top of page

Search Results

175 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Apa Bedanya Produser dan Sutradara Film?

    Gue baru sadar bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan yang selalluuuu ditanyakan semua orang, baik yang berminat menjadi mahasiswa perfilman maupun yang cuma sekadar numpang lewat. "Apa bedanya produser dan sutradara?" Pertama, kita lihat dulu definisi dari kedua profesi terkece dalam perfilman ini. FILM PRODUCER Sebuah profesi dalam bidang perfilman yang bertugas memimpin tim produksi untuk memproduksi sebuah film. FILM DIRECTOR Sebuah profesi dalam bidang perfilman yang bertugas memimpin tim produksi untuk memproduksi sebuah film. Loh, definisinya sama aja. Terus bedanya apa? Kok pemimpinnya ada dua? Let me explain, they lead in different aspects, Gaes. Film producer memimpin tim produksi dari aspek finansial; penjadwalan waktu; pengadaan kru, talent , alat, lokasi syuting, akomodasi, transportasi, dan konsumsi. Sementara film director memimpin tim produksi dari aspek kreatif, untuk menciptakan film sesuai visi dan konsepnya dalam kurun waktu yang ditentukan oleh produser , serta dengan segala ketersediaan dan kebutuhan yang telah disepakati bersama. Jadi tim yang dipimpin kedua orang ini berbeda dan kepentingannya tidak saling bertabrakan. Lo ngemeng ape sih, ane nggak paham. Uhm... Maksud gue gini. Gue kasih contoh ya. Waktu gue mau bikin film "IMPAS" buat Praktika Terpadu, gue dan kelompok gue melewati proses Development terlebih dahulu. Di situ kita cari ide cerita. Ide cerita nggak mesti dateng dari sutradara atau pun produser . Ide cerita boleh dari siapa saja asal yang punya ide setuju idenya dipakai buat jadi film. Terus kita dapet ide nih, "Gimana kalau kita bikin film tentang seorang anak yang mencuri ayam tetangganya? Kita bikin film yang menunjukkan bagaimana sebuah proses balas dendam itu kayak lingkaran setan." Nah, berangkat dari situ, sang sutradara mulai berkhayal, "Oh, gue mau filmnya kayak film Petualangan Sherina nih—drama keluarga. Terus kameranya handheld , warna filmnya agak yellowish , terus anak ini tinggal di perkampungan Betawi, di mana warganya banyak miara ayam jago." Mendengar imajinasi sang sutradara , mulailah produser membelah otaknya. Hahaha... Yak, dia mesti pikirin gimana caranya itu film jadi sesuai visi si sutradara . Dia mesti pikirin kita syuting di mana yang bisa terlihat kayak perkampungan Betawi; pikirin siapa aja kru tambahan buat bantuin kita merealisasikan visi itu; pikirin sewa steadycam di mana biar handheld kameranya lembut; terus estimasiin anggaran buat bikin film itu sampai didistribusikan; terakhir, doi kudu bikin jadwal dari meeting, casting, hunting , syuting, termasuk jadwal editing gambar dan suara serta distribusi film. Udah sedikit nangkep kan bedanya mereka berdua? Dari pengalaman gue selama bikin tugas kuliah sih, gue belajar bahwa faktor kesuksesan sebuah film yang pertama jatuh pada produser . Oke, lo dapet sutradara mantep, kru lain mantep, tapi kalau produser lo brokap. Masya Allah, man , film lo bisa brokap dan pengeluaran bisa bengkak nggak terkontrol. Terus kalau produser nya mantep, tapi sutradara nya nggak mantep, gimana dong? Film lo bisa jadi ambigu, terhimpit di antara kebrokapan dan ketidakbrokapan. Eh, bentar, brokap itu apaan sih? Uhm, gini, brokap adalah sebuah kata sifat tidak baku yang berasal dari Bahasa Inggris broke up , atau broken . Brokap digunakan untuk menyatakan sesuatu yang hancur, tidak benar, atau menyedihkan. Contohnya lo lagi kena musibah: diputusin pacar, nilai kuliah anjlok, tawaran kerja seret, maka lo bisa bilang, "Gue lagi brokap nih." Mari kembali ke topik, kalau begitu sutradara dan produser sama pentingnya dong? Nggak, Bro, masalahnya meskipun lo dapet sutradara bagus, kalau produser nya nggak bener, filmnya bisa hancur. Anyway, this happened to my friends. Their team used to be great. Gue ngiranya kesuksesan mereka berkat kecerdasan sang sutradara . Ternyata setelah grupnya dipecah, (masing-masing kerja sama tim yang lain) yang sukses dapet nilai A cuma 1 orang, dan dia adalah sang produser . Sejak itu gue semakin yakin kalau dapet produser yang berkualitas sangaaatt membantu kesuksesan sebuah film, khususnya dalam skala perkuliahan di mana anak-anak masih baru belajar dan coba-coba. Sekian deh post saya. Oh iya, this post was dedicated for Ricky, anak sialan yang bilang muka gue kayak anak SMA, yeay! It was fun to have a Q&A session with him. Semoga lulus UN ya!

  • Summer Fling

    Uuu yeah, akhirnya liburan juga. Segala ujian sudah kelar, beberapa pekerjaan tertunda, dan saya siap berpetualang kembali! Kali ini destinasi gue adalah Bali dan Lombok selama 8 hari. Gue dari Jakarta ke Bali-nya sendirian, tapi di sana sudah ada kawan lama menanti. Kangeeenn.... Nggak sabar ketemu mereka. Terus ke Lomboknya juga sendiri dan di sana sudah ada Try yang bakal menampung gue selama 2 malam. Pokoknya gue udah excited parah, udah packing nih, udah ready banget. Everything is gonna be all right and fun! Ngomong-ngomong soal random nih; gue baru sadar, hal yang paling bikin gue bahagia dulu tuh buku komik. Tapi sekarang udah nggak lagi. Sekarang jalan-jalan yang bikin gue bahagia banget. Ngurusin jadwal perjalanan, ngebayangin jalan-jalannya, ngebayangin gue tersesat atau ada kejadian lucu... So exciting! Dulu pas gue ke Jepang ada kejadian lucu yang agak terlupakan dan baru-baru ini gue inget. Ceritanya gue lagi nunggu bus datang, cuman gue takut gue nunggu di tempat yang salah. Maka gue nanya ke seorang cowok apakah dia menunggu bus yang sama dengan gue. Eh, ujung-ujungnya kita malah ngobrol. Hahaha... Dia nanya nama gua, muji-muji gua, terus cerita soal kampung halaman dia (yang sayangnya gua agak nggak paham karena kosakata Jepang gue sedikit), terus dia ngasih gue kipasnya dengan tanda tangan plus email. LOL Geli banget! Terus udah deh kami berpisah saat bus telah datang. Kemarin gue habis nemuin kipas itu lagi, makanya jadi inget. What's the best advice for moving on? Find a new love. That's what people had been telling me over the past months, and I should thank my pals for making it happen—I guess. Last weekend, I went to Bali with them; they came up with this crazy idea: setting me up with a total stranger. Crazy enough, right? FYI, here's what you need to have a blind date in the digital era: A smartphone A Tinder app Voila! You are ready to find a new love—hopefully. But in my case, I didn't have a smartphone. Well, yeah, my Blackberry was smart, but not smart enough to have Tinder. So my friend had to lend me his iPad, and they worked together to set up my profile on Tinder. They picked the best photos from my Facebook, arranged them, did everything—even choosing guys. I almost screamed when they passed on someone I was really interested in, "Hey, guys! It should be my preferences!!!" But they ignored me. LOL, my pals. The funny thing was, I got matched with almost 60 guys in town, and only about 15 of them messaged me back. I thought, "What happened to the rest?" But never mind. In the end, I had really good conversations with only two people since some guys turned out to be escorts (and they mentioned it proudly!) while some were uninteresting. Amazing experience, I thought (FYI, gue baru pertama kali pakai Tinder di tahun 2014 itu). While I chatted with these guys, my pals kept track of me and sometimes did the chatting instead of me. (I guess I was that lame at chatting.) One time, a guy sent me an emoticon like this "XD" and my friend freaked out, "Dammit, he's as Japanese as you!" But I actually liked it. I guess using "XD" won't harm you, will it? After all, he asked me to meet him, and I said, "Why not?" So was he the one? XD The Preparation My friends were all happy about it. It was as if their mission to Bali was successful. They helped me with advice and picking the right outfit for that night. It was hilarious because I didn't bring too many clothes and most of them were not really pretty. So we had to go shopping. Shopping with two guys who knew fashion way better than me was an epic experience. They were really helpful (and yes, they were the ones who did the chatting and stuff for the past few days). We went to this cute little shop called Somewhere at Jalan Seminyak. I really loooveeeed this shop and I wished I had more money because all the clothes were damn pretty and expensive! But I did buy a dress and shoes, which cost me around 60 bucks in USD—and somehow I didn't regret spending that much. :3 I tried on three dresses, and it was funny when I had to go out of the changing room to show my friends. They asked me to turn around and the clerk was looking at me. Hahaha... That sensation felt exactly like in a movie. Seriously, ma vie est un film (my life is a movie). Uh oh, time was ticking. It was almost time to meet that guy and I felt nervous. We went to that place by car and I had to calm myself with Two Door Cinema Club's song "Next Year" before we really arrived. All of my friends said they would keep an eye on me in case this guy was harmful or something. Hahaha... I just hoped he would not be. The Blind Date "YEAH! YOU'RE SO GONNA GET LAID TONIGHT!!!" screamed my friend with joy, scaring the hell outta me. Please, I'm not ready for anything like this. I just wanted to have a nice conversation. I am so not ready. Should I just open the door and run away? For real, I was that nervous and wished I had canceled the date, but... I didn't. "Look, there he is!" my friend pointed to a tall guy in a black polo shirt, not far from us. Oh, so it was him. He didn't really look like his photo, but uh, okay, I should say hi to him. Uh oh, I was so nervous... That guy, let's just call him L, waved his hands, looked surprised, and smiled. Probably because of the dress I bought, which made me look like a whore. (I asked my friends several times about that dress and they were really sure it was okay.) But I guess it was not. A lot of people stared at me. I don't know if it was the dress or the guy I was with. Hmmm... I guess next time I go on a date, I shouldn't ask my friends for suggestions again. It was a trap! Anyway, the date turned out alright. We had a really nice conversation, jokes, and surprisingly attracted more strangers to join us. (I guess he really had that charisma to attract people effortlessly.) We had conversations with the waiter, the bar owner, a random man, aanndd it was fun. Hahaha... First time in my life! Next time I came back from the toilet, he already had a sexy woman sitting beside him, and I was like, "WTF?" I stepped back because I was shocked. But then I decided to walk towards him, raised my eyebrow, and asked, "What the hell?" He just smiled, actually laughing a bit, "No, please sit down here. I don't know that woman!" and I was like, "Uh, okay... Maybe he was right?" Then he took several minutes to explain what was really happening. He said, "That woman just came here and said, 'Can I sit here?' and she sat without even waiting for my answer! Then she tried to get closer, I guess she wanted something from me. I'm really sure of it." Simply put, that woman had to be a hooker. Well, no wonder she was around the town since it was already her time to rise. I was so surprised this man would experience that. Maybe he was that hot, or maybe it was only because he was a foreigner. I don't really care. Anyway, we ended the date nicely and... Love ends as the changing of the seasons start. Maybe someday You'll be somewhere Talking to me As if you knew me Fast forward to 2018, L and I meet again in Berlin, as friends.

  • Hampir Gila di Semester 7

    Semester 7 ini gue menggabungkan kelas Seminar TA dengan kelas TA itu sendiri. Tujuannya simpel: pengen lulus 3,5 tahun. Lebih awal dari temen-temen kampus pada umumnya. Gue tau keputusan ini nggak akan mudah, cuma yang gue nggak nyangka ternyata susahnya beneran susah banget! Alat tempur gue yang setia menemani perang Apa Itu TA? TA adalah singkatan cantik dari Tugas Karya Akhir Mahasiswa. Kalau anak kuliah pada umumnya lulus dengan mengerjakan skripsi, gue dan para mahasiswa seni lainnya beda. Kita ngerjain TA. Kita membuat karya seni yang konkret sekaligus laporan setebel kamus Bahasa Indonesia. Bikin TA buat anak film itu susah-susah gampang. Susahnya adalah lo butuh biaya besar (puluhan juta), yang biasanya ditanggulangi dengan mencari teman TA seperjuangan yang mau join satu karya. Susah berikutnya adalah susahnya kerja berkelompok, tapi dari semua itu, TA seharusnya gampang karena semua ilmu untuk membuat film udah dipelajari selama 3 tahun. Meskipun gue bilang susah-susah gampang, jelas lebih banyak susahnya ketimbang gampangnya. Buat gue, kerja kelompok itu SUSAH BANGET. Setiap manusia itu bisa iya-iya tapi taunya nggak sevisi. Atau bilangnya nggak-nggak eh taunya ngotot hal yang sama aja sama yang gue omongin. Pusing! Bikin gila! Tapi bagaimanapun juga, gue pantang mundur dan mau-nggak-mau gimana caranya kelompok gue harus bisa kerja sama yang kompak. Nggak boleh saling makan temen. Kita usaha bareng, lulus juga bareng. Jangan sampai ada yang gagal. Nggak tanggung-tanggung kita bakal patungan puluhan juta Rupiah untuk bikin film TA ini jadi selayaknya film kelas TA. Hhhh... Fast forward ke November 2015 dan sebentar lagi Desember, lalu tahun berganti menjadi 2016 dan perkuliahan pun akan segera berakhir. Gue kerja kayak kesetanan semester ini, berusaha lulus cepat sambil kerja sambilan. Kadang gue sebel sama temen-temen yang nggak banyak tugasnya tapi kerjanya lambat banget. Tapi dipikir-pikir juga who am I to judge? Gue nggak tau apa-apa soal kehidupan dia, bagaimana gue tahu dia beneran nggak banyak tugas? Ngomong-ngomong soal itu, gue juga kesel sama orang-orang yang sok tahu dan sok judging myself . Suatu hari dosen gue pernah mengkritik, "Saya nggak nyangka hasil tugas kamu cuma segini. Tugas kali ini emang nggak gampang, tapi bukan berarti tidak bisa dikerjakan dengan baik, apalagi deadline -nya sudah saya perpanjang 1 minggu! Kenapa sih kamu nggak bisa? Saya tahu kamu sedang TA, tapi masak sampai nggak cukup waktu mengerjakan tugas ini?" Beberapa hal yang dosen tersebut lupa adalah gue nggak cuma sibuk TA (Tugas Akhir), tapi juga sibuk kerja, sibuk ngurusin majalah kampus, sibuk ngurusin mata kuliah lainnya, dan juga harus meluangkan waktu untuk keluarga, teman, pacar, serta diri sendiri. Kalau gue nggak bikin semuanya seimbang, bisa botak dan mati muda mungkin. Gue berjuang sebisa mungkin untuk tidak menunda pekerjaan, tapi karena jumlah pekerjaannya banyak sekali, terpaksa gue mengorbankan sedikit kualitas. Tentunya pengorbanan kualitas ini juga berdasarkan kepentingan pekerjaan tersebut. Kalau pekerjaan kantor sih gua nggak boleh nurunin kualitas, lantaran takut dijitak pak bos. Tapi kalau kuliah ya paling berkurang nilai aja kan. Jadi gue masih bisa relain. Nggak terasa juga ya udah 6 bulan gue kerja di Axioo Photography and Videography. Bukan Axioo yang jualan gadget ya, tapi Axioo yang terkenal dengan dokumentasi wedding cantik itu. Gue kerja sebagai video editor di sana. Untungnya bos gue mau mengerti dan mengizinkan gue kerja di rumah. Jadi gue masih bisa kerja sambil kuliah. Mungkin ada yang nanya kayak kenapa gue nggak kerja di perfilman aja. Alasannya bukan karena gue nggak mau, tapi karena waktunya bentrok. Kerja di perfilman nggak bisa digabung dengan kuliah. Lo harus pilih salah satu: berantakan kuliahnya atau berantakan kerjanya. Jadi gue pilih pekerjaan yang bisa disambi dan nggak bikin berantakan dua-duanya. Alm. German G. Mintapradja sedang memimpin rapat AKSI Terus sekarang majalah AKSI udah gue serahkan ke adik kelas, jadi kesibukan gue udah rada legaan. Tapi tetep aja urusan TA ribetnya minta ampun. Kali ini gue memberanikan diri menjadi sutradara serta editor, dengan harapan filmnya ciamik. Semoga hasilnya beneran baik deh.

  • Ulang Tahun ke-20

    Tanggal 23 Mei lalu adalah hari ulang tahun gue. Umur gue sekarang 20 tahun. Sudah tidak pantas lagi disebut remaja, meskipun sikap gue masih banyak yang kayak anak SD. Hari itu gue bahagia, bisa menghabiskan waktu bersama kawan-kawan tercinta. Gue nonton ke bioskop, masak bersama, makan malam bersama, memotong kue bersama, kuliah bersama, pokoknya banyak melakukan hal seru bersama. Mereka sudah seperti keluarga buat gue. Kita udah kenal satu sama lain dengan cukup baik. Sudah saling tahu kejelekan dan kelebihan masing-masing, dan kita sudah saling belajar untuk menghargai satu sama lain. Hari ini gue berumur 20 tahun. Hari ini gue belajar.. apa ya? Belajar untuk tegar dan kuat mungkin? Belajar untuk menerima penderitaan sebagai bagian dari hidup yang tak terelakkan. Belajar untuk lebih mencintai orang yang benar-benar mencintai gue mungkin? Afterall, gue mau berterima kasih kepada Maning, Ghifar, Gill, Try dan Sam yang selama satu minggu ini terus meluangkan waktu untuk menghibur gue. Terima kasih juga buat Larry luthfianza, temen gue yang ngawur tapi sekalinya ngasih saran, beuh kena banget!!! Terus terima kasih buat Mega, Maya, Dea, Nateng dan Rheza yang juga masih keep in touch sama gue! I can't wait to see you guys at Bali! Terima kasih banget juga buat Ken-ken dan Donna yang nggak bosen temenan sama gue dari TK. Terakhir, terima kasih untuk ayah dan ibu gue. Ketika gue tau rasanya kehilangan seperti ini, gue jadi sadar betapa dahsyatnya cinta orang tua gue... Mau gue jahat atau nggak, mereka nggak akan pernah ninggalin gue. Suatu hari nanti, gue juga ingin menjadi orang tua sebaik orang tua gue. Sekian ucapan random gue di hari ulang tahun. Selamat malam!

  • Bawa Bule ke Kampus

    Sebuah pesan singkat masuk ke HP gue pada hari Jumat malam. Pesan itu berasal dari kakak kedua gue. "Rin, tolong jemputin si Jepang sama Jerman ya besok, gue ada meeting jam 10-2 siang." Sebelumnya kakak gue emang udah cerita bahwa bakal ada backpacker dateng nginep di rumah. FYI, keluarga gue emang membuka pintu bagi para backpackers yang mau homestay lewat aplikasi Couchsurfing.org Backpacker -nya satu dari Jerman dan satu lagi dari Jepang. Yang dari Jepang itu udah kenalan sama gue lewat Facebook. Tapi dia cuma berniat hang out aja, nggak sampai menginap. Yaudah deh, gue bikin janji sama mereka. Sama si Jepang jam 11.30 siang, sama si Jerman jam.. 5 pagi! Shiiitt... Si Jerman ini datang naik kereta dari Semarang dan tiba di Jatinegara jam 5 pagi di hari Sabtu. Terus gue males bingits jemput di Jatinegara. Ya kali deh! Gue suruh dia lanjut keretanya ke Stasiun Cikini. Eh tau-taunya dia malah jalan kaki dari Jatinegara ke Cikini. "You're crazy," kata gue ke doi sambil ketawa-ketawa. Terus doi cuma bilang, "I like walking..." dengan senyum tak berdosanya, tipikal orang Jerman yang hobi jalan kaki. Pagi itu, ketika hari masih gelap, gue jemput dia naik bajaj. Awalnya gue nggak ngeh kalau itu tuh dia. Gue inget dari foto profil Whatsapp-nya kalau dia berambut keriting. Tapi pas gue sampe di stasiun, yang ada cuma bule botak. Yaudah gue lewatin ajah... Eh taunya pas gue telepon, yang bunyi malah HP si botak. Wis , berarti beneran dia Jerman yang gue cari. Berkenalanlah kami secara properly . Nama dia Raphael, datang dari Jerman tahun lalu. Baru potong rambut Jumat lalu. Sudah berkelana di Indonesia selama 9 bulan. Dia volunteer menjadi guru SD di Semarang bersama beberapa orang asing lainnya. Terus si Jerman ini merupakan backpacker pertama yang gue kenal yang bisa Bahasa Indonesia dengan baik. Sedap! Kami pun naik bajaj kembali ke kostan. Gue udah bilang ke dia kalau gue ada kuliah jam 8 pagi. Jadi pilihannya, dia tungguin gue di kampus, atau ikut kuliah juga. Akhirnya dia pilih ikut kuliah. Hahaha... Kebetulan hari itu kuliahnya Sejarah Kebudayaan Indonesia, dan dosen gue baik banget ngebolehin dia duduk di kelas. Kocak gitu deh, dia dengerin lecture dosen gue. Satu jam berlalu, gue perhatiin si Raphael, terus dia nyengir bilang, "Dingin banget..." (He said it literally in Indonesian.) Hahahaha... Ngakak dah gua kesian. Iseng, gue tanya ke dia setelah kelas usai, "Gimana rasanya setelah kuliah tadi?" "Rasanya menarik sekali bisa belajar sejarah dari perspektif orang Indonesia. Saya kan biasanya lihat dari perspektif Jerman." Kemudian percakapan pun berlanjut ke politik. Gue cukup terkesan karena dia aware dengan isu-isu hangat di sekitarnya. Ya nggak sia-sialah dia tinggal 9 bulan di Indonesia. Seenggaknya dia tau goyang oplosan juga. LOL. Kami jalan lagi menuju Galeri Cipta II di Taman Ismail Marzuki buat lihat pameran lukisan. Terus temen gue, Sam, nyamperin dan ikut makan siang bersama. Kita naik motor bertiga ke depan gedung Euro buat makan bakso Gondangdia yang terkenal enak ituuu... Dan emang top banget lah ini bakso. Favorit gua! Puas makan, kami jalan ke Museum Djoang, melanjutkan pelajaran sejarah Indonesia secara mandiri. Terus pulangnya ngejemput si Jepang yang bernama Nakagome. Namanya agak susah disebut, jadi disingkat menjadi Gome saja. Setelah itu kami pun pulang ke rumah gue di Tangerang bersama-sama. Nakagome ini seorang penari dari Jepang yang juga volunteer untuk menjadi guru tari anak-anak. Kerjanya cuma satu minggu, sisanya dia liburan doang. Selain menari, dia juga seorang penulis naskah komik dan editor komik. Kece nggak sih? Nah, rencana sore ini adalah pergi menuju Pekan Raya Jakarta di Kemayoran! Tapi kami mesti menunggu kakak kedua gue pulang dulu dari meeting itu. Sambil menunggu, kita ngobrol bertiga di ruang tamu. Topik dibuka oleh Gome dengan pertanyaan simpel, "How old are you?" Gue jawab, "I'm 20 years old." Terus Raphael yang duduk di sebelahnya juga jawab, "I'm 20 too." "HEEE...?!" pekik Gome dengan suara khasnya orang Jepang, "You look really older!!!" Terus Raphael nyengir, "Maybe because of my beard," dan kami pun mengangguk-angguk mengiyakan dengan tawa membahana. Kayaknya emang bener banget tuh orang yang bilang kalau bule itu mudanya boros muka, tuanya awet muda. Tak berapa lama kemudian, datanglah kakak gue dan kami bersiap pergi. Gue excited banget nih pengen shopping . Hahaha... Kira-kira jam 4 sore kami berangkat dan jalanan padat sekali. Lamaaa banget di mobil sampai tiba-tiba si Gome bilang, "Maaf, sepertinya saya sakit perut." Kami kaget. Terus dia lanjut ngomong lagi, "Saya butuh ke toilet." Kami tambah kaget karena ini lagi di jalan tol dan macet parah. Bokap gue sampe nyuruh dia pipis di pohon aja. Hahaha... Terus kakak gue yang nyeletuk, "Iya kalau dia cuma mau pipis! Ini kayaknya lebih dari pipis." Untuungg aja si Gome bisa bertahan. Akhirnya di Kemayoran langsung stop di SPBU dan dia pun ngacir ke toilet. Kayaknya sih BAB, soalnya lama banget ditungguin. (Usut punya usut ternyata dia kepedesan saat makan siang di rumah gue tadi, jadi dia nggak kuat, keringet dingin pengen BAB sepanjang perjalanan.) Udah deh, abis itu ke PRJ, jalan-jalan, makan, pulang, ketawa-tawa, nonton bola, tidur. Oh iya, gue beli sleeping bag merk apa ya... Bagus gitu, lumayan, kalau dilipet hasilnya kecil banget. Harganya IDR 245,000

  • Saving Naru, Anjingku Part 1

    Setelah melewati sidang akhir dan gue dinyatakan lulus sebagai Sarjana Seni, gue pun pulang ke Tangerang untuk menjenguk anjing gue yang katanya sakit. Katanya, beberapa hari terakhir ini, Naru memuntahkan semua makanan yang diberikan. TRIGGER WARNING Kisah ini mengandung darah, child abuse, trauma dan kematian. Bahkan gue yang menulis pun nggak pernah nggak nangis setiap membaca kembali kisah ini meski 10 tahun telah berlalu. Nah, pas gue pulang, gue lihat anjing gue (namanya Naru) tampak lesu. Super lesu. Dieeemm aja duduk ngeliatin gue. Nggak ada kibasan ekor maupun gonggongan khas. Matanya merah membengkak sampai kayak mau copot. Beleknya sejuta menjijikkan. Mulutnya terlihat agak membengkak dan bau muntahan. Bulunya rontok semua begitu disentuh. Lebih ngerinya lagi, I saw few red bumps di perut dia. Gue pencet-pencet, kok keras kayak daging. "Jangan-jangan tumor," kata gue ke bokap yang duduk tak jauh dari Naru. "Nggaklah, nggak tumor. Mungkin alergi aja sama obat kulit yang kamu kasih kemaren-maren." Tapi gue tetep ngotot dalam hati, "Ini pasti tumor, or something even worse. Nggak lucu ah alergi sama obat sampe segininya." Sejak beberapa bulan terakhir gue emang lagi ngebasmi jamur dan kutu ( tick ) dari kulitnya. Awalnya sih oke-oke aja. Lama-kelamaan jadi muntah-muntah, ya gue stoplah itu obat. Tapi dia terus muntah. Gue ganti dog food dengan nasi, dia tetep muntahin juga. Fix to the max gue harus ke rumah sakit. "Halo, Ries, rumah sakit hewan ada di mana aja ya?" tanya gue pada seorang kawan. "Ke Vitapet aja, 24 jam di Pluit." Terus gue galau gitu. Gue tanya ke bokap, "Pap, bawa sekarang aja gimana? Ada RS 24 jam." Tapi bokap gue bilang, "Besok ajalah. Yang penting dia masih mau makan deh." Hmmm... Well pada hari itu Sabtu (27/2) si Naru masih mau makan dan mendadak bisa berdiri ngibasin ekor buat deketin gue. Jadi gue pikir, " Things are gonna be fine! Besok aja deh ke rumah sakit." Malam itu, karena gue capek bersihin muntahannya, gue suruh Naru tidur di luar kamar. Minggu (28/2), gue bangun pagi dan bilang ke bokap, "Pap, yuk ke dokter." "Emang ada rumah sakit buka hari Minggu? Tunggu ajalah Senen." "Ya ada laaah..." "Di mana?" "Di Sunter." "APA?! JAUH BANGET. Besok aja deh kamu sama supir pergi ke sana. Lagipula mana ada sih rumah sakit yang buka hari Minggu." "Ada, Pap. Udah dicek." "Besok aja. Yang penting Naru masih mau makan. Kamu jangan kasih obatnya lagi. Itu pasti sakit gara-gara obat yang kemaren." Anjir, udah dibilangin kalau gue sudah stop obat itu dari lama, masih juga ngeyel. Naik pitam gue ngadepin doi. Akhirnya gue rawat Naru seadanya. Minggu siang, dia masih makan dan muntahin makanannya lagi. Gue mulai browsing how to treat your dog dan semua website mengatakan SEGERA BAWA KE DOKTER. Minggu malam, bokap gue terlihat ngelapin lantai. Dia bilang ke gue, "Si Naru muntah lagi. Kamu masih ngasih dia obatnya ya?!" ( For fucksake enggak! ) Tapi gue diem aja, karena percuma ngomong apapun nggak bakal didengeri, jadi gue langsung ikut bersihin lantai. Malas berdebat lagi. Tapi jujur, malam itu feeling gue nggak enak. Mata anjing gue jeleeeekkk banget. Dia lihatin muka gue memelas, kayak mau bilang, "I'm dying." Jadi gue bilang ke Naru, " Please , sabar, besok gue bawa lo ke dokter. Janji." Gue giring Naru ke kamar dan gue selimutin doi. Lalu gue matikan lampu dan tidur. Beberapa menit kemudian, Naru terdengar mau muntah lagi. Gue langsung bangun dan nyalain lampu. Gue tungguin. Dia liatin gue. Dia nggak jadi muntah. Gue elus palanya, lalu gue matiin lampu. Nggak lama, Naru bangun lagi. Gue tontonin dalam kegelapan. Dia ternyata berjalan mendekati gue, tidur persis di samping kasur gue. Ini kejadian pertama kali banget. Biasanya Naru nggak pernah mau tidur terlalu dekat. Dia selalu tidur di pojok, nggak pernah di deket gue. Feeling gue makin nggak enak. Tapi gue coba untuk tidur. Jam 1 pagi, Naru bangun dan berjalan ke cermin. Dia mengeluarkan suara lembut seperti mengaing. Lembut banget dengan nada penuh kesedihan. Gue bangun dan nyalain lampu. Gue tanya, "Kamu kenapa, Nar?" Dia tatap mata gue dari pantulan cermin. Terus dia berbalik dan badannya berkontraksi. Persis seperti tanda dia mau muntah selama ini. Gue nggak tau harus ngapain dulu, dan tiba-tiba Naru muntahin darah banyak banget. Darahnya kentel merah tua dengan beberapa lendir kekuningan. Gue shock dan langsung nangis dong. Gua lari ambil lap, kertas, tissue , ember, air, apapun. Gue nggak tau mesti ngapain dulu: peluk dulu, bersihin dulu, atau langsung ke dokter. GUE NGGAK TAU HARUS NGAPAIN. Ujung-ujungnya gue bersihin dulu. Terus gue suruh Naru tiduran karena dia tegang banget. Dia kayak takut dimarahin habis ngotorin kamar, tapi dia nggak punya kekuatan buat kabur. Dia cuma tatap gue seadanya, pasrah kalau harus digampar (padahal ya nggak mungkin gue gampar lah ya). Sambil nangis-nangis gue paksa dia tiduran, terus gue bersihin muntahan yang banyak banget itu. Bersihinnya lama sampe gue nyerah. Akhirnya gue buru-buru ambil HP dan cari alamat Vitapet Clinic, terus lari ke kamar bokap. Bersambung.

  • Kiat Sukses Praktika Terpadu

    Asiikk... Judulnya kedengeran keren gitu ya. Btw, tips ini berdasarkan pengalaman gue bersama angkatan 2012 yang melakukan praktika di tahun 2015. Mungkin sudah tidak relevan dengan generasi sekarang. Pendahuluan dulu bagi yang tidak kuliah di IKJ, jadi begini, di IKJ itu ada mata kuliah yang namanya Praktika Terpadu. Matkul ini berbobot 4 SKS, dan entah kenapa telah menjadi momok bagi semua mahasiswa yang ingin lulus dengan bahagia. Di matkul ini lo bakal melakukan praktek dengan budget Rp6.000.000,00 (dibiayai kampus) dan bekerja sesuai mayor yang lo miliki. Mahasiswa yang gagal mendapatkan mayor belum bisa mengambil matkul ini. Berhubung gue udah dapet mayor as an editor , jadi gue boleh ambil Praktika dan dikelompokkan secara acak oleh pembimbing Praktika. Gue dapet sekelompok dengan Gill sebagai produser dan Puput sebagai sutradara. Kami hanya bertiga, jadi sisa profesi yang nggak ter- cover seperti penulis skenario dll. perlu kami tutup dengan mencari bantuan dari adik kelas. Tapi tetep kami bertiga yang bertanggung jawab. Jadi si Puput sutradara merangkap penulis skenario dan DP, si Gill produser merangkap sebagai production designer , sementara gue editor merangkap sound designer . Nah, di bawah ini adalah kiat sukses menurut gue pribadi: 1. Berdoa sebelum Koordinator Praktika menentukan anggota kelompokmu Sistem pembentukan kelompok dalam mata kuliah Praktika dibuat berdasarkan jumlah sutradara yang tersedia. Di kelas Praktika gue saat ini ada 24 sutradara, sehingga jumlah kelompoknya otomatis menjadi 24. FYI, jumlah ini adalah jumlah terbanyak sepanjang sejarah Praktika. Lo perhatiin aja tuh dari sutradara-sutradara yang tersedia, yang mana yang brokap dan yang mana yang punya visi. Berdoa sama Yang Maha Esa biar lo nggak dikelompokin sama yang brokap. Hahaha... 2. Being multi-talented is a plus Sejarah menunjukkan bahwa jumlah sutradara selalu lebih banyak ketimbang jumlah produser, editor, dll. Sehingga dapat dipastikan bahwa akan ada kelompok yang tidak memenuhi ketujuh peminatan. Misalnya ada kelompok yang punya produser, tapi nggak ada editor. Terus ada yang punya editor, tapi nggak punya produser. Di sinilah gunanya memiliki banyak talenta. Jadi sebaiknya JANGAN MALAS belajar dari sekarang caranya mengedit film, mengedit suara, mengaransemen musik, atau yang lainnya karena peminat di bidang ini super sedikit dan lo bakal mampus nyari temen yang bisa bantuin di saat kepepet! 3. Stop being a bitch; deal with it Kalau kelompok udah ditentuin, dan lo dapet temen yang brokap, TENANG. Koordinator nggak akan ngumpulin brokap jadi satu. Pasti dibuat seimbang, dan lo pasti bisa atasi kebrokapan temen lo. Haha. Jadi berhenti mengeluh, ngatain partner , atau pun menangisi keadaan, karena life must go on. Kalau lo nggak lulus Praktika, lo nggak bisa lulus kuliah. Kalau partner lo bener-bener nggak kerja, laporin aja ke Koordinator. Jangan baper, jangan emosian, be logical . Kalau gue sih sukanya emosian, abisnya gemesh. 4. Jangan main-main dengan Praktika Mungkin selama ini lo anggap kuliah kayak maen-maen, lantaran dosen lo suka gabut, cabut mendadak, atau lo-nya emang males kuliah. Tapi untuk Praktika, gue saranin lo hati-hati. Jadwal Praktika selama satu semester pasti akan di- provide oleh Koordinator, jadi keep aware of time. Jangan sampai telat ngumpulin apapun itu karena dampaknya adalah langsung gagal Praktika. Meskipun ada yang namanya "negosiasi", tapi proses birokrasi ini sangat melelahkan dan makan waktu, yang meskipun lo berhasil diizinkan lanjut Praktika, belum tentu lo bisa kembali menata jadwal dengan baik. 5. Siapkan waktu yang banyak untuk Praktika Jangan ambil SKS banyak-banyak atau pun kerja part-time . Gue aja cuma ambil 18 SKS masih mau mampus. Soalnya Praktika bukan sekadar nulis laporan, syuting, bikin pelem, terus kumpulin . Nggak, Bro , nggak sesederhana itu. Ada segenap proses yang harus ditempuh demi naik ke tahap berikutnya. Proses itu adalah bimbingan, script conference , bimbingan, dan sidang. Bimbingan itu bisa berkali-kali tergantung kebrokapan film lo, dan bimbingan itu tak kenal waktu ataupun tempat. Bahkan di hari Minggu yang damai pun, lo bisa mendadak disuruh nemuin pembimbing di Depok jam 9 malem. Sialnya, bimbingan itu wajib. Kalau lo nggak bimbingan, lo nggak dapet tanda tangan, kalau lo nggak dapet tanda tangan, lo nggak bisa maju ke tahap berikutnya, on the other hand, Praktika lo the end! 6. Biarkan sutradara membuat film yang dia suka Ini adalah saran dari temen baik gue pada saat gue bertempur habis-habisan sama sang sutradara, lantaran gue nggak suka satu pun ide cerita dia. Menurut gue, lebih baik debat di awal (dan selesai), mumpung belum keluar duit daripada nyesel di akhir. Kalau emang lo nggak setuju dengan ide cerita temen lo, bilang; SAY IT OUT LOUD with logical reason . Film selalu dinilai dari segi ceritanya dulu, baru ke aspek yang lain. Meskipun gambarnya aje-gile, atau ada animasi 3D super canggih, kalau ceritanya brokap, nggak logis dan maksa, maka film lo fix to the max gagal. TAPI , ada baiknya lo tetap membiarkan selera sutradara mendominasi. Soalnya kalau sutradara nggak suka ngerjain filmnya, film lo bakal brokap. Inget, bahwa sutradara punya tanggungan lebih berat, jadi sebaiknya dia bener-bener suka dengan apa yang dia kerjain. 7. Buat cerita yang feasible Feasible yang gue maksud adalah memungkinkan untuk dibuat dengan anggaran seminim mungkin. Jangan bikin cerita yang terlalu hebring, soalnya deadline kalian mepet-pet-pet. Tapi juga jangan bikin cerita yang terlalu sederhana, soalnya nanti nilai kalian jelek. Kalau kalian memang merasa mampu membuat film yang membutuhkan banyak teknik, maka kerjakan, and stick with it , karena kalau berhasil, nilai kalian bakal tinggi. Tapi kalau ragu banget, udah drop it aja. Tips dari abang-abangan gue dulu adalah buat cerita yang hanya membutuhkan satu lokasi. Soalnya yang namanya pindah lokasi itu nggak cuma keluar biaya di penyewaan tempat, tapi juga transportasi. Inget bahwa yang mesti lo bawa itu nggak cuma 10 manusia, tapi puluhan manusia beserta puluhan alat besar dan kecil yang nggak boleh hilang atau rusak. Terus di tempat yang baru juga harus ada basecamp buat naro barang-barang yang belum terpakai dan buat talent duduk nunggu giliran syuting. Jadi hati-hati dengan imajinasi liarmu! 8. Jangan sembarangan memilih PRODUSER! Nah, ini nih tips paling dahsyat yang gue nyaris lupa. Buat kelompok yang nggak dapet anak mayor produksi, sebaiknya pilih satu orang yang benar-benar bisa diandalkan, rapi dan smart . Sutradara tidak disarankan merangkap sebagai produser , soalnya kerjaannya bakal terlalu banyak dan umumnya untuk anak yang masih dalam tahap belajar, akan sangat berat, ditambah deadline yang sempit. Produser itu kerjaannya bukan cuma soal duit, tapi juga perizinan, jadwal, dan hampir semuanya dari tahap awal hingga akhir. Kalau sutradara memimpin tim produksi buat bikin film sesuai visinya, maka produser adalah orang yang men- supply semua kebutuhan sutradara dalam merealisasikan visinya tersebut. Contohnya, sutradara pengen protagonisnya diperankan oleh Joe Taslim, maka produser yang bakal kocar-kacir nyari manajer Joe Taslim dan nego sampe gila buat merealisasikan permintaan si sutradara. Terus yang ngurusin transportasi, akomodasi, konsumsi, peralatan, dll. itu ya produser. Jadwal juga produser. Biar kata dibantu asisten juga tetep aja susah! Berat banget. Jangan dianggap kerjaannya enteng. Sekali dia salah bikin deal , langsung brokap semua. Ini Hasil Praktika Terpadu Kami Menurut gue nggak bagus, tapi pada saat itu dengan segala keterbatasan dan pengetahuan kami yang masih awam, ini udah keren banget. Perjuangannya gila-gilaan. Jadi gue tetep bangga udah pernah menciptakan karya ini bersama teman-teman gue yang keren-keren. Terima kasih sudah bekerja sama denganku, kawan!

  • Tugas Bikin Film, Peralatannya Siapa?

    Baru-baru ini gue bikin account Ask.Fm dan muncullah pertanyaan-pertanyaan lucu seputar kuliah di IKJ. Ada satu manusia nih, yang kayaknya getol banget nanya hal yang sama sampai berkali-kali. Terus gue jawabnya sembarangan gitu. LOL. Maaf ya? Agak ngeselin ya jawaban gua? Jadi begini sodara-sodara, barangkali ada yang punya pertanyaan sejenis anak ini. Pertama, izinkan gue mengubah mindset kalian dulu. Film itu nggak selalu membutuhkan kamera mahal, sound recorder paling mutakhir, atau pun peralatan lighting kece badai. Jadi stop berpikiran bahwa lo harus merogoh kocek untuk membeli semua alat-alat itu. Zaman sekarang, bikin film bisa pakai HP kali? Ngerekam suara juga udah oke pakai HP doang. Lighting ? Pakai aja lampu sekitar lo. Sebuah film bisa tetap dibilang bagus cuma karena ceritanya bagus loh. Jadi? Stop tuh ketakutan mesti beli peralatan mahal. Nah, gimana kalau lo punya cerita keren dan butuh peralatan kece badai demi menciptakan film yang layak dikompetisikan secara nasional? Lo bisa menyewa dari teman, kampus atau pun tempat rental. Gue sendiri sih mengawali kuliah dengan satu kamera DSLR Canon D500 dan laptop Lenovo. Itu udah cukup. Lo nggak punya kamera pun nggak masalah, paling lo mesti agak capek aja nyari temen yang mau pinjemin kameranya buat menyelesaikan tugas Fotografi. Semester 2, kamera DSLR dan laptop gue dicuri orang. Gue juga ngeri gimana mau kuliah tanpa kedua alat itu. Tapi ternyata yang paling penting itu laptop, soalnya banyak tugas makalah dan esai. Sementara kamera agak jarang digunakan. Kenapa? Karena gua selalu mengajukan diri sebagai film editor , maka gue lebih butuh laptop untuk mengedit. Akhirnya gue survived kok di FFTV tanpa punya kamera DSLR.. sampai sekarang. Tapi ya emang, gue tetep butuh laptop, jadi bokap gue pinjemin laptop dia waktu itu. Oleh sebab itu, kalau mau beli peralatan membuat film, lo timbang-timbang dulu mayor lo apa. Mau mayor Penyutradaraan? Mayor Editing? Mayor Sinematografi? Kalau udah tau tujuan, baru bisa bikin skala prioritas. Lo nggak wajib membeli semua barang, tapi juga tidak dilarang untuk membelinya. Kalau punya sendiri memang lebih enak. Selain bisa berlatih, eksplorasi dan eksperimen, lo juga bisa akrab sama peralatan lo. Jadi kerjanya bisa lebih efisien waktu.

  • Mulai Memikirkan Pernikahan

    Diam-diam gue nge- follow Instagram salah satu wedding company terkenal, yang hasil dokumentasinya super ciamik dan menawan. Tahun ini, full of surprise , mereka buka lowongan pekerjaan sebagai video editor . Gilak, gue sampai teriak-teriak dalam hati. Senyum bahagia tak dapat terbendung lagi. Mungkin orang-orang yang ada di bus hari itu bertanya-tanya, "Ngapain ini cewek senyum-senyum kayak orang gila?" Malam itu juga gue langsung kirim CV, foto, dan surat lamaran. Yak, gue tulis surat lamaran itu dengan penuh cinta dan semangat bekerja. Gue udah nggak mikirin lagi gimana caranya gabungin pekerjaan dan perkuliahan. Hahaha... Pokoknya daftar dulu! Urusan keterima atau nggak, belakangan aja. Masalahnya perusahaan ini perusahaan favorit gue banget. Gue fans karya video mereka, sekalipun itu cuma wedding video . Ternyata, surat lamaran gue dijawab! Gue belum fix diterima, namun besok gue akan dites. Makanya hari ini gue belajar sebanyak mungkin tentang wedding videography . Sambil nontonin berbagai wedding video , tiba-tiba gue jadi kepikiran. I started to wonder. Yup, wondering about my own wedding. What would it be like? I'm 21 years old, Guys. Udah nggak heran kalau gue mulai memikirkan wedding gue sendiri... Lucunya, kemarin terjadi percakapan yang awkward antara gue dan pacar. Saat itu kita lagi menunggu mobil travel yang akan membawa gue pulang ke Jakarta. Kita duduk di halaman rumahnya yang luas, ditemani belasan burung Canary. Di sela-sela perbincangan tak berujung, tiba-tiba doi menanyakan hal yang cukup mengguncang jiwa dan raga. "Three years more, is it okay for you?" Terus gue diem. Kita berdua mengerti arah percakapan ini tanpa perlu mengucapkan kata yang sakral tersebut. Kita saling bertatapan dan keadaan hening; hanya kicauan burung meramaikan suasana. Melihat gue diam saja, he continued talking, "Three years would be enough for you to get a master degree, right? And then..." Yak, lagi-lagi gue hanya tersenyum lebar. Tetap tanpa suara sehingga gue rasa ia pun menyerah. So he said, "Okay, let's not think about this. Hahaha.." Sejak awal jadian, hampir semua orang sudah memperingatkan kalau umur dia cukup jauh dan gue harus siap ditanya soal pernikahan. Bahkan ibu gue sampai memastikan, "Emang kamu sudah siap menikah?" Jujur, belum, dan tentu saja belum! Pernikahan = the end of my profession, youth, and having fun . Gue yakin jadi istri dan ibu adalah pekerjaan full time yang sebaiknya nggak disambi sama pekerjaan full time lainnya. Soalnya kasihan, nanti anak-anak gue yang kena imbas buruknya. Selain itu, gue ingat banget kata-kata Raline Shah di film Supernova (2014), bahwa pernikahan itu nggak cuma antara seorang pria dan wanita, tapi juga antara sebuah keluarga dengan keluarga lainnya. Artinya gue nggak akan cuma menikahi satu orang pria, tapi juga menikahi seluruh keluarganya. MEIN GOTT, THAT'S DEEP AND SCARY. I don't think I'm gonna be ready in three years! Tapi, meskipun gue takut, sejujurnya seru juga sih membayangkan if I were to tie the knot with him . Yang gue tahu, I got to live in a nice house. It doesn't have to be big, but it's gonna be hella artistic. Menurut gue penting banget to have a partner who understands art. Udah segini dulu yang bisa gue pikirkan tentang pernikahan.

  • Mata Kuliah Semester 7

    Basically , semester 7 adalah puncak pembunuhan jasmani dan rohani. Eh, kok kedengarannya seram sekali? Nggak deng, bercanda. Semester 7 itu saatnya membuktikan apa saja yang sudah lo pelajari di kampus. Sebelum gue mulai me- review kuliah yang nggak berasa kayak kuliah, ada baiknya kita ucapkan selamat dulu kali ya? Akhirnya gue lulus S1 dalam 3.5 tahun dengan IPK yang bagus banget loh. Yeay, congrats to myself! Tadinya gue mau cek jadwal di website FFTV, tapi ternyata saya sudah didepak. Yaudah, maafkan ya kali ini nggak ada keterangan waktu. Gue udah lupa banget kelasnya hari apa, tapi gue inget kok mata kuliahnya cuma ada 4, yaitu: 1. Program TV Non Drama Ini kelas nggak penting dan nggak jelas. Mungkin beberapa tahun yang lalu jelas. Tapi sekarang sih lebih terdengar seperti kelas yang maksain lo untuk produktif aja. Jadi tiap minggu kita dikasih tugas dengan tema tertentu. Format tugasnya sama: bikin 1 video, kadang berkelompok, kadang pribadi. Tapi temanya agak tricky karena ditentuin sama dosen. Yang bikin kelas ini nggak jelas adalah karena hasil karya yang kita bikin... nggak diapa-apain. Penilaiannya cuma dari lo bikin apa nggak. Kalau bikin dapet nilai, kalau nggak ya nggak. Terus syarat film lo dianggap layak cuma 2: sesuai tema dan ada muka lo nampang di video. Sounds simple kan? Tapi bete karena gue nggak begitu suka divideoin. Mungkin dari kelas ini salah satu hal yang bisa gue kenang adalah music video kocak yang gue bikin bareng Dede dan Mpi. Editing V Ini dia episode terakhir dari film editing! Dalam episode kali ini, kita akan belajar caranya menjadi editor yang objektif. Skill yang satu ini penting banget dan benar-benar melengkapi seluruh skill yang dibutuhkan untuk menjadi editor kece. Sayang, di hari terakhir, gue nggak masuk karena kecapekan syuting. Padahal anak-anak editing punya tradisi makan kue Cheese Cake di hari terakhir kuliah. Hiks... Seminar Tugas Karya Akhir Ini kelas paling... malesin. Males ke kampus cuma buat duduk terus nggak tau mau ngapain. Ini bukan mata kuliah. Ini cuma sarana buat ketemu koordinator seminar TA. Jadi sebelum lu masuk tahap produksi (syuting), seluruh persiapan dalam pra-produksi harus di-ACC sama koordinator seminar. Doi bakal gelar script conference mini di rumahnya yang berlokasi jauh banget. Terus kalau udah di-ACC, baru deh kita bisa syuting dan maju ke kelas TKA! Tugas Karya Akhir Dalam kelas ini kita harus melakukan bimbingan per mayor untuk mendapatkan izin syuting. Jadi sambil kelas Seminar jalan, kelas TKA juga jalan. Kebetulan gue double job as director dan editor, jadi gue bimbingan ke 2 dosen. Selain itu gue juga harus bimbingan penulisan Pengantar Karya Tugas Akhir ke dosen lain. Jadi totalnya 3 dosen. Sumpah, capek banget. Beberapa kali kuliah bolos demi ngejer bimbingan di Cempaka Putih, UI Salemba, dan Taman Ismail Marzuki. Meskipun tanggung jawab gue cuma kepada 3 dosen itu aja, kadang dosen-dosen lain juga pengen semua crew ngumpul. Jadilah gue harus ikut bimbingan temen gue ke Cibubur, PIM, dll. Hadeehh... Ini nih yg gue maksud pembunuhan jasmani dan rohani. Belum lagi, saat itu gue masih kerja freelance (buat danain TKA). Kebayang kan susahnya bagi waktu? Untung gue kuat nggak jatuh sakit. Cuma jadi kurus aja (hilang 2 kg!). Setelah bimbingan berakhir dan semua di-ACC untuk syuting, mulailah gue syuting. Gue sekelompok sama produser, penulis skenario, dan sinematografer. Jadi lumayan, dananya bisa bagi ber-4. Setelah syuting, kita mulai lagi bimbingan pasca-produksi sama dosen-dosen bersangkutan. Terus kita minjem fasilitas coloring dan sound mixing di Super 8mm Studio dan Synchronize Sound Studio. Begitu semua tahap telah dilalui dan revisi dilakukan, film pun masuk dalam tahap Sidang Akhir! Yeay! Sidang! Nomophobia (judul film gue) kedapatan sidang hari Jumat, 26 Februari 2016. Kita semua wajib pakai kemeja batik dan bawahan hitam. Urutan acaranya film diputer dulu, terus sidang sinematografi, editing, skenario, dan barulah produksi. Gila gue deg-degan banget sampai jawabannya bego. Blank . Tapi mendekati akhir udah agak tenang dan cukup mampu menangkis jebakan-jebakan ke-5 dosen penguji. Akhirnya gue dinyatakan lulus dan akan melakukan graduasi di bulan Desember 2016. Sebentar lagi nama gue jadi ada akhiran S.Sn . deh :)

  • Serba-Serbi di Semester 6

    Since I finally got the mood to write. Let me say whatever things I wanna say yeah? Maafkan apabila terlalu random dan tidak dalam struktur yang baik. Pertama, fuck you nyamuk. I tried to exterminate it, however I was outnumbered.Ā  Kedua, gue lupa siapa tuh yang pernah bilang, "Sabar, nanti juga kalau udah mendekati semester akhir, pelajarannya makin santai. Tinggal pusingin TA aja." Karena apa yang dia katakan benar-benar bullshit dan patut dapet tamparan. WTF MAN, SEMESTER ENAM ADALAH SEMESTER PALING JAHANAM DARI 5 SEMESTER SEBELUMNYA. Apa-apaan ini tugas tidak terkontrol. Meskipun gue nggak nunda-nunda pekerjaan juga tetep aja. AJEGILE... Bener-bener nggak terkontrol! Gue sampai udah stuck , nggak tahan, dan akhirnya pura-pura bego nggak mau ngerjain. Sakingnya gue capek dan sumpek banget dapet PR nggak ada habisnya. Gila, kalau gue bertahan ngerjain, mungkin gue udah sinting kali. Selain semester yang penuh kejahanaman ini, entah kenapa pertengahan tahun 2015 adalah tahun peruntungan asmara bagi saya. Hahaha... Gue nggak ngerti lagi deh kenapa jadi banyak cowok PDKT. Perasaan biasanya hidup gue gersang banget. Mendadak banyak cinta bertebar di udara. Mendadak ditembak sana-sini. Mendadak gue tertawa lebih banyak. Setelah itu semester 6 juga membawa dilema yang sangat besar. Berbagai tawaran pekerjaan yang menggiurkan datang. Kontrak-kontrak menarik bertebaran, dan mata gue hampir hijau membayangkan hasilnya. Gue telah terlena dan maruk mengambil semuanya. Pada akhirnya gue benar-benar stress sampai sakit, dan akhirnya seseorang menampar gue dengan mengatakan, "You bite more than you can chew." dan sejak itu.. uhuk..! Gue mencoba belajar untuk menolak, sekalipun harus tega menyakiti orang yang gue kasihi. Ketiga, gue mau officially say kalau gue punya pacar. Doski tinggalnya rada jauh, nggak di Jakarta, dan umurnya 6 tahun lebih tua dari gue. Kadang dia jadi lawakan di kampus. Asdos 1 : Ayo para jombloers buruan cari pacar. Mahasiswa : Iya, Mas. Iya... Gue : Mas, saya sudah punya pacar. Asdos 1 : Yang pacarnya nggak di kampus nggak diitung. Berarti tetep jomblo. Gue : Tap.. tapi.. Mas... Mahasiswa : Iya, Sil, nggak diitung. Lo tetep jomblo. Titik. Gue : Tap.. tapi... Atau misalnya... Revin : Sil, gue denger lo udah dilamar... Gue : Siapa yang bilang? Revin : Gill. Gue : BAJINGAN SI GILL. Revin : Jadi beneran? Gue : MENURUT LO?! Revin : Gue mau jadi bestman lo, Cil. Gue : Ogah. Atau misalnya... Dosen : Sil, kamu jadian? Gue : Iya, Mas, saya jadian. Dosen : Kamu beneran jadian?! Gue : Iya, Mas, kenapa ya? Dosen : KAMU KOK NGGAK IZIN SAMA SAYA DULU?! Gue : Kenapa saya harus minta izin? Dosen : KENAPA KAMU BIKIN KEPUTUSAN TERLALU TERBURU-BURU?! Gue : LOH TAPI SAYA UDAH PIKIRKAN BAIK-BAIK. Dosen : Saya nggak terima. Kamu putusin dia, bilang kamu masih perlu waktu berpikir. Kuliah selesai, yang lain boleh pulang, tapi kamu tinggal di kelas! Gue : ??!! Pada akhirnya gue ditahan karena diajak makan sama asdosnya dia. Jadi gue pulang kuliah makan-makan dulu. Ahaha.. Sial ini pada bikin panik aja. Gue kira ada apaan. Sambil makan malam rame-rame itu, terjadi lagi percakapan kocak (yang rasa-rasanya mirip adegan cliche di komik serial cantik). Asdos 1 : Bro, liat umur, buruan cari calon istri. Asdos 2 : Iya, kan gue nungguin Sesil lulus kuliah. Gue : Nggak mau. Asdos 2 : Halah, lo nolak karena lo ada pacar kan? Gue tungguin (putusnya). Gue : Biarpun aku single , kita nggak akan jadian, Kak. Asdos 2 : APA?! Kenapa?! Emang gue kurang apa lagi?! Pertanyaan itu nggak gue jawab, sampai akhirnya pas diantar pulang, dia tanya lagi face to face , "Sil, gue kurang apa lagi..." dan pertanyaan itu tetap tidak gue jawab hingga saat ini. Selain kejadian lucu bersama orang-orang di atas, ada lagi yang menggemparkan. X : Sil, gue mau ngomong sama lo. Gue : (dengan polosnya) kerjaan ya? Aduh, maaf lagi sibuk banget nih, Kak. X : Sibuk banget nih? Dengerin dulu aja deh, kali-kali bisa bantu. Gue : Haduh, gimana ya aku udah nggak kepegang lagi, Kak. (Sambil berjalan cepat supaya bisa pulang ngerjain tugas) X : Besok kita ketemuan deh ya, gue jelasin dulu. Gue : Yah baiklah... Esoknya... Gue : Jadi apa projeknya, Kak? Nggak mau minta tolong ke anak editing lain aja? Mereka juga pasti bisa kok, apalagi kalau dibayar. X : Iya yah, kalau dibayar yah? Gue : Iya, jadi apa projeknya, Kak? X : Gue suka lo, Sil. Gue : .... Kemudian gue menjawab dengan wajah merah, canggung, bingung, tolol, dan pura-pura senyum, "Maaf, Kak, saya sudah punya pacar. Terima kasih dan tetap semangat ya!" Gue bener-bener nggak tahu kalau dia mau nembak. Sumpah gue kira mau ngasih kerjaan. Habis gimana yah... Kita jarang ngobrol, masak tiba-tiba bisa suka. Rasanya itu ciri khas anak SMP yang suka sembarang nembak cewek asal lihat fisik aja. Tapi yah bagaimanapun juga pria itu pun mengatakan bahwa dia tahu fakta gue punya pacar, tapi tetap mengutarakan perasaannya agar terlepas dari kesusahan hati... Oh peliknya asmaramu, Kak! Selain kisah-kisah cinta yang (menurut gue) kocak tadi. Baru-baru ini gue diterima kerja di PH wedding AXIOO. Jadi sehari-hari selain kuliah, gue kerja part-time mengedit video wedding orang kelas menengah atas. Di sana pun gue kenalan berbagai teman baru lagi yang menyenangkan. Akhir kata, meskipun sekarang hidup gue semakin sibuk dan melelahkan, tapi gue tetap bahagia, karena di sekitar gue ada banyak orang-orang yang penuh dengan cinta. I will cherish this moment for sure! :)

  • Hari Pertama Mengajarkan Ekskul Filmmaking

    Hari ini adalah hari pertama gue mengajar. Gue deg-degan? Sudah jelas. Selama liburan ini gue nggak pernah bangun pagi, alhasil gue hampir ketiduran lagi. Emang bangun itu berat banget ya apalagi jam 6-an, jam-jam kasur empuk, udara sejuk. Tapi berhubung gue nggak mau dapet bad impression , oke gue bangun! Jam 7 pagi langsung cabut jalan kaki ke sekolah SMPK Sang Timur Karang Tengah. Di sekolah ini gue akan mengajar ekstrakurikuler Filmmaking . Kenapa sih namanya Filmmaking (instead of Cinematography)? Ya karena sinematografi itu adalah salah satu pelajaran di dalam membuat film. Jadi kalau lu dengar ada pelajaran sinematografi, itu bisa jadi pelajaran tentang kamera dan gambar bergerak, atau pelajaran membuat film ( yang sebetulnya nggak terlalu tepat ). Film itu sendiri terlalu luas cakupannya kalau hanya belajar sinematografi. Jadi atas pertimbangan yang di atas, gue namain ekskulnya begini. Pagi ini gue ditemani Tika, temen kecil gua. Ternyata dia kuliah broadcasting di Jogjakarta. Jadi cocok. Tika cuma bakal bantuin gue 2 pertemuan, sisanya gue bakal sendirian. Kita berdua sama-sama gugup. Terus Tika bilang, "Kata cowok gue, anggep aja lagi ngajar sekolah minggu." Gue ngakak dengernya. Loh, sekolah minggu kan ngajarin nyanyi-doa-gambar ke anak SD, lah ini kita ngajarin materi yang cukup berat ya ke anak SMP. Gimana mau disamain? Akhirnya jam 8 tepat, projector udah nyala, laptop siap, gue buka kelas hari itu dengan gugup setengah mampus. Aduh, muridnya banyak banget! 30 orang! Udah gue komat-kamit soal nama-asal usul sama penjelasan kegiatan ekskulnya, si Tika bisikin gue, "Rin, lo lupa doa pagi." ADUH! Hahaha ini nih sulitnya ngajar di sekolah yang berbasis agama. Jadi ada tata krama tersendiri untuk mengawali pagi. Yaudah gue pun minta maaf ke semua anak dan minta mereka pimpin doa pagi. Terus materi pun dilanjutin Tika yang mau sharing soal pengalaman bikin film dan cari ide. Buat gue mengajar itu seru banget. Gue emang seneng berbagi pengalaman. Jadi waktu ada yang bertanya ( setelah dipaksa ) dan ada yang berkomentar, itu rasanya gue bahagia banget. Anak murid gua lucu-lucu, ada yang banyak gaya, ada yang gugup banget, ada yang suka ngelucu, ada yang udah pinter, dan ada juga yang pendiem. Gue sempet minta mereka mengkritik tugas kuliah gue kemarin yang judulnya, " Panik" , dan tanggapannya menarik. "Kameranya pas gambar jam goyang-goyang." "Mungkin kalau ada narasi lebih menarik." "Itu kawat atau benang, Kak?" Terus waktu diminta bikin kelompok, gue seneng semuanya kooperatif dan mau dicampur. Awalnya emang mereka ragu, tapi abis itu mereka sendiri yang minta, "Campur aja deh, Kak." Jadi dalam 1 kelompok bisa ada kelas 7 atau kelas 8. Semuanya jadi kenalan dan mulai menentukan lo jadi siapa, gue jadi siapa? Terus pas udah boleh pulang, ada anak cowok nanya ke gue, "Kak, kapan kita mulai bikin filmnya?" AHAHAHAHA... Sebenernya gue ngakak parah dalam hati. Yaela ni anak kaga sabaran bener. Belum juga diajarin cara bikin konsep cerita, udah nggak tahan aja mau bikin pelem! Overall , gue dan Tika bahagia. Itu semua fotonya pake kamera Tika. Untung gue dibantuin si Tika, kalo kaga ribet banget. Suara gue kalah kalau mereka mulai asyik mengobrol. It was seriously a challenge for me. Kabarnya sih peminat ekskul ini banyak sekali, tapi mereka bakal ikut kalau mereka gagal ikut seleksi ekskul yang lain. Jadi... jumlahnya nggak 30 orang deh ke depannya. Wih! Oh dan just FYI, gue nggak tahu dibayar berapa buat ngajar. Nggak bikin perjanjian tertulis apapun sama kepala sekolahnya. Gue kayak volunteer aja gitu. Pengen mempercantik portfolio aja sama pengalaman pribadi. Mungkin lo juga bisa memulainya di sekolah lama lo? Tulisan ini awalnya dipublikasikan di Blog "Ma Vie est un Film" pada 24 Agustus 2013 saat saya masih berusia 19 tahun. Beberapa kata yang kurang tepat / patut telah direvisi secukupnya tanpa menghilangkan keaslian cerita dan pemikiran saya di usia tersebut. Terima kasih sebanyak-banyaknya saya ucapkan pada Bpk. Heri, Kepala Sekolah SMPK Sang Timur Karang Tengah dan guru-guru lainnya yang berkenan membukakan saya kesempatan untuk mengajar pada tahun itu, meskipun saya nihil pengalaman. It was an unforgettable experience until today.

Let's connect on my social media!
  • Threads
  • Instagram
  • LinkedIn
  • YouTube
bottom of page