scene markas Jepang pasti baru mulai jam 11 malam. Jahatnya kami, ada percakapan seperti ini: Astrada 2 : Sil, lo bilang aja ke talent . Suruh mereka siap-siap, syuting jam 09:30 malam. Gue : Yakin, Bang? Astrada 2 : Udah, nggak apa-apa. Bilang aja gitu, biar mereka nggak pulang. Gue : Jadi gue bohongin mereka, Bang? Astrada 2 : Buruan. Sebagai junior yang nurut dan bersikap nggak tahu apa-apa, gue kasih tau ke semua talent dan extras kalau mereka syuting jam 09:30, terus Pak Fe juga demikian. Ketika Pak Fe datang, langsung gue bawa ke ruang makeup , terus anak yang mau pulang ke Depok itu pun pulang tapi dia minta temennya dateng gantiin dia. Nama dia Kejo dan dia bener-bener cowok yang bertanggung jawab yah, karena dia masih mau cariin pengganti buat kami syuting. ( Yang nantinya setelah gue ketahui, nggak ada pengganti pun nggak apa-apa karena memang kelebihan extras . Jadi agak sia-sia dia suruh temennya datang. ) Karena gue pengecut dan gue takut berinteraksi lebih lanjut dengan para talent dan extras yang kesel menunggu, gue kabur ke lokasi syuting. Gue nongkrong aja deh di situ meskipun nggak ada kerjaan juga. Gue sempet lihat tuh pas lagi syuting, mendadak talent yang masih umur 5 tahun nangis minta pulang sama mamanya. Terus beberapa crew berusaha menenangkan, tapi malah bikin situasi makin runyam. Akhirnya semua orang yang nggak penting disuruh keluar karena bikin si anak kecil makin stress. ( Ya iyalah ya masih kecil udah disuruh kerja dari jam 12 siang sampe jam 10 malem. ) Setelah anak itu mau dibujuk syuting lagi, masalah berikutnya adalah menenangkan talent dan extras Jepang yang kepengen pulang dan capek menunggu. Bayangin mereka duduk di tempat yang berantakan, nggak nyaman, nggak ada kerjaan, nggak ada hiburan dan tiba-tiba mati lampu! Gue sangat paham kok perasaan mereka. Tapi apa yang harus gue perbuat? Bukan gue yang bertugas mengatur jadwal dan ditambah lagi: gue apa sih di sini? Gue cuma anak bawang yang kebetulan bisa Bahasa Jepang dan bisa bantuin translate . Kalau gue nggak bisa Bahasa Jepang, gue yakin gue nggak bakal diajak syuting. Akhirnya syuting di markas Jepang dimulai jam 11 malam dan tetep ngaret lagi karena anak artistik baru ngedekor ruangan tersebut. Tapi meskipun para aktor dan crew awalnya ngantuk, kami langsung terbangun dan terpesona oleh akting Suzuki-san saat rehearsal di ruangan. Sebelum keterpesonaan itu, gue sempet panik karena astrada 2 mendadak nyuruh gue mengatur blocking semua extras dan talent Jepang ( Sebenarnya emang itu jadi tugas astrada 2 dan asistennya, cuman gue nggak dikasih floor plan . Jadi gimana cara gue tau ngatur blocking ? ) Tapi sekalipun banyak hal mendadak yang mereka minta gue kerjain, gue tetep kerjain tugas gue dengan semaksimal dan sedetil mungkin. Malam itu syuting terus berlangsung sampai pagi. Bener-bener semua kekuatan crew dan talent dikerahkan semaksimal mungkin. Gue sampe heran sendiri, kami ini nggak dibayar loh, kok sutradara nggak ada sih cuap-cuap atau basa-basi sedikit bilang, "Semuanya, kita syuting terus ya, maaf ya. Gue mohon bantuan kalian, karena bla bla bla..." Gue berasa romusha . Berasa tenaga gue nggak berharga oleh si sutradara. Gue berani bilang loh jadi sutradara macam dia itu enak bener. Tinggal duduk depan TV terus bilang action sama cut . Lo bandingin tuh sama yang mesti ngangkut kamera, lighting , yang mesti ngecat, dll. Itu kerjanya dahsyat capeknya. Nggak bisakah dia bilang terima kasih? The Next Day Jam 7 pagi gue give up dan kabur cari kasur. Gue nggak peduli lagi. Gue juga kan nggak dibayar, jadi kenapa gue harus bertahan kerja 24 jam? Gue ngerti banget kalau semua orang kelelahan dan beberapa sudah tertidur di lokasi syuting. Eh, gue jadi inget ada Yudi yang ketiduran di sofa dan ngorok kayak kodok. HAHAHAHA... Anak-anak pada ngerjain dia, sakingnya dia nyenyak banget tidur! Jadi mulutnya dilakban hitam dan pipinya digambar penis . Herannya, Yudi tetep awet tidur ngorok! Oh ya, gue nemuin kamar dengan kasur tanpa sprei gitu. Karena di kamar itu gue lihat ada 2 temen akrab gue, jadi gue ikutan tidur di situ. Terus udah deh, dengan demikian berakhirlah kisah syuting Bogor day 1 ! Baca post berikutnya buat tahu kelanjutan syuting di Bogor!
- Syuting di Bogor (Part IV)
Kisah sebelumnya: gue dan astrada 1 saling maaf-maafan dan tertidur di kamar, sementara si sutradara main game sepak bola di laptop. Jam 5 sore gue bangun, kamar mulai agak gelap, hujan masih turun membasahi Bogor. Ternyata yang tidur di sebelah gue bukan lagi astrada 1, melainkan astrada 2. Kaget gue. Hahaha... Gue langsung bangun dan pergi ke luar. Banyak orang sedang tertidur di lantai, kursi, atau pun duduk mengobrol santai. Tiba-tiba HP gue berdering, gue angkat, ada suara astrada 1 di telepon. Astrada 1 : Ce, gue ambil kertas catetan lo pas tidur tadi, sorry ya. Gue pinjem dulu ya. Gue : ( berpikir sejenak... ) Oh iya ya, pantas hilang. Ya udah. Lo di mana? Astrada 1 : Gue udah di Gunung Salak. Boleh tolong bawain HP gue yang lagi dicharge nggak nanti? Sama tolong cariin kertas-kertas gue yah. Gue lupa taruh di mana. Setelah telepon itu, banyak orang perlahan bangun dan merapikan raut wajahnya. Semua orang nampak kelelahan dan mulai bertanya-tanya, "Kapan kita ke gunung? Kapan kita mulai syuting lagi?" Namun tak ada yang bisa menjawab. Tiba-tiba salah seorang telko ( talent coordinator ) menghampiri gue, "Ce, di mana talent gua???" Dan gua yang baru bangun itu juga bingung mau jawab apa. Tapi kalau dilihat-lihat memang semua talent , kecuali talent prajurit sudah hilang. Mungkin mereka sudah ke gunung bersama telko satunya, pikir kami. Sore itu benar-benar terasa ajaib. Ya, ajaib. Kamu tidur dan tiba-tiba HAP! Berbagai orang lenyap begitu saja. Sutradara, astrada 1, talent dan beberapa jajaran atas sudah pergi ke Gunung Salak tanpa berpamit pada kami semua. Bahkan produser, astrada 2 dan gue pun tidak diberi tahu. Yang gue lebih sebelin lagi, kenapa talent prajurit ditinggal? Padahal peran mereka juga banyak di gunung nanti. Saat itu gue bener-bener pengen pulang karena udah nggak betah lagi. Gue benci ketidakpastian. Gue benci tidur di kasur busuk yang tidak beralaskan sprei. Gue lelah, ingin tidur, ingin pulang ke kos. Tapi, gue nggak tahu caranya pulang dari Cilendek. Dan pulang artinya lo lemah. Gue mengalami dilema hebat. Jam 5.30 sore kami diberi makan. Gue ngumpul sama beberapa kawan bergosip ria dan berevaluasi. Ya, gue sebagai anak cecunguk angkatan 2012 pasti bertanya-tanya, "Syuting ideal itu seperti apa sih? Sebenarnya job desc. saya itu apa sih?" Pertanyaan-pertanyaan ini gue ajukan ke senior, dan mereka menjawab menurut versinya masing-masing. Sekitar jam 6.30 , mobil tronton datang. Hampir semua crew dipepet-pepetin biar muat di dalam mobil itu. Segala properti seperti sepeda, dan boks-boks besar juga dipepetin. Gue nggak terbayang yang duduk di dalamnya... Apakah bisa bernapas? Apakah bisa bertahan naik gunung dengan mobil tronton begitu? Apakah hujan akan berhenti mengguyur kami? Untungnya gue diselamatkan Kak T, gue ditawari duduk di mobil jeep. Meskipun gue hampir mau muntah juga di mobil itu, tapi seenggaknya suasana di mobil jeep jauh lebih manusiawi daripada di mobil tronton. Bebas air hujan, nggak terlalu sempit, pakai AC dan... bisa ngobrol santai! Sayangnya, yang nyetir mobil nggak inget jalan dan kami sempat nyasar sana-sini. Kami stop dulu di minimarket untuk membeli makanan. Gue so pasti beli Biskuat cokelat. Gue cinta biskuit ini. Jam 8 malam, kami tiba di Gunung Salak. Mobil tronton belum juga tiba, dan gue semakin kasihan membayangkan mereka melewati jalan terbal sambil memeluk tas, sepeda onthel dan boks besar. Entah kenapa gue bersyukur banget diizinkan Tuhan naik mobil jeep dan boleh beli Biskuat cokelat. Setelah turun dari mobil, gue langsung meletakkan tas gue di kamar talent . Sebenernya ada tenda khusus buat crew , tapi gue baru tau tenda itu eksis setelah besok pagi. Malam itu Gunung Salak sangat gelap dan penerangan hanyalah dari pondok bambu, tempat para talent berkumpul. Jam 8 lewat, hujan deras, gua masih mual karena perjalanan terjal tadi, jadi gue pesen teh manis hangat. Ini adalah obat ampuh untuk menangkis masuk angin. Sayang, rasa tehnya agak aneh, tapi yaudalah. Gue langsung menuju ke lokasi syuting di hutan naik motor sama Bang B. Dalam perjalanan, ada percakapan bodoh di antara kami. Bang B : Sil, lo jadi apa sih? Telko? Gue : Bukan, Bang, saya asisten astrada 2. Bang B : Oh. Sunyi. Hanya terdengar deru motor dan senyapnya hutan belantara. Bang B : Sil, lo takut nggak kalau gue tinggalin di sini? Gue terdiam. Gue lihat sekeliling hutan, tentu gelap gulita. Hujan rintik-rintik. Penerangan cuma dari lampu motor dan udara begitu dingin. Gue : Jangan, Bang. Saya takut... Bang B : Gue tinggal yah? Gue : Bang.... Jujur aja ye, gue baru kenalan sama si Bang B di gunung itu, pas lagi naik motor. Kedua, gue nggak pernah liat mukanya saking gelepnya. Ketiga, pikiran gue melayang-layang ngawur, "Jangan-jangan Bang B ini... syaiton?!" Untungnya sih dia cuma bercanda dan gue nggak ditinggalin. Jam 9.30 sesampainya di lokasi, gue melihat banyak crew dari mobil tronton sudah tiba dan sedang mempersiapkan lighting dll. Lewat radio HT, gue berkomunikasi dengan astrada 1. Gue ditugaskan menjaga para talent di warung, sementara astrada 1 dan 2 mempersiapkan lokasi syuting yang jaraknya agak jauh . Ketika gue baru saja dikenalkan dengan para talent ibu-ibu dan anaknya, tiba-tiba astrada 1 memberikan aba-aba, " All crew standby , jam 10 syuting dimulai." Spontan, banyak crew menggerutu, "Gila apa dia? Ini aja udah jam 9 lewat, orang baru nyampe langsung syuting." Bagi gue, keputusan astrada 1 ini memang tidak bijaksana sama sekali. HARUSNYA ADA BRIEFING DULUUU!!! Lo bayangin deh yang baru naik mobil tronton empet-empetan, tiba-tiba langsung disuruh syuting. Taruh tas aja nggak tau di mana, mau kencing di mana? Simpen properti di mana? Tiba-tiba disuruh standby syuting. Oh ya, tambahan, hujan masih turun rintik-rintik. Sempet ngaco pula soal jumlah talent yang dibutuhkan. Talent yang tersedia ada 12 ibu-ibu dan 12 anak-anak, ternyata yang butuh syuting hanyalah 12 ibu-ibu dan 3 anak. Dan lo tau mereka udah standby dari jam berapa? Jam 7 pagi. Anak-anak kecil itu bolos sekolah demi syuting hari ini. Sia-sia bingiiittsss yang dipanggil cuma 3 anak kecil! Menangis. TT_TT Salutnya, para warga Gunung Salak ini, terutama ibu-ibunya sangat antusias untuk syuting. Mereka rela nungguin sampai selesai ( sekitar jam 3 pagi ). Anak-anaknya nggak ada yang sedih atau pun rewel meskipun namanya nggak dipanggil untuk syuting ( syukurlah! ). Tapi malam itu gue kerja dobel: jadi telko dan astrada 2. Gue yang mempersiapkan talent , meneruskan perintah dari atasan ke departemen lain, mengarahkan blocking , memanggil talent , mengantar talent , mengucapkan terima kasih, dan seterusnya. Soalnya kami kekurangan telko. Seriously , kalau talent lo ada lebih dari 10, lo butuh lebih dari 2 telko. Hal apa sih yang membuat talent dan extras bahagia selain honor/gaji? Tentunya selain wajah dia masuk kamera dan dapet makan gratis, ada kelegaan ketika diucapkan terima kasih. Hal ini yang gue nggak lihat dari sang sutradaranya. Dia cuma pikirin talent utama. Sementara extras dia terbengkalai total. At least he should say, "Thank you." Tanpa extras , film dia nggak akan jadi apa-apa. Jam 3 pagi syuting selesai dan semua orang kembali ke pondok. Pak sutradara nggak ada sama sekali menghampiri extras dia untuk say thanks . Dia langsung pergi entah ke mana. Hujan semakin deras dan mobil tidak mampu membawa semua orang. Jadi gue dan beberapa crew tertinggal di warung. Penerangan menjadi gelap gulita tanpa peralatan lighting tadi. Suasana semakin sunyi senyap karena para extras ibu & anak sudah pulang ke rumahnya. Kemudian bapak-bapak genset menghampiri kami di warung untuk meminjam uang. Dia bilang bensin mobilnya habis dan dia mau beli bensin curah di dekat sini. Saat itu nggak ada yang mau pinjemin dia uang. Gue sebenernya punya uang, tapi apakah bapak ini benar-benar pinjam untuk bayar bensin atau untuk menipu kami? Bersambung ke Syuting Bogor Part V!
- AFS Workshop (Part II)
Terdapat 5 film dokumenter pendek yang akan diputar pagi ini di U.S. Embassy bersama Richard Pearce sebagai mentor. Salah satu dari film itu adalah film kelompok gue yang berjudul Pathways . Gue belajar banyak sekali dari pengalaman menyelesaikan quest: making a film in a day with strangers ini. Pertama gue belajar menahan emosi. HAHAHA... Iya, menahan emosi kepada teman yang ngawur, dan menahan emosi ketika harus mengedit film yang nggak jelas tapi harus jadi jelas . Kemudian gue juga belajar lebih banyak lagi soal menangkap momen nyata yang nggak bisa diulang. Gue juga belajar dampak musik terhadap film itu sangat besar. Wow. Lalu, gue belajar bangga menjadi mahasiswa Institut Kesenian Jakarta karena pendidikan teori dan prakteknya berjalan beriringan, sehingga kampus ini menciptakan mahasiswa yang nggak cuma pinter ngomong, tapi juga bisa eksekusi. Gue melihat beberapa mahasiswa dari kampus lain belum berpengalaman gitu, jadi kerjanya lebih lambat. Hehe... Okay, quest berikutnya! Siang itu U.S. Embassy bakal provide bus untuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa . Di sana kami harus membuat 1 film lagi yang terdiri dari 1 shot tanpa editing sama sekali, tapi harus mengandung cerita 3 babak. Durasi syuting lagi-lagi 2 jam dan DP gue hari ini nggak masuk! Kelompok gue nggak ada kamera! Alamak!!! Setelah mencari pinjaman kamera ke sana-kemari, akhirnya kelompok gue memutuskan untuk memakai handphone si produser. Hasilnya nggak buruk sih, cuma nggak bisa diatur fokus, apperture , dan shutter speed . Tapi yasudahlah, toh hanya diputar di TV biasa... Nah, gue mau cerita nih! Pas syuting di Pelabuhan Sunda Kelapa , gue merasa terganggu dengan kehadiran dosen dari salah satu universitas. Oh sebentar, coba saya jelaskan dulu awal mulanya. Ada 5 universitas yang terlibat dalam workshop American Film Showcase di Jakarta, salah satunya kampus gue. Nah, setiap universitas wajib mengikutsertakan 4 mahasiswa. Lucunya ada beberapa universitas yang mengikutsertakan dosennya! Ini menarik, karena dosen-dosen ini jadi nggak ada kerjaan. Lah kan ini workshopnya mahasiswa, kenapa ada dosen ikut-ikutan? Jumlahnya juga jadi nggak genap lagi. Akan sangat curang bila satu kelompok memiliki dosen—orang yang kita anggap sudah master , ya kan? Akhirnya para dosen ini diminta memperhatikan saja semua kelompok . Tapi ya sudah pasti nggak mungkin terjadi dong. Mana mungkin dosen ini mau memperhatikan kelompok yang nggak ada mahasiswa dia. Dia pasti meratiin anaknya doang dan hal itu terjadi di kelompok gue. Gue sebel ( agak banget sih ) karena dosen ini jadi nempel di kelompok gue dan banyak ngatur, misalnya ketika kami mau berjalan ke ujung Pelabuhan Sunda Kelapa: "Kalian ke sana buat apa? Nggak ada apa-apa lagi. Sama aja." Padahal ada banyak hal menarik kok. Gue kan udah sering ke PSK. Ingat nggak post gue yang lama tentang PSK? Ketika kami sedang berpikir mencari subjek gambar, "Ambil aja semuanya. Jangan dipikirin terus. Jangan ditungguin. Nanti kalau udah banyak kan tinggal dipilih." Paham gue, tapi nggak gitu juga konsepnya. Sabar dulu. Ini kebanyakan ngambil shot juga mau bikin apaan? Tugas dia itu cukup memperhatikan supaya kami nggak kenapa-napa. Jangan jadi ikut melarang dan mengatur. Gue nggak suka ketika dia mulai ikut campur menentukan arah kami berjalan. Kedua, ( ini puncak kekesalan gue ) dia mengambil kamera kelompok gue dan mulai merekam apa yang menurutnya bagus. Ini super ngeselin. Hello? Ini workshop mahasiswa, kenapa jadi situ yang pegang kamera? Terus kami mau belajar apa kalau kesempatan belajarnya direbut dia? Biarkan mahasiswa berbuat kesalahan. Toh workshop ini bukan lomba, it's time for us to learn! U dah deh gue bad mood banget. MALES BANGEETTT... Rasanya pengen cepet pulang aja. Kira-kira jam 5 sorean, bus mengantarkan kami menuju Cafe Batavia di Taman Fatahillah . Yeay! Kami akan ditraktir makan malam enak (setelah 2 hari ini cuma dikasih kebab Turki Baba Rafi). Setelah menonton ulang film hasil syuting hari ini dan dikomentari berbagai hal, kami memulai acara makan malam dengan aba-aba, "Setiap orang dikasih budget Rp100.000,00 ya!" dan gue serta Luthfi langsung kalap. HAHAHA... "Ayo Cil, cari yang mahal..." kata Luthfi sambil membolak-balik lembaran menu bersama gue. Gila ini gue ngakak banget. Terus akhirnya dia pesen blackpepper beef steak , sementara gue udang apaan gitu deh. Mahal banget Rp85.000,00 Belum puas memesan makanan, kami tanya ke mahasiswa di seberang kami, "Eh lo pesen apa?!" Terus dia jawab, "Kwetiau." Dan kami langsung ketawain dia seraya berkata, "Ahaha... pesenan lo payah ah. Kita dong, beef steak !" Terus mahasiswa itu cuma bisa tersenyum sepet-sepet karena gue dan Luthfi keasikan ketawa sendiri. Najong bangetlah pokoknya. Kita berdua songong nggak jelas. Menurut gue, bagian terindah dari workshop ini adalah ketika makan malam. Di sini akhirnya kami bisa melepaskan lelah dan bersenda gurau. Nggak ada lagi panas-panasan, nggak ada lagi yang cekcok, dan nggak ada lagi yang sok hebat (kecuali gue dan Luthfi perkara makanan tadi). Semuanya ketawa bareng, bercanda, ngelucu, dan main teka-teki klasik kayak, "Apa bahasa Jepangnya gajah terbang?" dan kemudian suasana pun hening krik krik krik... Sekian deh cerita gue mengikuti workshop lucu di masa kuliah. Sampai jumpa di post yang akan datang!
- Apa Kabar Ekskul Filmmaking?
Masih ingat gue pernah cerita soal gue bikin ekskul? Wah, kalau lo nggak ingat atau nggak tau, gue ceritain lagi nih: suka duka menjadi guru ekskul Filmmaking . Kalau ditotal, gue udah mengajar selama 1 semester lebih. Sekarang memasuki semester 2 dan murid gue dari 40 orang sampai tinggal belasan. Hahahaha... Seriously yang masuk kelas itu kayak cuma 10-15 orang. Ke mana sisanya? Yeah, they probably got bored and realized, "This is not my life!" or maybe gue sebagai pengajar yang cukup membosankan. :p Ternyata menjadi guru itu nggak gampang. Kesulitan pertama adalah membuat kurikulum, kemudian membuat modul, dan melaksanakan itu semua! Mengenai kurikulum, gue ngikutin cara belajar di kampus, khususnya di kelas Workshop Visual dan Penyutradaraan I . Kalau modul, gue bikin berdasarkan buku-buku PDF hasil rampok Juju. Referensi buku gue itu " Sinemagorengan" karya Mas Kusen Doni Hermansyah dan beberapa catatan yang gue dapat di kelas Editing I dan II -nya Mas Danu Murti. Mereka semua orang yang pemikirannya terorganisir; ada mind-mapping yang jelas untuk disampaikan ke murid. Makanya gue ikutin cara mereka :D Kesulitan berikutnya adalah melaksanakan program kerja yang sudah gue buat. Kadang beberapa hal was too detailed and boring for them , jadi gue terpaksa hapus dan menggantinya dengan hal lain. We all have to agree that an extracurricular has to be fun and more exercises rather than theory, theory, and theory. Tapi akibat dari mengurangi kelas teori, mereka jadi nggak tau esensi yang mereka kerjakan itu buat apa dan kenapa. Yah terkadang ini menjadi dilema buat gue. But, anyway! Gue tetep bersemangat mengajar karena memasuki semester 2 ini kami masuk ke tahap Pasca-Produksi. Di tahap ini gue bakal ajarin caranya ngedit suara dan gambar pakai software Ulead Video Studio Pro 11. Ini software cocok buat pemula dan tidak membutuhkan spesifikasi yang terlalu tinggi. Jadi lab komputer di lantai 3 SMPK Sang Timur, tempat gue mengajar bisa menggunakan software ini. Pada akhirnya, gue senang sekali bisa mengajar dan tetap punya murid hingga hari ini. Dan mengajar itu meskipun susah, bikin deg-degkan, tapi tetep seru. Gue senang bisa berbagi ilmu, dan mengajarkan orang untuk menjadi lebih pintar. Oh ya, Rabu, 5 Februari 2014 lalu banjir besar di Jakarta Utara sampai area Cempaka Putih, sekaligus mati lampu hampir 12 jam. Gue yang tadinya mau belanja DVD kosong di Mangga Dua, jadi terjebak seharian di kosan. Sekian post hari ini.
- Honest Review Semester 2 di IKJ
Pertama-tama sebelum gue menuliskan kisah yang nggak enak selama kuliah di semester 2, gue minta siapapun yang baca ini harap membaca dan menanggapinya dengan bijaksana. Bagi siapapun yang merasa dirinya dibahas di sini, gue nggak ada niat menghina. Tolong terima ini sebagai kritik dan masukan yang konstruktif. Hanya ingin mengutarakan dan berharap ini bisa jadi motivasi buat kita semua menjadi lebih baik. Persoalan Pertama Tentunya di manapun dan siapapun pasti nggak sempurna. Sehebat apapun, pasti ada cacatnya. Nah, berdasarkan pengamatan gue berkuliah 2 semester ini, dosen gue banyak banget yang suka dateng telat . Gue tahu, gue harusnya lapor aja ke siapa gitu yang berwewenang di kampus buat menanggulangi soal keterlambatan ini. Tapi jujur, gue nggak tahu mesti lapor ke siapa. Dan lo tahu banget kan orang Indonesia itu kayak apa? Alih-alih didengarkan, biasanya gue malah dianggap banyak cincong: dosen telat aja dimasalahin; nnggak nyantai banget; ribet. Padahal, ini masalah besar. Ya, besar. Coba lo bayangin setiap harinya mesti nunggu dosen lo dateng antara 30-60 menit. Padahal dalam kurun waktu segitu, lo bisa tidur dulu, leha-leha, ataupun ( kalau rajin ) belajar! Sekarang dalam sehari lo punya 2-3 kelas. Berarti kira-kira berapa jam waktu lo terbuang untuk menunggu? Bisa sampai 2 jam! Dua jam itu lama loh. Dalam 2 jam itu lo bisa belajar 2 SKS. Terbukti kan betapa ruginya kita gara-gara orang penting telat dateng? Gue baru bahas soal rugi waktu. Gue belum sampai ke rugi secara finansial. Sebagian besar mahasiswa emang dibiayain kuliahnya sama orang tua. Gue juga dibiayain. Tapi gue nggak lepas tangan begitu aja. Setiap jam yang terbuang gara-gara nunggu dosen itu sebenernya rugi banget buat orang tua kita. Seharusnya lo peduli soal itu, kalau lo tahu susahnya cari uang. Kita udah bayar jasa dia mengajar, tapi yang kita dapet cuma apa? Nggak ada. Waktu kebuang, duit kita juga jadi sia-sia. Persoalan Kedua Menurut gue dosen-dosen di kampus gue itu hebat-hebat. Sayangnya beberapa sudah terlalu tua untuk mengajar, sehingga suaranya sulit didengar, dan jadi suka temperamen. Gue nggak yakin sih yang temperamen itu karena memang sudah tua atau memang strategi mengajarnya seperti itu. Tapi menurut gue, apapun alasannya, being a temperament doesn't help in teaching. Memang jadi dosen itu nggak gampang coy . Gue nggak bisa menyalahkan negara gue karena kekurangan tenaga ahli untuk menjadi dosen berkualitas, soalnya jadi dosen itu susah! Pertama lo (seharusnya) minimal S2 dan harus siap dengan gaji yang tidak memuaskan. Tapi ngomongin gaji, kayaknya semua orang dari bidang apapun nggak akan ada yang bilang puas. Iya nggak sih? Nah, gue cukup kecewa karena beberapa dosen, menurut gue nggak kompeten mengajar. Di semester 2 ini, banyak dosen hebat yang sibuk , jadi kami lebih sering dididik sama asisten dosennya. Gue jujur aja nggak masalah, soalnya asdos kan lebih muda, jadi lebih lincah, suara juga masih lantang, masih enak dengerinnya ( btw, ada juga sih dosen yang meskipun tua tapi masih lantang suaranya ). Tapi kalo asdosnya ajaib juga... Aduuhh... Lo bisa bilang gue grammar nazi , dan ada satu asdos yang gue gemes banget pengen benerin pronunciation sama spelling -nya karena dia sembarangan banget! Hey, seriously this is an institution! Masak pake Bahasa Inggris seenak jidat! Udah gitu, gue suka bertanya karena pelajarannya terasa nggak jelas buat gue. Ya, gue butuh kejelasan makanya gue bertanya. Tapi ketika bertanya, gue sering dijawab dengan ketus. Jadi waktu itu gue nanya, "Pak, apakah modelnya sama seperti X?" Lalu beliau menjawab, "Siapa yang bilang seperti itu? Kamu tau itu dari mana? Kasih tau saya siapa yang bilang seperti itu." WOW! Gimana gue nggak merinding tiba-tiba gue disuruh mempertanggungjawabkan pertanyaan gue sumbernya dari mana. Ya, gue bertanya karena tidak paham, jangan gue disuruh mempertanggungjawabkannya dong. Kalau temen sebelah gue tau jawabannya juga gue pasti tanya temen gue. Masalahnya tak satupun temen gue yang menjawab dengan yakin, makanya gue tanya si dosen. Berikutnya ya, ada lagi dosen yang selama 1 semester itu dia cuma kasih kita 2 tugas, dan tugas itu yang menjadi pelajaran kita selama 1 semester. Gue sangat kecewa sih. Oh, c'mon I only need a month to finish it. Sisa 5 bulan mau diapain? Berasa sia-sia gua bayar kuliah. Gue sangat berharap si dosen berbagi pengalamannya saat bekerja. Gue berharap dia menjelaskan bidang ini ngapain, bidang ini kayak apa, bidang ini di Indonesia prospeknya gimana? Bidang ini butuh apa? Dan gue nggak pernah bisa jawab pertanyaan itu sampai akhirnya si dosen kasih kertas fotokopi dari buku Bahasa Inggris. Dia minta kita translate tulisan itu dan pelajari, karena soal UAS keluar dari situ. Dan dia nggak jelasin apapun. Murni, kita disuruh baca secara mandiri. Bersyukurlah gue karena bisa Bahasa Inggris. Jadi gue nggak ada kendala men- translate -nya. Terus gimana temen gue yang nggak bisa Bahasa Inggris? Buat gue ini konyol. Kenapa nggak si dosen memanfaatkan at least 1 month from that wasted 5 months to explain that paper? Kenapa sih selama 6 bulan itu cuma dihabisin buat dapetin ACC ( accoord atau persetujuan) tugas? Setiap hari gue datang, gue cuma minta ACC untuk lanjutin tugas gue. Berhubung tugas gue selesainya cepet, sisa-sisa hari gue cuma dateng nontonin temen gue dimarahin karena tugasnya salah. Hari-hari berikutnya gue juga kena marah karena dianggap egois, tidak mau menolong teman-teman kuliah. Lah? Dosennya bilang bahwa kami harus kompak dan saling tolong menolong. Sedih banget gue sama persoalan ini. Kenapa ini jadi tanggung jawab gua? Gua aja kerjain tugas nggak ditolongin siapa-siapa dan nggak marah ke siapapun. Kenapa gua jadi harus menolong orang yang bahkan tidak minta pertolongan gua? Kalau mereka minta tolong diajarin, gue mau bantu kok. Tapi tak satupun dari mereka yang minta tolong. Emang rata-rata hobinya ngerjain pas udah mepet waktu. Kalau harus gue yang proactive menawarkan bantuan, wah gue sangat tidak setuju. Yang butuh nilai kan dia, bukan gue. Harusnya dia yang aktif minta bantuan dong, bukan gua. Masak dia yang kuliah, gue yang kena marah dosennya. Tapi namanya bicara sama orang yang lebih hebat, kita yang kecil pasti salah dan nggak pernah benar. Yaudah gue cuma bisa tulis di sini. Jadi senior gue sempet bilang, "Kalau mau belajar, jangan mengharapkan kampus, Dek. Kampus itu cuma sekian persenlah." Hmm... Dia sangat benar soal itu. Ada sih dosen dan asdos yang ngajarnya bagus banget. Mereka ada. Namun mereka hanya hitungan jari dari total pengajar. Kebanyakan emang lo harus belajar sendiri dari buku, dari bantuin senior, atau dari lain-lain deh. Keberadaan dosen di sini fungsinya kurang signifikan. Kesimpulan At the ed of the day, gue cuma berharap generasi berikutnya lebih bisa menghargai waktu dan profesi. Lebih bijaksana. Gue nggak merasa punya kuasa untuk menegur mereka langsung, jadi cuma bisa tulis di sini. Ya udah, sekian unek-unek semester 2 saya. Tak ada satupun hal yang sempurna. Jadi mari kita tanggapi post ini juga dengan bijaksana ya. Tulisan ini awalnya dipublikasikan di Blog "Ma Vie est un Film" pada 1 Agustus 2013 saat saya masih berusia 19 tahun. Beberapa kata yang kurang tepat / patut telah direvisi secukupnya tanpa menghilangkan keaslian cerita dan pemikiran saya di usia tersebut.
- My Silly Little Life Plan
Halo, kembali lagi dengan saya dan post-post random saya. Maaf ya, gue lagi nggak banyak cerita soal perfilman. Soalnya mata kuliah gue semester ini minor semua, jadi nggak terlalu menjurus ke film. Misalnya kayak tari, drama, sastra, dan sebagainya. Nah, di post kali ini, gue mau cerita soal.. rencana hidup. Gue mau cerita soal rencana hidup gue yang agak silly , tapi kind of like a target to me. Hmm... Sudah sejak kecil, gue memimpikan untuk bersekolah di luar negeri. Waktu itu sih pengen banget ke Jepang. Pengen banget-banget deh sekolah di Jepang, soalnya gue tertarik sama festival kebudayaan yang selalu diadakan setiap tahun di sekolah-sekolah lokal. Festivalnya keren abis gitu, dan gue pengen banget bisa ikut berkontribusi di dalamnya. Sayangnya, gue nggak dapet beasiswa sekolah di Jepang, jadi bye-bye Japan. LOL. Sekarang ini, gue pengen banget kuliah S2 di Amerika Serikat. Gue pengennya itu bener-bener parah pengen banget. Nggak kebayang kalau gue berhasil dapet beasiswanya, wah gilak, nangis gue sembah sujud ke Tuhan YME. Gue nggak tau kenapa dari dulu gue pengen banget sekolah di luar negeri. Tapi yang pasti, bukan karena gue benci tanah air ya! Menurut gue, ada sensasi dan tantangan yang berbeda ketika lo sekolah di tempat yang benar-benar asing. Nah gue, suka menghadapi tantangan tersebut, jadi gue mau banget disekolahin di tempat yang asing. Makanya impian gue saat ini adalah kuliah di Amerika Serikat. Ini target mutlak. Karya Dida Kalau begitu, setelah lulus kuliah mau ngapain? Gue mau kerja di Eropa. Gue pengen kerja di stasiun televisi E4... Kalau nggak, masuk ke production house juga nggak apa-apa. Yang penting kerja di tempat yang asing. Gue nggak berharap jadi editor nomor satu di dunia, atau berniat membuka PH sendiri. Gue cuma mau bekerja dengan sangat baik dengan gaji yang juga oke bingits. Sambil gue bekerja dengan normal dan uang mengalir ke rekening, gue mau jalan-jalan sepuasnya. Mau melukis di tempat-tempat yang amazing . Mau menghirup udara segar sambil menatap bintang-bintang di langit! Duh, asik bangeettt... Ngiler bayanginnya! Ketika akhirnya gue punya "doi" dan dilamar, gue mau menikah, mau punya anak, dan impian gue berikutnya adalah mencetak anak gemilang yang akan gue jual di Youtube. HAHAHAHA... Brace yourself, My Son, for you will be a star one day!!! Ini udah hukum pakem banget, gue bakal bikin anak gue ngetop. Muahaha... ( just kidding, tapi bisa juga nggak kidding ). Sambil ngurusin anak kuliah, gue mau jadi pelukis dan penulis. Mau bikin vlog tentang anak gue juga. Terus, apa ya... gue mau berkeliling dunia sama si doi. Mau banget! Gue berharap dapet doi yang suka berpetualang dan tukang ngelawak. Nanti gue bikinin acara sitcom buat dia sendiri. Hahaha... Nah, kalau anak gue sudah kuliah, gue mau lanjut bekerja jadi dosen di universitas. Jadi semasa tua gue nggak sia-sia di rumah. Gue pengen bisa berbagi ilmu dan mencetak anak-anak yang kreatif. Mulia banget kan mimpi terakhir gue? :p Demikian rencana hidup saya. Nggak tinggi-tinggi amat sih, tapi menurut gue sudah cukup dan sangat membahagiakan apabila terlaksana semuanya. Gue ingin hidup gue penuh dengan petualangan dan hal seru untuk ditertawakan. Pokoknya nggak boleh flat! Gue harus keluar dari semua comfort zone yang gue buat! Uuu yeah! Update 14 Juni 2024 Post di atas ditulis waktu gua masih usia 20 tahun. Sekarang 10 tahun telah berlalu, usia gua sudah memasuki kepala tiga. Rupanya, hidup tidak berjalan semulus yang gue bayangkan. Lagi-lagi gue gagal kuliah ke luar negeri. Gue nggak berhasil mendapatkan beasiswa ke Amerika Serikat (Fullbright) maupun Eropa (Erasmus). Sudah berkali-kali dan bertahun-tahun gue coba, mulai dari Canada, Jepang, hingga dua benua di atas. Semuanya menolak. Ya, habisnya gimana yah? Jurusan film itu nggak penting banget, dan gue juga bukan mahasiswa unggul yang super berbakat. Jadinya sulit untuk memenangkan beasiswa yang saingan sama anak-anak STEM dengan serentet pengalaman dan prestasi internasional. Termasuk mimpi berkeluarga, berpetualang dengan pasangan pun, rupanya kandas di jalan. Satu bulan sebelum engagement, pasangan gue ternyata selingkuh selama bertahun-tahun kami jatuh-bangun meniti bisnis bersama. Mimpi gue punya keluarga kecil yang lucu untuk di-vlog pupus sudah. Gue terharu membaca postingan di atas. Menyadari bahwa Cecil nggak pernah berubah dan nggak pernah menyerah. "Anjing lo, Cil, kuat banget!" Gue pengen ngomong itu ke diri gue sendiri, "Lo keren, Cil." Bulan Juni 2024 ini, Cecil berhasil diterima kuliah di Jerman. Nggak pakai beasiswa, jalur biasa. Tapi syukurnya diterima di kampus yang biaya kuliahnya gratis di desa kecil yang biaya hidupnya tergolong murah di Eropa. Meskipun tetep harus minjem duit sana-sini, tapi lo berhasil, Cil. Selangkah lebih dekat ke impian. "Tetap semangat ya, Cil. Suatu hari lo akan wujudkan keluarga kecil nan hangat yang lo impikan."
- Saving Naru, Anjingku Part 2
Kisah sebelumnya: anjing gue (Naru) muntah darah jam 1 pagi. Gue langsung bangunin bokap gue. TRIGGER WARNING Kisah ini mengandung darah, child abuse, trauma dan kematian. Bahkan gue yang menulis pun nggak pernah nggak nangis setiap membaca kembali kisah ini meski 10 tahun telah berlalu. TOK. TOK. TOK. "Apa?" tanya bokap dengan nada lelah. "Pap.. Naru.. Muntah darah... Bisa ke dokter sekarang nggak?" pinta gue sambil sesenggukan nangis nggak karuan. Jam menunjukkan pukul 1.30 pagi di hari Senin (29/2). Bokap gue keluar dari kamar dan langsung cuci muka. Gue balik lagi ke kamar buat ngecekin Naru. Di sana, dia masih diam dengan darah berceceran, menatap kosong. Gue lari lagi ke bokap yang masih belum keluar dari toilet. Waktu terasa berjalan lambat sekali. Akhirnya bokap gue keluar dari toilet dan dia tanya, "Kenapa?" Dengan banjir air mata, gue mencoba mengulang penjelasan, "Pap, Naru muntah darah. Kita ke dokter sekarang ya?" "INI TUH MASIH PAGI. MANA ADA DOKTER YANG BUKA JAM SEGINI?!" Gue kaget. Lok? Kok dia marah? Totally kaget like WTF? Reaksi macam apa itu? Bukankah seharusnya dia langsung anterin gue ke dokter? Gue langsung jawab, "Ada, Pap, aku udah cek," dan bokap gue menjawab pula dengan tegas, "KE DOKTER BESOK. TUNGGU BESOK." Oke, guys, kesabaran gue udah maksimal banget. Gue nggak tahan lagi. "IYA, TUNGGU BESOK PAS ANJINGNYA UDAH MATI YA BARU BAWA KE DOKTER?!" "KAMU BISA NGGAK DIKASIH TAU TUNGGU BESOK!" Terus bokap balik ke kamar dan tidur dengan dinginnya. Sehingga akhirnya gue harus kreatif nyolong duit di rumah dan buru-buru pesen GrabCar. (Sumpah, gue bersyukur banget udah ada teknologi GrabCar pada saat itu.) Sementara itu, gue terus-menerus mencoba menghubungi nyokap yang masih di Dubai, kakak kedua di Taiwan, dan kakak pertama di Jakarta Barat. Sayang seribu sayang, none of them answered my phone. Gue pusing tujuh keliling. Setiap kali gue lihat muka Naru, dia kayak mau bilang, "I'm quite okay right now, just a few blood. Don't mind me but I'm actually dying." Damn. Never been in this kind of situation. Jam 2.30 pagi, gue udah packing kertas buat alas, kain lap, segepok tissue , duit, dompet, minuman, dst. Gue ready buat ke Pluit pagi itu. Tiba-tiba bokap gue bangun lagi dan keluar dari kamarnya. "Kamu mau ke mana?" Nggak gue jawab. Biar! (Buru-buru jalan ke kamar.) "Kamu mau ke mana?!" Biaaarrr!!! (Tetep jalan dalam diam.) "KAMU MAU KE MANA?! MASIH BISA DIAJAK NGOMONG NGGAK?!" Bodoo amaaaattt!!! (Melangkah lebih cepet lagi.) "KAMU MASIH BISA NGOMONG NGGAK!" Gue terpojok di kamar. Akhirnya mau nggak mau gue jawab, "Ke dokter. Mau ke mana lagi?" Terus doi makin ngamuk dong, "KAMU BISA NGGAK SIH NURUT ORANG TUA?! TUNGGU BESOK. PAGI-PAGI BEGINI PESEN TAKSI? GILA KAMU YA? KALAU DIAPA-APAIN ORANG DI JALAN GIMANA?!" "YA MAKANYA ANTERIN. MAU ANTERIN APA NGGAK?!" "BESOK KAMU PERGI SAMA SUPIR. TUNGGU BESOK!" "Pap, lihat itu Naru udah muntah darah. Tunggu apa lagi? Tunggu dia muntahin organnya baru dibawa ke rumah sakit?!" "Kalau muntah darah mah dari kemarin juga Papi sudah tahu!" Mata gue langsung membelalak. "Apa? APA?! PAPI TAHU DAN NGGAK BILANG APA-APA?!" "Ya bukannya nggak mau bilang, tapi... dia emang udah nggak kuat. Tunggu aja besok. Lagian kamu sih ngerawat nggak bener. Selama ini kan dia nggak apa-apa. Sejak kamu bawa ke dokter (buat perawatan jamur dan kutu), dia jadi muntah-muntah. Ini pasti gara-gara dokter itu. Obatnya nggak cocok. Sekarang kamu bawa ke rumah sakit juga palingan dikasih obat doang, terus dia muntahin lagi." "TERUS? TERUS APA? TERUS BIARIN AJA DIA MUNTAH DARAH DI SINI SAMPAI MATI?" "YA BUKAN BEGITU. KAMU JAWAB LAGI SEPERTI ITU PAPI TONJOK MUKAMU." "TONJOK SINI, TONJOK SAMPAI MATI, YANG PENTING ANJING INI SAMPAI DI RUMAH SAKIT." Akhirnya dia diam dan pergi, kembali ke kamarnya sambil banting pintu. Syukurlah, gue pikir gue bakal ditonjok ternyata enggak. Gue pun pergi naik GrabCar jam 3 pagi ke Pluit dengan HP yang udah nggak ada pulsanya. Panik, cemas, sedih. I really needed someone to hold on, but all I had was me and Naru, dan bapak pengemudi GrabCar baik hati yang mau mengangkut kami . Bersyukur banget Naru sangat kooperatif. Meskipun udah lemes, dia masih mau jalan dan ikutin arahan gue. Dia juga nggak muntah di mobil si bapak GrabCar. Syukurlah! Setelah gue mendaftar, kami berdua naik lift ke lantai 2. Pertama-tama Naru ditimbang, dan hasilnya 21,5 kg. Terus dia digendong ke atas meja stainless steel . Di sana ada dokter dan asistennya siap mendiagnosis. Lidahnya Naru udah nggak bisa dimasukin lagi dan berwarna kehitaman di ujung "Anjing kamu harus dirawat inap dan diinfus. Karena dia belum bisa makan, semua obatnya akan diinjeksi. Biaya pengobatannya kira-kira sekian, kamu bersedia?" tanya si dokter dengan tenang. Muka gue sembab banget, tatapan kosong, gue inget-inget isi dompet. Tak lama kemudian gue mengangguk, "Ya, Dok, nggak apa. Saya bayar untuk 1 malam dulu." Setelah dijelaskan lebih lanjut, dokter L memulai pemasangan infus. Ini cukup ribet gara-gara anjing gue udah 10 tahun dan dagingnya alot. Ada sekitar 6 kali si dokter cabut-pasang jarum. Poor Naru... Akhirnya infus pun terpasang dan semua obat langsung diinjeksikan. Naru nampak tenang, aman, dan damai. Dia mulai tertidur di atas kasur sementaranya. Terus gue bersama sang asisten membawa Naru ke ruang inap anjing. Di situ dia ditempatkan dalam sebuah kandang dengan selimut putih nan cantik. Pas kita pindahin dia ke kandang sementaranya, dia bingung gitu. Tegang dikelilingi auman anjing sana-sini. Gue suruh duduk nggak mau. Akhirnya gue tonton dari luar ruangan. Si Naru pipis (mungkin buat nandain kepemilikan, dia suka gitu) dan pup. Well , pipis dan pup itu biasa aja. Yang luar biasa adalah pupnya ternyata darah kentel hitam super bau di atas selimut putih yang cantik! Gue panik banget langsung lari masuk dan manggil dokter. Akhirnya mereka menjalankan tes virus, takut-takut doi kena Parvo atau Corona. Ternyata hasilnya negatif. Jadi dokter bilang dia bakal cek lagi besok. Kalau muntah darah lagi, dia bakal melakukan tes darah. Setelah gue menyelesaikan pembayaran, sekitar jam 6 pagi gue jalan kaki nyari orang jual pulsa. Shit , jauh banget. Terus sambil jalan kaki, gue merenung. WHAT THE HELL IS HAPPENING HERE?! IS THIS A DREAM?! WHAT HAPPENED TO MY DOG?! Gue berasa kesepian banget. WHERE IS MY FAMILY?! But then, tiba-tiba ada bapak-bapak di jalan menyapa, "Pagi-pagi harus tetap semangat ya!" dan gue terdiam, berbalik, lalu tersenyum. Hidup harus terus berjalan. Sampai di klinik, gue langsung naik lagi ke lantai 2 dan ENG-ING-ENG semua orang lagi pada bobo. Yaudah gue nonton Naru bentar di CCTV terus ikutan tidur sampai jam 7 pagi. Tak lama setelah itu gue pesen GrabBike dan pulang ke Manggarai. Gue pikir, lumayan, istirahat sebentar. *** Jam 9.30 HP gue bergetar dan berbunyi. Ada telepon masuk dari nomor tidak dikenal. Jantung gue dag-dig-dug. Gue berharap bukan berita buruk yang akan gue dengar. "Halo, selamat pagi?" "Halo, betul dengan Mbak Ceaecilia?" "Ya, betul." "Kami dari Vitapet mau mengabarkan kalau Naru muntah darah lagi dan banyak sekali sampai semangkok, Mbak. Bagaimana ya apa mau tes darah?" "Ya, tes aja, Mas. Kalau tes virus sudah dilakukan sekali lagi belum ya?" "Sudah, Mbak dan hasilnya negatif. Ini bukan karena virus. Sementara kami tes darah dulu. Kalau Mbak bersedia, mungkin tes organ juga tapi biayanya sekitar sejutaan." ... Sejuta. Again? Jujur. Dompet. Udah. Kosong. TRIGGER WARNING Kisah ini mengandung darah, child abuse, trauma dan kematian. Bahkan gue yang menulis pun nggak pernah nggak nangis setiap membaca kembali kisah ini meski 10 tahun telah berlalu. "Gimana Mbak?" tanya si masnya. "Tes darah dulu aja, Mas. Saya nyampe di sana 2 jam lagi." Gue langsung manggil supir nyokap buat jemput, dan chat kakak-kakak gue yang udah pada bangun. Gue suruh mereka transfer duit saat itu juga. Beruntung respon mereka cepat. Jam 11 siang, mobil gue dateng dan kita langsung cabs ke Pluit lagi. Karena gue bego soal jalanan, kita nyasar-nyasar dan baru nyampe jam 12.30 siang. Gue langsung ngibrit ke lantai 4 buat ngecek si Naru. Sampai di depan kandangnya, badan gue lemes. Air mata gue netes nggak berhenti. Darah berwarna terang berceceran di mana-mana sampai ke lantai. Selimut putihnya yang cantik udah jadi busuk berbercak merah tua, dan di atas itu seekor anjing Golden Retriever terkapar bersama buster collar penuh gumpalan darah yang masih fresh . Pemandangan itu bikin gue terduduk di lantai dan gue nangis di depan kandang Naru. Tak lama setelah itu seorang dokter muda datang menghampiri gue dengan ramahnya, "Selamat siang, saya yang tadi menelepon. Saya sudah melakukan tes darah, Mbak, dan hasilnya Naru terinfeksi bakteri." Gue cepat-cepat berdiri dan mengusap air mata. Agak segan menangis di depan orang asing. Lalu gue pura-pura tegar dan bertanya sambil masih sesenggukan, "So is there any way to save her?" " We'll try our best . Tapi kalau Naru masih muntah darah sebanyak ini, sepertinya it won't make it till tomorrow or the next day. Dia anemia parah, Mbak. Dia butuh transfusi darah dari anjing lain, yang ukurannya juga besar dan sehat." Okay, I can find another dog, pikir gue. "Tapi anjingnya harus banyak, nggak bisa cuma satu aja. Soalnya anjing kamu gede banget." ... This started to sound impossible. Gue cuma bisa diam membisu. Otak udah berusaha muter cari cara, tapi nggak ada solusi. "Saya sarankan kita tes organ juga, Biayanya 700 ribu. Biar lebih tau mengenai infeksi bakterinya. Soalnya... bla bla bla." Mendadak omongan si dokter ini nggak masuk lagi ke otak gue. Pusing. Gue pusing banget. Dari tadi pagi belum makan dan sekarang harus membuat another hard decision?! "Dok, kalau saya kasih tes organ, berapa banyak kemungkinan dia sembuh?" I know this was not a nice question and sounded pretty dumb. But I needed to know! "We'll try our best." Hening. Gue berusaha berpikir keras, tapi nggak bisa. Otak gue mentok. Anjing gue udah 10 tahun. Artinya proses pemulihan akan berjalan lebih lambat. Time is money. Biaya pengobatannya bisa membengkak sampai 7 juta dalam 1 minggu. I don't have that money. Gue juga nggak tau harus cari anjing-anjing transfusi di mana dalam waktu sesingkat ini. Anjing gue bakal mati besok, dan tes organ ini nggak bisa memastikan dia tetap hidup. Akhirnya air mata gue tumpah sekali lagi. Kali ini benar-benar deras sampai gue kesulitan berbicara. Gue coba pelan-pelan mengucapkannya, "Dok, suntik mati aja... nggak apa." dan satu detik setelah gue mengatakan itu, gue nangis sejadi-jadinya karena gue merasa bersalah. Gue bilang ke Naru, "I'm sorry." Apa mau dikata. Gue lebih nggak tega lihat wajah Naru babak belur lebih lama lagi. "Baiklah kalau begitu, kamu ikut saya ke lantai 2 ya. Ada kertas yang harus kamu tanda tangani," ujar sang dokter seraya meninggalkan ruangan. Tertinggallah gue dan Naru, bersama anjing-anjing sakit lainnya di situ. Gue menangis sampai ingus ke mana-mana. Gue belai kepalanya dan bulunya copot semua. Lalu gue berdiri, hendak pamit pada Naru. Mendadak Naru ikut berdiri dan berjalan mendekati pintu kandang. Dia seakan pengen keluar, tapi langkahnya terhenti di depan pintu. Tali infus mengekangnya. Akhirnya dia duduk dengan wajah menjulur ke luar pintu, minta dibelai lebih lama lagi. Mungkin dia bilang, "Jangan pergi dulu. Sebentar lagi, sebentar saja. Tolong lepaskan pengikat ini." Siang itu gue tanda-tangani surat yang menyatakan bahwa gue mengizinkan proses euthanasia. Lalu bersama sang dokter, gue saksikan sahabat gue tertidur untuk selamanya. *** Dan lo tahu apa yang terjadi sepulang gue dari rumah sakit? Bokap gue bilang gue adalah pembunuh. "Anjingnya mati karena kelalaian kamu mengurusnya. Kamu pembunuhnya" Mind you , Naru dibeliin bokap atas permintaan kakak pertama gue, sekitar 10 tahun lalu di tahun 2006 waktu gue baru mau masuk SMP. Kalian expect apa dari anak SMP? Bahkan kuliah aja gua masih pakai duit bokap + beasiswa + kerja siang-malam dan itu aja udah pas-pasan banget. Atas dasar apa, menuduh kematian anjing ini sebagai kelalaian gua seorang diri? Di mana ibu dan kedua kakak gua di saat seperti ini? Kenapa gua sendirian menanggung beban ini, ketika gua bahkan nggak menyalahkan siapapun. Sejak hari itu, tumbuh sebuah trauma dan suatu perasaan pilu yang nggak bisa gue selesaikan hingga hari ini. Hubungan gue dan bokap pasang-surut. Gue nggak mampu membencinya, tapi juga nggak mampu mencintainya. Kosong aja gitu. Maka sejak hari itu, gue bikin janji sama diri sendiri: Gue bakal treat hewan lebih baik. Nggak boleh ada kisah Naru kedua. Gua nggak boleh miskin sampai ngutang sana-sini. Waktu itu gue sempet ngutangin Raynard juga lantaran duit gua habis buat biaya kremasi Naru. Gua harus berdaya, supaya gua bisa mengandalkan diri sendiri. Janji itu gue pegang sampai hari ini. Terima kasih dan maafin gue ya, Nar. Semoga bahagia di surga.
- Kos Kedua di Jakarta
Let me introduce you to my new kosan! Gue resmi pindah kos bulan September ini. Soalnya kampus gue juga pindah dari Taman Ismail Marzuki ke Cempaka Putih gara-gara renovasi, dan jaraknya cukup jauh. Kalau mau ngarepin bus Transjakarta, kayaknya sampe bangkotan gue baru nyampe kampus. Yah, intinya itu bus nggak bisa diharepin buat urusan efisien waktu. Gue seneng banget sama kos baru ini, soalnya lebih luaaaassss dan ada toilet di dalamnya. Hehehe... Kebayang deh bisa punya kamar yang rapi dan cantik. ^^ Terus punya toilet yang layak pakai. Nggak kayak di kosan lama, tetangga gue make toilet nggak pakai hati, suka buang sampah sembarangan. Sekarang toilet sendiri, gue bisa atur mau jadi apa ini toilet. Serunya lagi, gue pindahan dibantuin pacar. Nggak nyangka bentar lagi kita setahun. Uuuuww... Dia bantuin gue nyikatin WC loh. Makasih ya, Kak. Terus gue seneng lagi karena ortu bolehin gue beli sepeda. Kemaren gue cobain jalan naik sepeda dari Cempaka Putih ke Sentiong, gila lumayan banget. Basah kuyup sampe sana! Kata Google cukup 16 menit sudah sampai, faktanya gue ( ditambah nyasar berkali-kali ) jadi 1 jam lebih! Oh iya mesti tau nih, gue sekarang freak banget sama barang-barang penghias rumah. Gue nemuin wall sticker kece banget. Harganya juga mahal banget. Tapi nggak apa-apa deh, karena lucu gue belain beli. Kamar gue yang ini harganya Rp800.000,- per bulan. Jauh lebih mahal dari kosan gue yang lama. Fasilitas dapat kamar mandi dalam, kasur, lemari dan meja kerja. Tapi kipas angin bawa sendiri. Kalau sepedanya nggak dipake, gue masukin kamar. Kata kakak kos ( sekarang bukan oma kost lagi.. ) sepeda dia pernah dicolong orang, jadi mendingan gue bawa masuk aja. Gue demen sama kamar gue karena lantainya kayak marmer. Kece gitu. Tapi ternyata marmernya udah retak-retak, jadi kalau gue jalan suka ada kerikil nempel di kaki... (-_-) Terus gue belum kenal penghuni kos yang lain. Maklum, gue di area luar sendirian, mereka di dalem. Mereka juga nggak ada yang berisik atau teriak-teriak. Jadi kayaknya soleha banget nih semua penghuni kos gue. Gue berharap bisa cepet kenal at least satuuu aja. Biar nggak sendirian amat. Terus daerah kosan gue sepi banget. Adem. Nggak banyak debu, tapi banyak semut. Overall, lumayan sih buat semangat baru. W elcome to semester 3! Tulisan ini awalnya dipublikasikan di Blog "Ma Vie est un Film" pada 6 September 2013 saat saya masih berusia 19 tahun. Beberapa kata yang kurang tepat / patut telah direvisi secukupnya tanpa menghilangkan keaslian cerita dan pemikiran saya di usia tersebut. Catatan tambahan: sepeda itu akhirnya hilang dicuri orang gara-gara saya lupa masukin, dan sampai akhir saya nggak kenal satupun penghuni kos di sana.
- Syuting di Bogor (Part I)
Tanggal 10 November gue dan kawan-kawan berkumpul di Taman Ismail Marzuki buat berangkat bareng ke Bogor, syuting TA senior. Janjinya sih ngumpul jam 3 langsung berangkat, tapi nyatanya jam 6 sore baru berangkat naik mobil tronton tentara ( yang nyupir tentara beneran loh ). Nah, sebelum gue lanjutkan kisah ini, ada baiknya gue tegaskan dulu kalau gue nggak akan menyebutkan judul film dan nama sutradara bersangkutan. Tujuan gue bercerita cuma buat berbagi, supaya yang nggak tahu jadi tahu dan yang tahu bisa menilai dengan bijaksana. Terima kasih. Kembali ke cerita, gue sudah standby di TIM dari jam 2:15 siang gara-gara takut ditinggal. Soalnya temen gue yang jadi Astrada 1 bilang standby aja jam 2 siang . Taunya sampai di sana, nggak ada satupun kru atau orang yang gue kenal. Gue terjebak sendirian di TIM dengan tas Doraemon gue yang agak gede dan berat... Gue mencoba tetap bersemangat dengan mengunjungi pameran lukisan di sebelah XXI. Meskipun banyak orang ngelihatin dengan heran karena gue bawa-bawa tas gede kayak mau pulang kampung, gue tetep sok cool dan menikmati lukisan-lukisan indah karya Syahnagra Ismail. Jam 2:45 Zooprykot ngajak gue ketemuan di depan XXI. Kita nongkrong di situ sampai semua teman kita datang. Lucunya, orang yang nyuruh gue standby jam 2 siang itu malah dateng jam 3 lewat :) Menurut gue itu salah satu contoh orang nggak punya perasaan. Dia tahu nggak sih rasanya nunggu berjam-jam tanpa kepastian? Jam 3 lewat banget gitu akhirnya kami berkumpul dengan para senior dan kembali menunggu sesuatu yang gue nggak tahu apa itu. Gue agak segan mau tanya, takutnya dibilang banyak cincong. Jadi gue diem aja, ngikut aja. Jam 4an mobil akhirnya datang. Mobil tronton tentara yang ukurannya kecil, soalnya yang bakal naik mobil ini cuma 20 orang. Aslinya sih crew ada banyak banget, cuman beberapa crew seperti departemen artistik sudah standby di Bogor dari jauh-jauh hari, karena mereka harus mempersiapkan set . Jam 5 gue kelaperan. Gue ngajak beberapa anak seangkatan ke 7-11 (Sevel) dulu cari makan. Tapi karena kami yakin pasti masih lama berangkatnya, kami nongkrong dulu deh di Sevel. Baru sekitar jam 6 gue di- PING! dan disuruh naik mobil. Dengar-dengar dari senior sih kita itu nungguin anak departemen kamera daritadi. Katanya mereka baru tau berangkatnya jam 3 sore dan sempet ada yang harus pergi beli sesuatu dulu, makanya lama banget. Gue nggak tau deh beli apaan. Yang pasti, jadi pelajaran buat gue, semua crew harus benar-benar dipastiin tau jam ngumpul dan jam berangkat itu jam berapa! Perjalanan lumayan lancar, meskipun nggak pakai doa dulu. Gue, karena agak parno, jadi bawa rosario segala. Hehehe... Jaga-jaga deh buat berdoa. Sekitar jam 7 malam kami sudah tiba di Cilendek, Bogor. Pas turun, mata gue langsung lari ke tenda seafood dengan bau yang yummy banget. Gue kira kita turun untuk makan, taunya kaga. LOL! Turun dari mobil, kita langsung masuk ke sebuah rumah yang hancur banget karena masih dicat dan dibangun menjadi lokasi syuting. Gue sempet mondar-mandir kepo pengen lihat kayak apa sih tempat syutingnya. Sayangnya gue nggak bisa ambil gambar karena sudah gelap dan kamu tahulah Blackberry bisa foto apa sih gelep-gelep? Beberapa menit kemudian senior gue ngajakin kita taruh barang di rumah belakang yang bentuknya kayak pendopo. Jadi ruangannya terbuka gitu, tapi tetep ada atap. Di ruangan itu ada banyak sekali barang: kursi, sofa, lukisan, meja, dll. Pokoknya padat dan tidak teratur. Sangat berantakan, dan gue agak bingung mau taruh tas di mana. Di otak gue yang gue pikirin itu: tidur di mana? Toilet di mana? Makan malam dapet nggak sih, kalau nggak dapet gue pengen beli seafood di depan. Hehe... Jam 8 malam, gue dapet kabar kalau kita bakal dikasih makan jam 10 malam nanti. Glek! Gue udah laper banget padahal. Tapi yasutralah, harus kuat! Jam 9 malem gitu mereka rapat, dan gue nggak ikutan karena gue.. nggak diajak. Gue kan jadi asistennya asisten sutradara 2 ya, tapi gue ngerasa jabatan itu cuma jadi nama doang ( soalnya yang ngangkat gue bukan sutradaranya langsung ). Akhirnya gue duduk tidak terlalu jauh dari mereka yang rapat, supaya siapa tahu mereka lihat gue, dan gue diajak rapat. Taunya sih tetep dicuekin. Hahaha... Yaudah deh, mungkin gue emang nggak terlalu berguna saat itu. Ketika produser bilang ini saatnya rapat per divisi, gue langsung lari deketin sutradara gue dan aktif bertanya, "Kak, besok gimana yah? Saya harus ngapain?" Gue sudah cukup mengerti bahwa di sini sistemnya harus elo yang aktif, harus elo yang bertanya. ( Padahal ya logikanya, yang butuh bantuan itu kan yang mau TA, kok malah gue yang cari-cari dia? ) Tapi yasudahlah. Si sutradara dengan baik memberitahu, "Gue butuh bantuan lo buat nemenin gue ngobrol sama Kitamura. Soalnya dia nggak terlalu lancar Bahasa Indonesianya. Terus lo ajarin semua tokoh Jepang yang perlu speaking ." Gue langsung tanya balik dong, "Jam berapa besok, Kak?" Dan dia cuma jawab, "Pagi." Sudah ada yang aneh dengan acara syuting ini. Bagaimana mungkin seorang sutradara nggak tahu jadwal pasti kapan talent -nya dateng? Terus kapan syutingnya dimulai? Waktu itu gue langsung diam sih. Gue perhatiin aja sutradara dan astrada 1-nya. Pengen tahu apa yang lagi mereka rapatin dari tadi. Gue denger-denger Hiro (nama talent ) nggak bisa syuting besok. Jadi harus dicari penggantinya, segera. Terus astrada 1 lagi nyuruh manlok ( manajer lokasi ) buat nge- print rundown day 1 . Astrada 1 : Tolong print file rundown day 1 . Rundown day 2 belum dibuat. Besok baru dibikin. Manlok : Oke, nggak di dalem folder kan ya! ( Buru-buru nyalain motor dan cabut. ) Saat itu gue tahu, sesuatu yang buruk akan terjadi. Soalnya syutingan macam apa ini masa jadwal baru diprint dan baru dibuat H-1. Udah gitu nggak jelas, gue sebagai crew ngerasa nggak ngerti. Ini di mana? Ini bakal jadi lokasi syuting scene berapa saja? Kami harus ngapain sekarang? Nanti kami tidur di mana? Besok crew call jam berapa? Ketika gue mempertanyakan ini, gue cuma pengen mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk menolong syutingan senior gue. Menurut gue, informasi seperti ini bukan crew yang wajib mencari tahu, tapi pemimpin produksi ( sutradara atau produser gitu ) yang wajib memberikan informasi ini langsung saat briefing . Seharusnya semua crew dikumpulkan dan diperkenalkan, misalnya kayak gini: "Malam kawan-kawan, selamat datang di Cilendek. Ini adalah lokasi syuting untuk hari pertama kita besok. Kita bakal syuting 14 scene (misalnya). Crew call jam 5 pagi besok, jadi siapkan diri kalian. Ini rundown day 1 untuk kalian semua. Malam ini kalian boleh tidur di mana saja, ada kasur tersedia boleh diangkut ke mana pun. Kalau mau sholat silakan di ruang yang sana. Anak wardrobe boleh taruh barang di sana, anak logistik di sini, artistik di sana, bla bla bla..." Yup, m enurut gue harusnya ada orang yang memimpin. Seharusnya setiap orang juga dikasih rundown . Jangan cuma si astrada dan chief departemen yang punya! Lah kan yang kerja semua orang, bukan cuma chief -nya. Sayangnya informasi di atas tidak diberikan kepada crew , jadi lo mau tidur ya terserah. Nggak tidur juga terserah. Mau sholat di mana juga terserah. Mau ngapain ya terserah. Mau bangun jam berapapun besok juga terserah. Akhirnya gue dan Rapa menggotong sebuah kasur dari ruangan entah-di-mana ke entah-di-mana juga dan tidur terlunta-lunta + kedinginan di situ. Dalam hati gue ngedumel, "Tau gini gue bawa selimut, euy!" Sekitar jam 12 malam semua orang masih mondar-mandir dan berisik. Alhasil gue nggak tidur nyenyak. Terus si Rapa pamitan sama gue, berhubung dia telko ( talent coordinator ) jadi dia bakal tidur di hotel bareng talent-talent dia. Gue cuma ngangguk-ngangguk aja karena sumpah udah ngantuk banget. Beberapa menit kemudian seorang senior bilang permisi ke gue. Dia adalah anak wardrobe . Dia tidur di sebelah gue dan malam itu pun berakhir dengan ketenangan. Baca post selanjutnya untuk tahu gimana serunya (baca: kacaunya) syuting DAY 1!
- Mata Kuliah Semester 5
Kembali lagi bersama gue di Semester 5... Berhubung gue udah Audisi Mayor dan lolos dengan mayor film editing , maka mulai saat ini mata kuliah gue bakal beda sama temen-temen dari mayor yang lain. Jadi mungkin nggak terlalu bisa lo jadiin acuan lagi. But anyway , kali ini gue ngambil kelas sedikit banget ( cuma 18 SKS ) lantaran mau fokus di Praktika Terpadu. Jadi kelas apa aja yang gue ambil? Mari kita simak liputannya! Foto seluruh mahasiswa mayor Editing III dan V bersama dosen SELASA Bisnis Film dan Televisi (08.00) Tentang : kita bahas film and television as an industry . Gimana perkembangannya saat ini dan cara lo terjun ke dalam dunia ini dengan mulus. Kira-kira begitulah. Kata gue : dosennya baik sekali, sangat berwawasan, tapi... kayaknya doi pelupa deh, suka banget ngulangin hal yang sama. Bosenin jadinya. Praktika Terpadu (10.00) Tentang : ya begitulah ya, silakan dibaca di post-post sebelumnya mengenai Praktika Terpadu. Kata gue : melelahkan dan meresahkan. RABU Komputer Editing I (08.00) Tentang : belajar editing pakai software AVID. Kata gue : mampus bosenin abis! Mending kalau AVID kampus bener, masalahnya banyak erornya! KZL! KAMIS Filsafat Seni (13.00) Tentang : ngebahas Aristoteles, Plato, dan para filsuf lainnya yang berkontribusi dalam pendefinisian seni dan estetika. Kata gue : Seru. Suara III A (15.00) Tentang : ngebahas hal yang abstrak. Kata gue : gue hampir berantem sama dosen satu ini. Kesel karena dia nggak mau kasih lihat syllabus dan referensi buku. Intinya, something is wrong with the lecturer. I'd say this is the most fucked up class I have ever had. JUMAT Semiotika (10.00) Tentang : cara membaca tanda, simbol dan logo. Kata gue : yah yah so-so ... Not bad, and not really interesting. SABTU Editing III (13.00) Tentang : pengaplikasian teori dari kelas Editing I dan II. Kata gue : susah MAMPOOOSSS!!! Hahaha... Tapi it was fun. Gue berasa "belajar" banget.










